SATU ATAP DENGANMU

SATU ATAP DENGANMU
Eps 13


__ADS_3

Cindhi hanya bisa menghela nafas panjang karna tidak bisa membantah ucapan Tantenya. Bagaimana jadinya jika ia benar-benar pindah ke LN dimana tempat perusahaan Hazel berada. Ia tidak mau berpisah dengan Ghazi. Ia sudah benar-benar jatuh hati kepada pria yang saat ini satu atap dengannya.


''Bagaimana caranya aku menolak perintah Tante Mayang. Aku ingin disini, aku ingin tetap ada di disini. Bersama dengan kekasih hati,'' jerit hati Cindhi.


''Bagaimana Cin. Kamu setuju kan dengan usulan Tante?'' tanya Tante Mayang.


''Ak aku nurut aja, gimana baiknya Tante,'' ujar Cindhi dengan berat hati.


''Biar besok Tante yang bicara sama Ghazi, Ghazi pasti mengerti kok,'' ucap Tante Mayang dengan mengelus pucuk kepala Cindhi.


*


*


Pagi hari pun menyapa, saat ini Cindhi sudah siap dengan setelan baju kerjanya. Ia pun keluar dari dalam kamarnya untuk sarapan bersama dengan keluarga Mama Mayang.


''Pagi Tante,'' sapa Cindhi yang saat itu hanya ada Tante Mayang yang berada di meja makan.


''Pagi sayang,'' jawab Tante Mayang dengan senyuman di bibirnya.


Cindhi pun duduk di kursi yang biasa ia duduki. Di atas meja sudah ada berbagai menu untuk mereka santap pagi ini.


Suara sepatu pantofel menggema menuruni anak tangga. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Ghazi. Tanpa sadar bibir Cindhi pun terangkat ke atas memberikan senyuman termanis kepada Ghazi.


''Pagi semuanya,'' sapa Ghazi sambil menarik kursinya.


''Pagi Kak,'' ucap Cindhi.


''Pagi sayang, mana adikmu?'' tanya Mama Mayang.


''Nggak tau,'' ucap Ghazi.


Tidak berselang lama, Hazel pun turun dan ikut duduk di ruang makan. Ia duduk di tempat biasa di dekat kursi Cindhi.


''Pagi Beib,'' sapa Hazel tersenyum ramah ke arah Cindhi.

__ADS_1


''Pagi,'' ujar Cindhi menjawab dengan menatap ke arah Ghazi sekilas.


''Ambilin ya calon istriku,'' ujar Hazel memyodorkan piringnya ke arah Cindhi.


Cindhi pun menerima piring milik Hazel, namun deheman keras menghentikan gerakan tangannya yang ingin mengambil makanan.


''Ehm, apa kamu tidak punya tangan sendiri sampai-sampai ambil makan saja menyusahkan orang lain?'' tanya Ghazi dengan tatapan datarnya.


''Kenapa? Kak Ghazi iri sama aku karna aku bisa punya kekasih seperti Cindhi ini, hem?'' tanya Hazel memancing emosi Ghazi.


''Iri dia bilang?! Asal dia tau aja, yang ada di dekatnya ini adalah kekasihku,'' gerutu Ghazi dalam hati.


''Udah-udah, kenapa kalian selalu ribut sih. Apa nggak capek tuh mulut ribut mulu,'' ujar Mama Mayang. Ghazi yang niatnya ingin membalas ucapan adiknya pun mengurungkan niatnya.


''Ada yang ingin Mama bicarakan,'' ucap Mama Mayang setelah suasananya kondusif.


''Bicara apa Ma?'' tanya Ghazi penasaran. Sementara jantung Cindhi saat ini berdetak tidak karuan.


''Cindhi dan Galang kan sepasang kekasih, jadi biarkan Cindhi pindah ke perusahaan Galang yang ia kelola di LN. Kamu nggak mau kan lihat adikmu sedih hanya gara-gara berjauhan dengan kekasihnya,'' ujar Mama Mayang membuat Ghazi tersedak.


Uhuk uhuk uhuk.


''Ya itu tadi, biarkan Cindhi pindah ke LN bersama dengan Galang. Kasihan adikmu Zi,'' ujar Mama Mayang.


''Enggak Ma! Cindhi nggak boleh pergi. Cindhi baru saja kerja denganku selama 1 bulan ini. Dan Cindhi aku tugaskan memegang proyek yang ada di kota B. Jadi Cindhi nggak bisa pindah begitu saja,'' ucap Ghazi menolak keinginan Mamanya.


''Apa kamu tidak kasihan dengan adikmu?'' tanya Mama Mayang.


''Kasihan gimana sih Ma. Galang udah besar, dia bukan anak kecil lagi Ma. Kenapa selalu aku yang harus ngertiin dia sih?'' tunjuk Ghazi ke arah Galang.


''Papa tadi malam telepon Mama jika ada asisten yang akan menggantikan Cindhi di perusahaanmu. Dia anak sahabat Papamu, dan Papamu juga berharap kamu cocok dengannya,'' ucap Mama pelan.


Uhuk uhuk uhuk.


Kali ini bukan Ghazi yang tersedak, melainkan Cindhi. Ghazi dan Galang pun menyodorkan air minum kepada Cindhi bersamaan. Cindhi yang bingung ingin menerima air minum milik siapa, akhirnya menolak semuanya.

__ADS_1


''Aku minum punyaku saja,'' tolak Cindhi halus.


''Jadi gimana Zi?'' tanya Mama Mayang.


''Enggak! Aku nggak setuju. Berapa kali sih Ma Ghazi bilang jika Ghazi nggak mau di jodohkan seperti ini. Ghazi bisa mencari wanita yang akan mendampingi Ghazi nantinya. Mama Dan papa tidak usah khawatir,'' ujar Ghazi.


''Tapi kapan Zi. Umur kamu sudah hampir 30 Tahun, dan sampai saat ini pun kamu belum mengenalkan calonmu pada Mama,'' ucap Mama Mayang.


''Mama tenang aja. Umur hanya masalah angka Ma. Ghazi akan mengenalkan jika waktunya sudah tiba. Dan tentang Cindhi, sampai kapanpun Cindhi akan tetap bekerja denganku. Jika Papa masih ngotot mau menjodohkan aku dengan anak sahabatnya, aku yang akan menyuruh Papa menikahi gadis itu sendiri,'' ujar Ghazi bangkit dari duduknya dan menyambar jas yang ada di kursinya.


''Cin, ayo kita berangkat!'' ajak Ghazi. Cindhi pun menurut, ia berpamitan dengan Tante Mayang dan berangkat bekerja bersama Ghazi.


Mama Mayang pun memijat pelipisnya yang terasa sakit.


''Udahlah Ma, mungkin Kakak lagi banyak kerjaan. Jadinya ia belum bisa di ajak bicara serius,'' ujar Galang.


''Kakakmu selalu seperti itu jika menyangkut wanita. Mama pusing Lang,'' ujar Mama Mayang.


''Kakak kenapa ya? Kenapa dia kekeh banget mempertahankan Cindhi di perusahaannya. Bukankah Cindhi satu-satunya karyawan wanita yang ia miliki ya. Apa Kak Ghazi mulai tertarik dengan Cindhi?'' batin Galang menduga-duga.


''Enggak, enggak mungkin Kak Ghazi tertarik dengan Cindhi. Selama ini wanita yang di kenalkan oleh Mama dan Papa wanita yang berkelas dan yang pastinya lebih cantik daripada Cindhi. Namun Kak Ghazi tidak tertarik sama sekali. Apa benar yang di ucapkan Mama jika Kak Ghazi suka sesama jenis,'' batinnya lagi.


Di dalam mobil milik Ghazi hanya keheningan yang ada. Ghazi dan Cindhi berperang dengan fikirannya masing-masing.


''Apa kamu setuju dengan apa yang di ucapkan Mama Tadi?'' tanya Ghazi menatap Cindhi sekilas setelah sekian lama berperang dengan fikirannya.


''Tante Mayang sudah bicara denganku dan Hazel tadi malam. Aku berusaha menolak ucapannya, namun Tante Mayang tidak membiarkan aku berbicara,'' ujar Cindhi.


''Jadi kamu sudah tau semuanya?'' tanya Ghazi lagi.


''Tadi malam setelah aku keluar dari kamar Kakak, Hazel tiba-tiba menarik tanganku. Dia ingin mengobrol sebentar denganku, aku pun menyetujuinya karna aku juga ingin meluruskan hubungan ini. Namun Tante Mayang tiba-tiba datang dan menyutujui usulan Hazel yang ingin mengajak aku pindah ke perusahaannya,'' ujar Cindhi tertunduk.


''Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan kamu keluar dari rumahku Cin. Jika selangkah saja kamu keluar, itu berarti kita tidak bisa bersatu untuk selamanya,'' ujar Ghazi dengan raut wajah yang sendu.


*

__ADS_1


*


__ADS_2