
Setelah di beritahu oleh wanita paruh baya itu, Cindhi pun segera mengambil tasnya, itu satu-satu barang yang ia miliki saat ini.
''Aku harus pergi kemana?'' gumamnya. Ia menoleh kesana kemari, Cindhi benar-benar bingung dengan kota yang saat ini ia pijaki. Kakinya pun melangkah menyusuri jalan yang semakin siang semakin terik. Setelah berjalan lumayan jauh, perutnya pun merasa lapar. Akhirnya ia berhenti di depan sebuah warung makan sederhana.
''Bu, makan satu ya,'' ucap Cindhi dengan bahasa negara itu.
Ibu penjual makanan itu pun mengangguk. Ia segera mengambilkan makan untuk Cindhi.
Setelah makanan itu terhidang di depannya, Cindhi merasa mual karna bau dan bentuk makanan itu tidak seperti makanan biasa.
''Ada apa Nona? Apa anda tidak pernah memakan makanan seperti ini?'' tanya penjual makanan itu.
Cindhi hanya menggeleng dan menutup mulut dan hidungnya.
''Makanan ini adalah makanan khas kota ini Nona. Jika anda tidak berkenan makan makanan ini biar saya ambilkan makanan yang lain,'' ucap penjual itu lalu membawa kembali makanan yang sempat terhidang di meja Cindhi.
Cindhi pun melihat beberapa orang yang sangat menikmati makanan itu, ia pun bergidik ngeri. Bagaimana dengan rasanya, dari bentuk dan baunya saja sudah membuat mual, pikirnya.
''Silahkan Nona,'' ucap penjual makanan itu mengganti makanan Cindhi.
''Terima kasih,'' Cindhi pun segera menyendok makanannya. Kali ini bau dan bentuknya tidak seburuk makanan tadi. Ia pun dengan lahap memakan makanan yang ada di depannya itu.
Setelah ia menghabiskan makanannya. Cindhi pun segera membayar. Setelah membayar makanannya ia akan mencari tempat tinggal yang layak untuk ia tinggali.
''Apa aku harus tinggal di kota kecil ini? Bagaimana aku bisa hidup jika aku berada di kota ini. Aku tidak mempunyai keahlian apapun selain bekerja di kantoran,'' gumamnya.
Dengan berfikir yang lumayan lama, akhirnya ia lebih memilih untuk kembali ke negara asalnya. Disana ia akan lebih mudah mencari pekerjaan.
Dengan bermodal uang pemberian dari Om Leo, ia mencari kendaraan untuk membawanya menuju bandara.
*
Di lain tempat, Ghazi memilih pulang lebih awal. Ia benar-benar khawatir kepada istrinya. Kemarin pagi pesannya hanya di read tanpa mau membalasnya. Hari ini ia berkali-kali menghubungi ponsel sang istri, namun sama jawabannya. ''Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar servis area''
Ghazi mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Hatinya belum tenang jika belum bertemu dengan sang istri.
__ADS_1
Perjalanan dari kota P menuju ibu kota memerlukan waktu sekitar 3 jam. Dan sekarang Ghazi sudah sampai di halaman rumah.
Ia pun segera keluar dari mobilnya. Dengan langkah seribu ia segera masuk ke dalam rumah dan menuju kamar sang istri.
Tok tok tok.
''Cin, kamu ada di dalam?'' tanya Ghazi sambil mengetuk pintu kamar Cindhi.
Tiba-tiba dari arah belakang, Bibi menghampiri Ghazi.
''Den, Nona Cindhi belum pulang dari kemarin,'' ucap Bibi.
Tanpa berfikir panjang, Ghazi lalu membuka pintu kamar Cindhi. Dan benar yang di katakan Bibi, kamar itu kosong dan masih sangat rapi. Ia pun berjalan menuju lemari pakaian, takutnya Cindhi pergi dari rumah itu. Namun pakaian Cindhi masih utuh, tidak ada yang berkurang sama sekali. Ghazi melirik meja rias Cindhi, Di sana make up Cindhi juga masih tertata rapi. Namun Ghazi heran, kemana Cindhi pergi.
''Apa Mama sudah tau jika Cindhi nggak ada Bi?'' tanya Ghazi.
''Nyonya belum tau Den, Nyonya saat ini sedang sakit dan tidak keluar kamar sama sekali. Bahkan makan saja di dalam kamar,'' ujar sang Bibi.
Ghazi pun meraup wajahnya dengan kasar. Ia segera menghubungi orang suruhannya untuk mencari keberadaan Cindhi.
Setelah menelpon orang suruhannya, Ghazi menaiki tangga dan menuju lantai atas, dimana kamar sang Mama berada.
Tok tok tok.
''Ma, aku masuk ya Ma,'' ucap Ghazi. Ia pun segera memutar handle pintu dan masuk ke dalam kamar sang Mama.
Mama Mayang terlihat meringkuk di bawah selimut tebalnya. Ghazi pun segera mendekat ke arah Mamanya berada.
''Ma, Mama kenapa? Mama sakit apa?'' tanya Ghazi pelan.
''Mama hanya pusing,'' ucap Mama Mayang sambil memejamkan matanya.
''Ma, apa Mama tau Cindhi tidak ada di rumah sejak kemarin?'' tanya Ghazi dengan pelan. Mama Mayang pun langsung membuka matanya.
''Nggak ada di rumah? Kemana?'' tanya Mama Mayang dengan suara lemahnya.
__ADS_1
''Aku juga tidak tau Ma. Aku khawatir dengan Cindhi,'' ujar Ghazi dengan raut wajah yang sendu.
''Cepat cari Cindhi Zi. Dia sudah tidak punya siapa-siapa, bagaimana kalau sekarang dia dalam bahaya?'' ujar Mama Mayang dengan khawatir.
''Aku sudah menyuruh orang untuk mencari Cindhi Ma. Doain Ghazi ya bisa menemukan Cindhi,'' ucap Ghazi.
Ghazi pun pamit kepada sang Mama untuk ikut mencari Cindhi. Entah ia ingin mencari kemana ia pun tidak tau.
''Cinta kamu dimana?'' gumamnya saat berada di dalam mobilnya.
Sementara di lain negara Cindhi sudah sampai di negara asalnya. Ia pun mencari tempat seperti kos-kosan untuk ia tinggali sementara waktu ini. Ia pun akan memulai kehidupannya di negara ini.
''Mulai dari nol, semoga aku bisa!'' gumamnya. Ia pun berjalan di bawah teriknya mentari. Ia berjalan kesana kemari untuk mencari pekerjaan. Sampai di depan restoran ia melihat ada lowongan pekerjaan paruh waktu. Cindhi pun tidak masalah jika harus bekerja di restoran itu. Demi menyambung hidupnya.
Ia pun masuk dan menanyakan tentang lowongan pekerjaan itu. Dan ternyata lowongan itu belum ada yang melamar. Ia pun segera melamar dengan syarat-syarat yang telah di tetapkan di restoran itu.
Setelah memenuhi persyaratan, Cindhi pun akhirnya di terima di restoran itu sebagai waiters.
''Usir gengsimu Cin. Demi bisa bertahan hidup,'' ucapnya. Ia pun segera mengganti pakaiannya dengan seragam yang di berikan oleh restoran itu. Setelah berganti pakaian ia pun memulai pekerjaannya.
''Tolong kamu layani dengan baik tamu yang ada di ruang vvip. Itu tamu langganan di restoran ini,'' ucap sang manager restoran.
''Baik Pak,'' ucap Cindhi. Ia pun membawa buku catatan beserta daftar menu. Setelah sampai di ruang vvip, ia pun di buat terkejut dengan orang yang berada di depannya.
''Cindhi!'' ucap lelaki itu langsung bangkit dari duduknya.
''Kenan!'' gumam Cindhi pelan. Ia tidak menyangka akan bertemu laki-laki itu di saat ia seperti ini.
''Kamu benar Cindhi kan?'' tanya Kenan memastikan.
Cindhi hanya mengangguk pelan. Mau menghindar pun percuma, Kenan sangat mengenali dirinya
*
*
__ADS_1
Kenan? Kenan siapa ya? Hyooi😁😁😁ada yang ingat nggak sih?
Maaf guys baru up lagi. RL sangat padat.