
1 bulan pun telah berlalu, hubungan antara Ghazi dan Cindhi semakin hari semakin dekat. Mereka juga sudah mengutarakan isi hati masing-masing.
Di meja makan.
''Cin, besok aku harus pergi ke kota S untuk melihat perkembangan pembangunan disana, dan lusa nanti kamu bantu aku pergi ke kota B, di sana juga ada pembangunan. Biar nanti kamu di temani dengan Alex,'' ujar Ghazi.
''Kakak berapa hari disana?'' tanya Cindhi khawatir bila di tinggal lama.
''Mungkin sekitar 2 hari, dan kamu 3 hari di kota B. Setelah aku pulang dari kota S aku akan menyusulmu kesana,'' ujar Ghazi.
''Syukurlah cuma 2 hari,'' ucap Cindhi bernafas lega.
''Kenapa? Takut di tinggal lama, takut kangen ya?'' tanya Ghazi menaik turunkan alisnya.
''Kalau Kakak disana lama aku kan nggak ada temannya di rumah. Tante Mayang juga belum kembali kan,'' ujar Cindhi mengelak.
''Halah, bilang aja kalau nggak mau jauh-jauh dari aku. Bilang aja kalau takut kangen, iya kan?'' ledek Ghazi.
''Iya-iyaa. Kayaknya yang bilang juga sama deh,'' cibir Cindhi.
''Kalau itu mah nggak usah di tanya,'' ucap Ghazi tersenyum manis ke arah Cindhi.
Mereka pun melanjutkan sarapannya dengan canda riang di pagi hari. Hubungan yang awalnya setengah terpaksa bagi Cindhi, namun lama kelamaan ia pun menikmatinya dan sangat mencintai pria di depannya itu. Perhatian-perhatian yang Ghazi lakukan setiap harinya akhirnya membuat hatinya luluh.
Setelah selesai menikmati sarapan, mereka pun berangkat menuju perusahaan bersama-sama. Mbok Yem selaku asisten rumah tangga di rumah itupun melihat mereka berdua sudah layaknya suami istri. Dari yang awalnya Mbok Yem yang selalu menyiapkan keperluan Ghazi, namun sekarang sudah di ambil alih oleh Cindhi.
*
Hari esok pun telah tiba. Ghazi sudah menenteng koper yang akan di bawanya menuju proyek pembangunan yang ada di kota S.
''Biar Alex yang mengantar jemput kamu selama aku tidak ada. Tapi kamu harus janji satu hal, jangan dekat-dekat dengan Alex. Sepertinya dia tertarik denganmu,'' ujar Ghazi.
''Iya, udah sana berangkat!'' ucap Cindhi. Sebenarnya dalam hatinya ia tidak mau di tinggal oleh Ghazi. Selama tinggal di rumah ini, Ghazi tidak pernah meninggalkan ia sampai keluar kota.
Cup. ''Buat semangat,'' ucap Ghazi mengecup bibir Cindhi pelan.
''Memang cukup cuma satu doang?'' tanya Cindhi.
Cup cup cup. Ciuman beberapa kali mendarat di wajah Cindhi membuat ia memejamkan mata.
__ADS_1
''I love you,'' ucap Ghazi sambil mencubit pipi Cindhi gemas.
''Sakit Kak! I love you more, hati-hati. Kalau udah nyampek cepet telepon!'' ucap Cindhi.
''Iya istriku. Eh, calon istri,'' ujar Ghazi melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam mobilnya. Mobil Ghazi melaju meninggalkan pekarangan rumah. Senyum di bibir Cindhi pun mulai luntur.
''Udah kayak di tinggal suami aja Non, hehe,'' ujar Mbok Yem dari arah belakang.
''Eh, Mbok Yem ngagetin aja,'' ujar Cindhi mengelus dadanya karna kaget.
''Hehehe, maaf Non,'' ucap Mbok Yem lalu melipir kesamping rumah.
Setelah mobil Ghazi hilang dari pandangan, Cindhi pun masuk ke dalam rumah. Ia berjalan menuju kamarnya.
''Nggak ada Kak Ghazi sepi,'' gumam Cindhi. Matanya pun tak sengaja melihat baju Ghazi yang tergeletak di kursi kamarnya.
''Ini kan baju Kak Ghazi kemarin,'' ujar Cindhi. Ia pun memeluk dan mencium baju itu.
''Sepertinya aku sudah jadi budak cintanya Kak Ghazi,'' ucap Cindhi terkekeh geli.
*
*
Ada seorang Ibu yang tengah mengemasi pakaiannya dan di masukkan ke dalam koper. Sang anak yang baru pulang dari bekerja pun langsung melangkah menuju kamar sang Mama.
Ceklek.
''Ma,'' panggilnya.
''Iya Nak, kamu sudah pulang?'' tanya Mama Mayang.
''Iya Ma, tadi Papa ke perusahaan, jadi Papa yang ambil alih pekerjaan aku karna aku mau menghabiskan waktuku dengan Mama sebelum Mama balik ke Jakarta,'' ucap Galang, anak kedua Mama Mayang.
''Ya sudah, kalau gitu cepat mandi sana. Biar terlihat fresh,'' ujar Mama Mayang.
''Oke. Oh iya Ma, nanti malam Galang mau ajak Mama makan di restoran favorite aku. Mama dandan yang cantik ya. Papa juga ikut kok,'' ujar Galang tersenyum nakal ke arah Mama.
''Iya iya. Udah sana mandi. Bau nih,'' ucap Mama Mayang sambil menjepit hidungnya.
__ADS_1
Galang pun melangkahkan kakinya meninggalkan kamar sang Mama daripada nanti Mamanya mengomel tiada henti. Setelah sampai di kamarnya, ia mengambil handuk lalu masuk kedalam kamar mandinya.
''Apa aku harus ikut Mama ya, biar aku bisa mencari dia,'' gumam Galang.
*
Malam pun telah tiba, malam ini Galang akan pergi makan malam bersama Mama dan Papanya. Malam ini ia ingin menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya.
''Udah siap Ma?'' tanya Galang yang baru saja tiba di ruang tamu.
''Udah Nak, mau berangkat sekarang?'' tanya Mama Mayang.
''Iya Ma. Papa udah nungguin di sana,'' ujar Galang.
Mereka pun akhirnya berangkat menuju restoran favorite Galang. Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di restoran itu. Dari luar Mama Mayang sudah melihat mantan suaminya yang tengah duduk seorang diri di salah satu kursi yang sudah mereka pesan.
''Itu dia Papa Ma,'' ucap Galang menunjuk tempat duduk sang Papa.
''Iya,'' ucap Mama Mayang sambil melepas seatbelt nya. Ia pun segera turun menyusul Galang yang sudah turun terlebih dulu.
Mama Mayang dan Galang berjalan masuk ke dalam restoran. Semakin dekat dengan meja yang di tempati mantan suaminya membuat jantung Mama Mayang berdebar tidak karuan.
''Sadar! Dia bukan siapa-siapamu,'' batin Mama Mayang. Ia pun teringat kejadian hampir 10 tahun yang lalu, dimana sang suami mengkhianatinya dan lebih memilih mengakhiri rumah tangganya. Sang suami pun akhirnya kembali ke negara asalnya dan merintis usahanya di sana. Dan sampai sekarang, usahanya pun berjalan dengan lancar hingga membuat cabang dimana-mana.
''Malam Pa,'' sapa Galang duduk di depan Papanya.
''Malam Nak,'' ucap Papa Leo.
Mama Mayang lebih memilih diam dan duduk begitu saja di kursi yang kosong.
''Malam May, gimana Kabarmu dan Ghazi?'' tanya Papa Leo.
''Kami baik!'' ucapnya tanpa memandang ke arah mantan suaminya.
''Syukurlah! Apa Ghazi belum ingin menikah?'' tanya Papa Leo lagi.
''Entahlah, sampai saat ini aku belum pernah melihat Ghazi dekat dengam wanita,'' ucap Mama Mayang dengan raut wajah yang sedih.
''Bagaimana kalau kita jodohkan saja, Ghazi sudah waktunya untuk menikah, umurnya pun sudah hampir kepala tiga May,'' ujar Papa Leo.
__ADS_1
''Tidak hanya satu atau dua kali aku menjodohkannya dengan anak gadis sahabatku, namun apa jawabannya, ia tidak tertarik dengan wanita,'' ujar Mama Mayang kembali sendu. Ia berfikir negative terhadap anak pertamanya itu.
*