
Awal mula masuk Smp aku di minta pindah ke jawa timur untuk menemani nenek yang sendirian disana.
" Um.., kalau nanti disana bantu nenek ya nak..oh ya jangan lupa belajar , sholat nya jangan di tinggal, jangan tidur terlalu malam, jangan bangun kesiangan bla.. bla..bla ". Begitulah pesan mamaku sebelum berangkat kembali ke rumah kami di Jawa Barat dan meninggalkan aku tinggal bersama nenek.
Ada rasa sedih dan terharu ketika harus berpisah dengan Papa, Mama juga ketiga saudaraku.
Memang berat tapi akulah yang dipilih oleh nenek untuk menemaninya dan aku juga merasa kasihan melihat nenek yang sudah tua kesepian.
Pagi itu aku berangkat ke sekolah baru ku, dari rumah nenek, jaraknya lumayan jauh lah 15 menit kalau naik angkot.
Untuk sampai ke jalan raya harus berjalan kaki 200 meter lalu menyeberang rel kereta api yang sudah ada sejak jaman Belanda.
Seperti biasa aku berjalan santai tidak tergesa karena hari masih sangat pagi jam 5.30 an, suasana pagi itu sudah ramai sekali dengan kegiatan harian penduduk desa.
Ada yang ke sawah, ke pasar, antar anak ke sekolah, dll. Ku sapa mereka satu persatu karena begitulah yang di ajarkan oleh nenekku untuk selalu bersikap ramah pada tiap orang yang ku temui di jalan desa yang ku lalui.
Tiba - tiba saja langkahku terhenti karena terdengar teriakan orang - orang berteriak memanggil di belakang. Antara bingung dan kaget ku palingkan wajah untuk menengok ke belakang , aku melihat orang - orang panik berteriak memanggilku terutama bapak - bapak tukang becak yang berkumpul di pos ronda ujung jalan.
Kemudian ku lihat ke samping kanan, betapa kaget nya aku karena posisi ku sudah ada di atas rel kereta dan ada kereta api berhenti pas 6 meteran dari posisi ku berdiri.
Masinis keluar dan memarahiku yang aku tidak begitu jelas mendengar bicara apa karena pendengaran ku pada saat itu seperti tidak berfungsi.
__ADS_1
Keringat dingin bercucuran, badan ku lemas saat itu juga.
Tiba - tiba pak Edi tetangga nenek menghampiriku dan memapahku keluar dari rel agar kereta api bisa melanjutkan perjalanan.
" Iku putune si mbah Dollah gang masjid cak, mangkane selamat gak sido dadi tumbal ( itu cucunya mbah Abdullah di gang masjid kak, makanya kenapa tidak jadi tumbal) ". Pak Kardi salah satu tukang becak di pos ronda menghampiri kami.
Lalu mereka mengantarkan ku kembali ke rumah nenek.
Sesampainya di rumah , nenek kaget melihatku menangis di antar pulang oleh dua orang tetangganya.
" Loh..Um , kenopo kok wes moleh ? Koen kenopo nangis nduk ..onno opo ?". ( Loh..Um , kenapa kok pulang , kamu kenapa..? Ada apa ?". ) Nenek sangat kaget.
Setelah aku mulai tenang , nenek mulai bercerita yang seharusnya dia ceritakan kepadaku kemarin tapi dia lupa.
Sebenarnya awal pembangunan rel kereta api dulu itu pada jaman penjajahan Belanda sangat sulit karena banyak gangguan dari mahluk yang tidak kasat mata disana.
Sedang Belanda sangat membutuhkan rel itu segera untuk mengangkut gula juga hasil bumi lainnya ke kota.
Rakyat pribumi yang pada saat itu di paksa mengerjakan nya tidak bisa berbuat apa - apa, lalu Belanda meminta tolong pada sesepuh desa agar mengusir mahluk penganggu itu.
Sesepuh desa pun mencoba berdialog dan terjadilah perjanjian bahwa mahluk penunggu rel itu tidak akan menghambat lagi pembangunan rel asalkan setiap bulan syuro harus ada orang yang di jadikan tumbal .
__ADS_1
Karena terus didesak Belanda , sesepuh desa pun setuju dengan syarat tumbal tidak boleh diambil dari penduduk asli desa.
Dan kebetulan aku masih keturunan asli desa. walaupun merantau ikut orangtua keluar desa, karena perjanjian itu, gagal di jadikan tumbal.
Kata nenek kabarnya mahluk itu bisa mencium bau darah dalam tubuh korbannya untuk membedakan keturunan desa situ atau bukan,
Biasanya setelah kejadian korban nya akan bergentayangan selama seminggu entah mengapa ,warga juga masih belum tau namun setelah 7 hari gangguan itu akan hilang dengan sendirinya.
Dan ketika pak Edi mengantarkan aku, bercerita ke nenek kalau pada saat itu aku seperti orang bingung, di teriakin banyak orang tidak dengar bahkan suara bel kereta pun tidak dengar, kereta yang melaju tiba - tiba bisa mengerem dan berhenti begitu saja tepat 6 meter dari samping kanan ku berdiri.
Kami berdua pun bersama - sama bersyukur kepada ALLOH SWT yang melindungi ku dari musibah itu.
Namun tidak dengan warga desa, karena tumbal bulan syuro gagal maka akan ada korban lainnya.
Sejak saat itu setiap ada tamu dari luar desa atau pendatang yang menetap tinggal di desa selalu di ingatkan untuk berhati - hati melewati rel kereta harus banyak berdoa agar tidak menjadi korban tumbal selanjutnya.
Dan benar saja setelah tiga hari kejadian yang ku alami .Paginya warga di gegerkan dengan penemuan mayat yang tertabrak kereta api di pinggir rel dalam keadaan yang menggenaskan.
Seperti biasa tubuh korban hancur tidak berbentuk lagi, organ nya berserakan dimana - mana.
Korban adalah penjual tahu campur yang berasal dari desa sebelah, biasanya kalau malam korban keliling sambil memikul dagangan nya
__ADS_1