
Assalamualaikum sahabat, kali ini kembali saya ingin berbagi kisah nyata tentang pengalaman hidup Datuk/Atuk saya.
Beliau di kenal dengan nama H.Damrah, asal desa Jingah babaris atau desa Badaun nama desa itu sekarang.
Atuk seorang pejuang yang pada masanya ikut dalam perjuangan mengusir penjajah di daerah Rantau dan sekitarnya.
Rantau merupakan salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan.
Sebenarnya tak sedikit kisah kesaktian pejuan lokal dalam serta mengusir penjajah dari tanah kelahirannya. Namun kali ini saya ingin menceritakan tentang kesetiaan mahluk dari lain alam.
Walau sempat mendapat beberapa penghargaan sebagai salah satu Veteran perang yang berjasa dalam perjuangan mengusir penjajah. Beliau juga seorang petani yang handal, banyak tanah dan kebun yang beliau punya dirawat sendiri tanpa bantuan pekerja.
Kejadian aneh ini bermula sekitar tahun 1970-an menurut yang Atuk aku ceritakan.
Kesibukan merawat sawah dan kebun membuat beliau terkadang harus bermalam di pondok, apalagi mendekati masa panen hampir jarang beliau kembali ke rumah.
Menurut penuturan beliau saat itu ikan masih melimpah dan cukup dengan memasang jebak ikan/Lukah pada malam hari, kemudian di ambil lagi pada pagi harinya. Hasil melukah sehari sudah lebih dari cukup untuk di makan seminggu.
Hingga pada suatu pagi buta, Atuk aku melihat anak kecil seperti mencari ikan. Merasa aneh beliau pun mendekati guna memastikan apa yang beliau lihat.
Benar saja, anak kecil sekitar umur 7 tahun sudah sangat ahli mencari ikan tanpa alat bantu. Cukup lama beliau memperhatikan, dengan niat untuk menanyakan siapa dan dari mana anak kecil tersebut.
Kemudian beliau menghampiri anak tersebut sambil menanyakan hasil yang dia dapat.
"Wai sampat nya bakacal, kulihan ai leh nak? Saurangan haja ah Pian te"
Dalam bahasa Banjar yang artinya;
"Kok pagi bener nyari ikan , dapet kan nak, Emangnya kamu sendiri aja?"
"Inggih dapat ae" jawabnya singkat sambil terus meraba keberadaan ikan dengan kedua tangannya yang gesit.
Yang terasa aneh menurut Atuk aku adalah kok ada anak kecil berani mencari ikan sendirian ditengah hamparan rawa nan luas.
Sekedar gambaran tempat bertani warga disana adalah bagian dari rawa yang sangat luas, hingga menurut cerita bahkan sering buaya dan ular besar terlihat keberadaannya disana.
Kembali tentang anak kecil tadi, setelah berbincang singkat Atuk pun meninggalkannya untuk mengambil beberapa Lukah yang dia pasang tadi malam.
Setelah selesai mengambil Lukah yang dia pasang Atuk pun kembali ke pondok, karena suasana masih pagi dan dingin Atuk pun menyalakan api untuk merebus air dan ubi untuk sarapan.
Setelah air mendidih beliau langsung menyeduh teh untuk menghangatkan badan, lalu tiba-tiba beliau di buat terperanjat dengan kedatangan akan kecil yang beliau jumpai tadi muncul di depan pondok.
"Ulun minta kopi bulih lah, kada usah bagula"
(Kalo boleh saya minta kopi,tak usah pake gula) ucapnya memohon.
Sontak Atuk pun mengiyakan dan menyuruhnya masuk ke pondok sambil menyuguhkan ubi rebus yang sudah di taburi gula.
Setelah dibikinkan kopi anak itu minum sekali tenggak tanpa merasa panas sedikitpun lalu langsung menuju keluar pondok tanpa sepatah kata.
__ADS_1
Disitu Atuk sudah merasa ada yang aneh dengan anak ini dan yakin ia bukanlah dari golongan manusia.
Keesokan paginya Atuk pulang ke rumah di desa untuk mengantar ikan hasil tangkapan, lalu kembali ke pondok siang harinya.
Dari jauh beliau melihat anak yang kemarin sudah menunggu didepan pondok, tanpa banyak bicara Atuk langsung merebus air untuk membuat kopi. Setelah disuguhkan kembali dia meminumnya dengan sekali tenggak lalu pergi lagi.
Begitulah setiap harinya anak itu terus datang menurut cerita Atuk, Sampai beberapa minggu kemudian beliau mulai penasaran apa gerangan yang anak itu inginkan hingga selalu datang.
Di suatu pagi Atuk sengaja menunggu anak itu dengan kopi yang sudah diseduh kan.
Tak lama datang lah anak itu dan Atuk pun berucap sebelum dia pergi.
"Ikam handak napang ti tuh? mun handak umpat aku ayuha ikam diam disia wan aku. Anggap ha aku kuitan ikam tuh ai"
(Kamu maunya apa? kalo mau ikut saya silakan tinggal disini. Anggap saja aku sebagai orang tua mu)
Mendengar itu lalu si anak untuk pertama kalinya tersenyum sambil mendekat dan memeluk Atuk.
Sejak saat itu ia tinggal di pondok dan sering membantu Atuk memasang Lukah atau membersihkan rumput di sawah.
Menurut cerita Atuk anak itu memang tak bisa bicara tapi dia mendengarkan dan paham apa yang kita bicarakan.
Pertumbuhan badannya pun tergolong cepat dari normalnya anak anak. Satu lagi yang bikin heran, cuman Atuk yang bisa melihatnya bahkan istri Atuk sendiri tak bisa melihatnya.
Dalam hati Atuk sudah menganggap ia sebagai anak walau bukan dari bangsa manusia, ia sangat rajin membantu bahkan ketika ditinggal pulang ke desa ada saja yang ia kerjakan di sawah atau mencari ikan.
Hari berlalu dan akan itupun tumbuh dewasa dengan cepatnya, Jujur beberapa kali aku sempat bertanya pada Atuk siapa nama anak tersebut, namun beliau tak pernah memberi tahu dengan alasan pantangan namanya disebut oleh orang lain.
Menurut Atuk itu hanya ulah anak tersebut untuk menakuti orang-orang yang punya niat tak baik di sawah beliau. Istilahnya ia hanya menjaga sawah dan barang-barang tapi jika orang tak punya niat baik diapun tak pernah mengganggu.
Setelah sekian lama anak itupun tumbuh menjadi pemuda dewasa dan Atuk mulai memasuki usia senja, tak lagi jelas melihat dan tak mampu berjalan jauh. Jadi yang mengelola sawah di gantikan anak kedua beliau yang belum berkeluarga.
Sedangkan anak pertama adalah nenek saya dan sudah punya rumah sendiri tak jauh sekitar 20 menit jalan kaki dari rumah Atuk.
Saya sering menjenguk atau menginap dirumah Atuk, memang seru karena beliau selalu bercerita banyak tentang pengalaman hidup. Mulai dari menjadi pejuang hingga kisah anak dari bangsa gaib yang beliau adopsi.
Saya selalu bersemangat mendengarkan setiap cerita, yang saya ingat Atuk sudah tak bisa melihat namun beliau bisa tahu siapa yang datang kerumah. Itu karena anak angkat beliau yang memberi tahu ungkap beliau.
Saat itu saya masih sekita 11 tahun dan termasuk yang paling disayang sama Atuk, selain bercerita juga banyak petuah bijak yang beliau pesankan. Namanya masih anak-anak saya pun hanya mengiyakan saja.
Hingga pada suatu malam Atuk sakit sesak nafas parah, dan beliau pun bilang tak lama lagi beliau mau pulang. Semua keluarga berkumpul sedih sambil mendoakan Atuk yang mulai susah bernafas. Tapi yang aku dengar mulut beliau terus mengucap syahadat berulang-ulang.
Akan tetapi tiba-tiba beliau menangis dan berkata,
"Ayuam jangan di aur aku handak bulik, Ikam ku ikhlaskan dunia akhirat"
(Jangan kamu mengganggu, aku mau pulang. Kamu sudah ku ikhlaskan dunia dan akhirat)
ucap atuk lirih.
__ADS_1
Lalu anak-anak beliau bertanya
"napa tuk, sapa nang mahaur Pian"
(Kenapa tuk, siapa yang menggangu Atuk)
"Kada ini anakku Nang di subalah, kada marilakan aku. Bapangsar baulit inya dihiga manggarahung jd kdkw baingat aku"
(Enggak cuma ini anak ku yang dari alam sebelah tak merelakan aku pergi. Terus saja menangis disamping hingga menggangu aku dalam mengingat Allah)
Setelah itu kembali terdengar kalimat syahadat yang terus di ulang-ulang oleh Atuk. Hingga kusaksikan sendiri saat suara beliau perlahan hilang dan semua menjadi hening.
Tak lama pecahlah tangis dirumah itu, bahkan aku pun langsung menangis sejadi-jadinya. Atuk yang sangat kami sayangi kini sudah berpulang ke Rahmatullah pada tahun 1996.
Orang-orang mulai berdatangan dan saya pun duduk disamping jasad Atuk yang sudah ditutupi kain. sampai saya merasa sangat mengantuk kemudian diantar ke kamar oleh ibu, aku itulah yang terakhir aku ingat.
Keesokan harinya proses pemakaman Atuk di mulai pagi-pagi sekali, hingga sekitar jam 10 pagi semua sudah selesai.
Kebiasaan di tempat kami apabila ada keluarga yang meninggal setelah di kuburkan langsung disambung acara pembacaan Al-Qur'an disamping makam hingga khatam selama 3 (tiga) hari berturut-turut.
Ibu lah yang ditugaskan mengantar makan untuk para pembaca Al-Qur'an tersebut. Pagi, siang dan malam selalu di antarkan makanan dan keperluan lainnya.
Pada malam pertama aku memaksa ikut ibuku untuk mengantarkan makanan ke makam, awalnya ibu menolak tapi karena aku memaksa beliau hanya berpesan
"jika nanti melihat hal-hal yang aneh cukup diam dan jangan di tegur ya"
Ucap ibu dan saya pun mengangguk tanpa tahu maksud ibu apa.
Setelah berjalan kaki sekitar 20 menit kami hampir sampai di tenda tempat orang-orang yang membacakan Al-Qur'an.
Namun saat sampai di depan tenda, tiba-tiba saya kaget hingga terperanjat melihat ada mahluk tinggi besar dengan bentuk serba putih berdiri di bagian luar belakang tenda.
Ibu hanya mengisyaratkan agar saya menunduk sambil beliau memeluk.
Tapi anehnya saya justru terus memandangi mahluk tersebut sebab jarak antara kami sangat dekat tak lebih dari 5 meter.
Saya perhatikan perawakannya tinggi dan besar tapi hanya berbentuk kain bening yang berkilau cahaya putih. Begitu juga dengan mukanya yang tak seolah tak tampak padahal kami jelas berseberangan.
Dengan cepat ibu langsung menarik saya masuk kedalam tenda, sambil menyajikan makanan yang tadi kami bawa. Setelah itu kami langsung pamit pulang dan ibu berbisik agar jangan menengok apa yang tadi ada diluar.
Saya berjalan sambil dipeluk ibu, berjalan dengan cepat supaya lekas sampai dirumah, maklumlah saat itu desa kami masih sepi dan banyak pohon-pohon besar di tepi jalan menambah kesan angker.
Sesampainya dirumah barulah ibu bercerita bahwa yang tadi ada di luar tenda adalah peliharaan Atuk. Mungkin saking besar rasa sayangnya hingga dia selalu terlihat berada disekitar makam Atuk.
Kenapa ibu bisa tahu, sebab Atuk sempat berpesan agar jangan takut jika nanti anak angkat beliau datang dan terlihat di sekitar makam. Sebab dia sudah menganggap Atuk sebagai orang tuanya.
Kemudian cerita tentang anak angkat yang setia ini berlanjut sampai sekarang, masih sering warga melihat seperti ada seseorang berada disekitaran makam Atuk tapi saat di dekati tiba-tiba menghilang .
Begitulah kisah ini saya bagikan semoga ada hal baik yang bisa kita ambil dari cerita ini.
__ADS_1
Tak lupa saya memohon agar sudi kiranya teman-teman mau mendoakan Atuk saya agar selalu mendapatkan Rahmat dan tempat yang layak di sana.