Sebenarnya Aku Kenapa?

Sebenarnya Aku Kenapa?
PEREMPUAN DI UJUNG MAGRIB part 1


__ADS_3

****


Aku seolah dapat mendengar suara detak jantungku sendiri saat perempuan misterius itu kembali muncul seperti beberapa hari yang lalu. Ia hanya diam, berdiri di tengah halaman rumahku dengan membawa paying hitam yang menutupi wajahnya.


Langit sudah gelap, dan di rumah ini hanya ada aku dan Noa—adikku yang berusia tujuh tahun—sedangkan Papa, tampaknya belum pulang dari toko kami yang berada di pasar.


“Mbak, dia masih ada di luar?” tanya Noa dengan suara bergetar menahan rasa takut.


Aku menelan ludah, sambil menutup mulutnya lembut.


“Jangan berisik, Noa. Dia akan segera pergi.” Bisikku.


Saat ini kami berdua berada di dalam kamarku. Dari sini sosok perempuan dengan gaun hitam itu terlihat lebih jelas, karena posisi kamarku memang berada di depan.


“Aku mau pipis, Mbak Yas,” lirih Noa yang membuat aku mendelik.


Aku melirik kamar mandi yang berada dekat dengan pintu kamarku, lalu mengalihkan pandangan pada sosok misterius di halaman sana. Sosok itu masih bergeming, namun kini mulai samar karena lampu teras yang belum dinyalakan sedang di luar hari sudah gelap.


“Sebentar, Mbak Ayas cek pintu kamar dulu.” Gumamku yang disambut tatapan enggan oleh adikku itu.


Ia menahan lenganku, namun aku tak mau mengambil resiko sebab lupa sudah mengunci pintu kamar atau belum. Tadinya, aku dan Noa sedang asyik menonton film di dalam kamar, dan seperti dua hari yang lalu tercium aroma busuk serta ketukan berulang pada pintu rumah.


Awalnya, itu semua bermula sejak dua hari yang lalu. Hari itu juga pertama kalinya aku melihat sosok misterius itu berdiri di tengah halaman sambil membawa payung hitam. Kupikir itu halusinasi, namun nyatanya Noa juga melihatnya dengan jelas.


Saat akan keluar dan menghampirinya, alarm kewaspadaan dalam kepalaku berbunyi. Akhirnya aku dan Noa mengabaikannya, hingga Papa pulang. Saat menceritakan hal itu, respon Papa di luar dugaan. Ia mengatakan jika kami mungkin tengah berhalusinasi, karena sering menonton film seram.


Sejak itu, aku dan Noa memutuskan untuk tidak mengatakan apapun pada Papa. Sikap lelaki itu memang berubah sejak kematian Mama tiga bulan yang lalu.


Aku menarik napas, lalu berjalan dengan gaya jalan bebek menuju pintu kamar. Setelah memastikan pintu terkunci rapat, aku mmberi isyarat agar Noa, menutup gorden jendela. Ia mengangguk, dan menarik ikatan gorden sehingga penutup jendela itu terbuka dan menutupi jendela kamarku.


“Cepat, cepat!” seruku memanggil Noa.


Adikku berguling di lantai, tak lama seperti dugaanku terdengar ketukan di pintu kamar dan juga jendelaku berulang kali.


“Hiiy,” Noa mulai ketakutan, ia memepet tubuhku dengan wajah pucat pasi.

__ADS_1


“Mbak Yas, itu pasti dia,” ucap Noa sambil berusaha menutup matanya.


Ketukan di pintu dan jendela semakin meriah, aku sendiri berusaha menahan pintu meski sudah menguncinya dari dalam. Dadaku bergemuruh saat tercium aroma yang benar-benar sangat busuk.


Tak!


Tak!


Tak!


Kaca jendelaku seolah dilempari kerikil, sedang kini gagang pintu mulai bergerak naik-turun, seakan ada yang tengah berusaha membukanya dari luar.


“Mbak Ayaaas,” lirih Noa lagi.


Aku memintanya diam, rasa penasaran membuatku melakukan Tindakan yang seharusnya tak pernah kulakukan. Dengan cepat aku menungging di depan pintu kamar, memposisikan kedua siku dan kepalaku menempel pada lantai dan berusaha melihat dari bawah celah pintu. Tak ada apa-apa. Hanya ada kegelapan, sebab aku memang belum sempat menyalakan lampu-lampu selain di dalam kamarku.


Terasa sebuah tarikan pada ujung kaos yang tengah kugunakan. Aku menepis tangan Noa.


Meski tak bisa melihat apapun, ketukan dan gerakan gagang pintu masih terus terjadi.


“Mbak Ayas …,”


Aku berhenti mengintip karena merasa apa yang kuperbuat adalah hal yang sia-sia. Dengan kesal, aku menahan gagang pintu yang masih bergerak.


“Sebentar, Noa! Mbak nggak mau kita ketakutan terus kayak gini. Kita tinggal disini seumur hidup, dan sekarang setelah Mama nggak ad akita jadi penakut begini.” Jelasku tanpa menoleh padanya.


Gagang pintu kamarku berhenti bergerak. Aku merasa mulai bisa mengendalikan situasi. Sekali lagi, aku berusaha mengintip dari bawah celah pintu. Namun, ketika pipi kananku baru menempel ke atas lantai, aku dikejutkan dengan penampakan wajah yang tampaknya juga tengah mengintipku dari luar. Matanya merah menyala, dan aku bersumpah bisa melihat senyuman di wajahnya meski pandanganku terbatas.


“Hosssh! Hossh! Hossh!”


Aku memukul dada yang terasa sesak, sedang air mata meleleh di pipiku.


“I—itu tadi apa?” tanyaku pada diri sendiri.


Noa semakin menempel padaku, kurasakan tubuhnya mulai bergetar hebat. Aku menoleh dan mendapatinya meringkuk sambil membenamkan wajah pada tangannya.

__ADS_1


Tidak apa-apa, setidaknya Noa tidak melihat sosok mengerikan itu. Batinku.


Ketukan di pintu kamar mulai terdengar, gerakan gagang pintu mulai menggila. Aku memeluk Noa, sedang adikku itu segera mendongak.


“Mbak, ayo telepon Papa.” bisiknya dengan air mata berderai di wajahnya.


Aku menelan ludah, melihat telepon genggam yang kutinggalkan di atas kasur. Jaraknya memang tak terlalu jauh, namun aku merasa taka man meninggalkan pintu kamar ini. bayangan wajah dengan mata merah itu kembali terlintas.


“Kamu tadi kenapa narik bajunya Mbak?” kali ini aku bertanya padanya.


Noa menggeleng. Sesekali matanya bergerak seolah menunjuk ke arah jendela.


“Kita sembunyi di bawah kasur saja, ya, Mbak?” bisiknya tanpa menjawab pertanyaanku.


Kali ini aku yang menggeleng, “Tidak, Mbak merasa aman dekat dengan pintu kamar. Kita disini saja.” Tolakku.


Bahu Noa naik-turun, ia sekali lagi memberi kode ke arah jendela kamar.


“Ada yang mengintip kita, Mbak,” ucapnya saat aku memeluk tubuh kecilnya.


Alisku bertaut, “Hah?”


Sesuatu yang basah dan hangat menjalari telapak kakiku, aku menunduk dan mendapati cairan bening itu berasal dari tubuh adikku. Noa baru saja mengompol!


Rasanya ingin tertawa, namun keadaan tidak memungkinkan. Aku akan membuka mulut saat Noa menarik kepalaku. Ia mendekatkan bibirnya pada telingaku dan mulai berbisik.


“Jangan lihat ke ventilasi jendela, Mbak Ayas, dia sejak tadi masih ada disitu,” bisiknya nyaris tak terdengar.


Aku menelan ludah, tengkukku meremang mendengar suara adikku yang ketakutan itu. Meski berusaha mengabaikan, kepalaku terus saja bergerak menoleh ke arah jendela kamar.


Dan benar saja, dari lubang ventilasi kamar yang berada tepat di atas jendela kamar aku melihatnya tengah menyeringai ke arahku dan adikku. Wajah itu, dengan dua bola mata merah menyala, itu kini memiringkan kepalanya, ia tampaknya mengucapkan sesuatu.


Dari gerakan bibirnya, aku seakan bisa mengetahui apa yang baru saja ia katakan.


“K-E-T-E-M-U!”

__ADS_1


__ADS_2