Sebenarnya Aku Kenapa?

Sebenarnya Aku Kenapa?
Pemuja setan 1


__ADS_3

Rasa sakit itu datang lagi, membelit sekujur tubuh Maharani ketika langit mulai redup. Nyeri kian menusuk, menjalar dari ujung kaki hingga ubun-ubun ketika lantunan suara azan mulai menggema dari corong-corong pengeras suara masjid dan musala. Remaja kelas dua SMP itu merasakan hawa panas menguap dari kulitnya yang kini tampak memerah, diiringi rasa gatal yang tak tertahankan. Kedua tangannya pun menggaruk dengan kasar hingga setiap inci kulit putihnya dipenuhi luka cakar.


Sudah puluhan kali Pak Jarot membawa anaknya berobat ke dokter yang berbeda, tetapi tetap saja tak menunjukkan adanya perubahan. Semenjak menstruasi pertamanya tiga bulan lalu, Maharani selalu merasakan sakit yang menyiksa ketika sandikala datang. Tak hanya itu, tercium bau busuk menyengat menggantung di udara, memenuhi setiap sudut kamarnya diiringi bunyi dengung lalat-lalat hijau yang terbang berputar, lalu hinggap di sekujur tubuh remaja itu. Bau yang menguar dari tubuh tak berdaya itu busuk seperti bangkai.


Terdengar samar suara embusan napas Pak Jarot dari balik pintu kamar Maharani. "Saya putus asa, Bu. Sudah tak tahu lagi harus dengan cara apa menyembuhkan Maharani. Kasihan anak kita. Semua dokter bilang kalau Maharani tidak punya infeksi penyakit dan hasil lab-nya juga bagus," ucapnya terdengar pasrah.


Maharani tahu, bapaknya begitu lelah memikirkan keadaan dirinya yang setiap magrib tiba harus menahan rasa sakit dan bau busuk yang mengaduk perut. Keanehan itu hanya muncul di kala surup menjelang dan hilang ketika waktu isya tiba. Namun, tetap saja dia tersiksa sebab hal itu.


"Apa tidak lebih baik kalau Maharani kita bawa ke rumah niniknya saja, Pak? Banyak orang pintar di sana yang pasti bisa menolong anak kita," balas Bu Titin memberi saran.


"Loh, Ibu ini gimana, sih? Anak sakit, kok, malah mau dibawa ke orang pintar. Sakit itu, ya, berobat ke dokter bukan dukun. Dukun itu banyak berdusta ... tukang bohong, Bu."


"Maharani itu sakitnya nggak jelas, Pak. Sudah pasti, itu harus ke orang pintar."


"Dokter saja, Bu. Lagian, kita tidak kekurangan materi kalau harus bayar dokter dan tebus obat. Orderan rias pengantinmu saja selalu ramai dan mereka berani bayar mahal."


"Pokoknya, Maharani dibawa saja dulu ke rumah niniknya, biar dia tinggal di sana sementara waktu. Harus besok, Pak ... kasian dia." Suara Bu Titin terdengar sedikit memaksa suaminya.


"Besok? Ibu yakin?"


"Yakin, Pak. Udah, nggak usah nunggu-nunggu, bawa saja Maharani besok pagi. Firasat Ibu kuat, Pak."


"Harus pagi?"


"Pokoknya, Bapak harus tiba di sana sebelum magrib. Bisa repot di jalan kalau Maharani kambuh."


"Ya, sudah, kalau Ibu yakin Rani akan lebih aman di sana, Bapak nurut sajalah. Lalu, jam berapa kita antar Rani ke rumah niniknya?"


"Ibu tidak bisa ikut, Pak. Tahu sendiri, kan, banyak orderan untuk ngerias, mana mungkin dibatalkan. Bapak sendiri saja, ya, yang anter Rani ke sana. Kita bagi tugas."


Suasana di luar kamar Maharani hening sejenak, lalu tiba-tiba seseorang mendorong pintu ke dalam.


"Gimana keadaanmu, Nak?" tanya Pak Jarot.


Pak Jarot duduk di samping Maharani yang tengah berbaring. Tak tampak sedikit pun perasaan jijik di wajahnya karena bau yang menyengat dari tubuh putrinya. Tangannya kini mengelus ubun-ubun Maharani ke belakang, lalu mengecupnya.


"Yang sabar, ya, Nak. Bapak yakin kamu pasti sembuh. Untuk sementara, kamu nggak usah sekolah. Kamu harus sembuh total dulu," ucap Pak Jarot, lalu kembali mengecup kening Maharani.


"Bapak ... Rani kayaknya bakal mati. Sakit sekali, Pak." Maharani mengeluh di hadapan bapaknya.


"Ngomong apa, sih, Nak? Nggak boleh bilang begitu. Besok, Bapak antar kamu ke rumah ninikmu. Sekarang, kamu tidur saja biar besok subuh badannya segar. Banyak-banyak doa."


Maharani mengangguk, mengiakan.


***


Suara ayam berkokok menarik Maharani dari lelapnya tidur. Sejenak dia mengerjap, lalu mengucek mata agar penglihatannya semakin jelas. Sedikit menggeliat membuat badannya terasa lebih enteng. Kemudian, samar-samar, dia mendengar suara ujung sapu lidi beradu dengan permukaan tanah di halaman.


Tak lama, suara gesekan ujung sapu lidi itu diselingi suara orang bercakap di luar. Maharani segera bangkit karena mendengar pertanyaan yang sepertinya berkaitan dengan kondisinya saat ini.


Maharani mengintip dari balik gorden yang sedikit dia singkap untuk memastikan suara siapa di luar sana.


"Eh, Bu Titin ... ada nyium bau busuk nggak, sih, kalau magrib? Saya sampai hampir muntah saking busuknya bau itu," tanya Bu Surti tetangga depan rumah Maharani.


"Saya nggak nyium bau apa-apa, Bu Sur ... apa mungkin bangkai tikus? Di depan rumah Bu Sur, kan, ada got. Coba minta suaminya bersihkan got itu," jawab Bu Titin menyembunyikan situasi.


"Iya kali ya, tapi cuma magrib itu saja baunya. Kalau sudah agak malam, baunya hilang ... udah berbulan-bulan kayak gini. Oh, ya, Maharani sakit, ya, Bu? Semalam nggak sengaja dengar kayak ada suara orang nangis. Persis banget dari arah sini suaranya. Maaf lo, Bu, nggak sempat jenguk Rani."


"Ah, nggak, kok. Maharani nggak sakit, Bu. Dia baik-baik saja. Malah pagi ini dia mau main ke Dusun Batu Kemalik ... mau nginep beberapa hari di sana, kangen niniknya." Bu Titin menyembunyikan keadaan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Oh, syukurlah ... kirain anak Bu Titin sakit."


"Nggak, Bu Sur ... makasi, lo, udah perhatian sama Rani. Ya sudah, Bu Sur, saya mau masak dulu." Bu Titin pun meninggalkan Bu Surti yang masih berdiri dengan penuh tanda tanya.


Bu Surti tak langsung pergi saat Bu Titin masuk rumah meninggalkannya. Tatapan perempuan berbadan subur itu mengisyaratkan sebuah ketidakyakinan. Gerak-geriknya seolah-olah ingin mencari tahu sesuatu.


Mata Bu Surti kini memindai ke arah rumah besar itu, persisnya ke arah kamar Maharani seakan-akan ada sesuatu yang mencuri perhatiannya. Dia mendekat dengan langkah pelan. Sorot matanya benar-benar tak lepas memandang setiap sudut rumah itu.


"Rani ... itu kamu?" tanya Bu Surti dari luar. Dia berjalan mendekat sambil wajahnya sedikit mendongak ke arah lubang ventilasi udara di atas tembok kamar Maharani.


Maharani merasa ada yang aneh dengan tingkah Bu Surti di luar, lalu melangkah mundur melepas gorden yang tadi dipegangnya dan segera menoleh ke arah ventilasi udara di atasnya.


Tiba-tiba, terdengar suara jeritan dari mulut Bu Surti, "Astagfirullah ... Ma-Maharani jadi setaaan ...." Lalu, perempuan gembul itu segera meninggalkan rumah Bu Titin dengan buru-buru.


Tak lama, suara gedoran pintu tiba-tiba mengejutkan Maharani, lalu diiringi suara ibunya memanggil dari luar. Maharani pun segera memenuhi panggilan itu.


"Rani, pagi ini juga kamu berangkat ke rumah ninikmu. Ada warga yang sudah mulai curiga sama apa yang kamu alami. Ibu tidak mau aib ini nanti tersebar. Bisa-bisa sepi order rias pengantin Ibu," ucap Bu Titin terburu-buru, lalu masuk ke dalam kamar Maharani dan segera menuju lemari.


"Kenapa buru-buru, Bu?" tanya Maharani saat Ibu mulai memasukkan baju anaknya ke dalam koper.


"Waktunya hampir tiba, Rani!"


"Wa-waktu? Waktu apa, Bu?" tanya Maharani tak mengerti.


"Eh, tid-tidak ... eem, maksud Ibu waktu magrib terasa cepat tibanya sekarang. Jadi, kamu harus segera berangkat ke rumah ninikmu biar aman."


Maharani pun hanya mengiakan saran ibunya.


Belum selesai mengemas semua baju Maharani ke dalam koper, tiba-tiba petir terdengar menggelegar dan memekakkan telinga, lalu hujan turun menderu.


***


Sedari tadi pagi, hujan tak kunjung reda. Embusan angin yang menggoyang dahan-dahan pohon membuat Pak Jarot ragu mengantarkan Maharani ke rumah niniknya walau mobil telah siap. Dia khawatir ada pepohonan yang mungkin akan tumbang, terlebih sepanjang perjalanan menuju dusun tempat niniknya tinggal terdapat banyak pepohonan besar.


"Anginnya terlalu kencang, Bu. Takut ada pohon tumbang. Banyak kejadian soalnya," balas Pak Jarot.


"Sudah, jalan saja. Doa yang baik-baik saja, Pak ... nggak akan terjadi apa-apa. Percaya sama Ibu."


"Iya, tapi nggak usah buru-buru juga, Bu."


"Hallaaah, sudah, cepat berangkat!" Suara Bu Titin sedikit meninggi.


"Sebenarnya ada apa, sih, Bu? Bapak tahu kalau Rani harus sampai sebelum magrib. Tapi ini masih lama magribnya. Lagi pula, ke dusun niniknya cuma dua jam perjalanan," balas Pak Jarot.


"Sudah, Pak ... kita nurut aja sama Ibu." Maharani menyela karena tak ingin mendengar ibunya yang terus mendesak.


Akhirnya, di bawah guyuran hujan lebat, Pak Jarot terpaksa melajukan mobilnya menuju Dusun Batu Kemalik yang berada di bawah kaki gunung Rinjani.


Hujan lebat disertai angin kencang sangat menghalangi jarak pandang. Pak Jarot pun tak berani mengambil resiko dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


"Kayaknya kita akan tiba di rumah ninikmu tepat saat magrib, Nak," ucap Bapak sambil mengemudi.


"Nggak apa-apa, Pak. Semoga Rani bisa tahan."


"Mudah-mudahan saja firasat ibumu benar. Dengan kamu tinggal di kampung ninikmu, kamu bisa sehat lagi, Nak."


Maharani mengamini ucapan bapaknya.


***

__ADS_1


Sinar pucat lampu mobil jatuh ke atas permukaan jalan tanah yang agak berkerikil. Derak-derak suara ban yang menggilas batu-batu kecil itu berirama menghanyutkan. Sekarang, mereka memasuki Dusun Batu Kemalik, ditandai dengan gapura batu yang dibangun seadanya oleh warga.


"Kelihatan gelap sekali, Pak," ucap Maharani sambil melihat ke arah luar.


"Sepertinya listrik padam," jawab Pak Jarot sambil terus mengemudi, menghindari kubangan air yang dalam di tengah jalan.


Saat alam semakin remang dan hujan masih mengguyur, Maharani pun tiba di sebuah rumah sederhana dengan tembok bercat putih yang sudah tampak kusam dan terkelupas di beberapa bagian. Itu adalah rumah Ninik Rempik, orang tua dari ibunya.


Sejak lama, suasana rumah itu sungguh tenang, cenderung beraura pemakaman karena sunyi dan tak tampak adanya kehidupan. Para penghuninya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Entah karena apa.


Maharani tampak ragu untuk keluar dari mobil. Walaupun sering berkunjung, tetapi malam ini adalah malam pertama baginya untuk menginap.


"Ayo, Rani," ajak Pak Jarot.


Baru saja keluar dari mobil, tiba-tiba suatu keanehan terjadi. Tak ada lagi rasa sakit, panas, dan gatal yang Maharani rasakan. Padahal, hari semakin merangkak pasti menuju gelap.


"Bapak ... Rani nggak gatel lagi! Kayaknya Ibu bener, deh, Pak," ucap Maharani dengan senyum terkembang.


Terdengar suara pintu dibuka. Ninik Rempik keluar dengan sebuah lampu teplok di tangannya.


"Ninik sudah bisa tebak. Kalian pasti akan datang dalam waktu dekat, apalagi Maharani sudah masuk usia menstruasi." Sang Ninik seolah-olah telah mengetahui apa yang telah terjadi pada cucunya.


"Bagaimana Inak bisa tahu?" tanya Pak Jarot kepada mertuanya.


Ninik Rempik hanya tersenyum, lalu berbalik arah, masuk ke dalam rumah dengan tangan terkait di bawah punggungnya yang tampak semakin bengkok karena usia. Tak lama, dia memanggil Pak Sarmidi, anak laki-lakinya yang selalu setia menemani. Dia adalah adik dari Bu Titin, berusia 40 tahun dan belum menikah.


"Midi, antar Maharani ke kamar dan bantu bawa barang-barangnya," perintah Ninik Rempik terdengar berwibawa.


Tanpa banyak bicara, Pak Sarmidi menuruti perintah Ninik Rempik. Dia memang laki-laki pendiam yang selalu menuruti setiap perintah ibunya, bahkan untuk tak menikah.


***


"Inak, saya titip Maharani sementara di sini. Saya tidak tahu dia sakit apa. Saya sudah bawa ke banyak dokter, tapi hasilnya tidak ada. Setiap magrib dia se ...."


"Saya sudah tahu," ucap Ninik Rempik memotong ucapan Pak Jarot, menantunya.


"Iya, bantu Maharani sembuh, Inak." Pak Jarot tampak memelas.


"Nggih, inak akan usahakan, Rot."


Setelah berbicara cukup lama, Pak Jarot izin pamit pulang setelah menitipkan sebuah amplop berisi uang untuk memenuhi kebutuhan anaknya selama di sana.


"Jarot, sampaikan kepada istrimu, jangan terlambat!" pesan Ninik Rempik kepada menantunya.


"Baik, Inak."


***


Pertama kali menginap di rumah niniknya, telinga Maharani seakan-akan begitu peka dengan suara jarum jam yang terus berdetak di atas dinding. Suara itu membuat matanya tetap segar. Dalam kondisi kamar dengan cahaya kuning yang sedikit redup, matanya terus tertuju kepada sebuah lukisan yang tertempel di tembok. Lukisan itu langsung berhadapan dengan posisi Maharani merebahkan badan.


Maharani merasa terganggu karena merasa mata lukisan itu seakan-akan terus memperhatikan setiap gerak-geriknya, bahkan saat merebahkan badan di atas kasur.


Maharani bangkit, mengambil lampu teplok di atas meja, lalu mendekat ke arah dinding tempat lukisan itu terpasang. Dia penasaran siapa pemilik wajah dari lukisan yang ada di depannya.


Maharani mendongak memastikan wajah siapa pada lukisan itu. "Oh, ini kayak wajah Ninik."


Semakin memperhatikan, mata Maharani tampak menyipit ketika menyadari seperti ada sesuatu yang bergerak kaku dari lukisan itu. Saat semakin terpaku memperhatikan, tiba-tiba kedua bola mata dari sesosok wajah di dalam lukisan bergerak dan menatap tajam ke bawah, tepat menancap di mata Maharani. Tatapan mereka kini bertemu, lalu segaris senyum terkembang dari bibir orang di dalam lukisan.


Maharani tersentak kaget. Raut wajahnya seketika berubah saat dua bola mata menyembul keluar dari lukisan dan terjatuh menggelinding. Salah satunya masih menggantung tertahan urat mata.

__ADS_1


"Hi-hi ... tiba sudah waktunya." Suara khas orang yang sudah renta terdengar dari mulut perempuan tua di dalam lukisan.


Sontak Maharani berteriak menjerit, lalu terjatuh dan semua menjadi gelap.


__ADS_2