Sebenarnya Aku Kenapa?

Sebenarnya Aku Kenapa?
rumah bekas Gantung diri part 3


__ADS_3

"Sebaiknya kamu tanya Jeni, Brain. Dia lebih tau soal rumah itu dibanding aku"


Percakapan antara Brain dan rekan kantornya, Lora, dokter spesialis syaraf.


Jeni adalah teman dekat Lora, perempuan si pengantar galon yang di khususkan di unit bedah syaraf.


Mereka pun janjian di sebuah kantin yang berada di lingkungan rumah sakit, cukup besar dengan ruangan full AC, dilengkapi dengan fasilitas modern seperti fasilitas makanan dan minuman, siap saji melalui touchscreen, sekali sentuh.


"Semalam hidup itu berasa udah mau mati. Ada aja yang bikin kaget. Di tambah Celvin hilang. Tapi anehnya pas aku sama istri bangun pagi, anak-anak tidur di kamar padahal malam itu kita udah cek, mereka gak disana semalam" Ujar Brain dengan bulu kuduk masih merinding.


Brain menceritakan secara detail kejadian yang dialaminya, satu malam di rumah dinas,


"Kami berdua semalaman tidur di atas lantai pasca di pukul sama orang yang tak dikenal" Kata Brain.


Jeni terdiam sesaat,


"Apa kamu melanggar ucapan nenek Cakyem?" Tanya Jeni.


Brain mengangguk sembari membela diri bahwa pintu kamar terkutuk itu hanya merenggang saja, tidak sampai terbuka. Bahkan ia sendiri juga tak melihat bagaimana bentuk di dalam kamar itu.


"Petaka! Kamu harus berhati-hati malam ini, Brain. Jika tidak salah satu dari keluargamu akan dibawa pergi dan kembali tak bernyawa" Ucap Jeni.


Sontak kalimat Jeni membuat Lora ketakutan,


"Jangan asal bicara, Jen. Pamali main tebak-tebak begitu. Nyawa itu rahasia Tuhan. Gak ada yang bisa mendahului takdir" Jelas Lora lalu menyeruput


jus avocado yang ditaburi cream caramel di atasnya.


Perempuan dengan rambut ikal yang dikuncir itu pun meyakini Brain bahwa semua akan baik-baik saja.


Namun Brain belum cukup puas dengan apa yang diucapkan Jeni, bagaimana jika ucapan perempuan si pengantar galon ini benar? Ia harus bisa merancang strategi agar malam ini tak terjadi hal-hal mistis, seperti malam kemarin.


"Lalu apa yang harus aku lakukan, Jen? Aku tak ingin istri dan ketiga anak ku celaka" Tanya Brain dengan wajah cemas.


Tanpa ia sadari bagian punggung baju kemeja yang ia kenakan basah karena keringat. Padahal saat itu ruangan di kantim full AC.


"Jangan ada yang pulang ke rumah itu malam ini, sebelum kamu menemui nenek Cakyem" Kata Jeni lalu meminum air mineral di dalam botol kemasan yang ia bawa dari luar.


"Kenapa?" Tanya Brain penasaran.


"Karena nenek lebih mengetahui soal rumah itu di banding aku" Jawab Jeni.

__ADS_1


Brain lalu menoleh ke arah Lora, perempuan asal kalimantan itu jelas mengatakan bahwa Jeni lebih tau soal rumah dinas yang ia tempati.


"Maaf Brain, ku pikir Jeni bisa membantumu soal kejadian semalam itu" Kata Lora merasa bersalah.


Jeni memang tau soal rumah dinas itu tapi nenek Cakyem lebih pemberani dari pada dirinya. Jeni menolak membantu, karena ia pun takut jika makhluk tak kasat mata itu membuntutinya ke rumah yang baru ia beli beberapa bulan yang lalu. Ia takut, anak semata wayangnya menjadi tumbal.


Perempuan berumur dua puluh satu tahun itu tak ingin berurusan dengan rumah dinas itu lagi pasca meninggalnya Ibu Ratih dan Pak Danto, sepasang suami istri yang meninggal secara tragis, kepala terpisah, terhimpit dengan benda tajam, bagian runcing yang terdapat di beberapa sisi lampu rias, berada di ruang tengah tergantung di langit-langit rumah.


"Atau begini saja, kalau kamu tak ingin menemui nenek Cakyem, terpaksa harus ada tumbal di rumah itu malam ini. Kalau kamu merasa yakin tak akan terjadi hal yang berbahaya malam ini, pastikan kamu dan keluarga jangan ada yang terpisah satu sama lain" Kata Jeni.


Menurut Ibu anak satu itu, terkadang rumah yang sudah lama tak ditempati memang butuh penyesuaian terhadap penghuninya. Ada yang bertahan, ada juga memilih pindah, ada juga memakan korban, seperti kisah Ibu Ratih dan Pak Danto meskipun tak semua orang mengalaminya.


"Ya sudah kalau gitu aku pamit duluan ya. Masih banyak orderan soalnya. Belum lagi jemput anak ku di day care" Kata Jeni lalu melirik jam tangan yang terbuat dari jenis besi berwarna silver.


Brain mengangguk, disusul dengan Lora yang juga pamit mengantar Jeni keluar.


Brain, lelaki tinggi dengan poster tubuh bak atlet itu kini tinggal sendiri di meja makan berbentuk persegi. Ia memandang ke arah jendela, dilapisi full kaca transparan semua sisi.


Ia menelepon istrinya Lidya, meminta agar pulang dinas bersama dengannya. Tak hanya itu, Brain juga meminta Lidya agar menghubungi pihak sekolah Hani dan Nadira agar anaknya tak dipulangkan sebelum orangtuanya menjemput.


Ia khawatir jika Hani dan Nadira lebih dulu tiba di rumah dengan jasa angkutan umum. Jadi, Brain harus mencegah agar hal itu tak terjadi, agar ia bisa pulang bersama-sama dengan istri serta ketiga anaknya.


"Jangan telat jemputnya, Pa. Kasian Celvin seharian di luar" Kata sang istri.


"Iya, tenang aja. Papa pulang cepat hari ini. Kebetulan gak ada jadwal lagi. Tunggu, ya" Kata Brain lalu menutup ponselnya.


Brain lalu bergegas mempercepat langkahnya meninggalkan kantin. Ia lalu mengemas tas dan memasang jaket kulit berbentuk rompi semakin menambah kemaskulinannya.


"Saya pulang duluan. Tolong semua rekam medis pasien saya di letakkan di meja saya. Jangan lupa sampaikan juga kepada dokter Lora" Kata Brain kepada salah satu anak co-*** yang ia dapati sedang tidur di bawah kolong di depan mejanya.


Brain tak tahu apa ucapannya di dengar atau tidak, anak co-*** itu tampak kelelahan sekali. Brain juga tak mempermasalahkannya, karena ia dulu juga melalui hal serupa. Tidur dimana ada waktu luang, nemplok dimanapun asal bisa tidur meski hanya lima menit.


Ia pun berlalu meninggalkan rumah sakit menjemput sang istri. Sekitar setengah jam di perjalanan, Brain pun sampai di sekolah tempat Lidya mengajar. Tampak Lidya dan Celvin sudah menunggunya di sebuah pondok kecil samping sekolah yang menjual makanan ringan serta beberapa jenis gorengan.


Brain turun dari mobilnya dan menggendong Celvin,


"Ayo, Ma. Kita jemput Hani dan Nadira" Kata Brain lalu membuka pintu mobil di bagian depan.


Lidya mengangguk,


"Makasih, Pa" Kata Lidya lalu masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, ban mobil yang ia pakai terasa berat untuk melaju. Brain berpikir ban mobilnya kempes atau mungkin ban bocor. Bahkan tiba-tiba mobil nya rem mendadak, padahal ia sama sekali tak menginjak rem mobil saat itu. Ia pun memutuskan untuk mencari bengkel di sepanjang jalan.


"Kita cari bengkel dulu, ya , Ma. Kayaknya mobil kita ada yang gak beres" Kata Brain sembari melihat kiri kanan berharap ada bengkel di desa Slobury.


"Di ujung sana ada, Pa. Dekat bengkolan, samping rumah warga, sebelah kanan" Ujar Lidya lalu menunjuk ke arah ujung jalan dengan tangan kanannya.


"Oh ini" Ucap Brain lalu menepikan mobilnya.


Brain lalu turun dan menghampiri seorang pemuda tampak cukup muda sedang memperbaiki mesin Honda Brio.


"Dek, boleh bantu cek mobil saya. Ini sepertinya ada yang salah dengan mesinnya" Kata Brain.


Pemuda itu lalu meninggalkan pekerjaan nya dan mencoba memperbaiki mobil Brain. Siapa sangka, usai pemuda itu mengecek mesin dan ban milik Brain, tak ia temui kerusakan pada mobil itu.


"Mesin oke, Bang. Ban juga gak ada yang bocor. Aman semua" Kata pemuda itu.


"Kamu yakin? Coba cek lagi" Pinta Brain.


"Yakin, Bang. Ini sudah saya cek berulang kali. Semua baik-baik saja, gak ada masalah dengan mobil ini" Jawab pemuda itu dengan yakin.


Brain pun memutuskan untuk mencari bengkel lain. Siapa tau ada bengkel yang lebih besar yang bisa menangani mobilnya.


Sayangnya, sepanjang Jalan tak ia temui bengkel lagi. Brain terpaksa menyetir mobil pelan, kecepatan paling tinggi hanya sekitar 30 km/jam.


Rengekan Celvin semakin menjadi-jadi, saat mereka melintasi pemakaman kiri kanan sepanjang satu kilometer. Sejak itu ia terus menangis hingga sampai di sekolah kakaknya.


Brain pun membawa Celvin turun bersamanya,


"Mama tunggu di mobil aja ya" Kata Lidya menolak untuk turun.


Dokter Brain lalu meninggalkan sang istri sendirian di mobil. Lidya pun memasang headset untuk memutar music di telinga nya. Ia lalu terlelap, tiba-tiba, bayangan tangan hitam dengan jari kuku panjang muncul di balik kursi, meraba kepala Lidya hingga turun ke leher. Saat tangan itu ingin mencekiknya, Lidya terbangun, tenggorakan nya sangat kering dan kehausan. Secepat kilat bayangan itu menghilang dari pandangan. Perempuan itu tak menyadari, ada sosok aneh di kursi belakang.


Tak lama, Brain dan ketiga anaknya pun sampai di parkiran, Hani lalu membuka pintu mobil di kursi tengah, sosok itu pun menghilang entah kemana.


Keluarga ini lalu pulang bersama-sama,


Dijalan, mobil yang tadinya mengalami kerusakan, kembali normal, seolah tak terjadi apa-apa. Dia terus berpikir, kenapa mobilnya bisa seperti itu? Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan yang dikatakan Jeni? Di tambah Celvin menangis histeris tak bisa didiamkan.


Nenek Cakyem, Brain teringat wanita tua yang tinggal tak jauh dari rumah dinasnya. Setiap malam jumat selalu membawa ramuan yang ia tabur di area rumah dinas yang ditempati Brain. Konon katanya itu adalah penangkal untuk keselamatan penghuni rumah.


"Lebih baik aku tidak melibatkan nenek. Kasian beliau, aku takut ia terganggu" Kata Brain dalam hati.

__ADS_1


Dia pun memutuskan untuk kembali ke rumah Dinas nya, melewati malam dengan tangan yang selalu bergandengan, satu sama lain.


Mereka pun berhasil melewati rumah yang penuh dengan makhlus tak kasat mata itu. Tanpa harus ada tumbal.


__ADS_2