Sebenarnya Aku Kenapa?

Sebenarnya Aku Kenapa?
Pemuja setan 2


__ADS_3

Maharani terbangun dan menemukan dirinya telah terbaring di tempat tidur dengan selimut menutupi separuh tubuhnya. Dia tampak lemah, tangannya terlihat tak begitu bertenaga saat memijat-mijat kening karena rasa nyeri.


Maharani menoleh ke sisi kiri pembaringan. Ninik Rempik duduk di sana sambil mulutnya terdengar samar mengucapkan kalimat-kalimat yang tak dimengerti. Di belakang niniknya, Pak Sarmidi berdiri mendampingi dan hanya diam dengan wajah tertunduk dan tangan mengait di bawah perut.


Ruangan masih diterangi cahaya kekuningan dari lampu teplok karena listrik belum juga menyala. Sontak Maharani menarik tubuhnya mundur hingga punggungnya tersandar pada headboard tempat tidur. Terlihat jelas dadanya kembang kempis memburu udara karena panik.


"Rani mau pulang ... Rani mau pulang!" ucapnya sambil terus menarik tubuhnya mundur ke belakang hingga menghimpit sandaran tempat tidur.


"Kamu kenapa, Maharani? Tadi, pamanmu dengar suara benda jatuh di kamar, lalu dia teriak panggil Ninik," balas Ninik Rempik.


"Lukisan itu, hah-hah, lukisan itu matanya jatuh!" ucap Maharani lagi. Tubuhnya bergetar ketakutan.


Ninik Rempik menoleh ke arah Pak Sarmidi. Raut wajahnya mengisyaratkan bahwa dia tak mengerti dengan ucapan Maharani, lalu kembali melihat ke arah cucunya.


"Lukisan? Maksudmu lukisan apa, Rani? Ninik ndak pernah punya lukisan. Di rumah ini sama sekali tidak ada lukisan." Ninik Rempik mencoba meyakinkan cucunya.


Segera, kedua mata Maharani melihat ke arah tembok di hadapannya, tempat terakhir dia melihat lukisan itu, lalu menunjuk ke arah yang dia yakini.


"Di sana, Nik. Tadi, di sana ada lukisan besar, mirip gambar Ninik!"


"Mungkin kamu capek, Rani. Di sana ndak ada terpasang apa pun sama sekali. Itu, kan, cuma tembok kosong."


Pak Sarmidi melihat keponakannya yang masih panik, lalu menyela, "Betul, Rani ... itu cuma tembok kosong. Mungkin itu karena sakitmu yang belum sembuh makanya kamu lihat yang aneh-aneh."


Ninik Rempik mengangguk. "Sabar ... kamu pasti sembuh, Rani. Ninik akan bantu kamu sembuh."


Maharani mulai terlihat agak tenang setelah mendengar penjelasan Ninik Rempik dan Pak Sarmidi.


"Ya, sudah. Sekarang, lanjutkan tidurmu. Ini hampir jam dua pagi, besok pagi-pagi temani Ninik cari pakis di hutan buat kita makan." Suara Ninik Rempik terdengar ramah.

__ADS_1


Ninik Rempik pun bangkit dari duduknya setelah memastikan Maharani tenang, lalu keluar diiringi Pak Sarmidi. Bersamaan dengan itu, suara rintik hujan kembali terdengar membentur permukaan atap seng. Maharani berusaha menenangkan dirinya walau masih ada rasa takut menghantui..


"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala penyakit yang hamba derita," ucap Maharani berdoa, lalu menarik selimut menutupi badannya. Dia berharap malam segera berganti pagi.


***


Pagi menjelang, langit kelabu masih menjatuhkan hujan gerimis disertai embusan angin yang menggoyang dahan pepohonan sejak semalam. Tak ada suara lain yang terdengar, hanya suara gesekan dedaunan dan gerimis membentur atap seng di luar sana, menciptakan irama syahdu dan menenangkan.


Maharani terjaga sejak semalam, berbaring ke sisi kiri menatap cahaya kuning pucat dari lampu teplok di atas meja. Merasa bosan, remaja dengan rambut keriting gantung itu bangkit, lalu duduk di tempat tidur dengan selimut masih membungkus tubuh bagian bawahnya karena hawa dingin.


Maharani mengembuskan napas panjang. "Hmmh ... apa, iya, kejadian semalam itu nggak nyata? Aku sakit apa sebenarnya?" tanyanya pada diri sendiri.


Maharani menoleh ke arah dinding tempat dia melihat lukisan itu semalam, lalu bergerak turun dari tempat tidur. Kakinya melangkah pasti untuk meyakinkan diri sekali lagi bahwa dinding itu benar-benar kosong dan tak ada lukisan semalam.


Di hadapan dinding berwarna putih kusam itu, langkah Maharani terhenti, lalu mendongak menyipitkan mata agar penglihatannya semakin fokus. Seketika mulutnya menganga saat matanya mendapati sebuah paku tertancap persis pada titik di mana lukisan itu tergantung semalam.


Maharani melangkah mundur perlahan, lalu dengan segera kembali ke atas tempat tidur. "Nggak, nggak, lukisan itu nggak nyata!" ucapnya meyakinkan diri sambil memeluk kedua lututnya.


'Apa seseorang sudah melepas lukisan itu? Nggak, ini nggak nyata!'


Maharani membuang pandangan ke luar jendela, menatap helai-helai kabut melintas di luar sana. Dia berusaha mengusir bayangan lukisan itu dari pikirannya.


Tiba-tiba, di kejauhan, matanya menangkap seseorang mendekat menembus kabut pagi di bawah guyuran gerimis yang dingin, lalu berhenti persis di depan jendela kamar yang Maharani tempati.


Perempuan bermata bulat itu sedikit bingung, mengapa niniknya berdiri di sana. "Nik, udah ke mana hujan-hujan begini?" tanyanya.


Tak mendengar jawaban dari luar. Maharani semakin mengamati wajah niniknya. Namun, tiba-tiba, perempuan tua itu menempelkan wajah pada kaca jendela dengan sedikit membenturkannya. Suara benturan itu sontak membuat Maharani terperanjat karena tingkah Ninik Rempik yang mengamatinya dari balik kaca. Segaris senyum misterius terkembang di bibir keriputnya. Perempuan tua berambut putih itu menatap dengan sorot mata tajam.


Maharani menjerit, lalu segera membenamkan wajah di antara kedua lututnya. Kedua tangan remaja itu saling mengait erat karena ketakutan.

__ADS_1


"Bapak ... Bapak ... Rani mau pulang!" jerit Maharani semakin menjadi.


Tak lama, terdengar suara derak handle pintu diputar berkali-kali diiringi suara panggilan Ninik Rempik yang lain dari balik pintu.


"Rani, buka pintu, Ran!" Suara Ninik Rempik terdengar dari balik pintu.


"Rani buka jendelanya!" sambut Ninik Rempik lainnya menyela dari balik kaca dengan mata tajam dan senyum dingin.


Maharani tak berani mengangkat wajah dan terus menangis karena ada dua Ninik Rempik sekarang.


"Rani ... kamu kenapa? Sadar, Ran. Ada Ninik di sini," ucap seseorang terdengar menenangkan setelah berhasil membuka pintu.


Maharani merasakan ada tangan merangkul tubuhnya, lalu dia mencoba mengangkat wajah sana segera memeluk Ninik Rempik.


"Rani takut, Nik. Tolong Rani," ucapnya sambil memeluk erat.


Maharani kini menyadari bahwa tubuh niniknya terasa agak dingin dalam pelukannya. Lalu, dengan ragu dia melepas pelukan itu.


"Aargh!" Maharani semakin menjerit, berteriak sejadi-jadinya ketika melihat wajah Ninik Rempik lebam dan berwarna agak hijau kebiruan.


Maharani melompat dari atas ranjang, lalu merangkak ke pojok kamar yang sempit. Kedua kakinya terus mendorong tubuhnya menghimpit sudut tersempit tembok kamar.


"Maharani ... ini Ninik," ucap Ninik Rempik sambil mendekat ke arah Maharani dengan lampu teplok di tangan kanannya. "Jangan takut, ini Ninik, Ran."


Sekujur tubuh Maharani basah karena peluh. Dia semakin menjerit di sudut kamar dan menangis ketakutan.


Ketika Ninik Rempik semakin mendekat, Maharani dapat semakin jelas melihat wajah dan kedua bola mata niniknya telah menyusut, mengeluarkan cairan yang menetes bagai kuning telur yang telah pecah. Tak hanya itu, ada sesuatu yang bergerak di dalam kedua lubang mata itu. Belatung bergerak-gerak di sana.


Kedua kaki Maharani tak mampu menopang tubuhnya. Dia hanya menangis dan terus menggeleng meminta ampun.

__ADS_1


"Mereka berkumpul di sini, Maharani," tandas Ninik Rempik bernada dingin.


*****


__ADS_2