Sebenarnya Aku Kenapa?

Sebenarnya Aku Kenapa?
rumah bekas Gantung diri part 4


__ADS_3

"Ah..Tidak.. Selamatkan aku Ibu... Tidaaaakk!"


"Nak, bangun. Hey!"


Ibu terus menepuk nepuk dada Brain, membangunkan anak semata wayangnya dari mimpi buruk semalam.


Brain terbangun, hembusan nafasnya tak beraturan, keringat juga membasahi keningnya yang lebar, putranya tampak pucat sekali. Arwah pembantu itu terus mengikutinya hingga ke alam mimpi.


"Mimpi apa kamu Brain? Sampai seperti ini. Dikejar ular?" Tanya Ibu penasaran.


Lidya tertawa saat ibu menyindir Brain bermimpi ular,


"Penakut ya Bu" Bela Lidya sembari menyuapi Celvin makan.


Lidya memang tak begitu mengurus sang suami jika berada di rumah mertuanya. Ia juga seorang ibu yang ingin bersama dengan anaknya, pun ibu mertua demikian.


"Bu. Sepertinya Brain harus menceritakan ini dengan Ibu" Kata Brain tampak serius.


"Apa, Nak?"


Brain pun menceritakan awal mula kejadian aneh yang ia tempati di rumah dinas. Ia meminta saran kepada sang Ibu. Hidupnya tak tenang terus di hantui kejadian-kejadian aneh di rumah itu.


Melihat anaknya begitu ketakutan, Ibu Mira khawatir. Ia pun memutuskan mengajak Brain menemui salah seorang dukun pintar ternama di desa Gondoro, kampung terpencil di perbukitan. Razaq namanya, dia adalah murid almarhum ayah Brain. Semasa hidup, dulunya ayah Brain juga seorang dukun. Bukan sembarang dukun, ia banyak membantu orang-orang, kebanyakan keluhan dari beberapa orang yang menemuinya adalah penyakit kiriman atau guna-guna.


"Aku titip anak-anak ya, Ma"


Seketika Brain termenung, berat hati untuk meninggalkan istri dan anak di rumah. Tapi, akses ke rumah Pak Razaq tidak memungkinkan untuk di lalui. Apalagi anak di bawah umur sepuluh tahun dilarang memasuki area rumah milik dukun ternama. Pasalnya menaruh pulang atau membawa pulang, akan ada sosok tak kasat mata menempel ditubuhnya dan sulit untuk dilepas.


"Aku ikut boleh, Pa?" Tanya Hani.


"Gak usah, Nak. Kamu bantu Mama jaga adik saja" Timpal Neneknya.


Mira, neneknya tak ingin cucunya dalam bahaya. Jadi ia memutuskan tak boleh ada yang keluar rumah sampai dia dan Brain pulang.


"Tolong jaga cucu ku ya Lid" Ucap Ibu Mira kepada minantunya, Lidya.


"Ya, Bu.."


Ibu dan Brain pun pamit dengan membawa sebuah bakul kecil yang terbuat dari rotan. Ada beberapa dedaunan juga yang dipetik Ibu Mira sebelum berangkat ke rumah Pak Razaq.


Setelah Mertua dan Suaminya pergi, Lidya bergegas menutup pintu rumah, mengikuti instruksi dari mertuanya, tak akan membuka pintu sampai mereka kembali.


"Ayo nak, kita main di kamar saja"


Lidya mengajak putrinya Hani dan Nadira ke kamar bersamanya usai membersihkan sisa makanan Celvin di dapur.


Belum lama mertua dan suami pergi dari rumah, Lidya mendengar seperti ada yang mengetuk pintu di luar. Ia bingung apakah harus menuruti ucapan mertua atau membukanya. Dia pun memutuskan untuk mengintip di balik tirai,


"Assalamualaikum, Bu Mira.."


Melihat ada seorang wanita paruh baya mengucapkan salam dari luar, Lidya tergerak hati untuk membuka pintu. Terlebih wanita itu juga membawa makanan yang ditaruh dalam mangkuk kaca bermotif ayam jantan.


"Walaikumsalam..."

__ADS_1


Lidya tersenyum menatap wanita paruh baya itu. Ia lalu menerima mangkuk yang berisi SOP iga panas dengan toping wortel di dalamnya.


"Makasi ya Bu makanannya" Kata Lidya sedikit menundukkan badan.


"Sama-sama, Nak. Ibu Mira mana?" Tanya wanita itu.


"Lagi keluar, ada urusan. Bentar lagi juga pulang" Jawab Lidya.


"Oh. Kalau gitu Ibu pamit dulu ya. Jangan lupa dimakan SOP nya, lebih enak dimakan selagi panas" Ujarnya lalu pergi.


Pikir Lidya mungkin wanita tadi adalah tetangga mertuanya. Memang penduduk di desa Gondoro tak sebanyak dulu sebelum terjadi gempa. Wajar jika kini suasana kampung halaman Brain tampak sepi, banyak rumah kosong yang tak berpenghuni mengapit rumah Brain.


"Hmmm, keliatannya ini enak" Kata Lidya sembari menutup pintu.


Wanita paruh baya tadi menoleh ke belakang dengan wajah menakutkan dan tertawa di balik batang pohon rindang.


Nadira yang melihatnya sejak pertama kali wanita itu datang, sontak membuat gadis kecil itu ketakutan dan memeluk Lidya. Sebelum wanita paruh baya tadi pergi, ia sempat menoleh ke arah Nadira dengan senyum menakutkan.


"Ma. Mama itu apa?" Tanya Nadira.


"Ini SOP iga, enak. Aroma nya bikin Mama lapar lagi. Kita makan yuk" Kata Lidya.


Ucapan Lidya membuatnya semakin takut. Gadis itu tak mengerti kenapa mama nya mau menerima makanan yang berisi belatung.


"Ma. Mama. Bukan daging. Itu jelas ulat, Ma. Coba mama cek lagi" Kata Nadira meyakinkan mama nya.


Lidya kaget, jelas apa yang ia lihat adalah SOP iga hangat. Dia pun marah dan memukul Nadira, menganggap anaknya tak sopan mencaci makanan pemberian orang lain.


Nadira merasa kesakitan dan ia pun berlari masuk ke dalam kamar mencari Hani, kakaknya.


"Mau lari kemana kamu?" Tanya Lidya dengan wajah bengis.


Nadira tak berani mendekati mamanya. Ia berlindung di balik badan Hani.


"Itu mama kenapa, dek?" Tanya Hani dengan raut wajah kebingungan.


Nadira pun menjelaskan dengan isak tangis menahan sakit usai dipukuli Lidya,


"Mama aneh, kak. Dalam mangkuk itu bukan SOP iga, tapi belatung kak. Aku lihat sendiri. Tapi mama justru tambah marah" Kata Nadira ketakutan.


Hani yakin mama nya kesurupan, sama seperti kejadian di sekolah beberapa hari yang lalu, teman sebangkunya bertingkah persis seperti apa yang dilakukan mama nya sekarang.


"Dek, telepon Papa sekarang juga" Kata Hani lalu berlari, bergegas mengunci pintu kamar.


"Buka..! Buka pintunya! Buka..."


Lidya terus menggedor-gedor pintu kamar dengan pukulan yang sangat keras. Teriakannya menggema di seluruh sisi ruangan. Celvin yang baru saja tidur terbangun mendengar suara Lidya, melengking.


"Buka sayang.. Ini mama, Nak" Ujar Lidya lalu tertawa terbahak-bahak.


Hani tak mengerti, kenapa bisa seperti ini. Pikirannya juga kalut sembari memandang getaran pintu dari pukulan Lidya. jika terus-terusan sang mama menggedor, pintu bisa patah.


Hani melirik lemari rias jati cukup besar di sudut ruangan,

__ADS_1


"Tolong kakak, dek. Kita dorong sama-sama lemari itu" Kata Hani menunjuk lemari di sudut ruangan.


Nadira pun meninggalkan telepon yang sudah masuk dari Brain, ia menaruhnya di atas kasur.


"Satu. Dua. Tiga" Kata Hani memberi aba-aba.


Mereka berdua saling bekerjasama mendorong lemari dengan sekuat tenaga. Perlahan lemari itu sampai juga menutupi pintu, meski tak begitu rapat. Hani merasa itu sudah cukup menghalangi sang mama masuk menemui mereka.


"Hallo... Hallo" Kata Brain di balik telepon.


Hani tersadar lalu menoleh ke arah handphone dengan layar masih menyala,


"Iya. Hallo, Pa" Jawab Hani dengan suara ngos-ngosan.


"Kamu kenapa? Kok suara nya seperti orang habis olahraga" Tanya Brain.


"Papa cepat pulang, Pa. Mama. Mama, Pa" Ucap Hani berusaha mengatur ritme nafasnya.


Brain panik,


"Mama kenapa, Nak? Kalian aman di rumah kan?" Tanya Brain.


Hani lalu menangis,


"Mama beda, Pa. Itu bukan Mama, Pa. Nadira di pukul, tangan sama kakinya biru semua di pukul Mama"


Hani berusaha mengontrol tangisnya,


"Pokoknya Papa pulang sekarang juga. Hani takut, Pa. Mama dari tadi gak berhenti gedor-gedor pintu kamar. Hani sengaja kunci pintu kamar. Hani takut, Pa"


Mendengar ada yang tak beres dengan keluarga nya di rumah, Brain meminta izin kepada Ibunya pulang duluan,


"Bu. Brain pulang duluan ya, Bu. Sepertinya ada yang tak beres di rumah. Hani ketakutan, Bu" Kata Brain lalu pamit.


Tiba-tiba,


"Tunggu" Ucap Pak Razaq.


Dukun itu menatap Brain,


"Kamu tidak bisa pergi sebelum menyelesaikan ritual ini" Ucap Pak Razaq dengan tegas.


"Tapi, Pak. Anak dan istri saya, mereka butuh saya sekarang" Jawab Brain menolak melanjutkan ritual itu.


"Saya tau, apa yang sedang terjadi di rumah kalian. Istri kamu Brain. Dia saat ini tengah kesurupan. Tapi kamu tak perlu khawatir, Lidya wanita yang kuat, dia punya khodam dari leluhur"


Ibu Mira pun menarik pelan lengan putranya, mengajak duduk kembali.


"Selesaikan ritual ini dan lekas pulang" Ucap dukun itu.


Brain pun melanjutkan ritual pengusir roh jahat di rumah dinas yang baru saja ia tempati. Sementara itu, sang dukun menyiapkan beberapa ramuan yang harus diminum dan disiram di setiap sisi rumah yang ditempati Brain, setiap malam Jumat.


"Jangan lupa minum ramuan ini saat matahari mulai terbenam, dan siram masing-masing ramuan dalam botol ini setiap malam Jumat di sisi ruangan"

__ADS_1


Brain menerima tujuh botol kaca kecil berisi air ramuan dengan tujuh serbuk yang dibungkus dalam daun pisang kering. Brain menaruhnya ke dalam bakul yang dibawa sang Ibu.


__ADS_2