
.
"Ada mayat...!!, tolong..!!!" Pak Midun berlari terseok Seok, dia sampai lupa bawa motor bututnya
"Hosh hosh..." Nafasnya tesenggal senggal, pak Midun berhenti, meraup rakus udara di sekelilingnya, seluruh tubuhnya gemetar, kejadian ini membuatnya takut, shock, jantung berdebar kencang, Dia mencoba lebih tenang, setelah sedikit tenang, baru sadar' kalau dia lari tanpa bawa motor, "walah.., mau balik, udah kadung jauh" pak Midun menepuk jidat.
Dia istirahat sejenak, sambil celingak celinguk mencari rekannya sepertambakan namun, tidak seorang pun menampakkan batang hidungnya.
Tidak seperti biasa, tambak terlihat sepi, apalagi musim pasang air begini, biasa rekan rekannya akan ramai menunggu di gubuk masing masing
###
Setelah jauh berlari, sampailah pak Midun di desa terdekat yaitu desa hilir, sangat kebetulan, banyak warga berkumpul, "mungkin ada pembagian sembako" pak Midun membatin
"Assalamu'alaikum, pak' Bu" ujar pak Midun setenang mungkin, kemudian para warga menyahut serentak
Tidak perlu berlama lama, pak Midun menceritakan apa yang dilihatnya, para warga sangat antusias, sontak mereka tercengang, kaget, berita itu membuat gempar satu Desa.
Salah seorang warga desa hilir melapor pada RT setempa kemudian, RT sigap melapor pada polisi. sembari menunggu polisi , para warga berbondong bondong menuju tambak pak midun.
Setelah di desa hilir gempar, sampailah kabar ke desa cindai, tambah gegerlah desa cindai, berita ini tidak luput dari telinga Sam. mendengar itu, Sam bergegas pergi, tidak lupa ia menitipkan anak anaknya ketetangga terdekat.
Pak Imam, pak RT dan seluruh perangkat desa cindai berangkat ke tambak, mereka juga membawa serta Sam, sepanjang perjalanan, Sam tidak dapat menahan air mata, membayangkan gadis kecilnya disana selama empat hari.
Seorang ibu pasti punya firasat, begitu juga Sam, feelingnya, mengatakan bahwa yang ditemukan itu pasti anak gadisnya.
Sesampai di tambak, riuh suara manusia, ramai laksana sebuah konser, memadati TKP. lautan manusia datang ntah darimana, tidak berapa lama terdengar suara sirinai
"Iuu..iuuu...iuu.." suara sirinai polisi memekakkan telinga, ditambah sirinai ambulan, membuat suasana benar benar memilukan.
__ADS_1
Hari tiba tiba mendung, tidak lama kemudian disusul turunnya gerimis, seolah, alam pun merasakan kesedihan gadis kecil itu.
"Minggir, minggiir..!" pak polisi membelah kerumunan manusia, bersama Tim nya, mereka turun kedalam lumpur.
Sam tak ingin diam, dia mengikuti para petugas itu, tidak jauh dari tempat dia berdiri, terlihat tangan menyembul dari dalam tanah, ia sangat berharap itu bukan anaknya, dia mendekat, semakin mendekat, mulutnya tidak berhenti melafazkan Do'a.
"Gimana pak, tangan mayat sudah menghitam, takutnya' nanti jasad sudah membusuk" lapor salah satu petugas
"Mau gimana lagi, ayo segera angkat, hati hati, jangan sampai jasadnya hancur" ujar pak polisi memerintah.
"Siap pak!!" sahut semua petugas.
Mayat diangkat kepermukaan, mereka heran, hanya ujung tangannya yang hitam, seluruh badan mayat tidak membusuk, tidak juga bau sama sekali, segera tim memindahkan ke kantung jenazah, Sekilas Sam melihat mayat itu.
"Duarrr" bagai langit runtuh seketika, Sam jatuh, tubuh lunglai, tangisnya pecah.
Sam menjerit histeris, meraung, menepuk dadanya yang terasa menyesakkan, membuat orang sekelilingnya merasa iba, ikut sesak mendengar tangisan sang Ibu.
###
Keesokan hari,
Jasad Rina terbujur kaku dipembaringan, wajah pucat, goresan disekujur tubuh, menambah kedukaan bagi sang ibu, tangannya terkepal penuh dendam, amarahnya membuncah, melihat bagian intim Putrinya terkoyak, seperti dihantam benda tumpul" entah apa yang dilakukan para biadab itu, sampai membuat Rina ku, kesayanganku begini"
Duka masih menyelimuti rumah panggung itu, kini gadis malang itu dibawa ke peristirahatan terakhir, gerimis dan suara tangis, masih mengiringi kepergiannya, para biadab itu seolah tak bersalah,mereka bebas lalu lalang, menyaksikan kepedihan itu.
###
Berapa hari kemudian
__ADS_1
Pak RT serta perangkat desa, dokter dan juga dari kepolisian, mereka berkumpul di rumah panggung milik Ibu Rina, untuk menyerahkan hasil autopsi, bergetar tangan Sam menerimanya, air mata kembali mengenang dipelupuk mata, membuat yang melihat merasakan kepiluan hatinya.
"Kita akan usut tuntas" ucap pak polisi itu tegas, dan semua mengangguk.
"Apa yang sebenarnya terjadi?, Kenapa ?, Apa salah anakku, Rina?" Berbagai pertanyaan terlontar dari bibir Sam, membuat semua menunduk tak bisa berkata kata.
"Rina dibunuh, anak malang itu di perkosa, sebelum mereka membenamkannya hidup hidup" ujar pak polisi sendu, dia tidak mampu meneruskan kata katanya, karena dia juga seorang ayah.
Makin bergetarlah hati Sam, tangisnya pecah, semakin pilu, membayangkan perlakuan biadab itu pada putri kecilnya.
Pak polisi serta yang lain kini sudah pergi, tinggallah Sam seorang diri, menatap sendu pada dua anaknya yang masih tidur, diraihnya ponsel jadul milik mendiang ibunya, dicari nomor sang suami tetapi, pulsanya tidak mencukupi.
"Apa yang akan aku sampaikan padamu, suami ku?, Anak kita sudah dibunuh?, diperkosa?, dilecehkan!!" Kembali Bu Sam menjerit, sesak didadanya tak jua pudar.
Acara tahlilan pun begitu ramai, orang orang datang sekedar mengungkapkan bela sungkawa, do'a do'a dilantunkan, semua larut dalam zikir, sampai tahlilan usai, warga kemudian kembali kerumah masing masing, Sam menutup pintu, ia baringkan tubuh ringkihnya, mencoba mengingat ingat "apakah ada orang yang membencinya?"
Tidak terasa, matanya mulai terlelap namun, tiba-tiba pintu di ketuk.
"Tok tok tok"
Sam terkejut, sontak ia terbangun, "siapa yang bertamu tengah malam begini" desisnya
Sedikit malas, ia mengintip dari celah celah dinding papan rumahnya, "hah??? putriku" bisiknya, Sam segera membuka pintu rumahnya, Ia terlupa bahwa putri kecilnya sudah tiada.
"Mama, Rina pulang?!" Qorin Rina berdiri diambang pintu, dengan selingkar anti nyamuk ditangannya, sang ibu menyambut dengan hati yang begitu senang, dia peluk gadis kecilnya, menciumi wajah sang putri, ia abaikan bau anyir yang tiba tiba berhembus entah dari mana, "ayo masuk nak, badan mu berlumpur mari, ibu mandikan" lirihnya. Sembari berjalan menuntun putrinya ke kamar mandi, berulang kali ia mandikan, namun lumpur itu selalu menempel. seolah tersadar, dia mematung, "Aku pernah melakukan ini," desisnya.
Tatapannya lurus melihat putri malangnya itu, ia abaikan kebenaran dalam hatinya, menganggap itu tidak pernah terjadi, ini' disini putrinya, dia mengingkarinya tetapi, dalam hati membenarkannya, bahwa putri kesayangannya sudah meninggal.
Hampir setiap malam qorin Rina datang, setiap itu pula ia akan dimandikan oleh Sam.
__ADS_1
Sedang pak Midun, selalu tidak bisa tenang, qorin Rina menghantuinya, seakan meminta sesuatu padanya.