
Ponselnya berdering, tertera nama Bondan memanggil, buru-buru Sam mengangkat, "halo!" Tetapi, panggilan itu berhenti. Sam menghubungi sang suami kembali, sudah tidak tersambung.
"Ah.., persetan dengan suami!" Sam menggerutu seraya melempar ponsel jadulnya. Sudah hampir tiga tahun merantau di negeri orang namun, tidak ada hasilnya bagi Sam, jangankan mengirim nafkah, bertukar kabar juga sangat jarang.
Matahari bersembunyi di ufuk barat, sayup sayup suara azan menyapa, umat Islam berbondong bondong melaksanakan kewajibannya, tidak terkecuali dengan Sam.
Usai sholat isya,desa cindai kembali sunyi, sebagian warga akan menutup pintu pintu mereka. Hanya beberapa warga yang berani keluar, termasuk para biadab itu, mereka bebas, semakin merajalela, seolah tidak tersentuh hukum.
Malam semakin larut, bulan terang menyirami sunyi nya desa cindai. Anak anak tertidur pulas, dibuai oleh mimpi-mimpi indah. Wanita pemberani itu keluar menerobos pekatnya malam. tidak perduli rasa Lelah, kakinya terus mengayuh hingga sampai ke tempat tujuan. Dia bergeming, ada orang lain disana!, Pelan-pelan ia sandarkan sepeda tua itu, kakinya berjinjit, berlahan mendekati gubuk lelaki paruh baya itu.
"Hahaha.., Bos sangat senang dengan usaha kita, mudah mudahan ada job lagi, tentunya job yang menyenangkan???" Ujar salah satu dari mereka, kemudian terdengar canda tawa dari para lelaki di gubuk itu. Sam menunduk, bersembunyi di semak rimbun di tepian tambak.
Beberapa jam bersembunyi, keempat lelaki itu beranjak pergi, malam yang gelap menghalangi pandangannya, ia sama sekali tidak bisa mengenali siapa mereka.
"Nenek!, Aku datang!" Serunya, sembari mengedarkan pandangan ke arah pohon tua itu, yang konon katanya umur pohon sudah mencapai puluhan tahun.
Angin berhembus kencang, anyir darah dan nanah mendominasi. Bulu kuduknya merinding, bola matanya liar mencari sosok berbau busuk itu.
"Kamu datang nduk!!" Suara wanita tua itu membuatnya kaget.
"Iya, aku sudah datang, apa yang harus aku lakukan, katakan! " Mencoba tenang, menetralisir ketakutannya.
"Panggil aku, Mbah wuto, mbah akan membantumu" kekehnya
"Mana besek itu! Dan ambil tanah dimana putrimu dibenam! " Sembari meraih besek itu dan meletakkannya ditangan kiri nya.
"Baik, Mbah! " Seraya turun mengambil segenggam lumpur, kemudian berjalan ke arah mbah wuto. Mbah wuto mencampurkan ke dalam besek, mulutnya komat Kamit membaca mantra.
*Aku memanggilmu, aku memanggilmu, datanglah dari bayangan, 'yen siro teko, wenehene tondo,' * (diambil dari Mbah Google)
"Hussh..!, Angin berhembus kencang, sekujur tubuhnya menggigil, mengejang hebat. "Mbaah!!!" Nafasnya tersenggal-senggal.
__ADS_1
"Tahan nduk, jiwa nya akan keluar, ha ha ha!" Mbah wuto mengerang, tawanya menggelegar.
Sam memekik kuat, kemudian terjatuh lemah, " Mbah, siapa dia?"
"Itu putrimu, ha ha ha! Jadilah pengikutku, aku akan memenuhi semua keinginanmu! ,Kamu sudah bersatu denganku!, ambil bandul ini, jangan sekali-kali kamu abaikan!" Seraya mengulurkan tangan kanannya, bibirnya menyeringai. Sam meraih bandul pemberian Mbah wuto kemudian, menyimpan dalam pakaiannya.
"Putriku!!!, Rina!!! Kemari nak!" pekiknya, sosok Rina itu mendekat kemudian, Sam memeluknya.
"Simpan besek ini, setiap kali kamu membunuh!, teteskan darahnya di besek itu" desis mba wuto, kemudian menghilang tanpa jejak.
Sam tersadar, dia sudah ditengah tambak. "Ini seperti mimpi, Rina!" bisiknya pelan. Sam mengedarkan pandangannya, yang terlihat hanya hamparan tambak tambak penduduk, ia menyadari putrinya telah menghilang.
Sayup sayup terdengar suara mengaji dari kejauhan, pertanda azan sebentar lagi berkumandang, orang-orang akan keluar rumahnya. Bergegas ia melajukan sepedanya sebelum fajar menyingsing.
Sesampai dirumah, dia menyandarkan sepeda tua itu di dinding papan rumahnya. Pelan pelan ia membuka pintu kemudian, bergegas membersihkan tubuhnya.
Suara zikir terdengar, Do'a-Do'a dipanjatkan tetapi, Sam kini telah berubah, dia bukanlah Sam yang dulu, yang menyandarkan harapannya pada Khalik.
###
Sore hari mereka akan menyetor ke pengepul, senyum Sam merekah, hasil yang diterimanya lebih besar dari biasanya. Sebelum kembali ia terlebih dahulu membeli kebutuhan pokoknya serta, membeli gula dan beras untuk tetangganya.
Azan magrib berkumandang, Sam menuju pembaringannya, jika biasanya dia melaksanakan sholat, sekarang dia akan tidur diwaktu sorop dan akan bangun setelah isya.
Dalam tidurnya Sam seperti mengulang kisah tragis putrinya. Matanya memindai sekeliling, semua gelap. Dari kejauhan ia melihat putrinya diatas motor "dengan siapa itu!" Desisnya. Sekuat tenaga ia mengejar putrinya tetapi, larinya seakan lambat. sekejap kemudian, putrinya sudah menghilang. Ia mengedarkan pandangannya, mencari gadis kecilnya, hingga matanya tertuju pada sebuah gubuk, "gubuk itu" bisiknya
Sam menajamkan penglihatannya, matanya nanar, ia melihat putrinya digagahi empat orang berbadan besar, kabut hitam menutupi wajah para durjana itu. Jantungnya berdebar kencang, ia berlari sekuat tenaga tetapi, langkahnya tidak jua sampai. Sam menjerit, memekik kuat, lukanya kembali basah, air matanya meleleh tak terbendung.
Sam sesenggukan, bayangan putrinya menghilang lagi. Kembali ia memindai sekelilingnya, semua senyap hingga, tiba-tiba suara mengejutkannya.
"Ya sudah, kita seret kedasar tambak aja, benamkan saja disana!"
__ADS_1
"Serrr" darahnya mendidih, amarahnya memuncak. "Suara itu??" Desisnya
Sam terbangun, keringatnya bercucuran, jantung berdebar-debar."itu bukan mimpi, itu petunjuk" monolognya
Jam menunjukkan pukul 9 malam, Sam melihat kedua putranya masih betah bermain mobil mobilan yang dia beli siang tadi. Sam berlalu menuju dapur untuk mengisi perutnya, tiba-tiba dia mendengar pintu rumahnya berdecit.
"Kak Sam!" Seseorang memanggil
"Cih!! Lelaki pemalas itu datang" seraya berjalan membuka pintu.
"Apa, kenapa kamu kemari? Masih ingat dengan kakakmu ini?!" Memandang malas adik semata wayangnya.
"Kak, minta uang!, Aku dengar kakak banyak dapat hasil tadi sore!" Ucapnya memaksa.
"Nggak, itu buat makan, kalau mau makan, silahkan!" Sahut Sam tegas.
"Huh! Pelit!" Mail marah sembari membanting pintu. Sam semakin geram melihat tingkah sang Adik.
###
Malam semakin larut, Desa cindai seperti biasa, sunyi sepi, hanya terdengar suara binatang malam. Sam keluar dari rumah, pelan pelan dia mengayuh sepedanya, setelah sedikit menjauh dari Desa, kemudian ia memacu sepeda itu.
Dari kejauhan api kecil terlihat dari arah tambak pak Mudin, segera dia menyelipkan sepedanya diantara semak belukar. Kemudian Sam mengganti seluruh pakaiannya, besek itu dimasukkan ke dalam plastik agar tidak basah, lalu, mengikat dipinggangnya, tidak lupa ia menyelipkan pisau kecil diikatan itu.
Sam mulai masuk kedalam parit tambak yang berisi air pasang, kemudian, pelan pelan berenang ke pintu air tambak pak Midun, sembari menunggu mereka lengah. Badannya menggigil, seraya melihat ke arah pohon tua itu, Mbah wuto tersenyum mengangguk dan Sam membalas dengan anggukan pula.
Salah satu dari mereka mendekat, tepat dihadapan Sam, pria bejat itu mengeluarkan benda pusakanya hendak buang air.
"Sett" Sam melompat, sekejap mata menyayat benda itu hingga terpotong, setelah darah menetes kedalam besek , lalu dimasukkan kembali kedalam plastik, dan "Byurr" Sam melompat masuk kedalam air.
"Aaaaa!!!" Boni menjerit,
__ADS_1