
Sebulan telah berlalu, kasus Rina belum juga menemukan titik terang. seakan tragedi ini hanya sebuah lelucon, semua diam, bungkam seribu bahasa.
Tak sabar, Sam pergi ke kantor polisi, mempertanyakan bagaimana kelanjutannya kasus anak sulungnya.
"Pak, saya ingin tau, bagaimana kelanjutan kasus pembunuhan Rina?" Tanya nya, mencoba setenang mungkin, meski hati nya sesak.
"Kasus Rina masih diproses Bu, sabar ya?" Jawab polisi santai
"Bagaimana dengan Pak Muchtar, dimana Beliau?" sembari memindai sekeliling ruangan, tidak mendapati polisi berwibawa itu.
"Beliau sedang sakit Bu, sudah tiga Minggu beliau tidak masuk, maafkan kami. silahkan saudari pulang, tunggu saja prosesnya." Ungkap polisi dengan nada menekan.
Sam beranjak. Dia bingung, berbagai pertanyaan terlontar di benaknya, "kenapa semua seperti ingin menutupi kasus ini?, Ada apa??" Sejenak Dia terdiam, lalu pergi meninggalkan kantor polisi.
###
Dua hari setelah dari kantor polisi, terjadi keheboan di desa cindai, seorang terduga pembunuhan Rina tertangkap, membuat geger satu desa, bagaimana tidak , Mushab yang dikenal pria pendiam itu tertangkap, banyak yang tidak percaya, banyak pula yang menduga duga.
Mushab lelaki pendiam, hampir tidak pernah bicara, semenjak pria itu di tinggal mati istrinya, Dia menghabiskan waktunya menangkul kepiting, hampir setiap malam mushab ke tambak tambak orang, ke hutan hutan bakau mencari kepiting.
Kabar penangkapan itu sampai ketelinga Sam, Dia menggeleng tidak percaya, "tidak mungkin' Mushab pria baik, bagaimana mungkin dia melakukannya,???" bisiknya, segera Dia kayuh sepeda tua nya, tujuannya ingin menemui Mushab.
__ADS_1
Sampai di kantor polisi, segera Dia meminta izin menemui Mushab , dan polisi mengizinkannya.
"Mushaab!, Bagaimana kamu melakukannya!" Jerit Sam
"Ya Allah Sam, bagaimana aku bisa melakukan hal sebejat itu?, Aku masih waras Sam??, Aku tidak pernah melakukan itu." Bantahnya, sembari menahan amarah.
"Lalu, kenapa kamu di tangkap Mushab!" Pekiknya dengan sorotan dingin.
"Aku tidak tau Sam, Aku bukan pemerkosa!, Aku bukan pembunuh!, Aku hanya penangkul kepiting, hari hariku hanya bekerja Sam, bantu aku Sam?, demi Allah! Aku tidak pernah melakukannya." Mushab menghiba, bibirnya bergetar, tidak tau kenapa dia tertuduh.
"Kamu sahabatku Sam, kamu mengenalku!!," Seru Mushab, Bu Sam berbalik, membiarkan Mushab dengan alibi nya.
Tertatih Dia berjalan keluar, kemudian kembali mengayuh sepeda tuanya, sepanjang jalan Dia berpikir, "kalau bukan Mushab lalu, siapa?" Beribu pertanyaan dalam benaknya, "kenapa ada bukti bahwa Mushab melakukannya?"
Malam pun datang, Sam masih tenggelam dalam nestapa, duduk termenung di gundukan tanah pembatas tambak, hanya satu dalam hatinya, penyesalan, seandai, seandainya, tetapi itu sudah terjadi.
Tanpa diketahui, darimana datangnya si nenek tua, berambut putih, matanya putih tanpa ada hitamnya sama sekali, kulitnya retak, darah keluar dari sela sela retakan itu, semerbak angin berhembus, membawa aroma anyir darah bercampur nanah, Sam terkejut, jantungnya memompa, bulu kuduk seketika merinding, Dia berlari tetapi, kakinya tertahan, seketika matanya melotot, sinenek tua itu mendekat.
"Si-siapa kau?!" Dia menegang sembari menahan nafas.
"Jangan takut, Rumahku disini, dipohon Tua itu," ucapnya sembari menunjuk pohon api api di sekitar tambak.
__ADS_1
"Jangan ganggu aku!, hidupku sudah sangat susah!!" pekiknya lantang.
"Tidak' tidak Nak, aku melihatmu dalam penderitaan, aku kasihan padamu" ujar sinenek iba
"Lalu' apa yang harus aku lakukan?!" Tanya Sam tegas.
"Aku akan membantumu, aku melihat para biadab itu melakukannya,"
"Serrr", darah Sam mendesir, hati nya kembali sesak.
"Ambillah besek ini, kamu harus melanjutkan syaratnya," sinenek kembali berujar dan meletakkan besek bambu tepat dihadapan Sam.
"A-apa syaratnya?" Kembali Sam bertanya,seraya mengambil besek dihadapannya.
"Ambil tanah kuburan putrimu, masukkan kedalam besek itu, kemudian teteskan darahmu ke tanah itu, setelah itu datanglah kembali ke sini, tepat seperti malam ini," ucap sinenek dengan suara serak
Sam mengangguk, sekejap mata, sinenek tua itu menghilang, Sam mencari kesana kemari, matanya memindai sekeliling, sinenek benar benar menghilang, segera dia kembali menaiki sepedanya, tidak lupa membawa besek bambu itu. Kakinya lincah mengayuh, terus mengayuh Hingga tidak terasa sampai di depan rumahnya.
Malam beranjak naik, kedua bocah kecilnya di biarkan dirumah tetangga, dia bergegas masuk kedalam rumah, lalu keluar lagi menuju sepeda tua yang disandarkan di dinding papan rumahnya.
Sejenak dia terdiam, "mungkinkah ia percaya dengan sinenek tua itu? " Sejurus kemudian mengenyahkan pikiran pikiran buruk itu, kembali dia mengayuhkan sepedanya Hingga sampai di pinggiran makam, dia turun kemudian menyandarkan sepedanya, lalu berjalan masuk kedalam makam.
__ADS_1
Makam tanpa nama, nisan yang hanya dua batu sungai, gundukan tanah itu masih baru, rumput rumput liar itu telah tumbuh tetapi, hati seorang ibu masih sangat sakit, sesaknya masih terasa, dan para biadab itu masih tertawa.
Di ambil segenggam tanah kuburan putri sulungnya, lalu, menggoreskan tangannya ke ranting kayu kering dipinggir makam, sakit mendera, darah mengalir, dengan wajah menahan perih, dia menampung dengan tanah kuburan itu, kemudian dimasukkan kedalam besek pemberian sinenek tua. Segera dia beranjak, mengayuh lagi kembali kerumah.