Sebenarnya Aku Kenapa?

Sebenarnya Aku Kenapa?
RAHASIA CANTIK KAKAK IPARKU 2


__ADS_3

"Udah ketemu, Yank. Ini sudah kupake, udah jangan nyalahin calonnya Danur." Untunglah Mas Banyu datang, ia memamerkan jarinya yang sudah memakai cincin lagi.


Kulit tangannya yang putih bersih begitu pas dengan cincin itu.


"Gitu dong," ujar Mbak Rahayu begitu lembut. Aku beralih memandanginya lagi dan ... wajahnya sudah seperti semula.


Mas Banyu melewatiku untuk masuk ke kamarnya. Ia tinggi sekali bahkan lebih tinggi dari Mas Danur. Mungkin 170an, sedangkan aku hanya 150 cm saja. Sudah tinggi, badannya tegap dan kulitnya putih lagi. Sayangnya saat kuperhatikan wajah Alin, tak mirip sama sekali dengan ayahnya.


"Yumna?" panggil Mbak Rahayu, aku mengangguk tanpa bersuara. Ah melihatnya lagi jadi teringat wajahnya yang berbeda.


Tadi, aku seperti melihat sosok yang lebih tua. Entahlah, apa aku berimajinasi atau yang kulihat tadi benar adanya? Namun, kenapa bisa berubah secepat itu. Ah, pasti aku hanya halu.


Aku pamit dari keduanya, membiarkan sepasang suami istri itu menimang anak mereka. Aku kembali menemani Mas Danur di ruang tengah. Ia menyambutku dengan senyum semringah. Baru saja duduk tangannya ingin mencubit pipiku, tetapi langsung kutepis.


"Belum halal!" rajukku sambil membenarkan lipatan pinggir pashmina abu yang menutupi kepalaku lalu berdiri sejenak membenarkan rok plisket hitam yang kukenakan dan kembali duduk.


"Hehe, iya maaf." Mas Danur menggeser posisinya yang sempat mepet denganku.


Sudah satu jam aku bertandang di rumah calon suamiku ini atas ajakannya. Pria yang kukenal dari sosial media dan langsung menyatakan perasaannya untuk serius. Tak lama mengenal, baru seminggu ia sudah berani memintaku pada ibu dan kini mengajakku hendak berkenalan dengan keluarganya.


Namun, untuk bertemu ibu dan bapaknya aku harus menunggu. Kata Mas Danur kedua orangtuanya akan pulang setelah ashar. Karena sedang masa panen dan sibuk di sawah.

__ADS_1


Benar saja, azan ashar berkumandang terdengar suara dari arah belakang rumah. "Siapa ini, cantiknya," ujar seorang wanita berambut seleher, ia melepas camping di kepala. Aku berdiri lalu hendak menyalami tangannya. Namun, tak boleh.


"Jangan, tangan Ibu kotor. Sudah lama menunggu ya, sudah makan belum. Kok gak dibuatin es apa gitu sih, Danur. Apa beliin lauk buat makan bareng ... maaf ya, lauknya habis buat jamu pekerja yang ikut bantu panenan." Mas Danur seperti diomeli habis-habisan, tetapi ibunya berkata demikian dengan nada bercanda.


"Gak papa, Bu." Wajahku tak henti mengulum senyum, tak bisa berbicara banyak karena aku tak berbiasa. Digodai ibunya Mas Danur pun, aku cuma bisa senyam-senyum.


***


Waktu terasa cepat berlalu, sebulan kemudian aku dan Mas Danur mengadakan walimah sederhana atas pernikahan kami. Sesuai permintaanku dan kesanggupan kami berdua. Namun, aku tetap meminta dekor pelaminan meski tak mewah dan wajahku diriasi.


Di hari ini juga banyak wajah baru, sebab hanya sekali aku berkunjung, yakni sebulan yang lalu. Selebihnya hanya video call dengan Mas Danur, dan paling sering dengan Ibu Ajeng--kini mertuaku. Bukan tanpa sebab, itu karena aku sibuk kerja dan jarak ke kampung Mas Danur yang jauh.


"Cantiknya."


Aku reflek menoleh mendengar gumaman Mas Danur di tengah hiruk pikuk tamu berdatangan. "Kamu ngelihatin siapa, Mas. Sampai gak kedip gitu?" tanyaku melambaikan tangan kananku di depan wajahnya.


"Itu Mbak Rahayu, baru keluar dari bagian masak-masak tetep cantik," jawabnya menoleh ke arahku.


Mataku melebar pertanda kesal. Bisa-bisanya ia memuji wanita lain cantik di depan istrinya. Meskipun sekarang wanita itu adalah kakak iparku sendiri sih, tetap saja aku tak suka.


Cantik katanya? Aku mencari sosok yang dipuji cantik itu. Hanya dengan sekali pandang saja terlihat biasa kok. Sebab Mbak Rahayu pun tak dandan.

__ADS_1


Baru saja aku batin tentangnya, Mbak Rahayu berjalan ke arah kami di kursi pelaminan. Ia meminta kami berdua berdiri, untuk diajak foto dengan keluarga kecilnya.


"MasyaAllah cantiknya Rahayu ngalahin nganten hari ini," celetuk seseorang yang tak kukenal siapa. Namun, ia datang sebagai tamu pastinya adalah kerabat Mas Danur.


Tak berhenti satu orang itu saja, bahkan pujian cantiknya Mbak Rahayu keluar dari bibirnya akang motret yang kusewa. Begitu pun dengan para tamu, saat bersalaman denganku dan Mas Danur malah jadi ajang puja-puji akan kecantikan Mbak Rahayu.


"Ah jangan gitu. Nanti saya dikira mau nyaingin ngantennya lagi," ujar Mbak Rahayu melirikku, pas sekali saat aku juga meliriknya.


Apa mereka tidak berlebihan sampai mengelu-elukan kecantikan kakak iparku itu? Padahal aku dandan sampai dua jam, memakai siger di atas hijabku dan gaun putih yang begitu cantik. Sedangkan Mbak Rahayu ... wajahnya polosan dengan rambut tergerai begitu saja. Pakaiannya pun hanya tunik hitam selutut. Apa benar aku kalah saing? Ah, cepat kutepis pikiran tak penting ini di hari sakral ini. Jangan sampai aku iri pada ipar sendiri.


Mbak Rahayu memilih berdiri di sampingku, "Kamu jangan kesal ya denger pujian mereka tentang kecantikanku," bisiknya.


Tunggu ... apa Mbak Rahayu tahu isi pikiranku ya? Ia mengedipkan matanya saat kami saling bersitatap. Bahkan ia tersenyum, tetapi bukannya senang aku malah merasakan hawa berbeda. Entahlah ini apa.


"Kamu mau tahu rahasia cantikku gak?" tanya Mbak Rahayu tiba-tiba.


Gleg!


Suara bisikan itu seolah menyentrum telingaku. Pandanganku beralih perlahan ke arahnya.


"Aaargh!" jeritkku reflek mendorong tubuhnya, saat melihat wajah Mbak Rahayu tiba-tiba penuh darah.

__ADS_1


__ADS_2