
" Aaaa..." Teriak semua wanita yang kini tengah di ikat di bawah pohon besar, mereka semua adalah wanita yang masih gadis dan perawan.
Terlihat seorang wanita tua, dengan wajah yang mengelupas serta nanah yang sudah mengeluarkan darah dari sekujur tubuh nya.
Wanita tua itu terseyum senang saat dia mulai memb*n*h satu persatu gadis yang dia ikat dan menampung darah ya di dalam sebuah ember.
Lalu di lempar kan ya jasad wanita tadi kesebuah rawa yang ada dekat dengan tempat pembantaian itu.
Saat hendak mele*ap kan wanita terahir, segerombol warga datang dan membaw obor serta aura marah dari mereka semua.
Namun, wanita tua itu malah terseyum, bukanya takut dengan kemarahan warga desa itu.
Di depan para warga, seorang kakek tua yang tengah membacakan doa -doa, dan menyuruh beberapa orang untuk menangkap wanita tua tersebut.
Saat sudah tertangkap, kakek tua itu meyiram wanita tua tadi dengan air yang sudah dia doa kan sebelum nya hingga wanita tua tadi, teriak kesakitan seperti kulit nya terbakar.
Lalu mereka membuat sebuah kuburan di samping rawa, mereka mengikat tubuh wanita tua itu dan melemparkannya kedalam lubang.
Setelah menguburkan wanita itu secara hidup-hidup, laki-laki tua itu menanam bambu kuning di atas kuburan wanita tua tersebut.
" Ingatlah, jangan pernah mencabut bambu ini, dan jika bambu ini telah tumbuh jangan pernah menebang nya. Karena jika itu terjadi, maka bencana akan datang dan semua gadis didesa ini akan binasa oleh arwah penyihir yang kita kubur tadi" jelas kakek tua itu.
" Kami mengerti" sahut semua warga.
__ADS_1
" Sekarang pulanglah, selama bambu kuning itu menancap di atas kubur itu, maka desa kita akan aman" ucap laki-laki tua itu, dan berlalu pergi di ikuti semua rombongan warga.
Setelah kepergian warga dari sana, rawa yang awal nya air nya jernih menjadi hitam pekat.
***********
Delapan tahun telah berlalu.
Di sebuah restoran terlihat ada empat remaja yang tengah berkumpul, mereka terlihat begitu antusias membicarakan tentang rencana liburan mereka.
" Dit, bagaimana kalau kita kepantai saja" usul Tika, Tika adalah wanita yang ceria, kulit putih, dan rambut gelombang ya begitu indah terlihat saat dia terseyum, sementara Radit adalah laki-laki yang pendiam, irit bicara namun saat dia bicara Selalu menyelesaikan masalah mereka semua.
" Tapi aku mau ya kita kegunung, atau tidak kedesa agar bisa lihat indah nya pemandagan" ucap Nisa, wanita yang anggun dan menyukai alam, kulit putih dan rambut lurus ya serta buku Mataya yang lentik, Tetapi sedikit ceroboh.
"Bagaimana menurut mu dit?" Tanya Tika pendapat Radit.
" Aku rasa kita desa ya bibik ya Rangga saja, selain kita bisa belajar tentang budaya, kita juga bisa merasakan bagaimana kehidupan tanpa teknologi sekarang" jelas Radit, yang menyetujui ide Rangga.
" Baiklah, jika semua setuju. Bagaimana kalau besok kita berangkat"
" Setuju" ucap semua nya.
Tak terasa, akhirnya perjalanan yang mereka tunggu pun akhirnya datang juga. Kini mereka berempat tengah berkendara menuju desa batu kebalik, mereka berkendara mengunakan mobil Radit, karena mereka harus menempuh sehari semalam di perjalanan.
__ADS_1
Walau begitu, semangat mereka tidak pudar, namun, di tengah perjalanan tadi tiba-tiba Radit me rem mendadak. Hingga membuat semua orang yang berada di mobil tersebut terhantuk.
" Auuu, kenapasih dit?." Omel Tika.
" Aku nabrak kucing"
" Apa?? " Ucap Nisa kaget.
" Ayok kita lihat" ajak Radit, sembari turun dari mobil.
Saat mereka semua turun, dan melihat di depan mobil, tidak ada kucing apapun. Namun karena Radit tetap yakin kalau dia nabrak kucing, mereka semua yarik sampai ke semak-semak karena mereka pikir mungkin kucing nya terlempar.
Namun hasil nya tetap sama tidak ada kucing apapun.
Melihat situasi ini, Tika malah memikirkan hal-hal yang berbau mistis.
" Jangan-jangan itu kucing jadi-jadian lagi" ucap Tika.
" Husss, jangan bicara sembarangan, kita ini gak tau ada dimana. Lagi pula mungkin itu cuman halusi nasi Radit aja, karena gak tidur dari semalam" jelas Nisa yang masih berpikir positif
" Ya sudah, biar aku aja yetir sekarang. Kamu istirahat aja dulu dit. Lagi pula udah mulai dekat kok dengan desa bibik ku" usul Rangga badan di setujui semua orang.
Perjalanan, pun mereka lanjut kan. Namun setelah mobil mereka meninggalkan lokasi tadi, seorang nenek tua muncul sembari mengendong kucing hitam yang telah mati sembari menguyah nginang sembari menyeringai menampakkan giginya yang telah merah semua dengan tatapan tajam.
__ADS_1