
Gema takbir berkumandang dari segala penjuru dunia. Termasuk didesa ku saat ini , berbagai macam jenis masakan sudah tersedia di atas meja. Muhana, istriku sedari tadi pagi tidak berhenti memasak berbagai macam hidangan. Dari rendang, opor ayam , kupat tahu juga sate.
Muhana berlari kesana-kemari sesaat Miza, putri kami. Menangis meminta asi , bayi empat puluh hari itu selalu merasa lapar yang memaksa muhana berlari bergantian.
Aku mengayunkan pelan ayunan yang ku pasang mengunakan sarung lusuhku. Berharap bayi cantik ini bisa terlelap tanpa harus menunggu ibunya.
" Cape dek?.." ucaku melihat muhana membuka pintu bilik kami , istriku tersenyum lalu mengangguk lembut. Meski keringat bercucuran dari keningnya juga daster panjang yang sudah pudar warnanya itu kini sudah bertabur warna.
Warna rempah.
" Abang pijitin yah?.. istirahat dulu, lagian sudah selesai kan?" Sambungku memintanya untuk duduk di sampingku , Tikar ia gelar meraih bantal hendak berbaring sebentar. Aku memegang perutnya yang sedikit menonjol , kain pengganti gurita ibu melahirkan sedikit kedodoran.
“ Panas yah bang..” lirihnya, aku mengangguk lalu membenarkan ikatan itu lagi. Miza putri pertama kami setelah lima tahun menunggu kedatangan nya , bukan waktu yang sebentar setelah berbagai upaya sering kali terdengar.
“ besok sholat i'd bang?..”
" Iya, kenapa memangnya dek?..." Muhana perlahan bangkit membenarkan ikatan rambut yang hampir tergerai.
“ Muhana nga ikut yah bang.. dirumah aja jagain dedek!..”lirihnya sembari melirik kearah Miza yang terlelap.
" Ya sudah ngapapa,. Lagian belum bersih kan? Masih nifas juga!'." Muhana mengalihkan pandangannya kearah lain sesaat tatapan kami sempat beradu pandang.
“muhana ngga ada sejadah bang!..” lirihnya. Aku mengusap wajah pelan , jadi ini alasan istriku?. Aku pikir karena berseteru dengan ibuku memang benar kami masih satu atap dengan nya terlebih orang tua ku sudah sepuh.
" Kan sejadah masjid ada dek? Lagian ngapapa loh nga ada sejadah.. yang lama masih kan? Yang terpenting nga kotor juga bolong sayang
.." ucapku. Muhana menatapku lalu tersenyum, meraih jemari ini. Di genggam nya dengan lembut meski terasa begitu dingin , aku menatap manik istriku dimana sedikit genangan air di sana.
“ muhana nga malu meski bolong bang,.. Cuma muhana mencari aman hati ini jika besok sholat tanpa sejadah baru..” lirihnya pelan. Meski sedikit berbeda dari ucapannya terdulu, bukan kali pertama muhana membahas sejadah untuk sholat bahkan aku malu jika ia meminta untuk kelima kalinya. Tapi bagaimana lagi , keuangan ku hanya sebagai buruh bangunan di pegang oleh ibu.
Lebih malu jika aku tak membantu perdapuran tetapi tinggal satu atap.
" Abang janji, nanti kalo ada upah jatah rokok Abang tabung untuk beli sejadah yah dek? Sekarang pake yang ada aja..." Aku membalas genggaman itu lalu mendekatkan ke wajah ini. Muhana tersenyum tipis meski terlihat rasa kecewa disana.
Semburat pagi perlahan meninggi meninggalkan jejak di celah-celah dinding papan rumah. Sayup terdengar suara lengkingan wanita yang tak asing di telingaku , aku membuka pelan kedua mata lalu perlahan meraba Sisi tikar dimana Muhana akan terbaring tidur disana. Namun kosong, Aku gegas bangkit karena lengkingan itu kembali terdengar seiring suara pecahan kaca.
Aku berjalan perlahan kearah dapur dimana suasana pagi ini sedikit berbeda, gema takbir masing terdengar.
"Astaghfirullah! Bu ada apa?.." ucapku tepat di ambang pintu setelah melihat semangkuk opor ayam telah berhamburan di lantai yang masih beralas tanah. Muhana berjongkok membelakangi ku sedangkan ibu berkacak pinggang berdiri menatap berang , aku menelan Saliva.
Wanita yang masih lengkap memakai mukenah putih bersih itu mendongak menatap ku , kilatan amarah terlihat disana.
" Dek?..." Lirihku.
__ADS_1
“ Ajari istrimu Ridwan! Jangan memakan yang bukan hak nya!..”
Degh.
Astaghfirullah.
" Apa yang ibu maksud? Memangnya muhana memakan apa?.." ucapku. Wanita yang sudah melahirkanku itu menarik nafas , mentoyor kepala muhana setelah berhasil melewatinya. Aku mengusap dada beristighfar atas sikap ibu yang selalu memandang muhana hina. Aku berjalan pelan menghampiri tubuh istriku yang masih berjongkok memegang pecahan kaca juga menatap kuah opor yang telah menyatu dengan tanah.
Tenggorokan terasa tercekat memandang istriku yang sudah berguncang , di pagi hari penuh kemenangan ini muhana harus menangis tanpa suara.
" Dek? Jangan,---"
“A-aku hanya meminta satu dari bagian ayam itu bang... Hanya satu, satu saja.. perut ku melilit minta diisi apa aku salah bang?..” lirihnya bahkan terdengar tersedak sedak diiringi Isak tangis yang kian menjadi. Aku menggeleng meraih bahunya untuk bangkit , mengusap kedua pipi itu yang telah basah oleh air mata.
" Tidak ada yang salah dek,.. mungkin ibu ingin kita makan bersama dan tak suka melihat mu mencuri seperti ini.."
Muhana melepaskan tangan ku , berjalan mundur perlahan. Aku memandang nya , muhana menyeka sudut mata yang kian memerah.
Apa aku salah?.
“ Jadi menurut mu aku mencuri? Benar begitu bang?..” aku menggeleng canggung , muhana menggeretakkan gigi.
"Ti-tidak sayang, ah, Abang salah bicara.. maaf!"
“ Aku ini istri mu bang! Bukan babu ibumu!..”
“ Apa Abang mau membela ku saat ibumu zholim? Apa Abang bisa membedakan yang mana yang benar atau salah?...” lirihnya terduduk . Aku menutup kedua mataku tak tahan jika melihat nya menangis seperti ini , muhana wanita yang pendiam juga penurut tapi aku tak tahu apa yang membuat dirinya tak pernah akur dengan ibuku. Sedangkan istri dari Abang Faisal kakak tertua ku begitu akrab dengan ibu berbanding terbalik dengan muhana.
“ Aku tahu, tidak mungkin ada dua ratu dalam satu atap.. tapi setidaknya hargai aku bang! Aku lelah!!..”
" Ridwan! Ayo antar ibu ke masjid!.. ngapain teriak teriak kamu Muhana? Kamu pikir ini hutan? Jangan seperti mo nyet!.." suara lengkingan dari ibuku berhasil menghentikan muhana , istri ku mengusap wajah nya lalu berlalu menuju sumur. Aku memilih meninggalkan nya, mungkin muhana terlalu lelah Hingga melantur seperti ini.
" Lama amat WAN!. Cepetan ayo, keburu pulang itu yang sholat!.." aku mengangguk setelah sampai di teras luar , tak lupa sebe itu meminta ibu menunggu sebentar karena aku ingin mandi terlebih dahulu. Muhana telah berbaring sesaat aku masuk kebilik kami , istriku terlihat memejamkan kedua matanya meski terlihat sembab. Aku melangkah keluar menutup pintu lalu menghampiri ibuku.
ibu telah cantik dengan mukenah nya juga sejadah yang baru kemarin sore ku berikan untuknya setelah ibu meminta mukenah baru padaku .
Aku tersenyum lalu memintanya untuk berpegangan di pinggang ini ,Kulit yang sudah mengeriput itu pun memegang erat. Sepeda ku atuh cepat untuk segera mengantar wanita bertelapak surga itu bagiku.
Masjid sudah penuh dengan orang-orang yang bersiap sholat . Ibuku sudah berlalu terlebih dahulu , aku memarkirkan sepeda peninggalan almarhum bapak ke sisi masjid dimana barisan sepeda lainnya juga ada disini.
Aku memilih mengambil shaf paling depan dekat dengan Imam , cukup yakin karena aku telah memakai Koko baru.
Sholat lebaran kali ini sedikit berbeda setelah tahun kedua atas perginya almarhum bapak , tanggung jawab yang kini berpindah ke pundak ku. Bang Fais tinggal di kota dan hanya sesekali pulang untuk menjenguk ibu ,dan tentu untuk memenuhi kebutuhan ibu aku lah yang harus pasang badan.
__ADS_1
Setelah selesai sholat Aku mengantarkan ibu terlebih dahulu kerumah saudaranya berniat bersilahturahmi. Sekalian menuju pulang, Ibu bercerita panjang lebar.
“ Tuh wan , si Malik anak nya mang Sobri pulang-pulang beliin emaknya emas! Lah kamu kapan beliin ibu? Masa iya sih .. sudah umur segini nga pernah di kasih hadiah!..” ibu meracau di balik punggung ku , sepeda ku kayuh pelan. Meski ibu terus menerus berbicara justru membuat ku senang.
Aku bahagia karena ibuku sehat dan kuat seperti ini.
" Ibu kan tahu, Ridwan cuma buruh doang.. lagian gaji Ridwan ibu yang pegang kan? Kenapa nga beli aja?.." tuturku.
“ lah emang boleh? Bukannya buat acara akikah si Miza?..” lirih ibuku. Ada yang berdenyut disini mendengar ia seakan tak percaya , memang benar tabungan yang ku simpan juga ku berikan pada ibu berniat untuk akikah Miza nanti. Tapi, bukan kah lebih baik membahagiakan surga ku dulu?.
" Boleh Bu! Nanti Ridwan nabung lagi ... Lagian akikah juga ngga Wajid umur bayi satu bulan,lebih dikit ngapapa!.." aku tersenyum.
Sepeda kini terparkir di halaman , aku melihat pintu yang masih tertutup rapat.
“ Nih muhana! Pasti ngorok!.." aku terkekeh, tak mungkin istriku masih tidur di jam segini. Bukan kah ia berniat memakai baju baru yang ia pesan bulan lalu?
Aku mendorong daun pintu. Diiringi ibu yang menyusul dari Belakang, Memandang seisi rumah yang berantakan.
" Apa ada maling?.." aku berlari mencari muhana juga Miza, namun nihil. Di bilik kamar kami tak ubah bedanya kapal pecah. Hingga Isak tangis juga jeritan terdengardi telingaku, aku berlari.
Hingga sampai di bibir dapur.
Tubuhku menegang sesaat memandang apa yang ada didepan mataku , Ibu merosot kelantai . Mata seakan berat dan tak kuat menampung lagi air yang siap mengalir.
Muhana terkekeh dengan rambut tergerai Masai. Bayi empat puluh hari itu diam dengan tubuh membiru, Muhana.
Istriku yang selalu dituduh mandul.
Istriku yang selalu di hina.
Istriku yang selalu salah.
Istriku yang selalu di pandang berbeda kini duduk bersimpuh di depan bayi yang membiru , api tungku masih menyala dengan tubuh Miza di dalam dandang yang mengeluarkan busah.
Opor ayam kini menyatu dengan kulit setipis tisu. Bayi yang selalu menangis karena lapar meski selalu di beri ASI, Miza. Putriku kini tak lagi kelaparan.
Muhana menarik pelan paha ayam di mulut putri kami , lalu perlahan memasukkan gumpalan daging itu kemulutnya.
Tak ada tangisan.
Tak ada lagi suara bayi.
Yang ada hanya Opor Bayi yang telah menyatu dengan kaldu.
__ADS_1
" Bu..istriku bukan babu.."