
Sekitar pukul 7 malam, mereka semua akhirnya sampai di desa batu terbalik. Semua orang melepaskan rasa lelah nya ketika sampai di depan rumah bibinya Rangga, itupun mereka harus beberapakali bertanya baru ketemu rumah nya.
" Aku, gak yangka kalau rumah bibimu begitu jauh. Dan jalan nya begitu rusak" keluh Tika dengan wajah lemas.
" Hehehe, namanya juga desa tik, kalau jalan nya mulus ya di kota " timpal Angga balik.
" Udah, ayok turun. Aku ingin segera istirahat" ucap Nisa sembari membuka pintu mobil.
Mereka semua turun, dan berjalan menuju rumah sederhana yang masih memakai Diding papan.
Tok. Tok. Tok
" Assalamualaikum" ucap Rangga sembari mengetuk pintu rumah bibinya.
Cklekk
Suara pintu yang di buka dari dalam.
Terlihat seorang wanita saparuh abad dengan mekai hijab keluar dari rumah itu.
" Waalaikum salam" sahut nya sembari memperhatikan wajah orang yang di depan nya.
__ADS_1
" Rangga" ucap wanita itu sembari meraba wajah Rangga bedengan tangan ya, penglihatan ya yang tidak jelas lagi membuat ya tidak mampu mengenali orang dengan cepat.
" Iya bik, ini aku Rangga, bagaimana keadaan bibik" ucap Rangga sembari meyalami bibinya.
" Alhamdulillah baik nak, ayok mari masok ajak juga teman-teman nya" ujar bibi Rangga atau bisa di panggil dengan bik Ratmi.
Kini mereka semua duduk di atas kursi kayu dan di temani secangkir teh dengan pisang goreng yang di siapkan bik Ratmi tadi.
" Ini teman mu Rangga?, Kok gak perkenalkan dengan bibik" tanya bik Ratmi, karena Rangga yang sejak tadi hanya asik makan tanpa ingat teman nya.
" Hehehe, lupa bik. Habis nya masakan bibik enaksih, ini Tika bik yang rambut nya sedikit keriting, dan di samping nya Radit wajah super datar dan dingin, kalau yang itu Nisa bik orang ya kalem" jelas Rangga sembari yengir.
" Mmmm" sahut bik Ratmi dengan terseyum .
" Apaaaa?....." Ratmi tanpa sadar berteriak.
" Ada apa bik?,kenapa bibik begitu terkejut" tanya Tika yang kini duduk di samping Ratmi.
" Em bukan seperti itu, gimana cara jelaskan ya. Desa ini tidak baik bagi anak gadis nak" jelas Ratmi dengan wajah yang hawatir.
" Tapi kenapa bik? Bukanya setiap desa itu sama?" Tanya Nisa yang sedari tadi diam.
__ADS_1
Rangga dan Radit hanya meyimak obrolan mereka tanpa ada niat untuk menimpali, karena bagi mereka Nisa dan Tika sudah cukup untuk bertanya pada bik Ratmi.
" Saya gak bisa jelaskan semua nya, yang pasti kalian jangan keluar dari rumah ini. Terutama bagi wanita yang tengah datang bulan, besok kita akan taya ketua adat apa kalian bisa disini atau tidak" jelas bik Ratmi dengan kegusaran di dalam hatinya.
" Baik bik" sahut kedua wanita itu.
" Sekarang kalian mandilah, wanita akan tidur di kamar depan ini. Dan laki-laki kalian sementara tidur di ruang tamu tidak papakan nak?" Tanya bik Ratmi dan di balas anggukakan dari Radit dan Rangga.
Semua nya kini tengah berbaring di tempat tidur masing-masing, Radit dan Rangga tidur di ruang tamu dengan tikar di lapisi dengan ambal di atas nya, sementara Tika dan Nisa tidur di samping kamar bik Ratmi.
Tika yang tidak bisa tidur, terus saja kepikiran dengan perkataan bik Ratmi. Hingga ketukan jendela kamar membuyarkan lamunannya.
Tok tok tok
Suara ketukan itu terus menerus hingga menjadi gedoran yang sangat kencang. Bahkan Suara erangan dan rintihan meyayat hati di luar rumah bik Ratmi.
" Nis, Bagun nis. Aku takut" ucap Nisa sembari terus membangunkan Nisa yang telah tertidur lelap.
Karena tidak ada tanggapan dari Nisa, perlahan Tika memejamkan matanya untuk bisa tidur, namun rasa kantuk seakan menghilang dari matanya.
Dan ketika dia membuka matanya dia melihat Nisa dengan wajah yang mengerikan tengah menatap nya, matanya yang merah dan air liyur nya menetes seolah dia menatap Tika adalah makanan yang kejat dihadapan nya.
__ADS_1
" Darah suci wanita peraw*n sangat segar, setelah puluhan tahun akhirya aku bisa merasakan yang lagi. Ha....ha...ha..." Dia tertawa bahagia sembari menatap penuh rasa kehausan.