Sebenarnya Aku Kenapa?

Sebenarnya Aku Kenapa?
rumah bekas Gantung diri part 5


__ADS_3

"Bacalah mantra itu dan hafalkan. Lakukan setiap hari sebelum tidur dan saat bangun dari tidurmu, Nak"


Brain teringat pesan Bapak semasa hidupnya. Ada sebuah mantra yang sengaja ditulis Bapak, ia selipkan di bawah baju, tersusun rapi dalam lemari.


"Ayo, Bu. Hati-hati" Kata Brain di pekarangan rumah tampak licin usai hujan kemarin.


Ibu lalu duduk di kursi kayu panjang teras rumah. Kursi kayu jati usianya sudah sangat tua, cat nya juga sudah memudar tapi masih tampak kokoh.


"Kamu masuk saja dulu, cari Lidya. Ibu duduk sebentar ya. Kaki Ibu capek, usai jalan jauh tadi" Kata Ibu sembari meluruskan kaki dan mengurutnya.


"Sebentar ya Bu. Nanti Brain bawakan air untuk Ibu" Kata Brain lalu masuk ke dalam rumah.


Rumah saat itu tak di kunci oleh Lidya, usai sang istri menerima makanan dari wanita paruh baya,


"Assalamualaikum, Ma. Aku pulang. Sayang.."


Tak ada satu pun yang menyahut. Brain mencari setiap sudut rumah. Ia ingat kedua putrinya mengurung diri dalam kamar saat di telepon tadi,


"Tok. Tok. Tok!"


Brain mengetuk pintu kamar,


"Hani. Nadira. Kalian di dalam?" Panggil Brain.


"Papa. Papa di luar. Papa sudah pulang?" jawab Hani dari bilik kamar yang masih terkunci rapat dengan lemari jati tebal.


"Iya, Nak. Ayo buka pintunya" Kata Brain.


Hani dan Nadira bekerja sama memindahkan kembali lemari ke posisi semula dengan tangan mungilnya. Tak lama pintu pun terbuka,


"Akhirnya..." Ujar Hani menghela nafas.


Keringat keduanya bercucur di pelipis kening,


"Mama kalian dimana?" Tanya Brain.


Kedua putrinya tak mengetahui keberadaan sang istri. Brain panik, kemana istrinya menghilang. Semua tempat sudah ia cari. Tapi, Lidya tak kunjung ia temui. Brain yang tadi nya ingin mengambil mantra di dalam lemari, mengurungkan niatnya, saat mendengar suara air wastafel di dapur.


"Lidya.." Kata Brain pelan.


Dia lalu bergegas ke arah dapur, memastikan suara itu berasal dari istrinya,


"Sayang..." Panggil Brain.


Lidya saat itu membelakangi Brain. Perempuan berwajah tirus itu tak menghiraukan panggilan suaminya. Ia terdiam, tak ada gerakan sama sekali. Ia bak patung berdiri tanpa suara.


Brain semakin takut, dada nya berdetak cepat, ia mengerenyitkan mata nya, memastikan bahwa wanita dihadapannya adalah istrinya, Lidya.


"Sayang"


Brain memanggil istrinya. Selangkah demi selangkah, Brain terus maju perlahan, pelan-pelan. Ia menepuk bahu istrinya,


"Hey"

__ADS_1


Brain lalu menarik bahu Lidya. Lidya pun menoleh ke arah nya,


"Ma.."


"Jleb..."


Tiba-tiba, Lidya pingsan di pangkuannya.


"Astaghfirullah. Ya Allah. Ma.. Sayang" Kata Brain menepuk pelan pipi istrinya.


Laki-laki itu lalu menggendong istrinya berbaring di kursi tamu, ruang depan. Disusul Hani dan Nadira mengikuti dari belakang.


"Hani, tolong Papa, Nak. Ambilkan air minum segelas" Ucap Brain yang tengah duduk di sela-sela ujung kursi.


Ia terus memegang tangan istrinya, mencium punggung tangan Lidya,


"Bu...Lidya, Bu" Kata Brain lalu menoleh ke arah luar.


Dia teringat Ibunya, masih duduk di teras rumah. Brain meminta Ibu untuk masuk,


"Lidya pingsan, Bu"


Mendengar suara Brain, Ibu Mira pun bergegas masuk, memastikan keadaan anak semata wayangnya,


"Ada apa lagi ini. Hati saya tak enak" Gumam Ibu dalam hati.


Di saat semua orang dalam rumah disibukkan dengan Lidya,


Suara melintas di teras rumah. Brain mendengar itu, namun ia tak menggubris nya. Mata nya tertuju pada jarum jam yang menempel di dinding rumah. Hari sudah jam dua belas siang.


Matahari tak begitu terik, tapi hawa rumah sangat panas,


"Ada apa dengan istri mu, Nak?" Tanya Ibu.


Ibu duduk menggantikan Brain, wanita paruh baya itu terus mengusap kening Lidya, mulutnya tampak tak berhenti mengucapkan asma Allah berulang kali.


Lidya tersadar, ia sedikit pusing dan bingung, kenapa dirinya bisa tidur di atas sofa kayu itu. Bahkan ia tak tahu suami dan mertua nya sudah sejak tadi pulang.


"Papa, Ibu. Kenapa aku bisa disini?"


Ingatan terakhir yang diingatnya hanyalah sebuah mangkuk iga pemberian dari wanita paruh baya,


"Oh iya, tadi ada seorang wanita mengantar makanan kesini. Bu. Dia juga menanyakan Ibu" Kata Lidya.


"Bukannya tadi ibu sudah bilang, jangan buka pintu sebelum Ibu dan Brain kembali" Jawab Ibu Marah dengan wajah kecewa.


Ibu Mira marah kepada menantunya. Ucapannya sama sekali tak didengar, dianggap angin lalu, dalam hati ada rasa was-was yang ia pendam sendiri. Ia takut kejadian naas terulang kembali dua puluh tahun yang lalu, nenek Brain meninggal dunia karena kiriman santet yang dimakan dari hasil pemberian orang tak dikenal.


Tiba-tiba, Nadira berteriak histeris,


"Aaaaaaaa..."


Nadira tak sengaja menoleh ke arah kamar depan di dekat kursi sofa, ia melihat sosok tak jelas rupanya tertutup rambut panjang terurai, merayap di dinding kamar.

__ADS_1


"Kenapa kamu Nadira?" Tanya Brain.


Nadira lalu menunjuk ke arah kamar,


"Apa? Kamu lihat apa? Gak ada apa-apa, Nak" Jawab Brain memandang ke arah kamar.


Laki-laki itu lalu mendekat ke arah pintu, ia tak melihat hal aneh yang menakutkan. Semua tampak biasa-biasa saja di matanya.


Nadira tak percaya, lalu menyusul sang ayah mendekat ke arah pintu. Bola matanya yang bulat terus memperhatikan setiap sudut ruangan kamar. Tak ada yang aneh,


"Tadi aku lihat hantu, Pa. Rambutnya panjang. Dia merayap di dinding itu"


Brain tertawa,


"Mana ada hantu siang bolong begini"


Ia tak percaya dengan ucapan putrinya, Brain berpikir mungkin Nadira terlalu banyak menghayal dunia horor, jadi membuat putrinya berimajinasi terlalu tinggi.


"Ayo anak-anak masuk kamar, waktunya tidur siang. Papa juga mau istirahat di luar, capek jalan jauh dari rumah Pak Razaq" Kata Brain lalu mengalihkan.


Ibu Mira yang masih kecewa, pergi meninggalkan anak dan menantunya di ruang depan. Wanita berumur lima puluh tahun, sudah setengah abad itu masuk ke kamar belakang lalu menguncinya dari dalam.


Brain dan Lidya membiarkan Ibu nya sendiri tanpa membujuk untuk keluar. Mereka berdua yakin, nanti Ibu juga akan keluar sendiri, mungkin saja Ibu butuh waktu menenangkan diri beberapa saat.


Hawa rumah sangat panas, Brain membuka baju kaosnya. Hanya singlet tanpa lengan yang membalut badannya nan kekar. Ia lalu berbaring di atas tikar tipis terbentang di lantai.


Sementara Lidya duduk di kursi sofa, ia merenungi kejadian aneh yang dialaminya tadi. Ia berusaha mengingat kembali apa yang sudah terjadi.


Satu jam lamanya, Lidya duduk terpaku berdiam diri,


"Bapak. Bapak"


Suara Brain membuyarkan pikiran Lidya. Ia lalu melirik ke arah Brain yang tengah tidur. Brain tampak tersiksa di balik tidurnya. Sang suami terus memanggil Bapak mertua yang sudah lama meninggal. Kening Brain bercucuran keringat.


"Brain. Selamatkan Ibu dan keluarga mu, Nak. Cari mantra itu. Bacakan segera, Nak. Bacakan. Bacakan, Nak"


Suara Bapak terus memanggil Brain di alam mimpi. Tak ada cahaya, gelap gulita. Suara Bapak menggema, semakin lama, semakin besar.


"Tidak.. tidak..." Teriak Brain.


Melihat sang suami terus berteriak, Lidya pun membangunkan Brain,


"Pa. Papa. Bangun, Pa. Papa..!" Kata Lidya lalu menampar pipi Brain.


Brain tersadar dari mimpinya, ia duduk, termenung begitu lama.


"Tadi Papa mimpi Bapak, Ma" Kata Brain menatap sang istri.


Bapak terus memintanya membaca mantra yang ia sendiri tak tahu dimana kertas nya. Sang ayah terus mendesaknya berulang kali,


"Siapa tau ini petunjuk untuk kita, Pa. Ini bantuan dari Bapak. Kita harus cari mantra itu" Kata Lidya semakin yakin.


Sebenarnya tanpa Brain sadari, mantra itu sudah ia hafalkan sebulan sebelum Bapak meninggal. Saat Bapak menyeduh kopi di teras rumah bersamanya di malam hari, sebelum gempa itu datang dan menewaskan banyak warga desa Gondoro termasuk Bapaknya, AlRoberto.

__ADS_1


__ADS_2