Sebenarnya Aku Kenapa?

Sebenarnya Aku Kenapa?
ANAKMU PULANG? part 6


__ADS_3

Boni menjerit histeris ketika darah memuncrat dari pusakanya.


" Toloong!! Hah!, Siapa kamu!!" Sembari menunjuk wanita berpakaian lusuh, rambutnya terurai panjang tepat di hadapannya. Seketika, wanita itu bergerak, memutar kepalanya hingga terdengar patahan tulang.


"Krakk"


Sontak Boni merinding, menggigil ketakutan,


"kamu???"


"Paman masih ingat! Hahaha!!" Tawanya memekakkan telinga. Sosok itu melayang, seraya mengibaskan tangannya.


"Byuurr!" Boni berguling kedalam air, posisi telungkup membuatnya panik.


" Hei! Suara apa itu?" Seru Botak, sontak mengejutkan kedua rekannya. Jambang mematikan musik dari ponsel seraya memperjelas pendengarannya.


"Boni!!!" Pekik mereka bertiga kemudian, berlari ke arah pintu air.


"Mana Boni??" Tanya Pundi seraya mengarahkan senter ponselnya ke semak semak dipinggiran parit.


"Hah???" Pekik Botak saat sinar ponsel Pundi mengarah ke semak di tengah parit,


"i-itu Boni!" Seraya menunjuk, Boni sudah telungkup. sontak mereka kaget hingga membuat Pundi terjungkal.


"Boni!!!" Panggil jambang tetapi, tidak bergerak sama sekali.


"Ayo, kita lihat!" Sembari melangkah masuk kedalam parit, Jambang dan Botak mengangkat Boni.


"Apa yang terjadi?, Lihat! Ada darah!" Tunjuk Pundi ke arah benda pusaka Boni.


"Apa Boni diserang Buaya?" Tutur botak sembari melirik kedua rekannya, dibalas keduanya dengan menaikkan kedua bahunya.


"Apa masih hidup?" Seraya mendekatkan dua jarinya ke hidung Boni, jambang menggeleng kearah dua temannya.


" Sudah meninggal" desisnya.


Jambang membopong jasad Boni, segera meletakkan di atas motor miliknya.


" Kita bawa pulang. Pundi! Kamu naik, pegangin jasadnya!" Seraya menghidupkan motor, mereka pulang membawa jasad sahabat.


"Bagaimana nduk?, Apa kamu senang?" Seraya terkekeh, mata nenek tua itu menatap tajam.


Sam mengangguk, bibirnya menyeringai,


"Ini baru permulaan Mbah!" Ucapnya tegas. Mbah wuto tertawa hingga terlihat gigi-gigi hitamnya.


"Musuhmu bukan orang sembarangan nduk!. Selanjutnya Kamu harus minum darah korban korban mu, agar kekuatanmu bertambah!"


Sam tersentak' sekujur tubuhnya menegang, dia tidak mengerti ucapan si Mbah.


"A-apa Mbah?, siapa musuhku ?" Ujar sam.

__ADS_1


Sembari tertawa Mbah wuto menunjuk ke arah barat.


"Pulanglah nduk, besok kamu akan mendengar kabar baik" ujar Mbah wuto


"Baik Mbah, sepeda ku bagaimana?" Tanya Sam bingung


"Tutup matamu, Mbah akan mengantar kamu pulang!"


Tanpa menjawab, Sam mengikuti tanpa bertanya lagi. Mbah wuto duduk bersila, terdengar mantra dari bibirnya.


"Hush..!" Seperti angin mendengung ditelinganya, merambat dingin menyentuh kulitnya.


"Kita sampai nduk, buka matamu."


Berlahan Sam membuka matanya takjub, ia sudah berada didalam rumahnya.


"Mbah!" Seraya mencari keberadaan Mbah wuto. Tetapi, Mbah wuto telah menghilang.


Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari, dia bergegas ke kamar melihat kedua putranya, mereka masih terlelap, Sam berjalan menuju tempat kedua anaknya seraya membaringkan tubuh yang lelah, memeluk kedua putranya hingga matanya terlelap.


###


"Innalilahi wainnailaihi roji'un, telah berpulang saudara kita Boniran anak dari pak Slamet, pukul tiga dini hari, akan disemayamkan di TPU cindai" terdengar suara pak Imam dari mesjid Cindai.


Desa Cindai kembali digegerkan kabar kematian Boni. Kabar Boni diterkam Buaya tersebar hingga ke desa lain. Para pemuda dan Bapak Bapak berkumpul untuk memburu Buaya itu.


Boni diterkam Buaya menjadi perbincangan hangat dikalangan Ibu-Ibu. Membuat sebagian takut untuk melaut dan mencari kerang.


"Buaya gimana?" Sahut Sam heran


"Kamu belum dapat kabar ya?, Boni tewas di terkam buaya, ih, seram banget! Kita nggak usah kerja ya!" Tutur Hajra


"Oh, aku harus bekerja, jika tidak kerja' mau makan apa Hajra??" Jawab Sam menyeringai,


"Kami libur dulu ya Sam." Hajra tersenyum canggung seraya melangkahkan kakinya menjauh, ia bergidik ngeri melihat senyum dan tatapan Sam.


Seperti biasa, anaknya dititip kembali ke tetangga, ia akan memberikan upah jika, dia sudah punya uang.


"Aaaaa! Boni! Anakku!!" Tangis Ibu Boni pecah ketika jasad sang anak hendak dikuburkan. Sam memandang dari kejauhan, tatapan dingin, bibir menyeringai, hatinya telah mati.


" Aku akan jadi iblis untuk kalian semua, jika hukum tidak bisa menyentuh kalian, aku Sam! akan memberi kematian."


Sam berlalu pergi, meneruskan kembali pekerjaannya, hasil yang didapat hari ini sangat jauh lebih besar. Senyum bahagia terpatri dibibirnya. ia pulang membawa hasil yang sangat memuaskan.


###


Tiga bulan berlalu, kehidupannya berubah, Sam mengganti rumah panggungnya, membangun rumah nan megah, membuat siapapun memandang akan takjub, dia tidak dipandang rendah lagi.


Kasak kusuk penampakan Rina semakin santer terdengar, tetapi, dia tidak perduli. Dendamnya seakan terlupa, Dia Fokus membangun usahanya.


Dia memberikan modal untuk adik semata wayangnya, agar saudaranya itu bekerja namun, lagi-lagi sang adik tidak tau diri, dia akan berfoya-foya bersama teman-temannya.

__ADS_1


"Sam!, Kenapa kau lupa nduk??, Balaskan dendam itu nduk, Musuhmu semakin membencimu, dia akan menghancurkan mu nduk." Terdengar bisikan halus, Sam tersentak. Ia melupakan sesuatu.


"Mbah wuto" desis nya


"Aku akan kembali, Mbah" bisiknya pelan.


Tepat ditengah malam, Sam duduk bersila seraya memejamkan mata, ia memanggil


" Mbah wuto!, Aku membutuhkanmu!"


Wush... Seketika atmosfir berubah,


"buka matamu nduk."


Sam membuka mata, kini dia sudah di bawah pohon tua itu, memandang ke arah gubuk milik pak Midun.


"Lihat nduk, mereka para biadab itu!, Mereka tertawa, mereka membunuh putrimu!, Bunuh mereka nduk, minum darahnya!" Mbah wuto membakar jiwa Sam, darahnya berdesir.


"Aku akan membantumu, aku akan setia padamu, membalas dendam kesumat itu" hasutnya kembali, Sam mengangguk seraya mengepalkan tangannya.


Sam mengawasi dari kejauhan, mengintai pergerakan dari tiga pemuda dewasa itu. Bibirnya tersenyum melihat salah seorang dari mereka meninggalkan gubuk. Motor pemuda itu melaju, perlahan meninggalkan dua orang temannya.


Ditengah perjalanan Ban motor yang dikendarai Botak tiba-tiba kempes, membuat si empunya mau tidak mau harus turun. Botak turun untuk memeriksa.


"sial" ucapnya sambil menendang ban motor.


"Hush" tiba-tiba angin berhembus kencang, membuat bulu kuduknya meremang. Sesekali ia memegang tengkuknya. Mata liarnya awas melihat sekelilingnya. Botak mendorong motornya. tiba-tiba,


"Paman???" Sosok melayang di depan memanggilnya. sontak Botak terjungkal, bokongnya mendarat di jalan berbatu itu.


"Se-setaan!!!" Botak lari tunggang langgang Hingga ia menabrak seorang wanita dihadapannya.


"Si-siapa kamu!!"


"Hahaha! Kamu tidak mengenalku Botak???" Seringaian Sam membuat Botak memundurkan langkahnya, kemudian berbalik dan berlari tapi, Sam tidak akan melepasnya.


Nafas botak tersenggal senggal,


"hosh,hosh" sembari melihat kebelakang, dia tersentak, Sam sudah dihadapannya.


Botak terperanjat melihat wajah Sam berubah, kuku-kuku tajam keluar dari ujung-ujung jari Sam. Sam meraih kepala Botak lalu, menancapkan kuku-kukunya kewajah dan matanya.


Darah memancar dari setiap tusukan kukunya, Sam tertawa kencang, seraya menjil*ti darah yang mengalir diwajah Botak.


"Ampun, ampun!" Botak menghiba, tetapi, itu sudah tidak berarti apa apa,. Bagi Sam penjahat seperti mereka tidak akan berubah, hatinya sudah wuto, sesuai nama si Mbah, hatinya sudah buta.


Sam menyeret Botak, hingga ke bibir pantai berlumpur, pantai yang dikenal angker, sehingga warga tidak berani mendekatinya.


"Aku akan menyayat benda pusaka mu!, Ini yang membuat putriku Meninggal !"


"Cresss" darah kembali memancar, teriakan Botak melengking pilu, itu membuat Sam semakin terbahak. Sam kembali menampung darah itu kedalam besek pemberian sinenek tua.

__ADS_1


Tawa Sam menggelegar.


__ADS_2