
"Pa. Papa. Bangun. Celvin hilang" Kata Lidya menepuk-nepuk dada suaminya, Brain.
"Hilang gimana, mungkin dia pindah tempat tidur di tempat kakaknya" Kata Brain lalu kembali tidur.
"Hayolah, Pa. Mana mungkin Celvin ke tempat kakaknya. Papa lupa? Semua lampu mama matikan tadi sebelum tidur" Kata Lidya semakin cemas.
Brain lalu bangun dari tempat tidur dan mengucek matanya yang saat itu masih mengantuk. Lelaki itu pun turun dari tempat tidurnya dan menyalakan lampu kamar.
Brain syok, saat ia dapati Celvin anak bungsunya tak ada di kamar bersama mereka.
"Ma. Celvin Ma. Celvin dimana. Kenapa mama baru kasih tahu" Kata Brain panik lalu mengusap keningnya.
Tampak wajah tegang kedua pasangan ini saat keduanya di kagetkan dengan suara kaki di luar kamar. Semakin lama suara itu semakin jauh.
Brain penasaran, ia lalu keluar dari kamarnya mengikuti sumber suara kaki yang ia dengar tadi. Diikuti oleh Lidya dari belakang. Tangan Lidya yang kecil dengan jari-jarinya yang ramping menggenggam erat tangan suaminya yang besar namun halus.
"Kamu yakin suaranya di arah sini, Pa?" Tanya Lidya dengan langkah kaki pelan mengikuti jejak kaki suaminya.
"Iya. Stttt" Jawab Brain.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, lelaki berumur tiga puluh tujuh tahun itu melihat bayang-bayang hitam melintas, turun ke arah tangga.
Posisi Brain dan Lidya saat itu masih berada di ujung lorong, tidak jauh dari kamar paling ujung yang mereka tempati. Tak ada lampu yang menyala di setiap lorong yang mereka lewati. Mereka juga tak tahu dimana letak stop kontak saklar nya.
Brain hanya bisa memanfaatkan senter handphone dengan baterai yang tak lagi penuh. Ia lupa mengisi ulang daya baterai di ponsel sebelum tidur.
Sayup-sayup terdengar suara perempuan menangis di telinga Lidya. Sang istri tak menggubris nya, karena ia tahu, suara itu bukanlah suara anaknya. Lidya si perempuan dengan tubuh rampingnya tetap fokus mengikuti suaminya dari belakang, tak ingin melepas genggaman dan tak ingin menengok ke belakang.
"Pa. Kita cari Celvin aja yuk, coba cek dulu di kamar Hani dan Nadira" Kata Lidya memohon dengan rasa takut sesak di dada.
Brain melihat istrinya sudah tak tahan menahan rasa takut, akhirnya ia memutuskan untuk tidak turun ke lantai bawah. Ia berdua memutar langkahnya, berbalik ke kamar paling ujung.
Ada dua kamar saling berhadap-hadapan, paling ujung. Sebelah kanan, kamar Brain dan sang istri, sementara sebelah kiri, kamar Hani dan nadira. Awalnya mereka berniat untuk tidur di dalam satu kamar. Tapi karena ada dua kamar yang layak untuk ditempati, Hani, putri sulungnya meminta tidur terpisah dari orangtuanya.
Brain tak tahu, bahwa ini awal mula kejadian aneh terus terjadi menimpanya. Brain tak sadar, bahwa keluarganya tengah di kelilingi energi negatif, aura itu menempel di tubuh ketiga anaknya.
__ADS_1
Kedua pasangan ini pun tiba di depan kamar putri mereka. Brain lalu membuka pintu pelan, menjaga agar sang putri tak terganggu dengan bunyi suara pintu.
Lidya lalu menyalakan lampu kamar,
Betapa kagetnya mereka saat melihat pemandangan di kamar, tak ada satu orang pun di kamar malam itu.
Lidya terdiam, wajahnya pucat dan sekujur tubuhnya terasa lelah tak bertenaga. Ia lalu terduduk bersimpuh di lantai granit dengan ukiran daun berwarna abu-abu muda.
"Anak ku, Pa. Dimana mereka" Kata Lidya diiringi Isak tangis, pelan.
Brain, cukup lama ia berdiri seperti patung menatap dipan kasur. Dalam hati ia bertanya-tanya, kemana perginya anak-anak.
"Pa! Anak-anak ku dimana!" Kata Lidya dengan suara tinggi, air mata terus membanjiri pipinya yang tirus.
Teriakan sang istri membuat Brain tersadar dari lamunannya. Lelaki bertubuh bak atlit itu bergegas membantu istrinya berdiri lalu memapahnya keluar kamar.
"Kita cari mereka sama-sama, Ma. Ayok bangun" Kata Brain lalu memapah sang istri.
Brain dengan langkah yang juga gemetar saat itu harus berusaha bangkit menguatkan diri demi istri dan ketiga anaknya.
"Mama... Mama... Mama... Tolong..." Teriak Nadira dari lantai bawah.
"Ayo, Pa. Itu suara Nadira, Pa. Mereka semua pasti di lantai bawah, Pa" Ujar Lidya menarik lengan baju sang suami.
"Kamu tunggu di kamar saja ya Ma. Biar papa cek ke bawah" Pinta Brain tak tega melihat sang istri sudah penuh dengan keringat di dahinya.
Lidya menolak menunggu sendirian di kamar yang pengap tak ada pendingin ruangan di dalamnya. Ditambah fentilasi jendela semua di tutup mati, banyak paku tertanam di kedua sisinya.
"Mama ikut, Pa" Jawab Lidya, yakin.
Tanpa mengulur waktu, Mereka pun mempercepat langkahnya turun ke lantai bawah.
Brain khawatir anaknya membuka kamar terpencil dekat ruang tengah tadi.
Lelaki itu sudah di wanti-wanti oleh rekan kerja di rumah sakit tempat ia bekerja, agar tak membuka pintu kamar apapun yang terjadi.
__ADS_1
"Jaga baik-baik istri dan anak-anak mu, Brain. Jangan biarkan mereka membuka kamar itu"
Kalimat ini terus terngiang-ngiang di telinganya,
"Nadira, Dimana kamu, Nak" Panggil Brain lalu menyenteri setiap sudut ruangan dari jarak jauh.
"Pa, kita nyalakan lampunya dulu, ayo Pa" Kata Lidya.
Brain mengangguk setuju dengan usul sang istri,
"Ceklek" Bunyi suara tombol stop kontak saklar ditekan Brain.
Tiba-tiba, datang sesosok perempuan dengan rambut panjang membelakangi Brain dan Lidya. Mereka berdua tak menyadari kehadiran sosok yang tak jelas rupanya itu, sedang berdiri melihat mereka di balik tirai gelap tak bertepi.
Suasana semakin mencekam, suara percikan air wastafel di dapur tiba-tiba menyala.
"Pa. Nadira, mungkin di kamar mandi belakang Pa" Kata sang istri menarik baju kaos oblong Brain yang sudah melar.
"Ya udah, mari kita cek" Kata dokter Brain.
Tangan mereka saling berpegangan erat satu sama lain,
"Papa...." Panggil Nadira lagi.
Suasana kembali hening, sejenak, Lidya dan Brain saling pandang,
"Pa, papa dengar gak tadi? Suara Nadira, Pa" Tanya Lidya.
"Iya, Ma. Sepertinya suara itu berasal dari kamar ini, Ma" Jawab Brain lalu menoleh ke arah kamar tepat di sebelah nya.
Brain tampak meneguk air liur di ujung lidah, ia dihadapkan dengan dua pilihan, apakah ia harus membuka kamar menyelamatkan anak-anak nya atau justru malah sebaliknya, berpura-pura tak mendengar teriakan Nadira dari dalam kamar terkutuk itu.
"Ayo, Pa. Buka pintunya. Tunggu apalagi. Anak kita di dalam, Pa"
Brain lalu menghela nafas panjang, detak jantung berdebar begitu cepat,
__ADS_1
"Ya Tuhan, bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan" Gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba, seseorang yang tak dikenal masuk, menghampiri Lidya dan Brain lalu memukul punggungnya dari belakang. Hingga membuat mereka berdua pingsan, tak sadarkan diri hingga pagi tiba. Mereka pun melalui malam di atas lantai yang dingin....