
****
Bercak-bercak ungu terlihat samar di antara kegelapan. Sebagian dari diriku masih ingin terpejam, sementara diriku yang lain ingin segera keluar dari kegelapan ini. Samar, aku bisa mendengar suara Papa yang memanggil namaku berulang kali. Aku tersentak saat sesuatu yang dingin menempel pada dahiku.
“Ngggg,” aku mengerjap beberapa kali saat menyadari, Papa mengarahkan senter dan cahayanya tepat menyorot ke bola mataku.
“Ayasa?” panggil Papa sekali lagi.
Aku terbatuk dan membuka mataku untuk sekali lagi.
“Mbak Ayaaas, hu … hu … hu,”
Tangisan Noa terdengar begitu dekat, tak lama aku bisa merasakan tangan kananku diremas dengan kuat.
“Apa yang terjadi?” tanyaku pada Papa, saat aku telah sadar sepenuhnya.
Papa berdiri, ia mengusap wajahnya kasar. Tak jauh darinya, Mbok Yeye tersenyum getir ke arahku. Ia terlihat membawa sebuah baskom.
“Harusnya, Papa yang bertanya, Yas. Kamu dan adikmu kenapa? Tadi Mbok Yeye menelepon dan mengatakan kalau kalian berdua tenggelam dalam bathtub kamar mandi. Apa yang kalian lakukan? Kalian mau meninggalkan, Papa?” suara lelaki itu meninggi.
Dahiku mengerut, apa maksud Papa?
Noa masih terisak, ia kini berusaha memeluk tanganku.
“Noa pikir Mbak Ayas meninggal, Noa takut sekali.” Gumamnya yang membuat emosi Papa semakin tersulut.
“Ayas! Papa tau kamu kehilangan Mama. Papa juga sama, Nak. Tapi, Papa mohon supaya kamu tidak melakukan tindakan berbahaya. Apalagi kamu mengajak adikmu. Apa jadinya kalau Mbok Yeye tidak datang ke rumah dan menemukan kalian berdua?” ia menyugar rambutnya kesal.
Aku terdiam dengan bibir terbuka lebar. Kepalaku terasa berat, saat berusaha mengingat kejadian tadi.
“Papa salah. Kami tadi di teror sama hantu seram. Dia mengintip dari ventilasi,” ucap Noa, membelaku.
Papa melirik Noa, lalu menarik napas panjang.
“Papa mau kamu berhenti mengajari adikmu menonton konten seram, Yas. Kamu bisa mulai dengan menyingkirkan novel-novel horror yang ada di rak meja milikmu.” Gumam Papa lagi.
Aku menatap empat koleksi novel yang sering kubaca. Keempatnya, sengaja kuletakkan di rak paling atas, agar memudahkanku jika ingin membacanya. Ada Desa Tanpa Suara Azan, Mayat-Mayat yang Menari, dan Misteri Meletusnya Perut Antika. Satunya lagi bergenre romantis dengan judul Bahagia Setelah Berpisah. Itu sebenarnya novel milik Mama, yang sekarang telah menjadi milikku.
Ingatan tadi kembali teringat, aku dan Noa belum masuk ke kamar mandi melainkan jatuh tak sadarkan diri setelah melihat makhluk mengerikan yang ada di ventilasi udara.
__ADS_1
“Pa,” panggilku pelan.
Papa yang tengah memijat pelipisnya, menoleh.
“Ini ada hubungannya dengan sosok yang aku ceritakan dua hari lalu. Sosok itu datang lagi, dia benar-benar nyata. Noa juga melihat—”
“Ayasa! Cukup!” Papa murka.
“Apa yang akan orang katakan jika mendengar ocehanmu kali ini? Mama baru saja meninggal, dan kamu ingin mengatakan jika dia menjadi arwah penasaran?” bentaknya.
Noa semakin meremas pergelangan tanganku. Perlahan, aku beringsut dan duduk di sebelah adikku.
“Tidak ada setan, Ayas! Itu pasti halusinasimu semata. Papa akan buktikan, setelah novel-novel horror itu lenyap maka pikiranmu akan kembali segar!” hardiknya penuh emosi.
Selama 17 tahun, tak sekalipun aku melihat Papa marah seperti ini. untuk pertama kalinya ia bahkan membentakku berulangkali.
“Sudah, Papa capek! Papa nggak mau kalian bahas tentang apapun yang katanya mengganggu kalian berdua!”
Ia berjalan meninggalkan aku dan Noa yang terkejut melihat sisi lain dari Papa.
“Pastikan mereka makan sesuatu, Mbok!” perintah Papa pada Mbok Yeye yang menundukkan kepalanya.
Papa menutup pintu cukup keras, hingga membuat dadaku terasa sakit.
Tanganku gemetar.
Tidak!
Seluruh tubuhku bergetar melihat sosok yang selama ini selalu lemah lembut pada kami. Ia begitu berubah, seperti orang lain saja. Noa memelukku erat, ia ikut terisak melihatku berlinang air mata.
“Papa jahat! Huhuhu, aku mau Mama, Mbak … aku mau, Mama …,” isaknya.
Aku segera merengkuh adikku dan menepuk punggungnya.
“Nduk, apa yang sebenarnya terjadi? Katakan pada Simbok?” Mbok Yeye mendekati kami dan duduk di tepi kasur.
Aku menceritakan segalanya pada Simbok. Aku rasa, tak apa-apa jika Mbok Yeye tau masalah perempuan misterius itu karena ia telah lama bekerja pada keluarga kami.
“Ya Allah, jadi apa yang Mbok lihat itu benar adanya,” ucap Mbok Yeye sambil menutup mulutnya.
__ADS_1
Aku meminta Noa berhenti menangis, sebab suara tangisannya membuatku tak bisa mendengarkan penjelasan Mbok Yeye. Gadis kecil itu tergugu, namun ia berhenti menangis.
“Beberapa hari yang lalu, Mbok juga sempat melihat sosok perempuan tengah berdiri di halaman rumah. Menghadap ke sini. Mbok pikir, itu tamu yang mencari Pak Adrian. Dia pakai payung hitam dan baju hitam juga, kan, Non?” tebak Mbok Yeye.
Aku mengangguk, “Iya, Mbok. Aku sudah coba bicara ke Papa, tapi Papa malah marah-marah.”
Noa menghapus air matanya, “Kayak tadi. Papa jadi pemarah.” Sambungnya.
Sejak dulu, Mbok Yeye memang terbiasa pulang dan tidak menginap di rumah kami. Ia akan pergi sebelum jam lima, setelah menyiapkan makan malam untuk penghuni rumah. Paginya, Mbok Yeye akan datang setelah subuh untuk membantu Mama menyiapkan sarapan dan melakukan pekerjaan rumah tangga.
Perempuan bertubuh tambun itu menyentuh dahiku.
“Mbok tadi kaget lihat Non Ayas dan Non Noa berada di dalam kamar mandi. Entah kenapa, tadi Mbok merasa harus datang dan melihat keadaan Non berdua.” Jelasnya.
Tubuhku terasa linu, bayangan wajah dengan mata merah menyala itu begitu jelas.
“Sepertinya ada yang tidak beres, Non,” ucap Mbok Yeye, serius.
Aku menatapnya lama, sesekali mataku melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Perasaanku mengatakan jika ada yang tengah menguping pembicaraan kami. Bayangan hitam di bawah pintu kamar, tampak bergerak-gerak.
“Ini pasti efek, Nona terlalu banyak membaca novel horror.” Sambungnya meniru kalimat Papa, yang membuatku segera menoleh dan mendelikkan mata.
Aku sedikit kaget melihat Mbok Yeye, sedang mengedipkan sebelah matanya berulang kali. Telunjuknya mengarah pada pintu.
“A—ah, iya benar. Mungkin ini semua efek terlalu banyak membaca novel itu, Mbok.” Balasku mengikuti kemana arah pembicaraan Mbok Yeye.
Bayangan hitam di bawah pintu itu tampak menjauh, aku menoleh dan membulatkan mataku. Mbok Yeye mengangguk, ia memberikan sebuah catatan kecil dan berbisik jika kami bisa membaca catatan itu setelah ia pulang.
“Sekarang Non Ayas dan Non Noa mau makan apa?” tanyanya berusaha mengembalikan keadaan yang terasa menegangkan.
Noa menggeleng saat aku menawarkan beberapa pilihan makanan kesukaannya. Sedang aku juga merasa tidak terlalu lapar.
“Bagaimana kalau dua gelas susu hangat saja, Mbok. Dengan roti cokelat untukku dan keju untuk Noa?”
Mbok Yeye tersenyum, ia menyentuh daguku lembut lantas membelai puncak kepala Noa penuh kasih sayang. Ia keluar dan kembali dalam jarak wakktu lima belas menit membawa apa yang kami inginkan.
“Mbok harus segera pulang, Non.” Pamitnya.
Aku dan Noa mengangguk. Mata kami terus melihat sosoknya keluar hingga menghilang di balik pintu kamarku. Rencananya, malam ini aku dan Noa akan tidur sekamar. Pesan yang diberikan oleh Mbok Yeye, nanti akan kami baca berdua.
__ADS_1