Sebenarnya Aku Kenapa?

Sebenarnya Aku Kenapa?
Rumah Seharga 5 Juta


__ADS_3

"Ini rumahnya?" tanya Printa sembari mengedarkan pandangan. Keningnya berkerut setengah tak percaya.


"Emang kenapa?" April berjalan mendahului sahabatnya.


"Untuk kita berdua, ini terlalu besar," ucap Printa.


"Tak mudah mencari rumah kontrakan yang nyaman, Prin."


"Tapi kita belum tau juga, rumah ini nyaman atau tidak."


"Dari sekian banyak rumah yang aku kunjungi. Hanya rumah ini yang sesuai isi kantong kita, Prin. Lihatlah, rumah ini besar. Halamannya luas. Tidak seperti rumah kos kita sebelumnya. Sumpek." April berkata sembari memutar anak kunci.


Mereka berdua pun memasuki rumah yang akan ditempati selama setahun.


Rumah ini memiliki tiga kamar, satu ruang tamu dan satu ruang tengah. Sementara di bagian belakang ada dapur lengkap dengan peralatan makan dan kompor. Juga ada seperangkat meja makan.


Satu kamar terletak di bagian sisi kiri yang berhadapan dengan kamar berikutnya. Sementara di bagian sisi sebelah kanan, terdapat kamar yang cukup besar.


Setelah puas mengelilingi dan melihat-lihat kondisi rumah. Masing-masing mereka mulai membenahi barang bawaan.


"Kamu, kamar yang itu, ya. Aku yang dekat kamar mandi." April mulai berjalan ke arah kamarnya.


"Kenapa kamu tidak ambil kamar yang di depan. Di situ ada jendela langsung menghadap ke luar," tukas Printa.


"Justru itu, aku menghindari yang ada jendelanya. Rumah ini besar. Aku takut kalau-kalau nanti ada yang ngintip." April langsung membuka pintu.


Printa geleng-geleng kepala. Tak habis pikir dengan tingkah laku sahabatnya itu. Padahal, April sendiri yang memilih dan menyukai rumah besar. Printa memang menyerahkan sepenuhnya urusan tempat tinggal pada April karena kesibukan dirinya di kampus. Selain kuliah, gadis penyuka warna biru itu juga aktif di lembaga kemahasiswaan.


Printa menarik tas koper miliknya. Lalu, gadis itu membuka pintu kamar yang ditunjuk oleh sahabatnya tadi.


Kamar Printa lumayan besar untuk ukuran satu orang. Bahkan lebih besar dari kamar April. Di bagian pojok sebelah kanan terdapat kamar mandi.


Printa merasa beruntung karena tak perlu repot-repot ke luar kamar jika mau buang hajat. Di kamarnya juga sudah dilengkapi dengan meja rias dan tempat tidur ukuran king size. Kemungkinan ruangan Printa merupakan kamar pasangan suami-istri. Dan yang dua lagi barangkali kamar anak-anak pemilik rumah.


Printa mengedarkan pandangan. Lantainya berdebu dan tempat tidur masih tertutup kain putih. Sepertinya dia perlu memasang alas ranjang.


"Prin, kalau butuh sesuatu tinggal ambil di lemari. Sudah dapat izin dari yang punya rumah," teriak Printa dari luar.

__ADS_1


Printa berjalan mendekati lemari berbahan kayu jati, lalu membuka salah satu pintu. Di bagian atas tersusun beberapa helai kain.


Printa mengambil satu kemudian membentangkan kain warna merah bermotif bunga-bunga itu pada permukaan tempat tidur. Jari-jari lentiknya mulai merapikan bagian sudut-sudut kasur.


Sembari memasang sarung bantal, sempat terlintas dalam pikiran Printa. Ternyata jaman sekarang masih ada rumah kontrakan murah beserta isinya. Ruang tamu saja dilengkapi dengan sofa. "Ah, seberapa kayanya pemilik rumah ini hingga mereka tak membawa sedikit pun barang-barang berharga yang ada di sini," ucap Printa dengan lirih.


Setelah memindahkan isi tas ke dalam lemari. Printa merebahkan badannya di atas ranjang empuk itu masih dengan jilbab terpasang di kepalanya.


"Lima juta pertahun, katamu?" Printa mengingat kembali percakapannya dengan April. Sehari sebelum pindah, dia mendapat kabar tentang harga sewa dari sahabatnya itu.


Hidup berpindah-pindah membuat keduanya lelah. Terakhir pernah ngekos yang isinya kebanyakan anak-anak sejurusan. Printa dan April memilih pindah karena masalah WC kamar mandi yang sering mampet gara-gara ada anak kos yang sering buang pembalut. Namun, tak ada satu pun anak-anak yang mau mengakui. Pada akhirnya Printa dan April memutuskan mencari rumah kontrakan yang sesuai dengan isi kantong mereka.


.


Printa menghirup udara segar. Dia melihat kegelapan telah menurunkan sayap-sayapnya. Lampu-lampu di jalanan sudah menyala sejak magrib tadi. Printa menutup jendela dan memulai aktivitas sebelum tidur.


Gadis yang memakai celana panjang dipadu baju kaus oblong itu duduk di depan meja rias. Mulailah Printa menggerai rambutnya yang panjang dan menyisir dengan perlahan. Disela-sela kegiatannya itu, tiba-tiba Printa melihat sosok yang dipantulkan dari cermin. Ya, April tengah berdiri dengan tatapan kaku di samping pintu. Wajanya pucat seperti bulan yang menggantung di langit.


Printa menoleh ke belakang, tetapi tak dia temukan sosok April di sana. Tiba-tiba desir angin masuk melewati tingkap jendela menyapa tengkuknya. Printa merinding.


Mahasisiwi tingkat dua itu menatap jam dinding. Jarum menunjukkan pukul sembilan. Biasanya April sudah tertidur. Anak itu kalau sudah bertemu kasur dan bantal, matanya cepat sekali terlelap. Beda dengan Printa yang sampai detik ini belum juga bisa tidur.


Untuk melepas perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya, Printa memilih menemui April.


Sesampai gadis berusia 20 tahun itu di ambang pintu, dia melihat ada siluet melintas dari arah kamar April menuju dapur.


Seperti ada yang menuntun, Printa segera berjalan. Alangkah terkejutnya, dia mendapati dapur gelap gulita.


"April," panggilnya. Dia yakin sekali kalau sosok yang baru dia lihat tadi memang April. Secara di rumah ini memang hanya ada mereka berdua.


Printa menekan sakelar. Sepi.


Gadis itu kembali mematikan lampu dan mulai berjalan ke kamar April. Dia lebih memilih pintu terdekat daripada berputar dulu ke ruang tengah karena memang kamar April punya dua pintu.


Pintu terkuak. Printa melihat sahabatnya tengah tertidur pulas dengan bergelung di bawah selimut, menutupi seluruh tubuhnya. Printa ingin membangunkan sahabatnya, tetapi tak jadi. Biarlah besok saja dia tanyakan perihal penampakan aneh barusan.


Printa kembali ke kamar. Baru saja dia membuka pintu, terdengar suara debaman cukup keras. Sepertinya berasal dari kamar mandi yang terletak di samping kamar April.

__ADS_1


Printa urung masuk. Dia cepat berjalan ke arah sumber.


Printa mengernyit. Daun pintu itu dalam keadaan terbuka. "Lalu, suara apa barusan?" Benak Printa bertanya-tanya.


Jantung Printa memompa lebih cepat dari biasanya. Bulu kuduknya meremang. Tiba-tiba perasaan takut menyelimuti raganya. Tanpa pikir panjang dia memasuki kamar April. Gadis itu langsung membaringkan tubuhnya.


.


Suara sayup adzan Subuh mendayu-dayu. Printa meraba sisi tempat tidur masih dengan mata terpejam. Kosong. Gadis itu sedikit terenyak dan membuka mata. Dia melihat tidak ada siapa-siapa di sampingnya.


Printa segera keluar kamar dan menuju kamar mandi. Pintu dalam keadaan terbuka. Sama persis dengan yang dilihatnya semalam.


Selesai berwudhu, Printa solat di kamar April. Dia berpikir, barangkali, sahabatnya sedang berada di dapur memasak sarapan untuk mereka berdua.


Selesai solat, April belum juga masuk ke kamar. Printa berniat menyusul temannya itu ke dapur. Gadis itu melewati jalur cepat dengan membuka pintu yang menghubungkan kamar dengan dapur.


Baru saja satu langkah kaki Printa keluar. Gadis itu bersirobok dengan sahabatnya yang juga sedang berjalan dari pintu lain.


"Loh, kamu, ngapain di kamarku?" April terlihat kaget.


"Lah, semalam, aku tidur di kamarmu." Printa menjawab sembari mendekati April.


"Apa? Coba kamu ulangi lagi. Aku nggak salah dengar, kan?" April menatap heran temannya dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Loh, masak kamu nggak liat aku tidur di sampingmu. Barusan, kamu duluan yang bangun pagi, bukan?" Printa tak mau kalah.


"Masalahnya, semalam, aku dengar suara-suara aneh di kamar depan. Aku takut sekali, lalu masuk ke kamarmu. Dan tidur di sampingmu!" seru April berkata dengan suara sedikit tercekat.


Jantung Printa berdegup kencang. Entah dari mana desir angin halus menyapa kuduknya hingga bulu-bulu tangannya berdiri. Dia bergidik menatap sekitaran rumah. Tiba-tiba aroma bunga melati memasuki indera penciumannya.


"Lalu, semalam, yang tidur di sampingku, siapa?" Printa mendekap tubuhnya sendiri.


April pun bertanya dalam hatinya. "Semalam, yang tidur memunggungiku berarti bukan Printa."


Mereka berdua menggigil. Suasana rumah di pagi buta itu mendadak terasa lain.


Tamat

__ADS_1


__ADS_2