Sebenarnya Aku Kenapa?

Sebenarnya Aku Kenapa?
rumah bekas Gantung diri part 1


__ADS_3

"Lekas bawa koper itu masuk Hani. Hari sudah mulai malam" Ucap Brain kepada salah satu anaknya yang tengah sibuk membalas pesan dari ponsel blackberry miliknya.


"Tunggu, papa. Sebentar lagi" Jawab Hany lalu menyimpan ponsel di saku baju nya dan menarik koper di bagasi mobil.


Dokter Brain dan Sang istri serta ketiga anaknya mempercepat langkah mereka membawa barang yang tersisa dari dalam mobil.


Tapi, langkah anak sulungnya, Hani terhenti saat mendengar patahan ranting di balik semak-semak rumah baru mereka.


"Hei! Siapa disana? Apakah ada orang?" Panggil Hani menoleh ke arah kanan rumah dinas yang sudah di penuhi dengan rerumputan liar, tak terurus.


Dokter Brain sebenarnya mendengar suara itu sejak tadi, tapi ia tak ingin istri dan anaknya ketakutan. Apalagi ini adalah hari pertama mereka menghuni rumah dinas itu.


"Hani!" Panggil dokter Brain menoleh ke arah belakang.


Ia lalu menghampiri anaknya,


"Ayo, nak" Ujar dokter brain menarik lengan anaknya.


Hani tampak penasaran, ia ingin mendekat, tapi lengannya keburu ditarik oleh sang papa. Ia juga tak berani menanyakan hal itu kepada papa nya. Mungkin saja ia salah mendengar tadi. Ia juga tak ingin berpikir yang aneh-aneh.


Saat pintu rumah dibuka. Aroma tak sedap memenuhi isi ruangan. Debu yang menempel di setiap furniture ruangan. Laba-laba dan sarangnya yang bergelantungan di langit-langit atap rumah. Bahkan bangkai serangga yang sudah mati tampak tergeletak di lantai dibiarkan begitu saja.


"Uhuk. uhuk" Suara batuk Sang istri, Lidya menggema.


Mungkin karena rumah ini sudah lama kosong tak berpenghuni, ditambah dengan furnitur yang tak begitu banyak. Jadi pantulan suara memang terdengar menakutkan. Mendengar suara itu, Celvin anaknya yang masih berumur dua tahun menangis histeris.


Hani pun mencoba menenangkan adiknya dengan memberi sebuah mainan mobil-mobilan kecil yang ia ambil di dalam saku tas mamanya.


"Tolong bantu mama jaga Celvin sebentar ya, Nak. Mama sama papa mau cek ke lantai atas dulu. Siapa tau ada ruangan yang bersih untuk kita tidur istirahat malam ini" Ucap Lidya kepada Hani yang sudah berumur delapan belas tahun itu.


Hani lalu melirik kanan kiri memperhatikan setiap sudut ruangan di lantai satu depan pintu masuk utama yang mereka lalui tadi. Bulu kuduknya merinding, saat melihat ruangan gelap persis dari arah dapur. Seperti ada ruang gudang tersembunyi disana.


"Hmm, ma, Hani takut. Mama bantu hidupkan lampunya ya, ma" Kata Hani dengan wajah ketakutan.

__ADS_1


"Iya. Tunggu sebentar" Jawab Lidya yang tampak seumuran dengan anaknya itu.


Ia lalu menitipkan Nadira serta Celvin bersama Hani dan bergegas pergi mencari stop kontak saklar rumah dinas itu.


Hani dan Nadira saling berpegangan satu sama lain. Sementara Celvin duduk di pangkuan Hani. Mereka bertiga duduk di bangku sofa yang masih tampak baru tapi penuh kotoran debu.


"Kak, aku takut" Kata Nadira, adiknya berumur sepuluh tahun.


Hani berusaha menenangkan Nadira dengan mengelus pundaknya,


"Gak apa-apa. Ada kakak disini. Gak usah takut" Kata Hani.


Irama detak jantungnya semakin menggebu, sejujurnya ia juga takut saat itu ditinggal mama dan papanya dalam keadaan rumah yang gelap tanpa cahaya. Tapi ia harus terlihat santai seolah tak terjadi apa-apa, agar adiknya tak merasa ketakutan lagi.


"Kak, itu bunyi apa?" Tanya Nadira menunjuk sumber suara yang berada di ruang tengah.


"Mungkin suara tikus aja kali, dek" Jawab Hani dengan mimik wajah semakin tegang.


Hani yang sudah ketakutan keringat dingin pun luluh dan mengikuti kemauan Nadira. Ia lalu menggendong Celvin dan memegang erat tangan Nadira, berjalan pelan ke arah sumber suara.


Langkahnya semakin dekat dengan sumber suara yang semakin jelas terdengar di depan mata.


"Buka, kak" Kata Nadira menoleh ke arah Hani.


Hani lalu menghela nafas panjang, detak jantung sudah tak karuan. Jari tangannya yang lentik dingin seperti keluar dari lemari es batu sudah kebas tak berasa.


"Bismillahirrahmanirrahim ****" Gumamnya dalam hati.


Tangannya sudah mengepal di ujung gagang pintu, ia lalu menutup matanya perlahan membuka pintu.


"Stttt!"


Tiba-tiba lampu menyala dan suara langkah mama dan papa nya terdengar dari arah depan. Mereka berdua pun mengurungkan niat nya untuk membuka kamar itu dan berlari terbirit-birit ke arah orangtuanya.

__ADS_1


"Papa. Mama!" Panggil Nadira.


Tak lama mereka sampai di hadapan kedua orangtuanya. Dengan sisa nafas yang tersengal-sengal, Nadira menceritakan suara yang ia dengar tadi saat sedang menunggu orangtuanya menyalakan lampu rumah itu.


Dokter Brain kaget mendengar cerita anaknya. Untung saja putrinya tak jadi membuka kamar tadi. Lelaki dengan bingkai kaca mata hitam lalu memeluk erat ketiga anaknya. Ia bersyukur anaknya tak membuka kamar itu. Dadanya masih terasa sesak, kaki nya gemetaran berusaha ia lawan.


"Lain kali, jangan buka kamar itu ya, Nak. Tak baik. Pamali" Kata Brain menatap kedua putrinya, Hani dan Nadira.


"Kalau kita buka kenapa memangnya, Pa?" Tanya Nadira penasaran lalu menoleh ke arah kamar yang berada di ruang tengah.


"Sudah. Pokoknya dengar saja ucapan papa, ya. Semua untuk kebaikan kita di rumah ini" Kata mama menimpali.


Lidya lalu mengajak anak-anak nya ke lantai atas. Ada satu kamar yang dirasa bersih untuk mereka istirahat malam ini.


"Kita ke atas, yuk. Di atas ada kamar yang bersih untuk kita tidur. Besok baru kita berbenah membersihkan rumah ini bersama-sama" Kata Lidya lalu menyandang tas yang berisi perlengkapan kebutuhan Celvin.


Hani lalu terdiam sejenak mengingat apakah ia sudah membuka pintu kamar itu tadi? Ia yakin, pintu itu terbuka meski hanya seujung kuku.


"Papa..." Panggil Hani dengan rasa cemas di dada.


"Iya, nak. Kenapa?" Jawab Brain menghampiri putrinya yang tampak linglung.


"Seperti nya Hani tadi sudah membuka pintu kamar itu, Pa. Awalnya memang kita berdua berniat membukanya, tapi lampu keburu hidup. Hani yakin pintu itu terbuka sedikit pa" Ucap Hani dengan rasa takut.


"Kamu yakin, nak?" Tanya Brain lagi.


Hani lalu mengangguk dengan wajah merasa bersalah. Harusnya ia tak menghiraukan pinta Nadira.


"Ya sudah, kalau gitu kamu tunggu disini. Kalian juga" Kata Brain lalu pergi mengecek ruangan yang dimaksud oleh anak-anak.


Sejujurnya, ada rasa khawatir, panik, ketakutan menghantui dirinya. Lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu telah merasa bersalah membawa keluarga tinggal di rumah dinas itu. Tanpa mempertimbangkan keselamatan mereka.


Langkahnya semakin dekat dengan kamar terpencil di ruang tengah. Ia lalu memperhatikan pintu kamar, memang pintu kamar itu sedikit merenggang tapi tak terbuka. Ia lalu menutup nya kembali dan meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2