Sebening Air Mata Dara

Sebening Air Mata Dara
Pingsan


__ADS_3

Bu Seto dan sahabat Dara merangkul dan menguatkan Dara. Wajah cantik ini sangat pucat dan tubuh nya terlihat lemas. Perjuangan nya seakan berakhir hari ini juga. Bahkan Dara sudah tak mampu mengungkapkan lagi bahwa laki laki yang dihakimi itu adalah suami nya. Keputusan yang membuat tubuh ini seakan lumpuh. Persendian Dara nampak lemas dan tiba tiba....


Brukkkk


" Daraaaaaaa..... " pekik Bryan melihat Dara yang sudah terjatuh dan pingsan. Tubuh nya terkulai lemas tak berdaya. Ingin Bryan membopong nya untuk membawa nya kerumah pak Seto namun dengan cepat Beni melarang nya.


" Hentikan Bagas " Om tidak mengizinkan kamu keluar dari rumah ini." Ucap Beni tajam.


" Kak Bryan , kakak akan menyesal telah menyia-nyiakan istri sebaik Dara. Om Mahendra pasti akan murka mendengar berita ini " Ucap Yola dengan tatapan tajam ke arah Bryan sebelum keluar mengikuti Dara dan yang lain nya. Dan sukses membuat Bryan termenung memikirkan ucapan gadis itu.


Bu Seto meminta tolong tetangga terdekat untuk membawa Dara pulang. Pria itu membopong Dara menyusuri jalanan malam yang sedikit gelap diikuti Bu Seto dan sahabat Dara. Dengan langkah cepat mereka menggerakkan kaki berharap cepat sampai di rumah pak Seto.


" Ada apa ini buk " Tanya pak Seto saat membuka pintu.


" Nanti saja ibu ceritain pak, sekarang bantu Non Dara dulu. Non Dara pingsan pak " titah Bu Seto dengan raut wajah yang khawatir.


Setelah menurunkan Dara, pria itu segera pamit pulang karena hari juga sudah malam. Tak lupa Bu Seto mengucapkan terima kasih karena pria itu sudah mau membantu.


Di kamar itu menantu dari keluarga besar Pradana itu masih memejamkan mata nya. Terlihat wajah damai itu nampak pucat pasi. Bu Seto mengoleskan minyak angin pada hidung dan pelipis Dara berharap gadis itu segera bangun. Ketiga sahabat Dara menatap iba pada kejadian yang menimpa rumah tangga sahabat nya itu.


" Ra, bangun ra " lirih Cici menepuk pelan pipi Dara. Bahkan tangan Yola dan Loly nampak mengelus pelan kening Dara berharap sahabat nya itu segera sadar.


Diruang tengah, Pak Seto dan istri nya mendudukan diri. Bu Seto menceritakan kejadian yang baru saja dilihat nya tadi. Bahkan membuat Dara menjadi pingsan seperti ini. Pak Seto pun dibuat terkejut dengan apa yang diceritakan istri nya. Disela sela perbincangan mereka, Loly dan Yola datang dan mendudukan diri di depan Bu Seto.


" Gimana non Dara udah bangun belum non" Tanya Bu Seto pada Loly dan Yola yang baru datang. Dan mereka berdua nampak menggeleng. Bu Seto menghela nafas nya. " Terus gimana ini non, apa nggak sebaik nya kita beri tahu tuan Mahendra" usul Bu Seto.


" Iya Bu, seperti nya kita tidak bisa mengatasi ini sendiri. Kak Bastian dan Om Mahendra harus tau masalah ini segera." jawab Loly.


" Ini sudah malam. Kalau kita telpon Om Mahendra seperti nya Om Mahendra sudah tidur. Gimana kalau kita telepon kak Bastian aja." imbuh Yola.

__ADS_1


Tangan Loly terangkat untuk merogoh ponsel dari saku celana nya dan mencari kontak Bastian lalu melakukan panggilan.


📞 Memanggil Kak Bastian


" Hallo Kak " ucap Loly cepat


(......)


" Kak, ini gawat, kak Bryan tertangkap basah sedang berduaan dengan Nayla dalam satu kamar. Aku juga tidak tau kak, mereka benar melakukan nya atau tidak. Atau bisa juga kak Bryan di jebak. Kak Bastian dan Om Mahendra harus tolong Dara kak" Jelas Loly menggebu.


" Hallo, kak Bastian dengar Loly kan kak " Panggil Loly lagi.


(.......)


" Baik kak " Jawab Loly kemudian sambungan telepon itu tertutup.


" Gimana Lol " Tanya Yola penasaran.


" Kira kira apa ya yang akan dilakukan kak Bastian dan Om Mahendra. Atau mereka sudah memiliki bukti yang bisa membongkar kejahatan seseorang" ucap Yola kemudian. Dan Loly hanya mengangkat bahu nya.


" Eh ... Ngomong ngomong soal kejahatan. Mungkin nggak sih Kak Bryan itu dijebak ." Ucap Cici yang baru keluar dari kamar menemani Dara lalu ikut bergabung dan duduk di sebelah bu Seto. Mereka semua nampak berfikir dan seperti nya memiliki pendapat yang sama.


" Bisa jadi " Ucap mereka bertiga hampir bersamaan.


Bu Seto dan Pak Seto nampak mengernyitkan dahi nya. " Maksud nya gimana Non, Den Bryan tidak melakukan itu semua pada Nayla. Dan itu hanya jebakan. Itu maksud nya " Tanya Pak Seto kurang yakin.


" Iya begitu pak. " Jawab Cici cepat.


"Kak Bryan terus terusan mengelak tidak menyentuh Nayla sama sekali. Lihat raut wajah Kak Bryan tadi aku rasanya kasihan sekali. Semua orang menyudut kan nya. Nggak mungkin kan kak Bryan membela diri mati matian kalau dia memang melakukan nya." Jelas Cici

__ADS_1


" Jadi den Bryan di fitnah gitu non " lirih Bu Seto.


" Bisa jadi buk " jawab Cici


"Tapi kita tidak punya bukti apa apa non " tambah istri pak Seto.


Belum sempat Cici menjawab, tiba tiba ..


" Bryaannnnn..... tidaakkkkk... tidaaakkkk.... " Teriak Dara yang membuat beberapa orang yang sedang berdiskusi di ruang tamu itu nampak tersentak dan berlari ke kamar Dara.


" Dara apa yang terjadi, kamu mimpi ya ? Kenapa teriak teriak Ra " Tanya Cici dengan raut wajah yang nampak khawatir.


Air mata itu sudah mulai berjatuhan. Keringat dingin nampak keluar membasahi kening. Terlihat hembusan nafas yang naik turun bersamaan dengan isak tangis, Dara nampak sesenggukan.


" Ayo Minum dulu non " Bu Seto menyodorkan segelas air putih pada Dara. Dara nampak meminum sedikit. Masih terdengar hembusan nafas yang naik turun.


" Astaga, badan non Dara panas sekali non". Seru Bu Seto memegang kening Dara. Dan membuat ketiga sahabat nya itu tercengang.


" Ra, kamu sakit ". Ucap Yola lalu bergegas mengambil kotak obat yang mereka bawa dan mengambil obat penurun panas untuk Dara.


" Minum dulu ra " Yola lalu memberikan obat penurun panas itu pada Dara, Dara menerima dan meminum nya tanpa berucap apapun.


" Non Dara, jangan pikirkan hal tadi ya non. Bisa saja kan den Bryan memang tidak melakukan itu. Ada kemungkinan den Bryan dijebak non." jelas Bu Seto mencoba menenangkan gadis yang hati nya sangat terpukul itu. Dara masih tetap diam, hanya saja diri nya menoleh ke arah Bu Seto yang sedang berbicara dengan nya.


" Ra, Om Mahendra pasti akan mengungkap semua nya. Kamu tenang saja ya " kata Loly seolah yakin bahwa Papa dari Bryan itu tidak akan tinggal diam.


" Yaudah non Dara tidur ya non, hari sudah sangat larut. Non Dara harus kuat. Semoga besok pagi panas badan nya sudah turun ya non." Ucap Bu Seto lembut lalu mengelus rambut Dara dan berjalan keluar dengan pak Seto.


" Ra, kamu kenapa diam saja. " tanya Loly lagi. Memang setelah sadar dari pingsan nya Dara hanya merespon mereka dengan gerakan tanpa berucap apapun dan ini membuat sahabat nya ini sangat khawatir. Sahabat nya itu seperti nya enggan berbicara. Loly menghela nafas nya karena Dara masih diam. Dapat mereka lihat dengan jelas bulir bulir bening itu kembali mengalir. Loly menghapus nya lalu memeluk Dara diikuti Yola dan Cici.

__ADS_1


" Jangan sedih Ra, sekarang kamu tidur ya. Semoga besok pagi kamu bisa lebih baik. Jangan sakit ya" ucap Cici sendu lalu membenarkan posisi tidur Dara. Lalu melirik jam di ponsel nya menunjukan hampir pukul 12 malam. Mereka bertiga pun mencoba memejamkan mata dan tak menunggu lama untuk terlelap.


Lain hal nya dengan sahabat nya. Justru Dara enggan mengistirahatkan mata nya. Bola mata Dara menatap langit langit kamar. Bayangan adegan mengerikan yang dilakukan suami nya pada perempuan lain itu seolah membuat Dara istri yang sangat tak berharga. Cairan bening yang memenuhi kelopak mata ini terus mengucur begitu saja. "Aku menyerah kalau ini yang terbaik untuk mu" Ucap Dara lirih meremat dadanya yang nampak sakit.


__ADS_2