Sebening Air Mata Dara

Sebening Air Mata Dara
Hari Pertama Masuk Kantor


__ADS_3

Malam itu Mahendra dan supir pribadi nya melaju meninggalkan sebuah cafe dimana Mahendra dan Bastian yang baru saja melakukan meeting dengan klien nya. Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Meeting yang berlangsung malam hari mengharuskan Mahendra pulang agak larut. Mobil Bastian dan Mahendra berpisah di persimpangan jalan karena arah rumah mereka yang berbeda.


Mahendra beberapa kali nampak memejamkan mata nya karena kantuk yang sudah melanda. Sedangkan supir nya fokus pada jalanan. Namun secara tiba tiba supir pribadi Mahendra mendadak menginjak rem mobil nya. Bahkan Mahendra sempat terjungkal.


" Maaf Tuan, saya terpaksa menginjak rem mendadak. Di depan sana ada beberapa orang yang menghadang jalan kita tuan" Jelas supir dengan nafas tersengal.


Brakkk


Beberapa orang nampak menggebrak bagian depan mobil Mahendra yang membuat dua orang di dalam mobil tersentak. Seseorang lalu mengetuk pintu dengan keras nya berharap sang pemilik mobil keluar.


" Kita harus bagaimana pak " ucap supir Mahendra. Pada dasar nya pria paruh baya yang menjadi supir Mahendra itu hanya memiliki kemampuan untuk menyetir mobil, bukan sebagai bodyguard yang siap untuk bertarung. Belum sempat Mahendra berucap seseorang dengan badan kekar itu membuka paksa pintu mobil dan menyeret supir Mahendra keluar Bahkan preman preman itu akan melayangkan pukulan tajam pada Mahendra namun seseorang berhasil menghentikan nya.


" Hentikan " suara Bariton seseorang yang sangat Mahendra kenali.


" Jangan ikut campur" ucap preman satu nya dan berhasil mendaratkan pukulan tajam pada pria muda di depan nya. Bahkan darah seger kini sudah mengalir di sekitar bibir Alex.


" Alex" teriak Mahendra


Namun Alex tetap bangkit dan membalas pukulan pada preman di depan nya. Bahkan mereka semua nampak tergeletak karena serangan bertubi tubi yang Alex lakukan. Dengan meringis kesakitan Alex mendekat ke arah Mahendra.


" Papa tidak apa-apa " tanya nya pada Papa sambung nya itu.


" Papa tidak apa-apa Lex, kamu terluka ayo kita pulang" ajak Mahendra pada Alex.


Mahendra dan supir nya masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Alex. Alex mengusap sudut bibir nya yang nampak berwarna merah itu lalu seulas senyum menyeringai terbit begitu saja. Bahkan Alex tertawa keras karena rencana nya berhasil. Kedua mobil itu lalu melaju menuju kediaman rumah Mahendra.


Bel dirumah Mahendra nampak berbunyi. Dengan langkah cepat Bi Siti membuka pintu dan mendapati Tuan besar berserta putra sambung nya.


" Siapa Bi " Tanya Bryan yang sedang mengobrol dengan Dara di ruang tamu untuk menunggu Papa nya pulang.


" Tuan Mahendra dan den Alex " jawab Bi Siti seketika Bryan menautkan kedua alis nya lalu berjalan menghampiri Bi Siti.


" Papa, Kak Alex apa yang terjadi" tanya Bryan dengan raut wajah yang terkejut. Mereka pun akhir nya masuk dan mendudukan diri di ruang tamu.


" Bryan, Dara kalian belum tidur" Bukan nya menjawab pertanyaan Bryan, Mahendra justru menanyakan putra dan menantu nya itu.


" Kita nungguin papa pulang. Lagian Dara juga belum ngantuk pa" jelas istri Bryan itu dan Mahendra nampak mengangguk.

__ADS_1


" Bi, ambil kompres dan kotak obat untuk Alex" perintah Mahendra dan segera Bi Siti menjalankan apa yang di minta tuan besar nya.


" Bryan, Dara, tadi di jalan papa dicegat sama beberapa preman" ucap Mahendra seketika membuat putra dan menantu nya itu panik.


" Lalu gimana keadaan papa " dengan cepat Bryan menanyakan kabar papa nya.


" Papa nggak apa-apa, untung tadi ada Alex yang datang membantu, kalau enggak papa udah nggak tahu apa yang akan terjadi sama papa." jelas Mahendra.


" Makasih kak, udah menyelamatkan papa" ucap Bryan


" Nggak apa-apa, ini sudah kewajiban ku untuk menjaga papa". Jawab Alex


Dengan wajah tertunduk, pria yang berbeda usia satu tahun dari Bryan itu tertunduk di kaki Mahendra. "Papa, maafkan mama. Alex mohon papa bebaskan Mama" lagi lagi permohonan itu yang Alex katakan.


" Maaf, papa tidak bisa " tegas Mahendra.


" Papa memang berhutang nyawa karena kamu telah menyelamatkan papa dari preman tadi. Tapi bukan berarti papa akan membebaskan mama mu." Mahendra nampak menjeda ucapan nya,


" Tapi kamu tetap bisa tinggal disini sebagai putra ku" ucap nya kemudian dan Alex nampak tercengang.


" Yes, awal yang bagus" batin Alex nampak ber hore ria.


" Benarkah itu pa " tanya Alex tak percaya. Bahkan putra Melinda itu kini memasang wajah sedih nya agar mendapatkan belas kasihan dari Mahendra. Padahal sebenarnya bukan seperti ini karakteristik Alex. Apakah dia hanya pura pura?


Mahendra mengangguk lalu meminta Bi Siti untuk mengobati memar di ujung bibir Alex. Kemudian Mahendra berjalan menuju ke kamar nya untuk beristirahat.


Bryan pun lalu menggandeng tangan istrinya untuk menuju ke kamar nya karena hari sudah malam.


...****...


Keesokan hari nya Dara terlihat bangun lebih pagi dari biasanya. Langkah kaki nya membawa nya menuju ke dapur dimana asisten rumah tangga nya sudah sibuk menyiapkan sarapan.


" Pagi non Dara " sapa asisten rumah tangga nya.


" Pagi Bi" balas Dara pada Bi Siti dan Bi Tuti.


" Loh, non Dara mau ngapain non. Biar bibi aja yang ngerjain." cegah Bi Siti halus. Namun Dara dengan cekatan mengambil semua bahan bahan dan bumbu yang akan digunakan nya. Dara menghela nafasnya pelan lalu menoleh pada Bi Siti.

__ADS_1


" Dara mau buat nasi goreng spesial Bi" ucap Dara


" Bibi buatin aja non" Bukan nya apa apa. Karena selama ini memang semua pekerjaan rumah hanya dikerjakan oleh asisten rumah tangga. Bahkan belasan tahun menjadi istri Mahendra, Melinda tak pernah sedikit pun memasak.


" No, Bi " Tolak Dara


" Non Dara memang persis kayak almarhumah Mama nya den Bryan. Udah cantik pinter masak lagi." jelas Bi Siti.


" Kalau nyonya Melinda suka nya cuma memerintah" tambah asisten rumah tangga yang bertugas untuk membersihkan rumah itu. Seketika Bi Tuti menyikutnya. Dan Dara hanya tersenyum.


" Nasi goreng spesial sudah selesai, Bibi tolong di tata di meja makan ya. Dara mau ke atas dulu" ucap Dara lalu menuju ke kamar nya untuk membangunkan Bryan dan Dara juga harus mandi untuk pergi ke kampus nya.


" Sayang bangun sudah pagi" Dara nampak menggoyang lengan suami nya. Dan Bryan hanya menggeliat dengan mata yang masih terpejam. Dara lalu mendekatkan wajah nya pada Bryan dan hendak mengecup kening suami nya itu namun Dara justru tersentak saat Bryan membuka mata nya.


" Ih, apaan sih sayang, udah bangun masih pura pura tidur" gerutu Dara dan Bryan hanya terkekeh. Suami tampan nya itu memang selalu bisa menggoda istrinya. Dara memberengut kesal, namun bukan Bryan nama nya jika tidak bisa melelehkan hati istrinya.


Pria tampan ini mengecup bibir istrinya tanpa aba aba bahkan Dara melebarkan mata nya saat diri nya merasa terbang saat Bryan sudah menggendong nya menuju ke kamar mandi. Dan disinilah mereka melakukan ritual mandi bersama dengan memadu kasih. Bryan sengaja melakukan itu untuk menjadi penyemangat pagi nya. Sebab hari ini adalah hari pertama Bryan kembali ke kantor untuk memimpin perusahaan Papa nya.


Bryan sudah terlihat rapi dengan kemeja dan jas yang sudah disiapkan oleh Dara. Begitu juga dengan istri nya itu selalu terlihat cantik. Sungguh pasangan muda yang serasi. Bryan dan Dara mendudukan diri di meja makan. Bahkan Papa Mahendra dan Alex pun sudah siap untuk berangkat ke kantor. Mereka lalu melakukan sarapan bersama.


" Bi, tumben nasi goreng nya beda dari biasanya" komentar Mahendra.


" Iya, ini lebih enak dari biasanya" tambah Bryan.


" Oh, itu non Dara yang masak" jawab Bi Tuti


" Wah, masakan kamu enak sayang" puji Bryan pada istrinya lalu tangan nya terangkat untuk mengacak pelan rambut istrinya dan Dara nampak tersenyum. Lagi lagi Alex harus melihat keromantisan mereka yang membuat hati nya semakin bergemuruh


Selesai sarapan Alex berangkat ke kantor dengan papa Mahendra sedangkan Bryan mengantar istri nya dulu ke kampus baru pergi ke kantor.


Kini tibalah Bryan di kantor nya. Hampir satu bulan tak menginjak kan kaki di gedung yang menjulang tinggi dengan beberapa lantai bertuliskan Pradana Group. Perusahaan property terbesar yang sukses di tangan Mahendra dan kini akan dikelola oleh Bryan.


Setelah memarkirkan mobil nya di parkiran khusus keluarga Mahendra, Bryan berjalan perlahan memasuki kantor nya. Namun Bryan yang masih fokus dengan benda pipih di tangan nya untuk berkirim pesan dengan Dara, tiba tiba seseorang menabrak nya.


" Aduh... " Suara wanita itu memegangi pundak nya.


Bryan mendongak, seorang wanita cantik dengan memakai blazer dan rok diatas lutut. Rambut digulung ke atas dan memakai kacamata serta sepatu dengan heels tinggi membuat penampilan nya terlihat sempurna.

__ADS_1


Bryan nampak mengernyitkan dahi nya, selama dia bergelut di kantor ayah nya. Belum sekali pun dia bertemu dengan gadis ini. Lalu siapa dia?


__ADS_2