Sebening Air Mata Dara

Sebening Air Mata Dara
Bastian dan Cici


__ADS_3

Bukan nya segera memesan makanan dan minuman Bastian justru tertarik dengan apa yang mereka bicarakan. Sayang nya jarak meja mereka yang cukup jauh sehingga Bastian tak dapat mendengarnya.


" Kak, kok dari tadi lihatin mereka terus" tegur Cici.


" Ah.. maaf Ci, sebenarnya aku curiga dengan sekretaris Bryan itu." Jelas Bastian.


" Curiga.. maksud nya gimana kak?" tanya Cici yang masih belum paham arah pembicaraan Bastian.


" Aku curiga dia punya maksud buruk pada Bryan" jawab Bastian seketika Cici ingat apa yang pernah Dara ceritakan mengenai sekretaris Bryan itu.


Kalau mereka berpacaran pasti nya mereka berdua akan terlihat romantis. Jika mereka hanya sekedar makan dan minum bersama di cafe tapi kenapa bicara nya diam diam seperti itu. Tapi dari yang Bastian lihat mereka berdua nampak membicarakan sesuatu yang serius.


" Mereka berdiri kak, seperti nya akan pulang. Apa nggak sebaiknya kita ikuti mereka saja kak." ucap Cici memberi masukan.


Bastian memang akan menyelidiki nya. Tapi tidak sekarang. Mereka baru tiba di cafe. Bastian tak ingin acara dinner nya dengan seseorang yang kini sudah berhasil mengisi hati nya namun belum ia ungkapkan itu berantakan. Lagian mereka baru saja memesan makanan itu pun belum datang.


" Biarkan mereka pergi Ci, kita pura-pura tak tau aja" ujar Bryan dan Cici nampak mengangguk.


Tak lama setelah Alex dan Bella pergi. Pesanan Bastian dan Cici datang. Malam ini Bastian sengaja mengajak Cici untuk dinner sebab Bastian ingin mengungkapkan perasaan nya pada Cici.


" Ci " lirih Bastian dengan ragu-ragu memegang tangan Cici sontak membuat Cici mematung.


" Ci, aku sudah lama suka sama kamu. Aku mencintaimu" ucap Bastian pada point inti maksud dan tujuan nya.


Jlep


Satu tembakan Bastian tepat mengenai hati gadis cantik, smart dan sedikit pendiam dibandingkan dua sahabat Dara yang lain.


" Gimana Ci " tanya Bastian memastikan apakah cinta nya diterima atau hanya bertepuk sebelah tangan.


" I... Iya kak. Aku juga suka sama kak Bastian" jawab Cici pada akhir nya. Dan terdengar helaan nafas lega dari Bastian.


" Mau kah kau jadi kekasih ku " tanya Bastian sekali lagi.


" Iya kak aku mau " jawab Cici dengan senyum.

__ADS_1


Akhir nya malam itu menjadi malam bahagia dua anak manusia yang kini berstatus berpacaran.


...****...


" Hoek...hoek... "


Bryan yang masih terlelap tiba tiba terbangun saat mendengar suara yang ia yakini istri nya.


Dara terkulai lemas di depan wastafel, wajah nya nampak pucat. Ntah mengapa saat bangun tadi dia merasa perut nya seperti di aduk - aduk dan tiba tiba merasa mual.


" Hoek...hoek... "


" Sayang, kamu kenapa ?" tanya Bryan panik saat mendapati sang istri terlihat pucat.


Dara membasuh wajah nya, dan Bryan dengan sigap mengambilkan handuk kecil untuk Dara. Dara menerima nya dan mengeringkan wajah nya. Lalu Bryan menuntun Dara untuk duduk di tepi ranjang nya.


" Sayang, kamu sakit ? Kita ke dokter ya" tanya Bryan lagi.


" Aku nggak apa-apa Yang, cuma sedikit pusing sama mual aja. Nanti juga sembuh." terang Dara tak ingin membuat suami nya khawatir sebab pagi ini Bryan ada meeting penting di luar kota.


" Sayang buruan mandi, aku siapin baju nya. Untuk keperluan selama di luar kota udah aku siapin sejak semalam" ucap Dara penuh perhatian pada suami nya.


" Makasih sayangku " balas Bryan lalu mengecup singkat kening istrinya. Dara memang selalu bisa diandalkan. Semua keperluan Bryan selalu Dara siapkan dengan rapi tanpa ada yang tertinggal. Hal hal terkecil yang Bryan butuhkan Dara selalu menyiapkan nya.


Bryan yang sudah rapi, kini menggandeng tangan istrinya untuk sarapan bersama. Mungkin dengan mengisi perut nya Dara menjadi lebih sehat kembali.


" Bryan, kamu hari ini ke luar kota nak." tanya Papa Mahendra.


" Iya pa sama Bastian dan Bella " jawab Bryan.


" Alex, next kalau ada meeting di luar kota lagi kamu ikut ya. Papa rasa kamu juga harus berkembang seperti adik mu." kata Mahendra.


" Iya Pa siap " jawab Alex tanpa ragu.


" Loh, menantu papa kenapa pucat begini" kini Mahendra beralih pada menantu satu satu nya itu.

__ADS_1


" Dara kurang enak badan seperti nya Pa" kini Bryan yang menjawab.


" Iya pa " ucap Dara kemudian.


Saat sarapan bersama, tiba tiba Dara kembali merasakan gejolak yang luar biasa dari dalam perut nya saat satu suapan itu berhasil masuk ke dalam mulut nya. Tak ingin mengganggu aktivitas sarapan yang lain nya Dara bergegas berlari menuju ke dalam kamar nya.


" Sayang kenapa?" seru Bryan lalu bangkit untuk mengejar istri nya.


" Loh, non Dara kenapa den," kini giliran Bi Siti yang bertanya saat melihat tuan muda nya nampak tergesa-gesa menaiki tangga.


" Enggak tau Bi, tadi pagi Dara merasa pusing dan mual. Mungkin sekarang dia merasakan hal yang sama seperti saat bangun tidur tadi" jelas Bryan namun Bi Siti malah tersenyum. Bryan lalu mempercepat langkah nya untuk sampai di kamar nya.


" Kamu mual lagi sayang " tanya Bryan setiba nya di kamar. Dan Dara mengangguk.


" Apa kemarin kamu salah makan Ra. Atau jangan-jangan karena cilok mercon itu terus kamu sakit perut." serentetan kemungkinan Bryan utarakan pada Dara.


Bryan lalu membaringkan tubuh istrinya di ranjang dan menyelimuti nya.


" Ra, biar aku minta Bibi bikin bubur buat kamu ya. Kamu istirahat saja, nanti biar diantar Bibi ke kamar." ucap Bryan penuh perhatian. Dan Dara hanya menjawab dengan anggukan kepala.


" Aku berangkat sayang, cepat sembuh ya. Aku akan minta pada Bibi biar jagain kamu." Ucap putra Mahendra itu dengan lembut lalu mencium kening istrinya, mengelus puncak kepala nya berkali kali. Dan memeluk istrinya lama.


Bryan lalu bergegas keluar kamar dengan Membawa koper dan tas kerja nya.


" Gimana Dara" tanya Papa Mahendra saat melihat putra nya menuruni tangga sendirian.


" Lagi istirahat di kamar Pa " jawab Bryan lalu langkah nya menuju ke dapur untuk menemui asisten rumah tangga nya.


" Bi, tolong buatkan bubur untuk Dara dan bawa ke kamar nya ya. Sama satu lagi, selama aku di luar kota aku titip Dara ya Bi" ucap Bryan pada Bi Siti dan Bi Tuti.


"Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya Bi," tambah Bryan.


" Baik Den."


Bryan melirik jam di pergelangan tangannya, dan dia harus segera berangkat. Sebenarnya ada rasa tak tega meninggalkan istri nya apalagi dalam keadaan Dara yang sedang tidak baik baik saja.

__ADS_1


" Semoga kamu baik baik saja sayang" ucap Bryan lalu mobil yang dikendarai nya melaju pelan meninggalkan halaman rumah besar nya.


__ADS_2