
" Arkhhhh... " satu kepalan tangan yang mendarat ke tembok kamar Bryan. Sakit, ya memang sakit. Tapi rasanya lebih menyakitkan tuduhan warga yang membuat buruk nama nya. Bryan tetap kekeh pada pendirian nya bahwa dia tidak melakukan nya.
Terlihat raut wajah yang penuh amarah. Pria ini mengusap wajah nya kasar, dan mengacak acak rambut nya frustasi. Wajah tampan nan mempesona itu kini berubah memerah dan siap menerkam mangsa nya. Berkali kali Bryan mengepalkan tangan nya ingin meluapkan emosi dan kekesalan nya. Bahkan sebelum nya Putra Mahendra ini belum pernah semarah ini.
Kembali pria ini menitihkan air mata nya. Suami Dara ini kembali menghela nafas nya panjang lalu merebahkan badan nya dengan kasar. Menatap langit langit kamar nya. Ya Tuhan. . . Kenapa aku begitu berat menerima nya. Apa benar aku sudah melakukan nya pada Nayla. Kenapa aku tak ingat apapun. Berusaha mengingat semua kejadian malam ini tapi tetap nihil.
Dara ? bagaimana keadaan gadis itu. Bryan membuka matanya yang tadi sempat ia tutup untuk menenangkan hati nya sejenak. Lalu bangkit dan duduk di tepi ranjang nya. Tiba tiba Bryan teringat Dara. Status nya yang masih teka teki belum selesai. Kini pewaris Mahendra Pradana ini sudah dirundung pilu dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Bryan memijat kedua pelipis nya yang mulai berdenyut. Bagaimana kalau pernikahan ini benar benar dilaksanakan dan aku telah menyakiti hati seseorang.
Nampak nya Putra Mahendra ini juga enggan tidur. Hati nya gundah. Berjuta pertanyaan membombardir pikiran nya. Apakah diri nya harus percaya sama Nayla. Menerima kenyataan bahwa dia harus bertanggung jawab dan menikahi Nayla. Apa aku harus mencintai Nayla?. Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini. Perasaan kalut terus menyelimuti gelap nya malam yang sudah larut. Segelap hati Bryan sekarang yang dirundung kegelisahan.
...*****...
Keesokan hari nya,
Ayam berkokok tanda pagi tiba. Seorang gadis yang sudah selesai dengan urusan mandi nya. Mendudukan diri di meja rias untuk memoles wajah nya. Tak seperti biasanya wajah gadis ini nampak berseri seri. Beberapa kali putri Beni itu menarik kedua sudut bibir nya tersenyum bahagia. Hari masih gelap ntah kenapa gadis ini sudah terlihat rapi. Iya, bukan nya malu pada kejadian yang telah menimpa nya semalam, tapi justru gadis ini terlihat berbunga bunga. Nayla memang sudah gila, lebih tepat nya tergila gila pada Bryan. Selesai mempercantik diri nya. Nayla melangkah kan kaki untuk membangunkan Bryan.
" Kak , Bangun " terdengar suara Nayla dari balik pintu setelah mengetuk pintu kamar Bryan. Tak ada jawaban, seperti nya si pemilik kamar masih memejamkan mata nya. Nayla mendorong pintu kamar dan nampak tidak terkunci. Nayla bergerak masuk tanpa permisi. Gadis ini nampak mengangkat kedua alis nya. Kamar itu terlihat berantakan. Dan Bryan pun masih memejamkan mata nya. Nayla mendekat, dan duduk di tepi ranjang. Salah satu sudut bibir Nayla tertarik ke samping. Tangan nya terangkat untuk mengelus pelan rambut Bryan. Mengusap pelan wajah tampan Bryan. Wajah tampan itu selalu mempesona meskipun dalam keadaan tidur.
" Sebentar lagi kamu seutuhnya milik ku sayang" ucap Nayla tentu nya dalam hati. "Tidak akan ada yang mengganggu kita lagi. Termasuk gadis itu" imbuh nya dengan senyum yang mengembang.
Merasa tidur nya terganggu, Bryan menggeliatkan badan nya. Sedikit demi sedikit mata itu terbuka. Meski belum sepenuh nya sadar. Bryan juga terlihat memegangi kepala nya yang terasa pusing. Bryan nampak mengusap usap mata nya sebelum akhir nya sepenuh nya sadar. Pria tampan itu sontak terkejut saat melihat Nayla di kamar nya.
" Nay, kenapa kamu disini " Tunjuk Bryan pada gadis di depan nya itu dan mendudukan badan nya.
__ADS_1
Nayla tersenyum, "Aku kesini untuk membangunkan kakak" jawab Nayla santai dan membuat Bryan melotot.
" Tapi kamu tak perlu masuk ke dalam kamar ku Nay, nanti aku juga akan bangun sendiri " ucap Bryan ketus tak suka dengan sikap Nayla. Rupa nya kekesalan nya semalam masih membuat suasana hati nya buruk.
Nayla menghela nafas nya, menatap pria yang sangat dicintai nya itu. " Kak, sebentar lagi kan kita akan menjadi pasangan suami istri. Jadi nggak ada salah nya kan aku belajar menjadi istri yang baik "
Deg
Bryan tercengang. Apa tadi suami istri ? Pria tampan ini menatap Nayla tajam. " Nay, ceritakan pada ku apa yang sebenar nya terjadi." desak Bryan dan sempat membuat Nayla diam.
" Ayo nay, ceritakan " bentak Bryan.
Tiba tiba bola mata Nayla mengembun. " Apa yang harus aku ceritakan kak, Kakak memaksaku semalam dan kita melakukan nya kak"
...****...
Di Rumah Pak Seto
Masih di suasana pagi yang berembun. Menjadi rutinitas pagi seorang ibu rumah tangga, Bu Seto nampak sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Bu Seto melirik kamar keempat gadis kota itu, pintu kamar masih tertutup rapat. Tanda nya mereka masih tertidur pulas. Bu Seto tau betul mereka semalam tidur terlalu larut. Mungkin sepagi ini mereka masih bergelut di alam mimpi nya.
" Bikin apa buk " tanya Pak Seto yang melihat istrinya dengan telaten mengaduk aduk panci di atas kompor.
Bu Seto menoleh dan tersenyum pada suami nya. "Lagi bikin bubur pak, buat Non Dara " dan suami nya itu nampak mengangguk.
__ADS_1
Pintu kamar keempat gadis itu masih tertutup rapat, seperti nya belum ada tanda tanda mereka membuka mata.
" Astaga sudah pagi " ucap Cici menggeliatkan badan nya dan menoleh ke samping kiri nya. Mata nya terbelalak saat menyadari Dara tidak ada di kamar nya. Bahkan hanya terlihat Loly dan Yola yang masih nyaman dengan mimpi nya.
" Yol, Lol, " Panggil Cici dengan menggoyang lengan mereka.
" Apaan sih, masih ngantuk " jawab Loly dengan suara serak khas bangun tidur.
" Dara nggak ada di kamar " ucap Cici panik dan mereka berdua tersentak.
" Apa ? Maksud kamu Dara hilang ." ceplos Yola yang masih setengah sadar.
" Hah.. , jangan bercanda donk "ucap Loly seketika bangkit dari tidur nya.
Mata mereka berdua nampak melotot setelah benar benar sadar bahwa Dara tak ada dikamar nya. Spontan mereka berlari keluar mencari Dara.
" Ada apa non," tegur Bu Seto saat melihat raut wajah serius ketiga gadis yang baru bangun itu.
" Ibu tau dimana Dara, Dara tidak ada di kamar nya Bu" jelas ketiga sahabat Dara itu dan Bu Seto nampak membuka mulut nya tidak percaya.
" Bagaimana bisa non, dari tadi ibu lihat pintu masih tertutup rapat. Bahkan sejak ibu bangun tadi, ibu belum melihat non Dara keluar kamar " Jelas Bu Seto dan membuat ketiga nya melotot.
" Ayo non, kita cari non Dara " Perintah Bu Seto pada ketiga nya dan mereka bergegas mencari Dara.
__ADS_1