
Foto siapa yang disobek ini, lalu kenapa foto ini disobek. Apakah ini foto ibu Nayla ?
Lalu kemana ibu nya itu sekarang. "Ckckck... kenapa jadi pusing mikirin kehidupan Nayla." gerutu Bryan. Bahkan di dalam diary ini Bryan belum bisa menemukan kunci jati diri nya yang sebenarnya. Masih ada beberapa lembar lagi dan Bryan bertekad membaca nya sampai selesai. Siapa tau di akhir Nayla menuliskan bagaimana pertemuan nya dengan putra Mahendra itu.
Baru pria tampan itu akan membalik halaman berikut nya dan mungkin saja Bryan bisa menemukan apa yang dia cari tapi pintu kamar nya terlebih dahulu di ketuk. Terdengar suara Nayla di balik pintu. Dengan buru buru Bryan menyembunyikan buku diary itu dibawah tempat tidur nya.
" Iya Nay " jawab Bryan di sela sela gerakan tangan nya menyelipkan buku diary itu.
Ceklek
" Lama banget kak buka pintu nya, Kak Bagas lagi ngapain keringetan gitu" tanya Nayla penuh selidik.
" Emm... Kakak abis beresin kamar " jawab nya asal.
Nayla mengedarkan pandangan nya ke semua sudut kamar Bryan. " Yaudah biar Nayla bantu ya" ucap Nayla menawarkan bantuan. Namun dengan cepat Bryan melarang. Takut Nayla menemukan buku diary nya yang sudah Bryan ambil. Nayla menghela nafas nya, " Kalau nggak mau dibantu ya udah kak. Ayah nungguin kakak di meja makan" ucap nya lalu berjalan lebih dulu ke meja makan. Bryan nampak membuang nafas nya kasar merasa lega sebab Nayla tak jadi masuk.
Dimeja makan mereka bertiga melakukan makan siang bersama. Merasa bahwa Nayla dan Bryan sudah selesai menyelesaikan makan siang nya kini Beni membuka suara.
"Pernikahan kalian akan berlangsung besok" ucap Beni pada kedua anak manusia di depan nya, sontak membuat Bryan terkejut.
" Uhukkk ... Uhukkk " dan sukses membuat Bryan terbatuk batuk.
" Minum dulu kak " ucap Nayla menyodorkan segelas air putih untuk Bryan. Tanpa seucap kata pun Bryan mengambil air minum nya dan menghabiskan nya. Rupa nya satu kalimat yang Beni ucapkan membuat kering kerongkong Bryan.
" Tapi Om, apa ini tidak terlalu cepat," tolak Bryan berharap sebelum pernikahan itu berlangsung Bryan sudah menemukan bukti jati diri nya.
" Om sudah mempersiapkan semua nya, lebih cepat lebih baik " jawaban Beni yang membuat Bryan hilang harapan.
__ADS_1
Malam itu Bryan tampak gelisah di ranjang kamar nya. Sesekali pria tampan itu nampak mondar mandir memikirkan pernikahan nya besok pagi. Bahkan dia sampai melupakan buku diary yang masih ia selipkan di bawah tempat tidur nya.
Ingin kabur, tapi Bryan bukan sosok pria yang lari dari tanggung jawab.
Jauh sebelum kedatangan Dara ke desa itu, Bryan memang menerima Nayla sebagai calon istrinya. Itu pun karena pengakuan dari Ayah Nayla. Namun setelah Dara masuk di kehidupan baru Bryan. Sebuah pengakuan mengejutkan kini Bryan dapatkan.
Meskipun sebenarnya dia juga belum yakin bahkan sampai sekarang teka teki itu belum terjawab. Bryan pun menjadi bimbang. Apalagi setelah tuduhan warga yang sudah menjatuhkan harga diri nya, merasa Bryan tak melakukan perbuatan hina itu hati nya tambah semakin kacau bahkan terang terangan Bryan menolak pernikahan yang akan berlangsung ini.
Pandangan nya lalu terhenti pada kemeja putih dan jas hitam yang tergantung di kamar nya. Besok dirinya akan mengenakan baju ini. Mengucap qobul di depan penghulu. Ah.. tidak bisa membayangkan. Saat kata sah itu terucap dia tidak akan bisa mengubahnya lagi.
...****...
Jam dinding masih menunjukan pukul lima dini hari, cuaca di luar masih gelap dan berkabut. Tapi tidak dengan suasana hati putri Beni ini. Bahkan sepagi ini putri semata wayang Beni itu sudah duduk di depan meja rias ditemani dengan mbak Lita perias pengantin profesional dari desa sebelah. Mbak Lita pun mulai memoles wajah cantik Nayla. Setelah selesai dengan make up nya mbak Lita mulai bergerak membuat sanggul di kepala Nayla. Terlihat jelas aura bahagia terpancar dari senyum Nayla yang merekah.
Dan terakhir, kebaya warna putih kini telah melekat pas ditubuh Nayla. Harum bunga melati semerbak memenuhi seisi kamar. " Wah, mbak Nayla cantik sekali" seru mbak Lita merasa puas dengan hasil riasan nya. Nayla tersenyum mendengar pujian dari mbak Lita. "Makasih ya mbak udah bantu Nayla" dan dijawab senyum oleh mbak Lita.
Sedangkan di kamar Bryan. Putra Mahendra itu masih duduk melamun di tepi ranjang nya. Beberapa kali Mbak Lita mengetuk pintu kamar calon pengantin laki laki itu namun tak ada jawaban.
Ntah, sudah kesekian kali nya mbak Lita masih mengetuk pintu kamar Bryan. Detik kemudian mbak Lita mengernyitkan dahi nya saat pintu kamar terbuka.
" Loh mas, kok belum siap siap" tegur mbak Lita pelan. " Mbak Nayla sudah selesai aku rias dan sangat cantik" seru mbak Lita namun Bryan hanya memutar bola mata nya malas. Detik kemudian sudut mata Mbak Lita melirik jam di pergelangan tangan nya sudah menunjukan pukul tujuh pagi.
" Ayo mas siap siap sebentar lagi penghulu datang" ucap nya namun lawan bicara nya masih terbengong.
" Mas, kok diam saja to " ucap mbak Lita menepuk pundak Bryan dan Bryan tersentak. Detik kemudian mbak Lita menggeleng.
" Calon pengantin jangan banyak melamun mas, nanti pengantin wanita nya kabur lo" kata mbak lita dan diakhir tawa renyah nya. Sedangkan Bryan nampak tersenyum getir.
__ADS_1
" Iya mbak aku siap siap " jawab nya lalu menutup kembali pintu kamar nya.
Di tempat lain,
Dara nampak memasukan baju baju nya ke dalam koper besar nya. Hari ini keadaan gadis itu sudah lebih membaik secara kesehatan fisik nya tapi tidak untuk hati nya. Seolah tak akan ada lagi obat penawar yang akan mengobati luka hati nya itu.
" Dara, kamu mau kemana siap siap begini" ucap Yola
Dara menghela nafas nya pelan, " Aku mau pulang ke Bandung." Apa? Dara bener benar akan pulang kerumah orang tua nya di Bandung. Satu keputusan yang membuat ketiga sahabat nya itu terkejut dan menghentikan segala aktifitas nya. Lalu mendekat ke arah sahabat nya itu.
" Ra, kamu menyerah. Kamu akan membiarkan pernikahan kak Bryan dan nenek sihir II itu benar benar terjadi." terang Loly dan Dara yang masih menunduk lalu mengusap kasar sudut mata nya yang berair. Lalu menatap ketiga sahabat nya.
" Buat apa aku masih disini, menyaksikan pernikahan mereka berdua, Hah ... " ucap Dara dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya. Dan ketiga sahabat nya memaklumi itu karena suasana hati Dara yang buruk.
" Tidak Ra, kamu tidak boleh pergi hari ini. Pernikahan kak Bryan dan Nayla akan berlangsung pagi ini dan kita harus mencegah nya." jelas Cici dan membuat Yola dan Loly melotot.
" Apa ? " Seru Yola dan Loly bersamaan. Dan Dara hanya tersenyum samar.
" Ayo Ra, sebelum kata sah itu keluar kamu masih punya kesempatan. Bagaimana mungkin bisa pernikahan itu terjadi sementara masih ada istri sah nya disini " Geram Loly bersungut sungut.
...****...
Di rumah sederhana Beni pernikahan Nayla dan Bryan akan berlangsung. Meskipun pernikahan itu hanya digelar sederhana. Tampak beberapa tetangga terdekat dan pak RT hadir menyaksikan.
Dimeja persegi panjang itu duduklah pak penghulu, dan Ayah Nayla. Di depan mereka seorang pria tampan dengan kemeja putih dan jas yang melekat di tubuh nya membuat ketampanan Bryan menjadi berkali lipat. Beberapa menit kemudian mbak Lita keluar membawa Nayla dan mendudukan nya di sebelah Bryan. Pengantin wanita itu terlihat sangat cantik dengan kebaya putih nya.
Acara pernikahan itu pun dimulai.Terlihat senyum yang mengembang dari kedua sudut bibir putri semata wayang Beni. Hari bahagia yang sangat Nayla nantikan akhir nya datang juga. Sedangkan Bryan, ada perasaan sesak di dada nya. Semoga keputusan nya ini benar. Lalu tangan nya bergerak untuk menjabat tangan Beni.
__ADS_1
" Saya terima nikah dan ......." belum sempat Bryan melanjutkan kata katanya seseorang datang menghentikan nya.
" Tungguuuuu..... "