
" Buugghhh "
" Sayang..... " Teriak Dara
Sontak semua mata terkejut. Kali ini Bryan sudah jatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri. Bahkan darah segar sudah mengalir di sekitar hidung nya.
Dara berlari memeluk suami nya itu, "Hiks,, hikss... sayang bangun" menantu Mahendra itu menangis sejadi jadi nya.
Nayla yang tak terima calon suami nya itu dipeluk gadis lain dengan kasar Nayla mendorong tubuh Dara.
" Heh.. apa apaan kamu " Yola dan Loly reflek mendorong pundak Nayla dan memaki nya tak terima dengan sikap gadis itu pada Dara. Cici dan Bu Seto membantu Dara berdiri. Sedangkan Bastian dengan sigap mengangkat tubuh Bryan. Mahendra lalu memerintahkan anak buah nya untuk menyiapkan mobil.
" Mau kalian bawa kemana, dia calon suami putriku. Biar aku yang mengurus nya " ucap Beni menghentikan langkah Bastian membawa Bryan ke dalam mobil. Masih berani rupa nya Beni bersuara.
" Putraku membutuhkan perawatan yang bagus. Lihat luka yang kau torehkan. Kau telah mencelakainya. Aku akan membawa nya ke rumah sakit, bisa apa kamu disini " Ucapan tajam Mahendra seketika membuat Beni bungkam.
Nayla seketika berfikir, di desa ini mana ada rumah sakit besar, yang ada hanya puskesmas. Sedangkan luka Bryan seperti nya sangatlah serius bahkan dia sampai tak sadarkan diri. Takut ada luka dalam yang tak bisa diobati disini.
" Sudahlah ayah, biarlah di bawa kerumah sakit, Ayo ayah kita ikut" satu jawaban Nayla yang membuat Dara mendelik. Tak tau malu ternyata gadis ini. Tak mau berdebat yang akan membuat Bryan tidak segera ditangani, dua mobil mewah itu kini melaju meninggal pekarangan rumah Beni dan melesat ke ibu kota.
Mahendra segera menghubungi rumah sakit milik keluarga Pradana untuk menyiapkan ruang tindakan, dokter serta perawatan terbaik untuk putra nya.
Di sepanjang perjalanan bulir bulir bening itu terus mengalir deras membanjiri wajah cantik istri Bryan itu. Melihat wajah pria tampan yang sangat ia rindukan itu kini berada di pangkuan nya dalam kondisi yang sekarat. Bahkan darah itu terus mengucur membasahi baju Dara.
__ADS_1
Ada perasaan senang di hati Dara karena pernikahan itu berhasil mereka gagalkan. Ada perasaan lega ternyata suami nya itu terbukti tidak melakukan tindakan kotor itu pada gadis lain. Tapi tidak dengan cara suami nya menjadi korban seperti ini. Berulang kali Dara mengelus pelan rambut Bryan. Mengecup kening suami nya. Kenapa mereka harus dipertemukan dengan keadaan seperti ini.
"Kamu harus kuat ya sayang" Lirih Dara sesenggukan.
Sedangkan Nayla sangat kesal karena diri nya dan ayah nya berada di mobil lain nya. Nayla hanya menatap luar jendela dengan perasaan kalut. Hidup nya akan hancur di mata tetangga desa nya. Bahkan dia tidak akan tau ketika Bryan sadar nanti apakah masih mengingat Nayla atau tidak. Kalaupun masih, apakah Bryan masih menerima Nayla ?. Ataukah pria yang hampir menjadi suami nya itu akan membenci nya. Lalu bagaimana dengan nasib pernikahan yang gagal itu ?
Nayla bagaikan dihantam berbagai pertanyaan yang mengusik pikiran nya. Sedangkan ayah nya itu, pandangan mata nya tak teralihkan sedikit pun dari benda pipih milik nya. Tampak nya Beni sedang berkirim pesan dengan seseorang. Terlihat dari raut wajah nya yang nampak serius. Bahkan sesekali ayah Nayla itu mengumpat lirih dan mengusap wajah nya kasar.
Mobil masuk ke halaman rumah sakit yang bertuliskan Pradana Hospital. Mata Nayla terbelalak saat nama Pradana terpampang yang arti nya ini adalah rumah sakit besar milik keluarga Bryan.
Sekaya itukah pria yang sudah terukir nama nya di hati Nayla itu. Kalau memang benar semua pernyataan dua manusia berbeda usia tadi. Lalu untuk apa Ayah nya itu membohongi Nayla. Nayla berniat menanyakan nanti pada ayah nya saat waktu nya tepat.
Nayla dan ayah nya turun dari mobil yang ditumpangi nya. Beberapa orang perawat nampak menunduk saat Mahendra keluar dari mobil nya. Lalu dengan sigap beberapa orang berpakaian serba putih itu telah membawa Bryan ke ruang tindakan.
" Lakukan yang terbaik untuk putra ku " perintah Mahendra pada dokter dan suster yang akan menangani nya.
Mahendra, Dara, Bastian, Yola dan Cici duduk diruang tunggu dengan harap harap cemas. Serta orang orang Mahendra nampak berdiri di sebelah mereka. Tak jauh dari mereka duduk terlihat Nayla dan Ayah nya. Sedangkan Loly masih di desa dengan Pak Seto dan istrinya yang akan menyusul nanti.
" Bas, obati dulu lukamu " ucap Mahendra. Bahkan darah segar di sudut bibir Bastian itu sudah nampak mengering.
" Ayo kak, Cici temenin. " Ucap Cici lembut dan Bastian nampak mengangguk.
Mahendra lalu memerintahkan anak buah nya itu untuk membelikan beberapa baju ganti untuk Dara, serta salah satu diantara mereka ditunjuk untuk ke rumah Bastian mengambilkan baju ganti. Baju Bastian pun berlumuran cairan berwarna merah itu saat membawa Bryan tadi.
__ADS_1
Dara tak henti henti nya memanjatkan doa untuk keselamatan suami nya. Begitu pun juga Mahendra. Bryan adalah putra satu satu nya peninggalan dari almarhumah istri tercinta Mahendra. Itu sebabnya Mahendra tak ingin kehilangan orang tercinta nya untuk kedua kali nya.
Pintu ruang tindakan terbuka, dokter pun keluar. Mahendra dan Dara seketika berdiri begitu juga Nayla dan Ayah nya. Mereka semua berharap ada kabar baik yang dokter itu sampaikan.
Dokter itu menghela nafas nya, membuat semua pasang mata yang memandang menunggu apa yang akan dikatakan dokter yang menangani putra Mahendra itu. " Tuan Mahendra, Putra anda kritis dan kehilangan banyak darah. Bryan butuh transfusi darah secepat nya " ucap dokter itu dengan tatapan sendu.
Deg
Jantung ini tersentak, Mahendra seketika mematung, mengapa ini harus terjadi pada putra nya. Kelopak mata pria paruh baya itu nampak mengembun.
" Ambil darah saya dokter " ucap Dara cepat.
Mahendra menoleh pada menantu nya, "Kamu serius nak," tanya nya pelan. Dan Dara mengangguk yakin. Yola mengelus punggung Dara. " Semoga semua lancar ya Ra, berjuanglah untuk suami mu" ucap sahabat nya itu menguatkan Dara.
Sedangkan Nayla, diri nya tak bisa berbuat apa apa untuk menyelamatkan Bryan. Bahkan tatapan nya itu seolah mengatakan kenapa harus Dara. Kenapa bukan diri nya yang jadi penolong Bryan.
Dokter segera memeriksa darah Dara dan ternyata benar cocok. Dan transfusi darah itu segera mereka lakukan. Mahendra semakin cemas karena putra dan menantunya itu sekarang sama sama berada diruang tindakan.
Di ruangan yang sama Dara menatap suami tercinta nya itu masih memejamkan matanya. Wajah tampan itu terlihat sangat pucat. Sudut mata itu menetes dengan sendiri nya. Tetes demi tetes bersamaan dengan cairan merah dari tubuh Dara yang mengalir ke tubuh Bryan.
" Loh, Dara kemana Om" tanya Bastian saat diri nya mendudukan diri di sebelah papa dari sahabat nya itu. Kini Bastian sudah selesai di obati luka nya bahkan sudah membersihkan diri dan mengganti baju nya.
" Bryan membutuhkan transfusi darah Bas, dan Dara mendonorkan nya" sontak membuat Bastian membulatkan mata nya sempurna begitu dengan Cici yang baru datang dengan Bastian.
__ADS_1
Tak lama kemudian pintu ruang tindakan itu kembali terbuka. "Transfusi darah berjalan dengan lancar" dokter itu menjeda ucapan nya. Lalu menghela nafas nya pelan. " Pukulan yang mengenai kepala Bryan sangat lah kuat sehingga benturan nya pun membuat cidera yang cukup serius. Bryan belum sadarkan diri." Jelas dokter itu dan membuat semua orang nampak melebarkan mata nya.