Sebening Air Mata Dara

Sebening Air Mata Dara
Masih Di Rumah Sakit


__ADS_3

" Dokter, berikan perawatan yang terbaik untuk putra ku" mohon Mahendra.


" Saya akan berusaha semaksimal mungkin tuan Mahendra. Kita sama sama doakan yang terbaik untuk Bryan" dan Mahendra nampak mengangguk.


" Lalu bagaimana keadaan menantu saya" tanya Mahendra kemudian.


" Menantu tuan baik baik saja, masih dalam pemulihan. Saya sarankan biarkan menantu anda istirahat dulu " titah dokter dengan name tag Dr.Haris itu. Dan sekali lagi Mahendra mengangguk.


" Kalau begitu saya permisi dulu Tuan Mahendra" ucap dokter Haris sopan diikuti seorang suster di belakang nya.


Mahendra mengusap wajah nya kasar, lalu menatap ke arah ayah Nayla. "Kalau sesuatu terjadi pada putra ku, aku tidak akan tinggal diam" ucap Mahendra dengan sorot mata yang tajam lalu kembali mendudukan diri nya.


Nayla dan ayah nya pun kembali duduk. "Bagaimana ini ayah" lirih Nayla.


" Tenang Nay, kamu jangan buat ayah tambah pusing" jawab Beni dengan raut wajah kusut.


" Om, apa nggak sebaiknya om pulang dulu untuk istirahat. Biarkan Bastian, Yola dan Cici yang menunggu disini " ucap Bastian pada pemilik perusahaan tempat nya bekerja itu.


" Tidak Bas, om masih mau disini" tolak mertua Dara itu.


Mahendra memerintahkan pada Bastian untuk menghubungi Alex di kantor. Menanyakan pekerjaan di kantor yang hari ini di handle oleh putra sambung Mahendra itu. Dan memberitahu Alex kalau Bryan sedang dirumah sakit. Sedangkan Mahendra akan menghubungi istri nya.

__ADS_1


Mahendra mengambil benda pipih milik nya lalu melakukan panggilan pada Mama Alex. Satu kali tak diangkat, panggilan kedua kali nya nampak nya juga nihil, kemana pergi nya istrinya itu. Ntah lah Mahendra tak mau ambil pusing.


Hari sudah sore, Papa Mahendra, Bastian, Yola dan Cici masih setia menunggu diruang tunggu. Begitu juga Nayla dan Beni. Sejauh ini belum ada kabar mengenai Bryan.


Dari kejauhan terlihat Pak Seto dan istrinya serta Loly yang baru datang.


" Tuan, bagaimana keadaan den Bryan" tanya pak Seto pelan. Kepala Mahendra mendongak saat mendengar suara pak Seto.


" Bryan belum sadar pak, Bahkan menantu saya juga harus mendonorkan darah nya untuk Bryan" jawab Mahendra yang sukses membuat mereka yang baru datang nampak terkejut dan reflek menutup mulut nya.


" Bagaimana keadaan non Dara" tanya Bu Seto lirih yang kini mendekat ke arah Cici dan Yola.


" Dara baik bu, hanya saja masih dalam masa pemulihan" jawab Cici yang membuat Bu Seto bernafas lega.


" Lalu Om bagaimana" tanya Bastian ragu.


" Om akan pulang nanti malam setelah bertemu dengan dokter Haris " jawab Papa Bryan.


" Baik Om, Bastian pulang sekalian antar mereka bertiga. Nanti malam Bastian kesini lagi." Bastian memang selalu bisa diandalkan. Dan Mahendra nampak mengangguk.


Malam itu, setelah menanyakan keadaan putra nya pada dokter Haris dan keadaan Bryan sudah stabil Mahendra memutuskan pulang kerumah. Lagian Bastian juga sudah kembali. Mahendra mempercayakan semua pada orang kepercayaan nya itu.

__ADS_1


Bryan sudah melewati masa kritis nya. Bahkan putra Mahendra itu sudah dipindahkan dari ruang tindakan ke ruang perawatan khusus keluarga Pradana tentu nya masih dengan beberapa alat medis yang terpasang di badan suami Dara itu. Namun pihak keluarga boleh menunggu di dalam dan hanya dibatasi satu atau dua orang terdekat nya saja.


Putra Mahendra itu rupa nya masih betah memejamkan mata nya. Disebelah nya Dara nampak duduk setia menemani suami nya itu. Wajah damai suami yang seharusnya setiap malam Dara tatap, tetapi kejadian naas itu telah merubah semua nya. Dan hari ini saat mata ini bisa menatap dengan jelas wajah tampan suami nya itu kenapa suami nya itu harus terpejam.


Tangan Dara terangkat untuk menggenggam tangan Bryan. Lalu mencium lembut tangan suami nya itu. Cairan bening di kelopak mata Dara itu menetes tanpa diminta bahkan telah membasahi tangan Bryan. Tak sedetikpun mata Dara beralih dari suami nya itu. " Sayang, Hiks... hikss...aku mohon segera sadarlah" lirih Dara. "Apa kamu tidak merindukan ku" ucap nya lagi, dan kini Dara mengelus pelan pucuk rambut suami nya itu dan mengecup sekilas kening Bryan. Namun lelaki yang sangat dicintai nya itu belum merespon apapun.


Pintu terbuka, terlihat Bastian masuk ke dalam dan menghampiri Dara. " Ra, makan lah dulu. Biar aku tunggu Bryan." Dara nampak mengangguk dan bangkit dari duduk nya. Kamar yang ditempati Bryan sangatlah luas karena itu memang kamar khusus untuk keluarga Pradana. Bahkan Bu Seto dan pak Seto yang saat ini hanya bisa menunggu di luar ruangan Bryan juga disediakan kamar khusus untuk mereka istirahat. Dara mendudukan diri di sofa yang terletak di sudut ruangan lalu mulai membuka makanan yang di bawa Bastian. Sejak melakukan donor darah tadi ini memang baru pertama kali Dara mengisi perut nya kembali.


Bastian menatap iba ke arah bos nya itu. Kenapa cobaan ini terus bertubi tubi menimpa. Bryan dan Bastian adalah sahabat sejak kecil. Meskipun sekarang hubungan kedua nya adalah bos dan asisten pribadi namun tidak ada yang berubah. Hubungan kedua nya di kantor tetap akrab seperti sahabat.


Dara mendekat lalu menepuk pelan punggung sahabat suami nya itu. "Eh sudah selesai Ra" tanya Bastian. Bastian meminta Dara untuk mengistirahatkan diri namun Dara nampak menggeleng. Dara tetap ingin menemani suami nya.


Dara kembali mendudukan diri di dekat suami nya. Dan bastian memilih untuk duduk di sofa kamar itu.


Jam dinding menunjukan pukul 11 malam namun mata Dara masih terjaga. Mata nya itu seolah enggan menutup meskipun sudah menguap berkali kali. Beberapa menit kemudian perlahan mata Dara terpejam. Dara tertidur dengan kepala yang bersandar di samping tempat tidur Bryan dengan tangan Dara yang masih menggenggam tangan suami nya itu.


Tiba tiba putra Mahendra itu mengerakkan jari tangan nya pelan. "Nay...Nay..." lirih Bryan. Untuk pertama kali nya Dara tak mendengar. "Nay...Nayla..." suara yang terdengar sangat pelan namun membuat Dara terbangun. Dara tersentak saat suami nya itu memanggil nama Nayla. "Astaga... Cobaan apalagi ini. Kenapa nama Nayla yang suami nya itu panggil" lirih Dara yang masih tak percaya. Lagi lagi jantung ini berdetak sangat kencang. Dan meluruhkan cairan bening dari bola mata gadis cantik itu.


Pandangan mata nya lalu menatap ke arah jari tangan Bryan yang bergerak pelan "Sayang kamu sudah sadar" lirih Dara yang membuat Bastian yang tidur di sofa terbangun.


" Ada apa Ra " tanya Bastian sambil mengucek mata nya agar terbuka.

__ADS_1


" Kak, Bryan menggerakkan jari tangan nya dan....." Dara menjeda ucap nya lalu kembali bulir bening itu mengalir begitu saja. "... Dan apa Ra" tanya Bastian penasaran. "Bryan memanggil nama Nayla kak" pernyataan Dara yang membuat bola mata Bastian membulat sempurna.


__ADS_2