Sebening Air Mata Dara

Sebening Air Mata Dara
Dara Hilang


__ADS_3

" Non Dara kemana sih, jangan buat ibu khawatir donk non, apa yang harus ibu katakan pada tuan Mahendra kalau hal buruk terjadi pada non Dara" Ucap Bu Seto yang mondar mandir mengelilingi seluruh ruangan di rumah nya. Bahkan ketiga sahabat Dara sudah mencari di sekitar luar rumah namun seperti nya nihil.


Sebenarnya bukan tanpa alasan mereka semua terlihat khawatir seperti ini. Biasanya sebelum keluar kamar istri Bryan itu selalu membangunkan sahabat nya terlebih dulu. Tapi tidak untuk kali ini, bahkan Bu Seto dan suami nya pun tak merasa melihat Dara keluar Dara kamar nya.


Apalagi kejadian semalam telah membuat remuk berkeping keping hati gadis berwajah cantik itu. Bahkan keadaan fisik nya juga sempat drop, Dara mendadak demam semalam. Untuk keadaan batin nya jangan ditanyakan lagi. Tidak ada kata kata yang bisa mengungkapkan suasana hati Dara saat ini.


" Gimana buk " Tanya Pak Seto pada istri nya. Dan bu Seto nampak menggeleng lesu. Memang sejak Mahendra menitipkan mereka di rumah Pak Seto. Keluarga ini memperlakukan Dara dan sahabatnya dengan sangat baik. Bahkan pak Seto dan istrinya yang hanya memiliki seorang putra. Itu pun harus tinggal berjauhan karena putra nya itu sedang meraih gelar sarjana di ibu kota. Tentu nya mereka sangat menyayangi gadis gadis itu.


" Gimana non," tanya Bu Seto pada ketiga gadis yang baru memasuki rumah.


" Kita belum menemukan Dara bu," ucap Cici yang nampak menekuk wajah nya frustasi.


" Kita cari di tempat lain " Ucap Yola pada kedua sahabat nya. Dan mereka nampak mengangguk. Masih dengan memakai piyama tidur nya mereka bertiga mencari keberadaan Dara. Mendatangi tempat tempat yang pernah mereka kunjungi. Termasuk rumah Nayla juga mereka intai. Takut nya keributan itu terjadi kembali jika mereka bertemu. Bahkan bisa saja Nayla akan menyakiti Dara. Tapi nyata nya nihil. Tidak terjadi hal yang mencurigakan di rumah Nayla. Lalu kemana pergi nya sahabat nya itu.


Ketiga nya nampak cemas. Apalagi mendengar cerita Bu Seto bahwa istri pak Seto itu tidak merasa melihat Dara sejak pagi. Mungkin kah Dara keluar rumah dari semalam. Ya Tuhan, apa yang dilakukan Dara diluar sana dalam keadaan kalut seperti ini. Tiba tiba pikiran negatif datang begitu saja.


Mereka terus menyusuri jalanan pagi yang mulai menampakan sinar nya. Sesekali mereka bertanya pada orang yang berlalu lalang dengan kesibukan masing masing meskipun mereka hanya menggeleng. Tidak jauh dari mereka berjalan terlihat kerumunan warga. Mereka bertiga penasaran lalu mendekat.


" Ada apa pak " tanya Loly pada pria paruh baya yang pergi meninggalkan kerumunan warga itu.


" Itu mbak, ada gadis yang tertabrak sepeda motor" jawab pria paruh baya itu lalu meninggalkan mereka bertiga yang menutup mulut nya atas keterkejutan nya.


Deg


Detak jantung itu berdetak lebih kencang dan semakin kencang seolah ingin keluar dari tempat nya. Terlihat jelas raut wajah khawatir ketiga sahabat itu. Mereka saling pandang. " Ayo kita lihat" ucap Cici dengan mata yang sudah mengembun.

__ADS_1


Dengan langkah cepat Cici, Loly dan Yola menerobos kerumunan orang. Ada perasaan was was. Berharap gadis yang pria paruh baya tadi maksud bukan lah sahabat nya. Bulir bulir bening ini nampak nya sudah tak mampu lagi dibendung.


Mereka menganga membuka mulutnya, bahkan mata nya melotot seolah akan menggelinding dari tempat nya melihat kondisi gadis yang tertabrak motor itu. Terdengar helaan nafas panjang dari ketiga nya. meskipun keringat dingin itu keluar. Mereka sedikit lega karena gadis korban tabrak lari itu bukan lah Dara.


Mengatur kembali nafasnya yang naik turun sampai detak jantung ini terlihat normal. Lalu mereka melanjutkan perjalanan mencari sahabat nya itu. Yola menghentikan langkah mereka. Mereka berdua menatap Yola seakan mengatakan ada apa.


" Ada satu tempat yang belum kita kunjungi," Tanpa banyak ucap Yola menarik kedua tangan sahabat nya menuju tempat yang Yola maksud.


Tibalah mereka di Danau Cinta, tiga pasang mata mulai mengedarkan pandangan nya ke segala arah. Celingukan mencari sahabat nya itu. Ini adalah tempat terakhir yang mereka kunjungi. Kalau disini tak ada, kemana lagi mereka akan mencari sahabat nya itu.


Pandangan mereka terhenti pada sosok gadis yang menatap sendu ke arah danau.


" Daraaaaaaa " pekik mereka secara bersamaan. Lalu berhamburan menghampiri sahabat nya itu dan memeluknya erat. Menumpahkan segala kekhawatiran nya.


" Astaga Dara, kamu udah buat jantung satu rumah mau copot tau nggak"


" Kamu nggak apa apa kan Ra, kita takut kamu kenapa napa, Hiks... Hiks... "


Ucap mereka disela sela pelukan nya. Yang dipeluk hanya diam, mematung menatap lurus ke arah danau di depan nya. Tangis Dara pecah seketika. Sebening air mata Dara mengalir menghujani wajah cantik putri sahabat almarhumah mama Bryan itu. Meluapkan semua suasana hati nya yang terluka.


" Ra, kita datang bersama sama ke desa ini, jadi tolong jangan buat kita khawatir, kita nggak mau hal buruk terjadi pada mu." ucap Cici melepas pelukan nya lalu memegang pundak Dara. Detik kemudian tangan nya terangkat untuk menghapus air mata sahabat nya itu.


" Ayo kita pulang Ra, Pak Seto dan ibu pasti cemas nungguin kita" dan Dara hanya mengangguk. Lalu mereka bangkit dari duduk nya.


Sesampai nya dirumah mereka disambut haru oleh Bu Seto dan suami nya.

__ADS_1


" Alhamdulillah non Dara sudah pulang, non Dara baik baik saja kan ? Tanya Bu Seto pelan lalu mendudukan Dara di kursi. Melihat raut wajah Dara yang tampak sembab dan lesu itu. Mereka semua nampak nya tak ingin melontarkan banyak pertanyaan.


" Yaudah, kalian semua mandi terus kita sarapan ya non." titah Bu Seto. Dan mereka mengangguk lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mandi bergantian.


Setelah membersihkan diri, mereka menuju ke meja makan untuk sarapan bersama. Cici tampak telaten menyuapkan bubur untuk Dara.


...****...


Di tempat lain, Di kantor Pradana Group.


Seorang Pria paruh baya yang sudah tidak muda lagi tapi masih terlihat tampan, gagah dan berwibawa sedang menduduki kursi kebesaran nya. Siapa lagi kalau bukan Papa Bryan. Bahkan ruangan di sebelah nya nampak kosong beberapa minggu ini. Ruangan baru putra Mahendra yang belum lama diangkat menjadi CEO muda. Sebelum kecelakaan naas itu terjadi.


Bahkan sampai saat ini Mahendra tidak akan membiarkan siapa saja berani menduduki kursi itu. termasuk saudara tiri Bryan.


Mahendra nampak serius menandatangi kontrak kerja dengan klien nya. Suara pintu diketuk dan Mahendra mempersilahkan masuk. Mahendra menghentikan aktifitas nya sebentar. Rupa nya asisten pribadi putra nya yang datang


" Bastian, duduklah " perintah Mahendra


" Iya Om, " singkat nya


" Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan " tanya nya lagi.


" Begini Om, - " Bastian menceritakan apa yang dikatakan Loly semalam di telepon.


Bukan nya terkejut dan marah. Mahendra justru menyunggingkan senyum nya. Sukses membuat Bastian menautkan kedua alis nya bingung.

__ADS_1


Tentu Mahendra tak akan terkejut, Mahendra sudah menduga sebelum nya dan ini pasti akan terjadi. "Ini sangat menarik" ucap Mahendra menyeringai.


__ADS_2