
Di rumah sakit jiwa, Kanaya terus memohon kepada petugas untuk membebaskannya. Pagi itu, Aletta dan Dhivia menjenguk Kanaya. Mereka berdua sangat sedih mendengar Om Faris mengirim Kanaya ke rumah sakit jiwa.
"Kanaya, kamu apa kabar?" tanya Dhivia.
"Kita terkejut setelah mendengar kabar bahwa kamu dibawa ke sini" kata Aletta.
"Terima kasih ya, kalian selalu ada buat Kanaya.. Kanaya beruntung karena memiliki sahabat sejati seperti kalian" kata Kanaya dengan berlinang air mata membasahi pipinya.
"Sama-sama Kanaya, kita bertiga akan selalu bersama dalam keadaan apapun" ucap Dhivia.
"Kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Aletta.
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja sikap ku seperti orang yang ketakutan, bahkan aku sempat berhalusinasi tentang kehadiran Mamah Kinanti di rumah itu" kata Kanaya mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
"Apa kamu pernah minum sesuatu yang menurut kamu itu aneh?" tanya Dhivia.
Dhivia memang mahasiswi Kedokteran, jadi dia tahu betul apa yang terjadi pada kesehatan sahabatnya.
"Aku pernah minum obat dari saudara tiri aku, tapi dia bilang itu obat herbal untuk kesembuhan aku" cerita Kanaya pada Dhivia.
"Aneh juga, obat herbal itu berbentuk serbuk atau pil?" tanya Dhivia.
"Seingat aku berbentuk pil" jawab Kanaya.
"Obat herbal berbentuk pil? Aneh sekali, aku baru mendengar pertama kali, setahuku obat herbal umumnya berbentuk serbuk" kata Dhivia yang penasaran.
"Sudahlah tidak apa-apa, mungkin ini juga bawaan dari pikiranku yang masih mengingat-ingat Mamah Kinanti" ucap Kanaya.
Setelah mereka bertiga berbincang-bincang, Aletta dan Dhivia pamit karena mereka berdua ada kelas kuliah.
Tiba-tiba ketika Kanaya kembali ke ruangannya, dia melihat gadis perempuan yang sedang mengamuk dan melampiaskan amarahnya kepada orang lain.
Petugas langsung membawa gadis itu ke ruangannya. Kemudian beberapa saat kemudian, Kanaya mencoba menghampiri gadis tersebut. Gadis itu sangat marah kepada Kanaya karena telah mengganggunya.
"Kenapa kamu ke sini.. Pergi.. aku bilang pergi" kata gadis itu.
"Tenang, aku tidak akan menyakitimu.. Anggaplah aku temanmu" jawab Kanaya sambil tersenyum.
__ADS_1
Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang gagah, berparas tampan, dan seperti seorang pengusaha besar. Dia meminta Kanaya agar pergi menjauhi gadis itu.
"Anda siapa? Kenapa anda membuat takut adik saya?" tanya laki-laki itu.
"Maafkan aku, aku hanya.." jawab Kanaya yang belum sempat menjelaskan tapi sudah dipotong pembicaraannya oleh lelaki itu.
"Hanya apa? Pergi sana dan jangan pernah mendekati adik saya lagi" ucap lelaki itu dengan nada yang tinggi.
Kanaya pun pergi meninggalkan gadis tersebut. Kanaya pun penasaran dengan gadis itu, karena menurutnya dia seperti ketakutan melihat orang. Bagi Kanaya, dia menjadi pasien yang memiliki banyak kejanggalan dari pasien lainnya.
Kanaya memang tidak terlihat seperti orang gila, dia hanya stres berat akibat obat yang diberikan adik tirinya. Kanaya berusaha mencari tahu seluk beluk tentang gadis yang ia maksud.
Saat di taman rumah sakit jiwa..
"Hai, nama kamu siapa?" tanya Kanaya pada gadis itu.
Nampaknya gadis itu ketakutan melihat Kanaya, akhirnya gadis itu lari ke arah seberang jalan yang kebetulan pintu gerbang rumah sakit sedang dibuka.
"Awas....!" panggil Kanaya pada gadis itu.
Kanaya berhasil menyelamatkan gadis itu dari kendaraan yang hampir menabraknya.
"Ti.. ti.. tidak kakak" jawab gadis itu.
"Baiklah kalau begitu, mari aku antar ke ruangan kamu" ucap Kanaya.
Kanaya mengantarkan gadis itu ke ruangannya.
"Kalau boleh tahu, nama kamu siapa? Oh iya nama kakak Kanaya" tanya Kanaya.
"Namaku Alika kak" jawab gadis tersebut.
"Alika.. Nama yang sangat indah" ucap Kanaya sambil tersenyum memandangi wajah Alika.
Semakin hari, Alika bermain dengan Kanaya, hubungan mereka bahkan sudah dekat seperti layaknya hubungan keluarga.
Alika merupakan pasien dari rumah sakit jiwa, dia sudah 2 tahun menghabiskan waktunya di rumah sakit ini. Dia mengalami shock berat, dan menjadi takut jika bertemu orang lain. Pengobatan pun pernah dilakukan untuk Alika, namun tetap saja hasilnya tidak bisa.
__ADS_1
Sampai puluhan Dokter sudah menangani Alika, namun hasilnya nihil. Sehingga Alika terpaksa harus ditempatkan di rumah sakit jiwa agar kondisinya membaik.
Tiba-tiba, seorang laki-laki yang pernah memarahi Kanaya datang menghampiri Alika.
"Alika.. Bagaimana kabarmu?" tanya lelaki itu.
"Aku baik kakak" jawab Alika.
"Alhamdulillah, Alika sudah bisa berbicara lancar kembali" ucap lelaki yang sedang memeluk Alika.
"Sudah kak, Kakak itu yang membuat Alika bisa kembali bicara" ucap Alika sambil menunjuk ke arah Kanaya.
"Seharusnya kamu jangan terlalu dekat dengan orang asing, kita tidak tahu apa niat mereka.." kata lelaki yang begitu mengkhawatirkan kondisi Alika.
"Oh iya Alika, Kakak ada urusan penting, kamu di sini baik-baik ya dan ingat pesan kakak untuk tidak terlalu dekat dengan orang asing" ucap lelaki itu yang terlihat begitu marah dengan kehadiran Kanaya.
Setelah laki-laki itu pergi, Kanaya pun juga pergi ke ruangannya. Tiba-tiba, Alika berlari mengikuti Kanaya dan langsung memeluknya.
"Kakak.. Jangan tinggalkan aku sendiri, aku takut sekali" ucap Alika di pelukan Kanaya.
"Hai Alika, aku tidak akan kemana-mana, aku hanya menuruti semua permintaan laki-laki tadi" jawab Kanaya sambil mengusap-usap kepala Alika.
"Laki-laki tadi adalah kakak kandung ku, dia bernama Kak Arkan.. Dia seorang pengusaha batubara di Jakarta" ucap Alika.
"Maafkan aku Alika, aku sempat berpikiran buruk tentang dia" ucap Kanaya.
Alika pun bermain dengan Kanaya, Alika memang masih terlihat seperti orang tidak waras. Tingkah lakunya seperti seorang anak kecil yang takut akan sesuatu.
Namun, dengan ketulusan hati Kanaya.. Alika sedikit demi sedikit mulai bisa beradaptasi dengan baik layaknya seperti manusia normal.
Ketika mereka sedang bermain, Kanaya menanyakan sesuatu kepada Alika apa yang membuat dia menjadi seperti ini.
"Alika, kakak boleh bertanya sesuatu?" tanya Kanaya pelan.
"Boleh kakak" jawab Alika sambil bermain boneka.
"Kamu bisa masuk ke rumah sakit ini karena apa?" tanya kembali Kanaya.
__ADS_1
"Bunda.. Bunda.. Bunda jahat.. Jangan sakiti aku, awas.. awas.. pergi kamu dari sini" ucap Alika yang tiba-tiba mengamuk dan berusaha mendorong Kanaya.
Petugas pun langsung membawa Alika ke ruangannya dan diberi obat penenang. Kanaya merasa bersalah telah membicarakan tentang kehidupan pribadi Alika.