
Setelah Kanaya memutuskan untuk kembali ke Indonesia, Ia mulai melamar pekerjaan di Pengadilan Negeri. Alhasil ia diterima sebagai Pegawai Yudisial setelah melakukan proses interview.
Ketika keluarga Kanaya sedang sarapan bersama, tiba-tiba Papah Faris terlihat terburu-buru dan tidak sarapan.
"Pah, tidak sarapan dulu?" tanya Kanaya dengan heran.
"Maaf sayang, Papah ada urusan kantor mendadak, jadi Papah harus menyiapkan segalanya di kantor" jawab Papah sambil berpamitan kepada Mamah Kinanti dan Kanaya.
"Tumben Papah jadi aneh, padahal dulu-dulu walaupun Papah ada urusan kantor, Papah selalu makan masakan Mamah, tetapi kali ini tidak" gumam Kanaya dalam hati.
"Ya udah Pah hati-hati" ucap Mamah Kinanti sambil mengantar suaminya ke area garasi mobil.
Setelah Papah Faris berangkat, Kanaya dan Mamah Kinanti pergi bersama untuk urusan masing-masing. Hari itu Mamah Kinanti kembali mengajar muridnya.
Di sekolah, Bu Kinanti disambut hangat oleh para muridnya. Memang sangat beruntung muridnya memiliki seorang guru yang sangat baik dan perhatian seperti Bu Kinanti.
Sore menjelang malam, hanya Kanaya dan Mamah Kinanti yang sudah ada di meja makan. Papah Faris masih belum pulang. Mamah Kinanti memang sudah terbiasa dengan kebiasaan Papah Faris jika pulang larut malam.
"Mah, Papah jam segini belum pulang ya? Biasanya kita sudah berkumpul di meja makan bertiga kan" tanya Kanaya kepada Mamahnya.
"Mungkin ada pekerjaan lain sayang, udah ditunggu saja paling sebentar lagi pulang" jawab Mamah Kinanti yang mulai cemas.
"Ya Allah, jangan sampai Kanaya tahu kalau Papahnya akhir-akhir ini memang sering pulang malam, entah itu ada pekerjaan penting atau tidak" kata Mamah Kinanti di dalam hati.
"Mah, Kanaya mau tanya, sifat Papah berubah sejak kapan? Kenapa Papah tadi pagi tidak sarapan bareng kita, terus sekarang malah pulangnya terlambat dari biasanya" tanya Kanaya mulai curiga.
__ADS_1
"Tidak sayang, kamu harus berpikiran positif sama Papah kamu ya nak" jelas Mamah Kinanti yang tidak mau melihat Kanaya mencemaskan Papahnya.
Akhirnya Kanaya makan duluan, dan Mamah Kinanti tetap menunggu Papah Faris, dan Kanaya tertidur pulas di kamarnya.
Pukul 12 malam, Papah Faris akhirnya pulang. Mamah Kinanti membuka pintunya. Dan Kanaya pun bangun dan mengintip dari sela-sela pintu kamarnya.
"Apa? Papah baru pulang jam 12 malam. Tapi kenapa reaksi Mamah biasa-biasa saja ya? Apa jangan-jangan Mamah sudah tahu kebiasaan Papah pulang malam, tapi Mamah berusaha menutupi itu semuanya dari aku?" gumam Kanaya dalam hati.
Tengah malam, Kanaya terbangun dan pergi ke toilet. Tiba-tiba dia mendengar suara isakan tangis di teras atas. Kemudian Kanaya mencoba untuk mencari tahu.
"Ha, itu Mamah? Kenapa Mamah di teras sendirian dan kenapa Mamah menangis?" tanya Kanaya dalam hatinya.
Kemudian Kanaya menghampiri Mamahnya.
"Mah, kenapa Mamah belum tidur? Mamah sedih karena sikap Papah yang aneh ya?" tanya Kanaya sembari duduk di sebelah Mamahnya.
"Mah, jangan bohong sama Kanaya, Kanaya tahu apa yang terjadi sama Mamah dan Papah akhir-akhir ini" ucap Kanaya.
"Kanaya, kapan Mamah bohong sama kamu, nak? Mamah tidak apa-apa, hanya sekedar menenangkan diri" kata Mamah dengan nada lirih.
"Ya sudah kalau memang tidak ada apa-apa sama Mamah dan Papah, tapi Mamah janji sama Kanaya untuk selalu cerita apapun sama Kanaya dan jangan ada yang disembunyikan" jawab Kanaya dengan wajah sedih.
"Iya anakku sayang, cium Mamah sini nak" ucap Mamah Kinanti sambil memeluk erat Kanaya.
"Maafkan Mamah sayang, Mamah terpaksa bohong sama kamu soal sifat Papah. Mamah tidak mau jika hati kamu terluka akan sikap Papah, cukup Mamah saja yang merasakan hal ini" ucap Mamah dalam hati dengan meneteskan air mata.
__ADS_1
Paginya, hal yang sama terulang lagi. Papah Faris bahkan tak menyentuh meja makan sedikitpun. Papah langsung pamit pergi ke kantor. Tiba-tiba Kanaya menghentikan Papahnya.
"Tunggu Pah, Papah kenapa sih sekarang tidak mau makan bareng sama Kanaya dan Mamah? Apa ada hal yang Papah sembunyikan?" tanya Kanaya.
"Diam kamu Kanaya, kamu sudah keterlaluan menuduh Papah yang bukan-bukan, ini urusan orang tua" jawab Papah memarahi Kanaya di depan Mamah Kinanti.
Kanaya pergi ke kamar dan meninggalkan meja makan. Lalu Mamahnya menghampiri ke kamar dan berusaha menenangkan hati Kanaya akan sikap Papahnya tadi.
"Kanaya sayang, sabar ya nak. Tadi kamu juga salah menuduh Papah yang bukan-bukan, jadinya Papah tambah marah. Jangan diambil hati ya perkataan Papah tadi" ucap Mamah Kinanti sambil mengusap air mata Kanaya.
"Iya Mah, Kanaya tadi terlalu berlebihan kalau bicara, maafkan Kanaya ya, Mah" kata Kanaya sambil menangis di pelukan Mamahnya.
Satu bulan kemudian..
Suatu hari ketika hari libur nasional, Kanaya berencana untuk mengajak orang tuanya untuk jalan-jalan. Namun, ketika Kanaya pergi ke kamar Mamahnya, ia melihat Mamahnya terbaring lemas. Sedangkan Papah masih sibuk dengan kerjaan di ruang tamu.
"Pagi Mamah sayang, Mah, Mamah sakit ya? Sudah makan apa belum?" tanya Kanaya.
"Mamah pusing dan sesak nafas, nak. Tapi Mamah sudah makan kok, oh iya sayang tolong ambilkan obat Mamah di laci sana" perintah Mamah kepada putrinya.
"Sini Mah, biar aku yang membantu Mamah minum obat" ucap Kanaya sambil menyuguhkan obat dan minum kepada Mamahnya.
"Sayang, Mamah mau cerita. Mamah udah memutuskan untuk berhenti jadi guru, karena Mamah tidak kuat saja, sekalian Mamah bisa lebih perhatian sama Papah dan kamu, semoga saja dengan Mamah di rumah, Papah akan berubah dan bisa berkumpul bareng sama kita sayang" kata Mamah Kinanti sambil mengelus rambut anaknya.
"Oh begitu Mah, Kanaya setuju-setuju aja kok, ini juga demi kesehatan Mamah, biar Mamah lebih leluasa dalam beristirahat di rumah" jawab Kanaya.
__ADS_1
Sudah dua minggu Mamah Kinanti berhenti bekerja, dia mengurus rumah tangga dengan sangat baik walaupun keadaannya kurang membaik. Namun, sikap Papah Faris semakin menjadi-jadi dan acuh tak acuh terhadap keluarganya.