Sebening Embun Cinta Kanaya

Sebening Embun Cinta Kanaya
9. Kanaya Menjadi Gila


__ADS_3

Pernikahan kedua Papah Faris dan Bu Rima tampaknya membawa dampak buruk bagi Kanaya. Saat Papah Faris di kantor, Bu Rima dan Elda memperlakukan Kanaya seperti seorang pembantu.


Kanaya sudah tidak bekerja sebagai Pegawai Yudisial, dikarenakan kondisi mental Kanaya sedang tidak baik usai kepergian Mamah Kinanti.


"Kanaya, bangun kamu" ucap Mamah Rima.


"Mah, Kanaya masih pusing" jawab Kanaya dengan raut wajah ketakutan.


Tidak ingin mendengarkan alasan anak tirinya, Mamah Rima langsung menyeret Kanaya untuk melakukan pekerjaan rumah.


"Mah, ampun Mah.. Jangan sakiti Kanaya" ucap Kanaya dengan wajah pucat.


"Makanya jangan coba-coba berani sama saya, kamu pernah mengancam saya kan? Rasakan akibatnya sekarang" jawab Mamah Rima sambil memegang dagu Kanaya.


Semakin hari, sikap Mamah Rima semakin menjadi-jadi kepada anak tirinya, Kanaya. Hingga suatu saat Kanaya menjerit-jerit di kamarnya, kemudian Papah Faris datang.


"Jangan sakiti Kanaya, Kanaya takut" teriak Kanaya.


"Sayang, ini Papah nak.. Ada apa dengan kamu? Siapa yang ingin menyakiti kamu" tanya Papah sambil memeluk anaknya.


"Jangan.. jangan.. jangan dekati Kanaya, pergi dari sini" teriak Kanaya sambil melepas pelukan Papahnya.


Akhirnya Papah Faris meninggalkan Kanaya sendiri. Papah Faris sedih melihat Kanaya seperti orang tidak waras. Tiba-tiba Mamah Rima datang menghampiri Papah Faris.


"Mas, kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Bu Rima.


"Iya Mah, aku sedih melihat sikap Kanaya seperti orang tidak waras akhir-akhir ini. Dia itu seperti orang yang sedang ketakutan" jawab Papah Faris.

__ADS_1


"Mungkin Kanaya masih kepikiran mendiang Mamahnya, Mas" ucap Mamah Rima berusaha menutupi kejahatannya kepada Kanaya.


"Kamu benar, Mah.. Besok coba aku cek kondisi Kanaya lagi" kata Papah.


Hari demi hari, sikap Mamah Rima dan Elda sudah keterlaluan. Elda yang sangat membenci Kanaya karena Papah Faris lebih peduli pada anak kandungnya itu, mencoba untuk meneror Kanaya yang akan membuat Kanaya menjadi gila.


Malam itu, Elda memberi obat kepada Kanaya yang di dalamnya terdapat pil berbahaya. Pil tersebut bisa membuat seseorang halusinasi dan terbayang-bayang orang yang sudah meninggal.


Ketika Kanaya sudah meminum obat dari Elda, kemudian Papah Faris datang menjenguk keadaan anaknya. Namun, Kanaya mengamuk dan memanggil nama Mamah Kinanti.


"Jangan mendekatiku, Kanaya takut sekali" ucap Kanaya dengan nada tinggi.


"Mamah Kinanti.. Mamah akhirnya datang juga ke sini" kata Kanaya mulai berhalusinasi.


"Sayang, ini Papah nak.. Mamah Kinanti sudah tidak ada di sini, kamu memanggil siapa?" tanya Papah yang khawatir dengan keadaan putrinya.


Elda dan Mamah Rima pun datang ke kamar Kanaya. Elda memberitahu Mamahnya jika dia yang telah membuat Kanaya menjadi gila.


"Pintar anak Mamah, lihat saja ini baru permulaan.. Kanaya akan menderita selama dia masih di rumah ini" jawab Mamah Rima kepada Elda.


Setelah memikirkan banyak hal, Papah Faris akhirnya terhasut oleh Mamah Rima untuk mengirimkan Kanaya ke rumah sakit jiwa.


"Sebenarnya, aku tidak tega mengantarkan putriku sendiri ke rumah sakit jiwa" ucap Papah Faris kepada Mamah Rima.


"Maafkan Papah sayang, karena ulah Papah dulu, kamu yang terkena dampaknya.. Papah sayang sama kamu Kanaya" kata Papah dalam hati.


"Ini juga demi kebaikan Kanaya, Mas.. Biarkan Kanaya sembuh di bawah perawatan Dokter" jawab Mamah Rima.

__ADS_1


"Iya Mah, kamu benar.. Coba nanti aku konfirmasi dengan pihak rumah sakit jiwa" ucap Papah yang terlihat cemas.


Esoknya, Kanaya diberi penjelasan Papah Faris untuk pergi ke rumah sakit jiwa, melihat kondisi putrinya yang semakin tidak terkendali.


"Kanaya, Papah terpaksa harus bawa kamu ke rumah sakit jiwa, agar kesehatan mental kamu bisa sembuh secara maksimal oleh Dokter" ucap Papah Faris.


"Pah, Kanaya tidak gila.. Kanaya juga tidak tahu kenapa Kanaya menjadi seperti ini" jawab Kanaya sambil menangis dan memohon untuk tidak membawanya ke rumah sakit jiwa.


"Kanaya, Papah lelah melihat sikap kamu seolah-olah selalu melihat Mamah Kinanti berada di sini, padahal Mamah Kinanti itu sudah tidak ada sayang" kata Papah Faris sambil mengusap air mata Kanaya.


"Pah, Kanaya mohon jangan kirim aku ke rumah sakit jiwa.. Aku tidak gila Pah.." ucap Kanaya dengan air mata bercucuran.


"Sudahlah Kanaya, kamu memang harus diobati biar tidak merepotkan" kata Mamah Rima menyela pembicaraan Papah Faris dan Kanaya.


"Mamah Rima diam ya, Pah.. Mamah Rima itu tidak baik, dia memperlakukan ku seperti seorang pembantu di rumah ini" ucap Kanaya dengan jujur.


"Mas, itu lihat anak kamu sudah tidak sopan kepada orang tua.. Bisa-bisanya dia memfitnah aku seperti itu" jawab ketus Mamah Rima.


"Kanaya, kamu tidak boleh bicara seperti itu ya.. Dia itu Mamah baru kamu, jadi kamu wajib menghormatinya" kata Papah membela Mamah Rima.


"Papah jahat sama Kanaya.." kata Kanaya.


Beberapa jam kemudian, petugas dari rumah sakit jiwa menjemput paksa Kanaya. Terlihat air mata dari Papah Faris tak terbendung lagi.


Kini di rumah mewah itu hanya ada Papah Faris, Bu Rima dan Elda. Mamah Rima dan Elda setiap hari pekerjaannya hanya shopping dan bersantai-santai. Namun, Papah Faris tidak pernah memarahi mereka.


Hari-hari Papah Faris kini tanpa kehadiran sosok putri kesayangannya. Saat memandang foto Kanaya, air mata Papah Faris pun jatuh tak terasa.

__ADS_1


"Kanaya sayang anak Papah, maafkan Papah sudah membuat hidupmu menderita.. Tapi Papah melakukan ini demi kebaikan kamu nak" ucap Papah Faris pada dirinya sendiri.


Di sisi lain, Mamah Rima dan Elda merayakan hari kemenangannya karena telah berhasil mengusir Kanaya tanpa harus menyakiti dengan tangannya sendiri.


__ADS_2