Sebening Embun Cinta Kanaya

Sebening Embun Cinta Kanaya
38. Teror Part 2


__ADS_3

Semakin hari, Kanaya merasa takut jika terus menerus tinggal seorang diri karena munculnya kejadian-kejadian aneh yang membuat Kanaya merasa cemas akan keberadaannya.


Ketika pagi hari, Kanaya mendapatkan sebuah paket kembali dari seseorang yang tak dikenal.


"Pagi, dengan Bu Kanaya?" tanya kurir itu.


"Iya saya sendiri, ada apa ya?" tanya balik Kanaya.


"Ini ada paket untuk Bu Kanaya. Mohon tanda tangan di sini ya" ucap kurir itu sambil menyerahkan paket.


"Mas, saya mau tanya.. Sebenarnya paket ini dari siapa ya? Masalahnya saya kemarin juga dapat paket dari orang yang tak dikenal, atau mungkin ini dari orang yang sama?" tanya Kanaya.


"Mohon maaf Bu.. Untuk masalah itu, saya kurang tahu karena tugas saya hanya mengantar ke tujuan yang ada didaftar kantor kami. Baiklah, saya permisi Bu.." kata kurir itu.


"Iya, terima kasih ya" jawab Kanaya.


Kurir itu pergi dan Kanaya masuk ke rumah untuk membuka paket tersebut.


"Aku buka atau tidak ya? Aku takut jika ini sebuah ancaman kembali untukku.." ucap Kanaya sambil memegang paket itu.


"Tetapi, kalau paket ini penting bagaimana? Atau mungkin dari sahabat aku ya?" kata Kanaya sambil bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


Akhirnya Kanaya mencoba untuk membuka paket itu secara pelan-pelan, ternyata masih ada sebuah kotak kecil di dalamnya.


"Ya Tuhan, ini foto mas Arkan dengan Dania.. Kenapa mereka bisa berduaan seperti ini di ruangan kerja.." kata Kanaya terkejut melihat isi paket itu.


Kanaya berusaha tegar melihat foto itu, kemudian Kanaya mendapat telepon dari Dania.


"Hai Kanaya yang lugu nan polos, kamu bisa saja dipermainkan seorang laki-laki bernama Arkan.. Bagaimana sudah mendapatkan sebuah fakta antara aku dengan Arkan? Bagaimana foto-fotonya?" kata Dania memprovokasi Kanaya.


"Dania, kamu ini perempuan macam apa sampai melakukan hal-hal yang menjijikkan seperti itu.. Kamu kan temannya mas Arkan, jadi tidak perlu memanfaatkan mas Arkan ya.." jawab Kanaya terlihat kesal.

__ADS_1


"Wah, begitu percayanya kau dengan mantan suami mu itu.. Sungguh so sweet kalian, tetapi ingat Kanaya bahwa Arkan pernah bermalam dengan ku saat itu" kata Dania.


"Dasar perempuan tidak tahu malu kamu, mas Arkan tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Aku yakin ini semua hanya akal-akalan licik kamu yang ingin merusak kebahagiaan mas Arkan" jawab Kanaya.


"Terserah kamu saja, lebih baik kamu tanyakan pada cinta sejati mu itu, tanyakan mengenai malam itu bersama Dania.." ucap Dania dengan mengakhiri teleponnya.


"Halo Dania.. Dania.." kata Kanaya yang mencoba menghubungi Dania kembali.


Kanaya menangis setelah mendengar kata-kata Dania dan melihat foto-foto Arkan bersama Dania. Kanaya merasa bingung harus percaya atau tidak kepada Arkan.


"Mas, kenapa saat aku begitu mempercayaimu kembali tetapi kau membuatku ragu akan hal itu. Akankah semuanya berakhir tragis seperti dulu?" ucap Kanaya sambil menangis.


Tepat jam 8 pagi, Arkan sampai di rumah Kanaya dengan mobilnya. Kemudian Arkan masuk ke rumah dan mendapati Kanaya sedang menangis.


"Assalamualaikum Kanaya.. Kanaya, kamu kenapa menangis? Ada apa?" tanya Arkan begitu cemas.


"Kamu lihat sendiri foto ini" jawab Kanaya sambil menyerahkan foto-foto itu kepada Arkan.


"Menolaknya? Kenapa mas?" tanya Kanaya.


"Sebenarnya, saat kamu bertemu saya dan Dania di restoran itu hanyalah sebuah tipu daya agar kamu merasa cemburu, itu pun ide dari Dania sendiri dan saya pikir Dania tidak ada perasaan apa-apa hanya sebatas teman saja.. Tetapi, Dania pernah datang ke rumah saya jika dirinya mencintai saya lalu saya menolaknya mentah-mentah" kata Arkan menjelaskan kejadian sebenarnya.


"Ya ampun mas.. Kenapa kamu tidak jujur dengan ku? Kalau seperti ini, kamu juga yang salah telah membuat Dania menaruh harapan kepada mu. Memang hakikatnya seperti itu jika seorang perempuan terus menerus bertemu dengan laki-laki akan membuatnya jatuh cinta, apalagi kamu teman baiknya Dania.." kata Kanaya yang berlinang air mata.


"Saya tahu itu, tetapi saya tidak mencintai Dania.. Saya hanya menganggapnya sebatas rekan kerja saja tidak lebih dari itu. Tolonglah kamu percaya saya, saya tidak melakukan apa-apa kepada Dania" kata Arkan sambil memegang tangan Kanaya.


"Aku juga bingung mas, aku harus percaya siapa? Satu sisi foto itu bukan editan sama sekali dan aku yakin itu asli.." jawab Kanaya.


Tiba-tiba, Dania menelepon Arkan..


"Hai Arkan sayang, bagaimana? Kamu sudah melihat foto-foto kita saat bermalam di kantor kamu?" tanya Dania.

__ADS_1


"Cukup ya Dania, saya tidak menyangka jika kamu bisa serendah itu! Saya tidak pernah melakukan hubungan dengan kamu ya, camkan kata-kata saya!" jawab Arkan.


"Kamu lupa, saat kamu sedih karena Kanaya tak kunjung memaafkan mu, lalu kamu pergi ke kantor dan menyandar kepadaku.. Bahkan kamu sempat memelukku" ucap Dania.


Kanaya mendengar kata-kata Dania dari telepon Arkan karena Arkan mengeraskan speaker ponselnya.


"Memeluk? Mas Arkan kamu pernah memeluk Dania?" kata Kanaya.


"Tidak Kanaya, waktu itu saya tidak sadar jika ada Dania di sampingku, memang saat itu saya frustasi karena kamu tidak memaafkan ku, lalu Dania datang dan memberi semangat untukku agar memperjuangkan hubungan ku dengan kamu Kanaya.." jawab Arkan.


Tiba-tiba, Dania memutus sambungan teleponnya. Sedangkan Arkan dan Kanaya bertengkar hebat setelah apa yang dikatakan Dania tentang Arkan saat malam itu.


"Kita tidak jadi ke makam papah dan mamah, lebih baik kamu pergi dari sini" kata Kanaya.


"Sampai sini kamu mempercayaiku, begitu mudahnya kamu percaya dengan orang lain yang tidak kamu kenali daripada saya yang telah lama mengenal kamu Kanaya.." kata Arkan.


"Cukup mas, aku tidak ingin mendengarkan penjelasan kamu lagi. Karena aku tahu, kamu tidak bisa dipercayai selama ini, lagi-lagi kamu mengkhianati kepercayaan ku yang kini mulai tumbuh" ucap Kanaya.


"Tetapi Kanaya, dengarkan penjelasan ku dulu" kata Arkan.


Kemudian Kanaya mengusir Arkan dari rumahnya dan mengunci pintu. Arkan pun pergi meninggalkan rumah Kanaya dalam keadaan hati yang hancur.


Kanaya menangis kembali dengan tingkah laku Arkan yang selalu menyakitinya.


Kanaya berencana ke makam papah dan mamahnya seorang diri tanpa didampingi Arkan. Sesampainya di makam, Kanaya berdoa untuk orang tuanya.


"Pah, Mah, apa kabar kalian? Kanaya sangat merindukan papah dan mamah, Kanaya merasa takut sendirian.. Dulu papah dan mamah selalu ada untuk Kanaya bahkan saat Kanaya sedang dalam masalah.." kata Kanaya menangis di nisan orang tuanya.


"Aku bingung Pah, Mah.. Apa yang harus aku lakukan kepada mas Arkan, satu sisi aku bahagia karena mas Arkan sudah mulai mencintai ku, tetapi di sisi lain mas Arkan telah melakukan kesalahan yang fatal, apa aku harus mengakhiri hubungan ini selama-lamanya?" ucap Kanaya dengan air mata yang tak terbendung lagi.


Setelah mencurahkan isi hati di makam orang tuanya, Kanaya pulang dengan hati yang tenang. Kanaya tidak menangis lagi, karena dirinya merasa ada yang menguatkan setelah mengunjungi makam orang tuanya itu.

__ADS_1


__ADS_2