
Seperti janji yang diucapkan sebelumnya, Arkan sepulang dari kantor langsung menuju rumah Kanaya. Ketika sampai di rumah Kanaya, Arkan pun mencoba mengetuk pintu dengan pelan.
"Assalamualaikum, Kanaya.." ucap Arkan mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam.. Mas Arkan kenapa kamu ke sini?" kata Kanaya.
"Saya ke sini ingin memperbaiki hubungan kita Kanaya, izinkan saya untuk menebus kesalahan-kesalahan kepadamu Kanaya.." ucap Arkan.
"Tidak ada yang perlu diperbaiki mas.. Maaf, aku sedang sibuk.." jawab Kanaya sambil menutup pintu.
"Kanaya.. Dengarkan penjelasan saya, saya ingin bicara banyak denganmu.." kata Arkan yang berusaha membuka pintu rumah Kanaya.
Kanaya pun menangis di balik pintu rumahnya. Dirinya memang masih mencintai Arkan, tetapi rasa sakitnya kehilangan calon bayi yang membuat Kanaya belum bisa memaafkan Arkan, mantan suaminya.
"Kanaya.. Saya tahu kamu masih di balik pintu, saya yakin kamu masih mencintai saya. Saya mohon izinkan saya untuk membuka hati untuk cintamu Kanaya.." teriak Arkan di depan pintu rumah Kanaya.
"Lebih baik kamu pergi dari sini mas, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.. Lagi pula kita juga sudah berpisah, kini tidak ada hubungan apapun di antara kita berdua, kita jalani hidup masing-masing" ucap Kanaya sambil menangis di balik pintu.
Arkan pun pergi dari rumah Kanaya dalam keadaan menangis sekaligus menyesal karena tidak mendapatkan maaf dari Kanaya.
"Kanaya, saya janji akan terus berusaha mendapatkan cintamu kembali, saya akan belajar mencintaimu. Saya akan datang ke sini lagi agar bisa mendapatkan maaf darimu" ucap Arkan dalam hatinya.
Arkan pulang ke rumah dalam keadaan murung dan sedih. Arkan seperti orang yang sedang depresi berat.
"Kakak, kenapa baru pulang?" tanya Alika.
"Kakak tadi ke rumah Kanaya, hanya saja Kanaya tidak ingin bertemu dengan kakak.. Sepertinya Kanaya sulit untuk memaafkan kesalahan kakak selama ini" jawab Arkan pasrah.
"Kakak pergi ke kamar dulu.." ucap Arkan dalam keadaan lemah tak berdaya.
"Kasihan kak Arkan, setelah ditinggal kak Kanaya, dia begitu depresi bahkan seperti orang yang mengalami trauma berat. Aku harus bicara sama kak Kanaya untuk memberi saran" ucap Alika.
Alika pun langsung menghubungi Kanaya untuk memberi kesempatan satu kali lagi kepada kakak kandungnya.
__ADS_1
"Halo kak Kanaya, bagaimana kabarmu?" tanya Alika.
"Alhamdulillah baik Alika, kamu dan ayah bagaimana kabarnya?" tanya balik Kanaya.
"Alhamdulillah sehat juga kak.. Oh iya kak, aku boleh bicara sesuatu?" tanya Alika.
"Boleh, bicara tentang apa?" tanya Kanaya penasaran.
"Begini kak, tadi kata kak Arkan dia dari rumah kak Kanaya kan?" tanya Alika.
"Iya betul Alika, tetapi kakak masih butuh waktu untuk menghilangkan rasa sakit ini" ucap Kanaya.
"Iya kak Kanaya, Alika paham kondisi kakak saat ini, aku juga tahu ini semua kesalahan kak Arkan yang terlalu egois.. Tetapi kak, semenjak kak Kanaya berpisah dengan kak Arkan, kak Arkan selalu murung dan tidak nafsu makan.. Tadi setelah dari rumah kak Kanaya, dia langsung ke kamar dan tidak makan malam bersamaku dan ayah" kata Alika menjelaskan kondisi Arkan akhir-akhir ini.
"Maaf Alika, biarkan kakakmu menyadari kesalahannya. Jika memang kakak dan Arkan berjodoh, pasti Tuhan akan mempersatukan kami kembali, ini hanya soal waktu saja.. Biarkan Tuhan yang mengatur hubungan kami" jawab Kanaya.
"Baiklah kak, semoga semuanya segera membaik. Kalau begitu, Alika tutup dulu ya.. Jaga diri kakak baik-baik" ucap Alika.
"Iya Alika, salam buat ayah ya..." jawab Kanaya.
Di sisi lain, Kanaya sangat sedih telah memperlakukan Arkan seperti itu, tetapi dia terpaksa karena Arkan yang telah menyebabkan calon bayinya meninggal.
"Aku melakukan ini agar kamu menyadari segala kesalahanmu, aku juga berharap kamu bisa merubah sikapmu itu, dan jika kita tidak berjodoh pasti Tuhan telah menyiapkan wanita yang lebih baik dariku untukmu mas Arkan" kata Kanaya sambil menangis mengingat masa pernikahannya dengan Arkan.
"Aku tidak dendam kepada mu, aku hanya ingin kamu berusaha yang terbaik dalam memperbaiki sebuah hubungan, kamu juga tidak menghancurkan hidupku saja mas, tetapi telah mempermainkan janji pernikahan di mata agama" ucap Kanaya pada dirinya sendiri.
Sudah lebih dari satu minggu Kanaya tinggal di rumah orang tuanya. Arkan pun setiap hari ke rumah Kanaya untuk memperbaiki hubungannya dengan Kanaya namun tetap tidak ada respon.
"Sampai kapan kamu seperti ini, apa permintaan maaf saya kurang kepada mu? Katakan apa yang harus ku lakukan demi menebus kesalahan yang saya perbuat.." ucap Arkan di depan rumah Kanaya.
"Kanaya.. Keluarlah, izinkan saya untuk menjelaskan semuanya. Kalau kamu tidak keluar, saya akan tetap menunggu di sini sampai kamu menemui saya Kanaya.." teriak Arkan di pagi hari.
Kanaya sama sekali tidak keluar dari rumahnya untuk menemui Arkan. Kanaya hanya mengintip dari balik jendela, dirinya melihat Arkan selalu menyebut namanya dan berusaha keras untuk memperbaiki hubungan antara mereka.
__ADS_1
"Maaf mas, untuk saat ini aku masih belum bisa memaafkan mu... Aku trauma jika sikapmu bisa memberi luka yang sama pada diriku" ucap Kanaya di balik jendela sambil melihat Arkan di depan rumahnya.
"Kanaya.. Saya tahu kamu ada di dalam, saya tahu diri ini tak pantas mendapatkan cintamu kembali, tetapi izinkan raga ini untuk mendapatkan permohonan maaf" teriak Arkan.
Hari sudah mulai sore, dan hujan pun turun begitu deras, terdengar petir pun turut mengiringi. Arkan terus berteriak-teriak di depan rumah Kanaya dengan keadaan basah kuyup.
"Ya Tuhan, akankah saatnya aku memaafkan mas Arkan.. Melihat pengorbanannya meminta maaf kepadaku begitu besar, apa aku harus memberi kesempatan satu kali lagi kepada mas Arkan?" tanya Kanaya dalam hatinya.
"Aku tidak tega melihat mas Arkan terus menerus basah kuyup seperti itu, nanti dia akan sakit.. Baiklah, aku akan memberinya kesempatan sekali lagi" kata Kanaya sambil keluar rumahnya.
"Kanaya.. Akhirnya kamu keluar menemui ku?" ucap Arkan sambil duduk di tengah derasnya hujan.
"Mas, bangunlah jangan seperti ini.. Aku memaafkan mu dan akan memberikan kesempatan kepada mu" ucap Kanaya.
"Benarkah Kanaya? Terima kasih Kanaya, saya sangat bahagia sekali hari ini.." jawab Arkan yang langsung memeluk Kanaya dengan erat.
"Sama-sama mas, mari masuk nanti kamu kedinginan" ucap Kanaya.
Tidak ada sahutan dari Arkan, dan ternyata Arkan pingsan di pelukan Kanaya.
"Mas Arkan.. Kamu kenapa? Mas bangun.." ucap Kanaya cemas.
Kanaya akhirnya menuntun Arkan masuk ke dalam rumah. Kanaya membawakan handuk dan teh hangat untuk Arkan. Setelah satu jam, akhirnya Arkan sadarkan diri.
"Kanaya.. Saya minta maaf untuk segala kesalahan saya selama ini kepadamu, saya janji untuk selalu menyayangimu dan menjagamu selama-lamanya" ucap Arkan sambil memegang tangan Kanaya.
"Mas, aku sudah memaafkan kesalahan mu, jadi jangan merasa bersalah seperti ini. Tetapi, sadarlah jika aku sekarang bukan lagi istrimu dan kamu bukan suamiku" jawab Kanaya.
"Maukah kamu kembali bersama saya? Kita bangun rumah tangga yang baru dan penuh cinta kasih sayang.." tanya Arkan.
"Untuk saat ini, aku belum bisa mas, aku harap kamu mengerti perasaanku. Aku trauma dengan masa lalu, aku juga masih ingin sendiri karena aku tidak ingin membuka hati untuk sementara ini" ucap Kanaya memberi penjelasan kepada Arkan.
"Baik Kanaya.. Saya akan menunggumu sampai kamu benar-benar menerimaku kembali untuk menjadi pasangan hidupku. Kalau begitu saya pamit pulang dulu, terima kasih atas semuanya" kata Arkan sambil berpamitan kepada Kanaya.
__ADS_1
Arkan pun pulang dalam keadaan hati yang lega walaupun Kanaya masih belum menerima dirinya kembali menjadi pasangan hidupnya.