
Setelah jenazah Mamah Kinanti dibawa ke rumah sakit. Papah Faris yang terkejut langsung mengabari Kanaya. Sebenarnya ia tak tega mengabari hal ini kepada putrinya.
"Halo sayang, kamu di mana, nak?" tanya Papah dengan nada tersendat-sendat.
"Kanaya ada di pengadilan ini Pah, kok Papah menangis? Ada apa Pah?" tanya Kanaya penasaran.
"Kamu yang sabar ya, Mamah terkena serangan jantung waktu ke kantor Papah, dan.." ucap Papah dengan nada tersendat-sendat.
"Dan apa Pah?" tanya Kanaya dengan nada keras.
"Mamah meninggal saat dibawa ke rumah sakit sayang" jelas Papah yang tidak tega bicara kepada anaknya tentang Mamah Kinanti.
"Innalilahi wa innailaihi rajiun.. Mamah.." jawab Kanaya sambil berteriak-teriak memanggil nama Mamahnya.
Kanaya langsung bergegas menuju rumah sakit dan meninggalkan pekerjaannya.
Sesampainya di rumah sakit, Kanaya tidak berhenti menangis dihadapan jenazah Mamahnya.
"Mah, Mamah bangun.. kenapa Mamah tinggalin Kanaya secepat ini, Kanaya belum sempat membahagiakan Mamah" ucap Kanaya dengan berlinang air mata.
Papah Faris berusaha menenangkan hati Kanaya untuk mengikhlaskan kepergian Mamah Kinanti.
"Kanaya, kamu yang sabar ya, Papah yakin Mamah sudah tenang di alam sana" kata Papah sambil memeluk putrinya.
"Pah, kenapa Mamah bisa terkena serangan jantung mendadak?" tanya Kanaya.
"Kata Dokter, Mamah kamu terkena serangan jantung karena faktor keturunan.. dulu nenek kamu juga terkena serangan jantung, bisa jadi itu faktor keturunan" jawab Papah dengan nada ragu-ragu.
Beberapa menit kemudian, jenazah Mamah Kinanti dibawa pulang untuk dimakamkan. Ternyata di rumah sudah banyak orang yang melayat, termasuk murid-murid Mamah Kinanti. Walaupun Mamah Kinanti sudah tidak mengajar mereka, antusias mereka untuk mengantar jenazah Mamah Kinanti ke peristirahatan terakhir sangat besar.
Kanaya tidak ikut pergi ke makam Mamahnya, ia masih trauma dengan kejadian tersebut. Kanaya ada di kamar bersama 2 sahabatnya yaitu Dhivia dan Aletta.
Setelah kepergian Mamah Kinanti, Kanaya cenderung di kamarnya, bahkan dia menjadi pendiam, dan tidak nafsu makan.
__ADS_1
"Kanaya sayang, ayo makan dulu nak" ajak Papah kepada Kanaya.
Tidak ada sahutan dari kamar Kanaya, kemudian Papah menelpon Dhivia dan Aletta untuk menemani Kanaya di rumah.
"Halo Dhivia, kamu ada kelas kuliah apa tidak?" tanya Papah Faris.
"Tidak ada Om, memang ada apa ya?" tanya balik Dhivia.
"Kalau ada waktu, kamu sama Aletta temani Kanaya di rumah ya, dia tidak mau makan dari kemarin.. mungkin kalian berdua bisa membujuk Kanaya untuk makan" ucap Papah yang akan berangkat ke kantor.
"Oh baik Om Faris, nanti saya sampaikan ke Aletta untuk pergi ke rumah Om" kata Dhivia.
Dhivia bersama Aletta tiba di rumah Kanaya, dan tiba-tiba Dhivia bertanya sesuatu kepada Kanaya.
"Oh iya Kan, aku pernah telpon kamu tapi tidak ada jawaban apapun dari kamu" tanya Dhivia.
"Kamu memang telpon masalah apa?" tanya lagi Kanaya.
"Apa? Aku tidak tahu kalau kamu telpon aku dan bicara tentang Papah.. jadi yang mengangkat telepon kamu siapa ya?" tanya Kanaya semakin penasaran.
"Apa jangan-jangan Mamah kamu Kan?" ucap Dhivia.
"Iya juga ya, bisa jadi.. soalnya kalau Papah aku tidak mungkin, karena Papah waktu itu sudah tidur" ucap Kanaya.
"Jadi, selama ini Mamah sudah tahu kalau Papah pernah bertemu perempuan di hotel"? tanya Kanaya dalam hatinya.
"Oh iya Kan, aku juga sempat mengambil foto Papah kamu sama tante-tante" kata Dhivia sambil menunjukkan foto yang dimaksud.
Memang benar, dalam foto itu Papah Faris terlihat sedang bergandengan tangan mesra dengan seorang perempuan.
Kanaya yang mulai marah pun membanting vas bunga yang ada dihadapannya.
"Pah, Kanaya kecewa sama Papah" ucap Kanaya dalam hati.
__ADS_1
Keesokan harinya, Kanaya mencoba menemui Dokter Affandi yang menangani Mamahnya saat meninggal kemarin.
"Assalamualaikum Dokter Affandi" ucap salam Kanaya.
"Wa'alaikumsalam Kanaya, ada apa?" tanya Dokter Affandi.
"Kanaya mau tanya soal Mamah yang meninggal karena serangan jantung, Dok" ucap Kanaya.
"Iya silahkan Kanaya" jawab Dokter.
"Kenapa tiba-tiba Mamah saya terkena serangan jantung, Dok? Apa mungkin Mamah punya penyakit jantung karena faktor keturunan?" tanya Kanaya penasaran.
"Penyakit jantung tidak selamanya disebabkan karena faktor keturunan, Bu Kinanti mengalami serangan jantung karena mungkin ia melihat atau mendengar sesuatu yang membuat dia terkejut dan stres berat" jelas Pak Dokter kepada Kanaya.
"Tapi, Papah pernah bilang kata Dokter penyakit jantung Mamah disebabkan faktor keturunan" tanya lagi Kanaya.
"Dokter tidak pernah berbicara seperti itu kepada Papah kamu, bahkan sejak Bu Kinanti meninggal, Dokter sama Papah kamu belum bertemu sama sekali" jawab Dokter.
Kanaya mulai bingung, dia merasa ada yang disembunyikan oleh Papah Faris. Kemudian, Kanaya mengajak dua sahabatnya untuk pergi ke kantor polisi.
Tiba di kantor polisi, Kanaya bertanya tentang kejadian meninggalnya Mamah Kinanti di cafe.
"Pak polisi, saya Kanaya anak Bu Kinanti yang beberapa waktu lalu meninggal di cafe dekat PT. Cipta Samta, apa bapak menemukan sebuah kejanggalan dari lokasi kejadian?" tanya Kanaya.
"Oh Bu Kinanti, untuk saat ini pihak kepolisian sedang melakukan olah TKP, tetapi saat kejadian ada sebuah roti yang sudah hancur di dekat jenazah almarhum" kata Pak Polisi menjelaskan kepada Kanaya.
"Iya Pak, Mamah saya memang berangkat dari rumah membawa roti untuk Papah saya" jelas Kanaya.
"Mbak Kanaya tenang saja, apabila nanti ada kejanggalan berikutnya, akan kami sampaikan pada pihak keluarga" ucap Pak Polisi.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi, terima kasih atas informasinya" kata Kanaya.
Di rumah Kanaya diam saja, ia tidak mau menceritakan tentang kejanggalan kematian Mamah Kinanti pada Papahnya. Papah Faris pun tampaknya sudah mulai lelah dan tak peduli menanggapi putrinya yang selalu murung di kamar.
__ADS_1