Sebening Embun Cinta Kanaya

Sebening Embun Cinta Kanaya
14. Terpaksa Menikahi Kanaya


__ADS_3

Keesokan harinya, Alika meminta Arkan untuk pulang ke Bandung karena akan diadakan acara tasyakuran bersama. Hal ini dilakukan sebagai rasa syukur karena Ayah Fauzan sudah sembuh dari penyakit stroke dan Alika juga sudah sembuh dari traumatis nya kepada api.


"Assalamualaikum Arkan, kamu bisa pulang minggu ini?" tanya ayahnya ditelpon.


"Wa'alaikumsalam, ini Alika ya? Suaranya terdengar berbeda seperti suara laki-laki?" tanya Arkan yang penasaran.


"Arkan.. Arkan... Suara ayah sendiri saja tidak paham, kamu lucu sekali" jawab ayahnya sambil tertawa.


"Ini ayah? Ayah sudah sembuh dan bisa berbicara kembali?" tanya kembali Arkan.


"Iya Arkan anakku, ini ayah sayang" jawab Pak Fauzan.


"Alhamdulillah, ayah sudah sembuh.. Arkan senang sekali anggota keluarga Arkan sudah mulai membaik semuanya" kata Arkan yang terharu mendengar suara ayahnya kembali.


"Alhamdulillah, ini semua karena Kanaya sudah merawat ayah dengan sangat baik dan tulus" ucap Pak Fauzan.


"Kanaya? Dia masih belum pergi dari rumah itu yah?" Sudahlah tidak perlu memikirkan orang lain.. Tadi ayah menelepon Arkan ada apa?" tanya Arkan.


"Di rumah ayah mengadakan tasyakuran sebagai rasa syukur atas nikmat Tuhan yang telah memberikan kesembuhan kepada ayah dan juga Alika, kamu datang ya Arkan?" kata Pak Fauzan.


"Oh begitu yah, hari ini juga Arkan akan berangkat ke Bandung setelah urusan Arkan di Jakarta selesai" ucap Arkan.


Malam hari esoknya, keluarga besar Arkan mengadakan tasyakuran. Kanaya yang sebelumnya bukan siapa-siapa, dia hadir dalam acara tasyakuran yang dihadiri beberapa anak yatim piatu.


Kemudian setelah selesai acara tersebut, Alika dan Ayah Fauzan sedang berbincang dengan Arkan soal perusahaan batubara yang ada di Jakarta. Tiba-tiba, Kanaya menyela pembicaraan mereka dan mengatakan bahwa dirinya harus segera pergi ke rumah sakit karena Papah Kanaya dirawat di sana.


"Permisi Pak, saya izin untuk menjenguk Papah saya yang sedang dirawat di rumah sakit Mutiara" ucap Kanaya.


"Oh iya silahkan Kanaya, biar Arkan yang mengantar mu pergi" ucap Pak Fauzan.


"Ayah, Arkan tidak mau mengantar dia.. Biarkan dia pergi sendiri dan jangan menyusahkan orang lain" jawab Arkan dengan penuh emosi


"Sudah Pak, biarkan saya sendiri saja.. Kalau begitu saya pamit" ujar Kanaya yang langsung keluar.


Setiba di rumah sakit, Kanaya menangis melihat kondisi Papahnya terbaring lemas. Kanaya pun bingung mengapa Mamah Rima dan Elda tidak ada di ruangan Papah.


"Pah, papah kenapa? Ini Kanaya Pah" tanya Kanaya yang begitu cemas.


"Kanaya anakku, terima kasih kamu sudah datang menjenguk Papah" jawab Papah Faris.

__ADS_1


"Iya Pah, tadi aku dapat kabar dari Aletta, maka dari itu aku langsung menemui Papah di sini" ujar Kanaya.


"Papah merasa bersalah sama kamu Kanaya, Papah sudah mengusir darah daging Papah sendiri" ucap Papah yang merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Pah, Kanaya sudah memaafkan Papah" ucap Kanaya lagi.


"Dulu waktu Papah sakit, Mamah Kinanti selalu ada di sisi Papah setiap waktu.. Namun sekarang, Mamah Rima tidak pernah menjenguk Papah sekalipun" cerita Papah Faris.


Mendengar kata-kata Papah Faris yang mengingatkan Kanaya akan mendiang Mamahnya, tiba-tiba Kanaya menjadi sedih dan keluar dari ruangan Papahnya dirawat.


"Kanaya sayang, kamu mau pergi kemana?" ucap Papah Faris yang heran melihat Kanaya menangis dan pergi keluar.


Kanaya pulang dalam keadaan hati yang hancur dengan diiringi derasnya hujan sepanjang jalan. Kanaya tidak menyangka Papahnya bisa bicara seperti itu tentang Mamah Kinanti.


Kanaya berpikir mengapa Papahnya seperti menyesal telah melakukan kesalahan pada Mamah Kinanti, sedangkan waktu Mamah Kinanti masih hidup Papah Faris tega mengkhianati istrinya.


Kanaya sampai rumah Alika larut malam, Alika membuka pintu dan terkejut melihat kondisi Kanaya yang basah kuyup.


"Kakak kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Alika dengan menyuguhkan teh hangat beserta handuk.


"Tidak ada apa-apa Alika, terima kasih ya sudah peduli sama kakak" jawab Kanaya.


Pagi harinya, Ayah Fauzan menanyakan soal asmara dari anak laki-lakinya yaitu Arkan. Arkan tiba-tiba mendadak diam sekejap, dia terlihat marah sekali ketika ayahnya membicarakan soal cinta.


"Ayah, Arkan tidak ingin ribut di sini. Arkan tidak suka mendengar tentang kehidupan yang bernama cinta, karena bagi Arkan cinta itu hanya meninggalkan sebuah luka seperti Bunda meninggalkan Arkan" jawab Arkan.


"Tapi Arkan..." ucap Ayah Fauzan yang tiba-tiba dipotong pembicaraannya oleh Arkan.


"Sudah ayah, Arkan harap ayah tidak memaksa kehendak ku" kata Arkan.


Arkan pergi dengan rasa kecewa, kemudian Alika menghampiri kakaknya. Alika tahu betul di mana tempat yang dikunjungi kakaknya ketika sedang bersedih yaitu Taman Mezzo.


"Kakak.. Boleh Alika duduk di dekatmu?" tanya Alika.


"Iya boleh" jawab Arkan.


"Kak, jangan marah seperti ini.. Niat ayah ingin bertanya bukan memaksa. Ayolah kak Arkan jangan seperti ini terus menerus, hidup terus berjalan kak.. Alika juga sudah sembuh, ayah juga sudah sembuh, jadi sekarang hal apa yang membuat kakak masih seperti ini?" tanya Alika berusaha memahami kakaknya.


"Alika.. Kakak hanya trauma dengan sebuah cinta. Bunda pernah bilang dengan cinta kita akan mendapatkan kasih sayang, tetapi kenyataannya bunda pergi meninggalkan kita selama-lamanya" jawab Arkan dengan wajah berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kak.. Itu bukan salah siapapun. Siapapun yang bernyawa pasti akan mati, begitulah yang diajarkan oleh agama kan? Sekarang bunda sudah tenang di sisi Tuhan, aku yakin bunda ingin kakak dan Alika selalu bahagia walaupun bunda tidak di samping kita lagi" kata Alika dengan memeluk kakaknya.


Arkan langsung pulang bersama Alika. Dia tetap tidak mau mendengarkan kata-kata Alika. Arkan pulang dalam keadaan marah lagi. Sesampainya di rumah, Kanaya yang melihat Arkan marah berusaha untuk menenangkan, namun Kanaya justru di dorong Arkan hingga jatuh.


"Arkan.. Kamu boleh marah sama ayah, tetapi jangan pernah menyakiti Kanaya" ucap Pak Fauzan kepada Arkan yang sudah masuk ke kamar.


"Kakak tidak apa-apa? Maafkan kak Arkan ya kak" ucap Alika.


"Tidak apa-apa, biarkan Pak Arkan sendiri dulu. Orang yang sedang bersedih, dia akan lebih baik jika dirinya berdamai dengan perasaannya. Jadi, jangan ganggu kakakmu dulu ya" jawab Kanaya yang menahan sakit akibat jatuh di dorong Arkan.


Dua hari kemudian..


Alika dan Ayah Fauzan pergi ke rumah sakit untuk kontrol kondisi kesehatan Ayah Fauzan. Ketika mereka berdua berbincang-bincang, Ayah Fauzan bercerita kepada Alika tentang niatnya untuk menjodohkan Arkan dengan Kanaya.


"Ayah ingin sekali ada sosok perempuan yang bisa membimbing Arkan menjadi Arkan yang dulu, ayah sedih melihat Arkan seperti ini.. Dia sudah cukup menderita ketika ayah masih stroke dan kamu Alika masih di rumah sakit jiwa" ujar Pak Fauzan kepada Alika.


"Iya ayah.. Alika juga memikirkan kehidupan kak Arkan kedepannya. Jika kak Arkan terus seperti ini, tidak akan ada wanita yang mampu bertahan dengan sikap kak Arkan" jawab Alika.


"Ada satu perempuan yang mampu merubah Arkan lebih baik bahkan bisa membimbing atau merawat dengan tulus yaitu Kanaya" ucap Pak Fauzan.


"Ide bagus itu yah, aku dulu sempat berpikiran sama dengan ayah. Kak Kanaya adalah sosok perempuan yang baik hati, dia tidak pernah mengeluh sama sekali, dia juga ikhlas dalam menolong keluarga kita" jawab Alika lagi.


Di rumah, Ayah Fauzan memberanikan niatnya untuk menjodohkan Arkan dan Kanaya. Ayah Fauzan mengumpulkan semua orang di ruang keluarga termasuk Kanaya.


"Maksud ayah mengundang kalian semua, karena ayah berniat menjodohkan Arkan dengan Kanaya. Suka atau tidak suka, kalian berdua harus segera menikah" ucap Pak Fauzan.


Kanaya dan Arkan yang terkejut mendengar keputusan Ayah Fauzan langsung menolaknya. Terlebih lagi Arkan yang membantah keputusan ayahnya.


"Tidak.. saya tidak mau menikah dengan gadis seperti ini. Kita juga tidak tahu seperti apa latar belakang keluarganya, dia gadis yang tak tahu malu" ucap Arkan dengan menunjukkan tangannya dihadapan wajah Kanaya.


Tiba-tiba Alika memohon kepada Arkan agar menyetujui perjodohan ini.


"Ayolah kak Arkan, kalau tidak demi ayah setidaknya demi adikmu ini kak.. Kak Arkan sudah tidak sayang lagi sama Alika? Aku mohon kak, aku janji tidak akan meminta apapun lagi setelah ini" kata Alika yang bersimpuh di kaki Arkan.


"Alika bangun sayang, jangan seperti ini. Baiklah, kakak akan menikahi Kanaya. Tetapi ini demi Alika, saya tidak mau Alika sakit lagi" jawab Arkan dengan tegas.


Akhirnya Arkan setuju menikah dengan Kanaya. Bulan depan adalah hari pernikahan Arkan dan Kanaya. Kanaya berusaha menghubungi Mamah Rima dan Elda untuk datang ke pernikahannya namun tidak ada respon.


Yang terlihat hadir di pernikahan itu hanya keluarga besar Arkan, dari pihak mempelai wanita tidak ada. Aletta dan Dhivia datang untuk mengantarkan sahabatnya, Kanaya. Hari itu Kanaya sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna gold dan Arkan yang sangat tampan memakai blangkon adat Jawa.

__ADS_1


__ADS_2