Sebening Embun Cinta Kanaya

Sebening Embun Cinta Kanaya
18. Papah Faris Meninggal


__ADS_3

Semenjak Kanaya dipenjara, Papah Faris dilarang keras oleh anak tirinya, Elda untuk menjenguk Kanaya di sel tahanan. Kondisi Papah Faris semakin hari semakin lemah sejak Kanaya sudah tidak merawatnya kembali.


Papah Faris terkena stroke dan sudah dalam kondisi parah, ini akibat dari cairan bunga Wisteria yang sudah dicampurkan dalam teh.


Hampir setiap hari dua sahabat Kanaya yaitu Aletta dan Dhivia bergantian menjenguk Papah Kanaya. Namun, Mamah Rima menegur mereka untuk tidak menjenguk Om Faris setiap hari.


"Permisi Tante, saya Aletta sahabatnya Kanaya. Bolehkah saya bertemu Om Faris?" tanya Aletta.


"Boleh tetapi untuk yang terakhir kalinya saja. Saya tidak suka ya orang asing keluar masuk rumah saya" jawab Mamah Rima.


"Baik Tante.." ucap Aletta.


"Assalamualaikum Om Faris, saya Aletta om.." sapa Aletta ke Om Faris yang terbujur kaku di kamarnya.


"Oh iya Om.. Aku diamanahi oleh Kanaya untuk bergiliran dengan Dhivia untuk menjaga kesehatan Om Faris" ucap Aletta.


Papah Faris tidak bisa berbicara apapun, beliau hanya bisa tersenyum melihat Aletta yang sudah ia anggap sebagai anaknya.


"Om.. Pasti ini teh yang dibuatkan Tante Rima kan?" tanya Aletta.


Papah Faris hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Ketika Aletta ingin mengambil teh yang telah dibuatkan Tante Rima untuk Om Faris, ia mengambil gambar teh tersebut. Aletta sengaja menumpahkan teh tersebut karena kecurigaannya kepada Tante Rima.


"Kenapa teh nya tumpah? Apa sengaja kamu menumpahkan teh itu untuk suami saya?" ucap Tante Rima yang melihat pecahan beling dari gelas teh itu.


"Maafkan saya Tante, saya tidak sengaja.. Maafkan saya juga Om Faris" jawab Aletta.


"Tidak apa-apa Aletta, kamu jangan bersedih ya" ucap Papah Faris.


"Sudah cukup ya saya menahan kesabaran, lebih baik kamu tinggalkan rumah ini dan jangan pernah kembali menjenguk suami saya" ucap Tante Rima yang mengancam keberadaan Aletta di rumahnya.


Sesegera mungkin Aletta pergi dan menceritakan semuanya kepada Kanaya di sek tahanan. Kanaya merasa bersalah karena Mamah tirinya telah mengolok-olok sahabatnya Aletta.

__ADS_1


"Maafkan aku ya Aletta, gara-gara aku kamu yang terkena imbasnya dari Mamah Rima" ucap Kanaya.


"Iya tidak apa-apa, kamu ini seperti sama siapa aja. Kan, aku akan selalu ada untukmu, kamu jangan khawatir ya.. Aku yakin akan ada hikmah dibalik semua masalah yang kamu hadapi" kata Aletta yang menenangkan hati Kanaya.


Aletta dan Dhivia sudah dua bulan tidak menjenguk Om Faris, mereka diancam oleh Tante Rima jika masih berani datang ke rumahnya.


Kanaya semakin stres karena memikirkan kondisi Papahnya, terlebih lagi ia kini mendekam di penjara.


Di rumah Papah Faris, Mamah Rima menunjukkan sebuah surat perjanjian dan surat wasiat. Namun, Papah Faris menolak untuk menandatanganinya.


Surat tersebut berisi jika kepemilikan saham dan perusahaan akan menjadi milik Mamah Rima dan Elda seutuhnya.


"Mas.. Aku mau kamu menandatangani surat ini" ucap Mamah Rima.


Papah Faris hanya menggelengkan kepalanya, yang menandakan bahwa ia tidak mau menandatangani surat itu.


Kemudian Mamah Rima meyakinkan jika surat itu berisi pembagian warisan untuk kedua anaknya yaitu Kanaya dan Elda. Papah Faris kemudian setuju untuk menandatanganinya.


"Terima kasih mas. Setelah ini aku ku buatkan teh spesial seperti biasanya ya mas" ucap Mamah Rima menuju gudang belakang rumah.


Papah Faris meminum teh buatan Mamah Rima. Mamah Rima pun pergi meninggalkan Papah Faris sendiri di rumah.


Setelah satu jam, Papah Faris kejang-kejang, pusing yang begitu hebat, mulutnya mengeluarkan banyak busa sehingga Papah Faris jatuh dari tempat tidurnya.


Namun, Tuhan berkehendak lain. Papah Faris yang saat itu sekarat sendiri di rumah, beliau telah menghembuskan nafas terakhirnya. Ia dinyatakan tewas setelah mengalami kejang-kejang yang cukup lama.


Mamah Rima yang mendengar kabar ini sangat bahagia dalam hatinya, ia berpura-pura sedih di depan semua orang.


"Mas, kenapa kamu meninggalkan ku secepat ini.. Aku dan Elda masih sangat membutuhkanmu, aku merasa beruntung memiliki suami yang baik seperti mu.. Maafkan aku belum bisa menjadi istri yang baik" ucap Mamah Rima dengan meneteskan air mata palsunya.


Kabar ini belum sampai ke telinga Kanaya. Namun, Aletta dan Dhivia sudah mendengar kabar bahwa Papah Kanaya telah meninggal dunia saat malam hari.


Aletta menemui Kanaya di sel tahanan, sedangkan Dhivia memberi kabar duka ini ke keluarga Arkan suami Kanaya.

__ADS_1


"Innalilahi wa innailaihi rajiun, Papah meninggal?" kata Kanaya.


"Iya Kan, aku juga baru tahu. Aku langsung menuju ke sini untuk memberi kabar duka ini" ucap Aletta.


Keesokan harinya, Kanaya dengan didampingi polisi, ia mengikuti acara pemakaman Papahnya.


"Pah.. Maafkan Kanaya belum sempat membahagiakan Papah. Kanaya janji untuk selalu ingat pesan Papah, semoga Papah tenang di alam sana" kata Kanaya yang mencium keranda Papahnya.


Setelah acara pemakaman selesai, Kanaya kembali ke sel tahanan. Ternyata di sana sudah ada Ayah Fauzan dan Alika yang menjenguk kondisi Kanaya setelah Papahnya meninggal.


"Ayah.. Alika.. Kalian sudah lama di sini?" tanya Kanaya.


"Iya kak, kami sudah menunggu kakak. Kak, kami turut berduka cita atas kepergian Papah kak Kanaya, semoga Papah kak Kanaya di terima di sisi Tuhan" jawab Alika mencoba menguatkan hati kakak iparnya itu.


"Terima kasih banyak Alika sayang, terima kasih juga ayah" kata Kanaya.


"Oh iya ayah, maafkan Kanaya belum sempat memperkenalkan ayah dengan Papah Kanaya selama ini. Waktu itu, ayah masih sakit dan Kanaya tidak berani untuk membawa ayah ke rumah Kanaya" ucap Kanaya mengungkapkan penyesalannya.


"Tidak apa-apa Kanaya, ayah tahu betul bagaimana kondisi saat itu. Ayah yakin, kamu sudah berusaha yang terbaik demi keluarga ini, jadi jangan merasa bersalah ya.." ucap ayah Fauzan.


"Iya ayah" kata Kanaya yang terus berlinangan air mata.


Alika dan ayah Fauzan pamit pulang kepada Kanaya. Di rumah Alika, ia berusaha memberi kabar duka tentang ayahnya kak Kanaya kepada Arkan.


"Kak, ayah kak Kanaya kemarin malam meninggal dunia. Apa kak Arkan tidak ingin menemui kak Kanaya di penjara? Seharusnya kakak selalu ada di samping kak Kanaya, dia sedang berduka terlebih lagi kini kak Kanaya ada dalam penjara" ucap Alika kepada Arkan yang baru saja pulang dari kantor.


"Iya iya.. Besok kakak ke penjara untuk menemui Kanaya" jawab Arkan.


Tengah malam, Arkan merenung di teras atas. Ia berpikir apakah sikapnya selama ini sudah keterlaluan kepada Kanaya, terlebih lagi Kanaya adalah istrinya sendiri.


"Semenjak saya menikah dengan Kanaya.. Saya juga belum pernah bertemu ayah mertua, dan sekarang ayah mertua sudah meninggal.. Saya jadi merasa bersalah ya, seharusnya saya waktu itu meminta Kanaya untuk bertemu dengan ayahnya" ucap Arkan dalam hatinya.


"Aduh Arkan.. Arkan.. Kenapa jadi memikirkan keluarga Kanaya sih? Harusnya saya tetap membenci Kanaya karena dia bukan perempuan yang baik, dan dia juga telah membunuh kekasih adik tirinya" kata Arkan merasa bingung pada dirinya.

__ADS_1


Besoknya, Arkan menemui Kanaya di penjara. Arkan mengungkapkan rasa belasungkawa kepada Kanaya. Namun, Arkan tetap acuh tak acuh dan tidak menanyakan kabar Kanaya. Selepas mengucapkan belasungkawa, ia langsung pergi tanpa berkata apa-apa lagi.


__ADS_2