Sebening Embun Cinta Kanaya

Sebening Embun Cinta Kanaya
23. Kejahatan Terbongkar


__ADS_3

Ketika semuanya sudah ada di Bandung, Kanaya berserta pihak kepolisian telah menyusun rencana untuk Bu Rima.


Polisi langsung menggeledah gudang belakang rumah almarhum Papah Faris. Ternyata bunga itu masih ada di sana, dan polisi segera mengamankannya sebagai barang bukti.


"Pak, kita berpencar saja.. Sebagian menggeledah gudang belakang rumah dan yang lain menggeledah isi rumah" ucap Aletta.


"Di mana Bu Rima?" tanya salah satu anggota kepolisian.


"Mamah saya biasanya pulang malam Pak, jarang sekali ia pulang siang hari seperti ini" kata Kanaya menjelaskan tentang Mamah Rima.


Polisi sudah memindahkan bunga-bunga itu untuk keperluan penyelidikan selanjutnya, dan rumah almarhum Papah Faris juga telah diberi garis polisi. Polisi nantinya akan kembali ke rumah tersebut saat Bu Rima pulang ke rumah.


Malam hari tiba sekitar pukul 9 malam, Bu Rima bersama seorag laki-laki tiba di rumah dan mereka terkejut ketika ada garis polisi yang mengelilingi rumahnya. Tiba-tiba dari belakang, semua anggota kepolisian bergerak menangkap Bu Rima.


"Angkat tangan, Bu Rima anda ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan mantan suami anda bernama Bapak Doddy Wijaya, dua tahun yang lalu di Jogjakarta" kata pihak kepolisian yang memborgol tangan Bu Rima.


"Pak, mungkin anda ini salah orang.. Saya tidak tahu apa-apa" jawab Mamah Rima.


"Nanti anda bisa jelaskan di kantor polisi" kata Pak Polisi membawa Mamah Rima secara paksa.


Mamah Rima dan laki-laki yang bersamanya juga dibawa ke kantor polisi. Setelah diperiksa kurang lebih 5 jam, polisi menetapkan tersangka kasus pembunuhan sebanyak dua kali terhadap Bapak Doddy Wijaya dan Bapak Faris Aloka.


Mamah Rima divonis penjara seumur hidup, karena selain merencanakan pembunuhan kepada suami dan mantan suaminya, ia juga melakukan pembelian bunga secara ilegal.


Kanaya dan Aletta sangat senang karena kejahatan Mamah Rima telah terbongkar selama ini. Mereka berdua pun pulang ke rumah masing-masing.


Keesokan harinya, Kanaya kedatangan anggota kepolisian di rumahnya. Arkan pun terkejut melihat ada anggota polisi.


"Selamat pagi Pak.. Apakah Bu Kanaya ada di rumah?" tanya Pak Polisi.


"Ada Pak.. Sebentar saya panggilkan" jawab Arkan.


"Ada masalah apa lagi dengan Kanaya ini, hidupnya buat masalah saja" ucap Arkan dalam hatinya.

__ADS_1


Pak Polisi akhirnya berbicara kepada Kanaya mengenai kasus Bu Rima, Arkan pun juga terlihat di sana.


"Terima kasih Bu Kanaya, karena berkat bantuan dari Ibu, tim kami berhasil menuntaskan kasus ini yang sebelumnya sudah dihentikan selama 2 tahun lebih" ungkap Pak Polisi kepada Kanaya dan Arkan.


"Alhamdulillah, sama-sama kembali Pak.. Saya melakukan ini juga demi kebaikan bersama sekaligus untuk mengetahui penyebab kematian Papah saya" jawab Kanaya.


"Baik, untuk bunga Wisteria sudah kami musnahkan semuanya. Kalau begitu saya pamit ya bu, pak.." kata Pak Polisi berjabat tangan dengan Arkan dan Kanaya.


Setelah polisi pergi, Arkan terlihat marah karena Kanaya telah membohonginya.


"Tunggu.. Anda bohong sama saya? Kenapa anda tidak bilang ke saya jika anda ingin menyelidiki kematian ayah anda?" tanya Arkan.


"Maafkan aku mas.. Aku sebenarnya ingin jujur, tetapi kamu sendiri kan yang melarang aku untuk menyelidiki kematian orang yang sudah meninggal" jawab Kanaya.


"Terserah anda.. Saya tidak peduli" kata Arkan yang langsung pergi bekerja kembali.


Kanaya pun tersenyum manis melihat tingkah suaminya yang begitu lucu jika sedang marah.


Saat di perusahaan, Arkan mendapati seorang ibu-ibu yang ingin menyebrang. Arkan sontak langsung membantu ibu itu untuk menyebrang.


"Tidak perlu nak, terima kasih sudah membantu ibu" jawab Ibu itu.


"Ibu namanya siapa?" tanya Arkan.


"Nama ibu.. Hamidah. Kalah kamu namanya siapa nak?" jawab Bu Hamidah.


"Nama saya Arkan. Bu.. Izinkan saya untuk mengantar ibu pulang" kata Arkan.


"Baiklah nak Arkan" jawab Ibu Hamidah.


Arkan mengantar Bu Hamidah pulang ke rumahnya. Ternyata Bu Hamidah tinggal di sebuah panti jompo. Arkan sangat sedih melihat Bu Hamidah yang sudah tua harus tinggal tanpa sanak saudara.


"Kenapa ibu tinggal di panti jompo ini?" tanya Arkan.

__ADS_1


"Ibu ditinggalkan di jalan saat itu, dan ibu dibawa oleh pengasuh panti ini untuk tinggal bersama orang tua lainnya" jawab Ibu Hamidah yang terharu membicarakan kejadian yang menimpanya.


"Anak ibu tega meninggalkan ibu sendiri di jalanan?" tanya Arkan lagi.


"Iya nak, tetapi sudahlah. Mari kita masuk ya" kata Bu Hamidah.


"Baik Bu.." jawab Arkan menuju ruang tamu panti jompo tersebut.


Arkan dan Bu Hamidah berbincang-bincang di panti jompo tersebut.


"Nak, kamu sudah berkeluarga?" tanya Bu Hamidah.


"Sudah Bu.. " jawab Arkan.


"Hanya istri yang mulia dan beruntung memiliki suami seperti mu nak Arkan.." kata Bu Hamidah.


"Kenapa Bu?" tanya Arkan kembali.


"Iya, beruntung wanita itu memiliki suami seperti mu, kamu anak yang baik dan ikhlas dalam menolong. Jagalah selalu keluarga mu ya nak, jangan sia-siakan mereka yang berhati tulus" kata Bu Hamidah menasihati Arkan.


"Iya Bu, Alhamdulillah. Saya akan pegang janji yang ibu berikan" jawab Arkan.


"Begitulah hidup nak, jangan sampai kamu mati hati karena sebuah dendam atau emosional. Justru hal itu akan menyakiti hatimu sendiri. Hanya dengan ketulusan, kita akan mampu belajar makna dari sebuah keikhlasan dalam kehidupan ini.. " kata Bu Hamidah.


"Bu, saya sudah terlalu kasar dengan istri saya sendiri. Saya tidak pernah menganggap dia ada dalam hidup saya, bahkan saya tidak ingin mencintainya. Tetapi, saya melakukan itu karena saya trauma dengan makna cinta dalam hubungan, dulu Bunda saya selalu bilang dengan cinta kita akan bahagia... Namun, Bunda meninggalkanku dan keluarga.. Bunda telah tenang di sisi Tuhan" ucap Arkan berlinang air mata.


"Kamu salah besar nak, namanya kehidupan itu ada hidup dan mati. Kematian tidak menunggu usia tua, karena kematian itu tidak bisa di prediksi.. Kapanpun manusia bisa meninggal, itu hanya soal waktu nak. Kamu harus bersyukur jika masih memiliki keluarga, kamu lihat di sini para orang tua yang tidak memiliki keluarga bahkan ditinggalkan oleh keluarganya sendiri, tetapi mereka sangat bahagia" kata Bu Hamidah sambil mengusap kepala Arkan.


"Iya Bu, Arkan sekarang paham arti kehidupan. Baru pertama kali, Arkan bertemu dengan Ibu yang mirip sekali dengan Bunda saya. Bagiku, Tuhan telah mengirim ibu untuk memberikan hidayah pada kerasnya hatiku selama ini" jawab Arkan sambil menangis di pangkuan Bu Hamidah.


"Nak, jangan sampai dendam mu merusak kebahagiaan mu sendiri. Jagalah keluarga mu, jangan sampai kamu menyesal untuk yang kedua kalinya. Istri mu orang yang baik, jadi jangan sampai kamu melukai hatinya" ucap Bu Hamidah.


"Baik Bu, Arkan akan selalu mengenang kata-kata ibu. Kalau begitu, Arkan pamit ya.. Ibu jaga kesehatan di sini, kalau saya ada waktu, saya akan berkunjung ke sini bertemu ibu" kata Arkan sambil berpamitan untuk bekerja kembali.

__ADS_1


"Baik nak, hati-hati di jalan. Sampaikan salam ibu ke istri dan keluarga ya" jawab Bu Hamidah.


Arkan pulang dari panti jompo dengan wajah yang berkacamata, dirinya sangat bahagia bertemu sosok Bu Hamidah yang mirip sekali dengan mendiang bundanya.


__ADS_2