Sebening Embun Cinta Kanaya

Sebening Embun Cinta Kanaya
21. Ambigu Seorang Arkan


__ADS_3

Malam hari yang cerah diiringi bulan dan bintang-bintang bersinar di langit, terlihat Arkan sedang berdiri di atas teras seorang diri. Kanaya menghampiri Arkan dan berdiri di sampingnya.


"Mas.. Aku tahu kamu membenci diriku, bahkan kamu tidak pernah mencintaiku, lalu kenapa kamu setuju dengan pernikahan ini?" tanya Kanaya.


Arkan tetap diam dan tak menggubris perkataan Kanaya.


"Mas.. Aku ini salah apa sama kamu? Sama saja kamu secara tidak langsung melukai batinku, perasaanku, dan kamu telah mempermainkan janji pernikahan di mata agama" ucap Kanaya lagi.


"Diam.. Anda mau tahu apa alasan saya bertahan dengan pernikahan ini? Karena Alika akan sembuh total dari traumanya selama 5 bulan ke depan, maka dari itu saya akan bertahan dengan pernikahan ini selama 5 bulan, setelah Alika sembuh saya akan langsung menceraikan anda" ungkap isi hati Arkan kepada Kanaya.


Kanaya menangis setelah mendengar alasan Arkan menikahi dirinya.


"Jadi, itu alasan kamu menikahi aku mas? Sakit rasanya mencintai tanpa dicintai. Kamu tidak pernah memahami perasaan ku sebagai seorang wanita" jawab Kanaya.


"Memang seperti itu rasanya jika anda mendasari sebuah hubungan dengan nama cinta, yang akan terjadi adalah sebuah kekecewaan dan penderitaan. Begitu pula yang telah saya alami dengan bunda saya" kata Arkan terlihat memarahi Kanaya di teras atas rumah.


"Tetapi bukan seperti ini caranya, yang terjadi dengan bunda kamu bukan sebuah kesengajaan tetapi sudah takdir Tuhan mas.." jawab Kanaya lagi.


"Jangan bicara apapun lagi, setelah 5 bulan Alika sudah sembuh, saya akan segera menceraikan anda" ucap Arkan meninggalkan Kanaya di teras.


"Aku akan membuat kamu mencintaiku mas dalam waktu 5 bulan, aku tidak ingin berpisah dengan mu. Aku akan berusaha menghilangkan trauma itu agar kamu bisa menerima kenyataan yang sebenarnya" ucap Kanaya dalam hati.


Di kamar, Arkan teringat kata-kata yang diucapkan Kanaya. Dirinya merasa telah menghancurkan kehidupan seseorang demi menyembuhkan sebuah trauma yang dalam.


"Kenapa saya jadi memikirkan Kanaya terus ya? Apa kata-kata saya tadi benar-benar menyakiti hati Kanaya? Aduh Arkan.. Arkan.." kata Arkan kepada dirinya sendiri.


Semakin lama, Arkan semakin tidak nyaman dan tidak tenang setelah memarahi Kanaya dengan kata-kata yang kasar.


Di sisi lain, Kanaya terus menangis tidak pernah dianggap sebagai seorang istri. Kanaya kecewa karena merasa dirinya dipermainkan seorang laki-laki yang begitu ia cintai.


"Yang ku harapkan dari pernikahan ini adalah cinta dan bahagia, namun yang ku dapat adalah derita dan luka. Sampai kapan aku akan diperlakukan seperti ini? Apa aku masih bisa bertahan?" kata Kanaya menangis meratapi nasibnya.


Keesokan harinya, Arkan tidak melihat Kanaya. Biasanya, Kanaya selalu ada di meja makan sebelum Arkan berangkat bekerja.

__ADS_1


"Dia ada di mana? Biasanya selalu menyapa saya di meja makan..." tanya Arkan yang penasaran keberadaan Kanaya.


"Kanaya.. Kanaya.. Kanaya? Tidak ada sahutan sama sekali di rumah. Apa Kanaya marah ya karena ucapan saya semalam? Coba saya cek di kamarnya" ucap Arkan menuju kamar Arkan.


Ketika Arkan membuka pintu Kanaya, ternyata Kanaya masih ada di tempat tidur. Arkan yang melihatnya langsung marah.


"Kanaya.. Bangun kamu! Dari tadi saya memanggil ternyata anda masih tidur di sini" kata Arkan.


Tidak ada sahutan dari Kanaya, Kanaya diam saja seperti orang yang tertidur lelap. Kemudian Arkan terpaksa menyentuh Kanaya, tiba-tiba Arkan terkejut mendapati badan Kanaya panas sekali.


"Ya Tuhan.. Dia demam tinggi, panasnya tinggi sekali. Saya harus bawa ke rumah sakit sekarang" kata Arkan terlihat sangat panik melihat Kanaya sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Kanaya langsung ditangani oleh dokter. Arkan menunggu di ruang tunggu pasien. Arkan kemudian menelepon ayahnya beserta Alika.


Ayah Fauzan dan Alika tiba di rumah sakit, kemudian menanyakan kondisi Kanaya kepada Arkan.


"Arkan, bagaimana kondisi Kanaya?" tanya Ayahnya.


"Belum tahu yah, dokter masih memeriksa Kanaya sekarang" jawab Arkan dengan gugup.


Dokter keluar dari ruang rawat dan memberi kabar kepada pihak keluarga tentang kondisi Kanaya.


"Dengan pihak keluarga Kanaya?" tanya Dokter.


"Iya Dok.. Saya suaminya" kata Arkan yang begitu cemas.


"Begini Pak.. Pasien hanya kelelahan fisik dan mohon dijaga agar pasien tidak terlalu memikirkan sesuatu yang berlebihan. Istri anda kini sudah jauh lebih baik kondisinya dan saya sarankan untuk dirawat inap kurang lebih 2-3 hari ke depan" ucap Dokter kepada Arkan.


"Baik Dok.. Terima kasih" jawab Arkan.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi" ucap Dokter.


Arkan, Alika dan ayah bergegas masuk ke ruang rawat untuk melihat kondisi Kanaya. Kanaya terlihat sudah sadar dan dirinya merasa bahagia karena dikelilingi oleh orang-orang yang baik.

__ADS_1


"Kanaya, kamu kenapa nak?" tanya Ayah Fauzan.


"Kanaya tidak apa-apa ayah.. Kanaya hanya perlu istirahat saja" jawab Kanaya tersenyum.


"Mas Arkan.. Maafkan aku ya, gara-gara aku sakit jadi tidak ada yang menyiapkan segala keperluan kamu" kata Kanaya.


"Tidak apa-apa, cepat sembuh.. Saya pergi ke kantor dulu ya, jaga kesehatan" ucap Arkan.


"Arkan, kamu tidak menemani Kanaya? Kenapa tidak cuti dulu?" tanya Ayah.


"Ayah.. Arkan harus mengurus pengiriman batubara ke Kalimantan hari ini juga" jawab Arkan.


"Sudah ayah, biarkan mas Arkan bekerja... Mas, hati-hati ya" kata Kanaya mencium tangan suaminya.


Arkan pun pergi bekerja, sedangkan Ayah Fauzan pulang ke rumah karena tidak ada yang menjaga. Sementara Alika yang menemani Kanaya di rumah sakit.


Tiga hari kemudian..


Kanaya sudah diperbolehkan pulang dan dia dijemput oleh Arkan. Di rumah, Arkan merawat Kanaya dengan tulus. Seakan Arkan melupakan kebenciannya terhadap Kanaya sehingga begitu peduli terhadap kesehatan istrinya.


"Mas.. Terima kasih sudah merawat aku dengan baik. Aku harap kamu tidak tersinggung dengan perkataan ku" ucap Kanaya.


"Iya sama-sama" jawab Arkan dengan singkat.


"Sepertinya Kanaya sangat berhati-hati dalam berbicara, begitu pedulinya dia kepada saya agar saya tidak tersinggung ataupun marah" ucap Arkan dalam hatinya sambil menyiapkan obat untuk Kanaya.


Arkan tiba-tiba pergi begitu saja, dia berusaha menenangkan hati dan pikirannya.


"Baru pertama kali saya menyakiti hati seorang perempuan dengan cara seperti ini.. Terlebih lagi saya juga tidak mencintainya, bahkan saya selalu mengancam Kanaya untuk bercerai" kata Arkan merenungi sikapnya selama ini.


"Ya Tuhan.. Berikan saya sebuah petunjuk, bukannya saya ingin mempermainkan pernikahan dalam agama.. Tetapi saya trauma dengan cinta dan kasih sayang, sebagaimana yang terjadi pada bunda saya.." kata Arkan yang terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba hujan turun begitu deras. Kanaya mencemaskan Arkan, karena tidak kunjung pulang ke rumah. Kanaya mencoba untuk menghubunginya namun tidak ada respon.

__ADS_1


"Kamu di mana mas.. Jangan buat aku khawatir. Apa aku coba cari sendiri ya?" kata Kanaya.


Kanaya pergi mencari Arkan di sepanjang jalan rumahnya, namun tidak ada hasil. Kemudian ia teringat jika Arkan sedang sedih ia selalu pergi ke Taman Mezzo. Kanaya bergegas menuju ke sana untuk mencari tahu keberadaan Arkan.


__ADS_2