
Sudah melepaskan pekerjaan yang sangat mulia sebagai seorang guru, Mamah Kinanti kini fokus menjaga dua malaikat kesayangannya itu. Namun, Papah Faris pun tampaknya tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukan Mamah Kinanti.
"Pah, kenapa Papah berubah? Apa Mamah punya salah sama Papah?" tanya Mamah Kinanti.
"Tidak kok, Papah mau jaga jarak dulu Mah, tolong hargai keputusan Papah" jawab Papah dengan ketus.
Seperti biasa, Papah Faris langsung berangkat ke kantor setengah jam lebih awal dari biasanya. Di kantor, Papah Faris disambut hangat oleh asistennya, Bu Rima. Bu Rima terlihat sangat cantik, dengan rambut terurai indah.
"Selamat pagi Pak Faris, ini saya sudah buatkan kopi spesial untuk bapak" ucap salam dari Bu Rima kepada Pak Faris.
"Pagi, terima kasih Rim" jawab Pak Faris.
Semakin hari, hubungan antara Direktur dengan asistennya ini semakin melekat bahkan melebihi batas rekan kerja. Hingga suatu saat Elda Maharani, putri tunggal Bu Rima menemui Ibunya di Kantor Pak Faris.
"Halo Mah, maaf Elda mengganggu tidak?" tanya Elda ke Ibunya yang sedang mengetik sebuah naskah di laptop.
"Eh kamu Elda, kenapa tidak bilang kalau mau ke sini, ini kan ruangan direktur" jawab Bu Rima sambil memegang tangan anaknya.
Tiba-tiba Pak Faris menyela pembicaraan mereka.
"Sudah tidak apa-apa Rim, dia juga kan tidak tahu. Dia anak kamu?" tanya Pak Faris.
"Iya Pak, ini anak tunggal saya namanya Elda, sekarang profesinya sebagai seorang model" ucap Bu Rima.
"Pagi Om, saya Elda" kata Elda.
"Kenapa kamu panggil dia om, Pak Faris itu atasan Mamah" ucap Bu Rima kepada anaknya.
"Tidak apa-apa Rim, saya justru suka bertemu dengan Elda, dia seumuran dengan putri saya" jawab Pak Faris.
Akhirnya, Pak Faris mengajak Bu Rima dan Elda untuk pergi makan di cafe dekat kantornya.
Hingga saat di meja makan cafe, Elda bicara sesuatu yang membuat Pak Faris dan Bu Rima kaget.
"Mah, aku senang sekali bisa bertemu sama Om Faris, dia baik, andai Om Faris bisa jadi ayah aku" cerita Elda pada sang Ibu.
"Sssttt, Elda kamu ini bicara apa? Bicara kamu suka tidak benar tahu" jawab Bu Rima sambil tersenyum.
__ADS_1
Pak Faris tertawa bersama Elda dan Bu Rima.
"Kamu bisa saja Elda" ucap Pak Faris.
Satu jam kemudian, Elda ditelepon oleh pihak manajer untuk jadwal pemotretan.
"Mah, Om Faris, Elda duluan ya soalnya ada keperluan mendesak" kata Elda sambil bersiap-siap.
Akhirnya di meja makan hanya tertinggal Bu Rima dan Pak Faris saja. Tiba-tiba Pak Faris menanyakan sesuatu hal penting kepada Bu Rima.
"Maaf Rim, saya mau tanya, memang suami kamu di mana sekarang?" tanya penasaran Pak Faris.
"Hmm, suami saya sudah meninggal 2 tahun yang lalu karena penyakit jantung, Pak" jawab Bu Rima sambil memperlihatkan kesedihannya.
"Oh, maaf Rim, saya tidak tahu soal itu" ucap Pak Faris sambil menyodorkan tisu kepada Bu Rima.
"Iya Pak tidak apa-apa, semenjak suami saya meninggal, Elda harus berhenti kuliah, dan sekarang dia menggeluti dunia modeling" ucap Bu Rima.
"Tapi Elda termasuk anak yang baik, dia mengerti sekali kondisi Mamahnya" ucap Pak Faris sambil tersenyum lebar.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua meninggalkan cafe dan bergegas menuju kantor. Sampai larut malam pun mereka masih berduaan di ruangan Pak Faris.
"Terima kasih ya Rim, oh iya kamu sekarang tidak perlu panggil saya Pak, panggil saja mas, biar lebih akrab" jawab Pak Faris yang mulai tertarik dengan Bu Rima.
"Baik mas, terima kasih kembali sudah baik sama saya dan Elda" ucap Bu Rima.
Kehadiran sosok Bu Rima membuat Pak Faris semakin tergila-gila. Bahkan keduanya pun memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan dibelakang istri Pak Faris. Bu Rima bahkan tidak peduli jika Pak Faris sudah memiliki keluarga.
Hingga saat Papah Faris pulang dan sedang membersihkan diri, tiba-tiba HP Pak Faris berbunyi dan Mamah Kinanti yang mengangkat.
"Halo mas, kamu lagi apa?" tanya Bu Rima ditelpon.
"Ini siapa? Saya dengan istri Pak Faris" jawab Mamah Kinanti.
Tut..Tut.. Tut.. telepon dari Bu Rima tiba-tiba mati, dan Mamah Kinanti berusaha untuk menelpon kembali tapi tidak bisa.
Kemudian, Mamah Kinanti bertanya kepada Papah Faris mengenai sosok perempuan yang menelpon tadi.
__ADS_1
"Pah, tadi ada perempuan yang telpon, tapi tiba-tiba dimatikan" tanya Mamah dengan rasa penasaran.
"Hmm, mungkin klien Mah" jawab Papah dengan gugup.
"Klien? Kenapa dia manggil Papah dengan sebutan kamu?" tanya Mamah lagi.
"Sudah Mah biarkan saja, Papah mau tidur karena besok Papah ada urusan di luar kota" jawab Papah dengan nada tinggi.
Mamah Kinanti tak bisa berkutik lagi, ia mulai menangis lagi di teras rumah. Kali ini Kanaya tidak ada di rumah karena ia harus pergi ke Jakarta untuk urusan sidang perdana sebuah kasus.
Keesokan harinya, Papah Faris pamit kepada Mamah Kinanti bahwa ia akan pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan kurang lebih selama 2 minggu.
Ternyata Papah Faris berbohong kepada Mamah Kinanti, sebenarnya ia ingin menikah siri di Jogja, tempat tinggal asli Bu Rima bersama Elda.
"Rim, sekarang aku akan menikah siri dengan kamu, aku harap kamu mau menerimaku apa adanya, dan ingat jangan sampai keluargaku tahu tentang hubungan kita ini" ucap Papah Faris.
Setelah menikah siri, Bu Rima menjelaskan semuanya kepada Elda. Respon Elda pun sangat senang karena impiannya Pak Faris menjadi ayahnya kini terkabulkan.
Di Bandung..
Mamah Kinanti tiba-tiba ditelpon staf kantor untuk memberitahu Pak Faris jika minggu ini ada klien dari Jepang.
"Selamat pagi Bu Kinanti, saya staf kantor Pak Faris mau mengabarkan jika minggu ini Pak Faris kedatangan klien dari Jepang" ucap staf kantor itu.
"Hmm, bukannya Pak Faris masih ada kerjaan di luar kota ya selama 2 minggu?" tanya Mamah Kinanti.
"Tidak ada Bu, Pak Faris jika ada keperluan di luar kota selalu mengabari saya" jawab staf kantor.
"Baiklah nanti saya sampaikan ke bapak" ucap Mamah Kinanti sambil menutup telepon dari kantor suaminya.
"Papah kemana ya? Apa Papah bohong? Ya Allah, jangan sampai aku berburuk sangka pada suamiku sendiri" gumam Mamah dalam hati.
Esoknya Kanaya pulang, dan mencari-cari Papahnya.
"Mamah, Kanaya pulang. Papah mana mah?" tanya Kanaya.
"Hai sayang akhirnya kamu pulang, Papah masih di luar kota selama 2 minggu, nak" jawab Mamah Kinanti sambil mengusap rambut anaknya.
__ADS_1
"Baiklah Mah.." kata Kanaya pasrah.
Akhirnya mereka berdua menjalani hari-hari tanpa kehadiran Papah Faris di keluarga mereka.