
Setelah Dania merasa dipermainkan Arkan, dirinya berjanji akan menghancurkan hidup Arkan dan Kanaya. Dania akan melakukan apapun demi mendapatkan cinta Arkan kembali.
"Lihat saja Arkan, apa yang akan aku lakukan kepada cinta sejati mu itu yang bernama Kanaya... Aku akan membuatnya lebih menderita karena telah merebut kamu dari hidupku" ucap Dania kepada dirinya sendiri.
Dania merencanakan sebuah siasat untuk membuat Kanaya membenci Arkan kembali dengan menerornya.
Ketika Kanaya sedang bersih-bersih di rumahnya, tiba-tiba ada seseorang yang mengirim paket bunga kepada Kanaya.
"Permisi mba, ini ada paket bunga atas nama mba Kanaya ya.." ucap kurir tersebut.
"Iya benar, dari siapa ya?" tanya Kanaya.
"Saya kurang tahu mba, orang yang memberikan paket ini tidak ada namanya. Mba, tolong tanda tangan di sini" kata kurir itu.
"Baiklah, terima kasih ya.." jawab Kanaya
"Sama-sama mba, saya permisi" kata kurir.
Kanaya langsung membuka paket bunga itu, dan ada kertas kecil terselip di dalamnya. Kertas itu berisi sebuah ancaman kepada Kanaya, "Kanaya, kamu sudah berani main-main dengan ku, mari kita tunggu tanggal mainnya saja".
Kanaya shock melihat isi surat itu, dirinya ketakutan sekali. Kanaya lalu melihat sekeliling rumahnya berharap ia melihat seseorang yang menulis isi surat tersebut.
"Ini dari siapa ya? Ada masalah apa dia dengan ku, atau ini ada hubungannya dengan mas Arkan? Aduh, aku takut sekali.. Apa aku beritahu mas Arkan saja ya?" ucap Kanaya kepada dirinya sendiri sambil melihat isi surat itu.
Kemudian Kanaya membawa surat beserta paket bunga itu ke dalam rumahnya. Kanaya berusaha untuk berpikir positif tentang paket misterius itu dan
"Sudahlah tidak perlu dipikirkan, akan ku simpan saja surat ini agar hatiku lebih tenang.." ucap Kanaya sambil menyimpan surat itu di dalam laci.
Di sisi lain, Dania sangat bahagia karena rencananya berhasil dalam meneror Kanaya melalui kiriman paket bunga itu.
"Kanaya.. Kanaya.. Kamu main-main sama Dania, pasti kamu akan hancur berkeping-keping. Kamu sudah berani merebut cinta pertamaku, kali ini aku harus menang untuk mendapatkan cintanya Arkan" ucap Dania.
Ketika malam hari, Arkan menemui Kanaya di kediamannya untuk membicarakan soal pernikahan mereka.
__ADS_1
"Assalamualaikum Kanaya.." ucap Arkan di depan rumah Kanaya.
"Wa'alaikumsalam.. Mas Arkan, kamu kenapa malam-malam ke sini? Apa ada masalah?" tanya Kanaya yang terkejut dengan kedatangan Arkan.
"Tidak, saya hanya ingin membicarakan sesuatu sama kamu" jawab Arkan.
"Mari mas masuk, kamu duduk dulu ya.. Aku akan buatkan kopi untukmu" ucap Kanaya.
Setelah Kanaya membuatkan kopi untuk Arkan, Arkan memulai pembicaraannya dengan Kanaya.
"Oh iya Kanaya, saya ingin membicarakan tentang pernikahan kita.. Menurut kamu bagaimana?" tanya Arkan sambil meminum kopi buatan Kanaya.
"Kalau itu, terserah kamu sama ayah saja. Aku terima hari baiknya saja, karena ayah yang lebih tua dari kita, jadi kita serahkan semuanya kepada ayah agar diberi jalan yang terbaik" jawab Kanaya.
"Kalau begitu, setelah ini saya akan bicarakan soal pernikahan dengan ayah, agar kita tahu apa saja yang harus dipersiapkan" kata Arkan.
"Oh iya Kanaya, besok kan hari minggu.. Kalau kamu tidak sibuk, saya boleh mengajak kamu ke makam almarhum papah dan mamah kamu?" tanya Arkan.
"Bisa mas, aku tidak sibuk sama sekali. Aku justru bahagia bisa ke makam papah dan mamah, apalagi ini kamu yang mengajak terlebih dahulu" jawab bahagia Kanaya.
"Baik mas Arkan, hati-hati di jalan dan salam buat ayah dan Alika ya.." jawab Kanaya.
"Pasti.." jawab Arkan menuju mobilnya.
Arkan pun pulang dari rumah Kanaya, begitupun Kanaya langsung bergegas masuk ke dalam rumahnya. Tiba-tiba Kanaya merasa jika dirinya sedang diperhatikan oleh seseorang disekitar rumah.
"Perasaanku tidak enak ya, seperti ada orang yang memperhatikan ku dari tadi, tetapi siapa? Tetangga juga sudah tidur semua, mana mungkin ada orang lain.." gumam Kanaya sambil melihat sekitaran rumahnya.
Kanaya langsung menutup pintu rumah dan menguncinya. Dirinya benar-benar merasa ketakutan, hingga suatu ketika Kanaya pergi ke kamar mandi, di cermin terdapat sebuah tulisan mengerikan.
"Aaaa... Tulisan tangan siapa ini di cermin ku? Ini bukan tinta, tetapi darah.." teriak Kanaya di dalam kamar mandi.
Tulisan itu mengatakan, "Dasar perebut kebahagiaan orang lain, wanita tidak tahu malu!". Tulisan itu sontak membuat Kanaya menangis dan tidak bisa tidur karena dirinya merasa telah diteror seseorang.
__ADS_1
"Ya Tuhan lindungi aku dari orang yang ingin berbuat jahat, jangan sampai dia menyakitiku atau keluargaku" ucap Kanaya.
Kanaya pun menghapus tulisan yang ada di cermin dan langsung membuang cermin itu ke tempat sampah. Kanaya kemudian masuk ke kamarnya dan berusaha menenangkan dirinya setelah terjadi kejadian-kejadian yang aneh.
Di sisi lain, Arkan malam itu sangat bahagia menanti hari pernikahannya dengan Kanaya. Dirinya kini sudah mencintai Kanaya sepenuh hati dan sudah melupakan masa lalunya.
"Baru kali ini saya bahagia karena seorang perempuan, dan baru kali ini juga saya mendapatkan cinta sejati seperti Kanaya.. Hati ini rasanya damai dan tenang setelah mendengar kata-kata Kanaya" kata Arkan sambil memegang foto Kanaya.
"Saya tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini yang berlarut-larut. Bahkan saya harus menertawakan diri saya sendiri karena dulu sangat keras kepala kepada siapapun" kata Arkan sambil tersenyum-senyum.
Tiba-tiba, Arkan kepikiran dengan Dania yang kini sangat kesal dengannya.
"Aduh, bagaimana dengan Dania? Saya takut jika dia menyakiti Kanaya atau bahkan bicara yang tidak-tidak di depan Kanaya. Apa saya hubungi saja ya? Akan ku telepon Dania.." kata Arkan yang mulai menghubungi Dania.
"Halo Dan.. Dania.." ucap Arkan.
"Tut..Tut.. Tut.." tiba-tiba Dania mematikan sambungan telepon dari Arkan.
Hal ini semakin membuat Arkan khawatir dengan tingkah Dania. Kemudian, Arkan mencoba menghubungi Kanaya, karena takut jika terjadi apa-apa dengan Kanaya karena tinggal seorang diri.
"Hai Kanaya, kamu sedang apa?" tanya Arkan.
"Ini aku mau tidur mas, ada apa ya? Tadi kita kan baru bertemu, kenapa kamu tiba-tiba telepon lagi?" tanya Kanaya.
"Tidak apa-apa, saya hanya ingin memastikan kalau kamu sekarang baik-baik saja" jawab Arkan dengan ragu-ragu.
"Apa aku cerita soal tulisan di cermin tadi ya ke mas Arkan?" tanya Kanaya dalam hatinya.
"Tidak, aku tidak ingin mas Arkan khawatir dengan apa yang terjadi kepadaku akhir-akhir ini" ucap Kanaya dalam hati.
"Kanaya.. Kenapa kamu diam? Apa ada masalah?" tanya Arkan tiba-tiba.
"Tidak mas, aku sudah mengantuk jadi kurang fokus tadi saat bertelepon" jawab Kanaya.
__ADS_1
"Baiklah silakan tidur tuan putri, semoga mimpi indah ya.. Kalau begitu saya tutup teleponnya ya" kata Arkan.
"Baik mas, mimpi indah juga.." jawab Kanaya mengakhiri teleponnya dengan Arkan.