Sebening Embun Cinta Kanaya

Sebening Embun Cinta Kanaya
11. Jalinan Persahabatan


__ADS_3

Semakin hari Alika nyaman dengan kehadiran Kanaya. Alika mulai memperlihatkan kesembuhannya sedikit demi sedikit. Dokter yang menangani Alika berusaha menghubungi Arkan, keluarga Alika.


"Selamat pagi Dok, ada apa memanggil saya? Apa ada yang terjadi dengan adik saya?" tanya Arkan.


"Tidak Pak Arkan, justru saya memberi kabar gembira jika Alika sudah mulai normal kembali kesehatannya" jawab Dokter.


"Alhamdulillah, terima kasih Dokter, atas jasa mu adik saya bisa kembali sembuh" ucap Arkan bahagia.


"Sama-sama, tetapi Pak Arkan saya sendiri merasa bingung, karena Alika sembuh bukan karena pengobatan dari saya maupun pihak rumah sakit ini, tetapi karena bantuan orang lain" kata Pak Dokter.


"Maksud dokter, ada orang lain yang membantu adik saya bisa kembali normal?" tanya Arkan.


"Iya Pak Arkan" jawab Dokter.


"Alhamdulillah Alika, akhirnya kamu bisa terbebas dari jeratan ini.. Sudah lama kakak menunggu momen ini untuk menyambut kedatangan kamu di rumah seperti dulu" ucap Arkan dalam hati yang berlinang air mata.


Arkan pun pergi setelah menemui dokter, dia menjenguk Alika. Ketika menuju ruangan Alika, Arkan melihat adiknya sedang bersandar di bahu Kanaya. Bahkan mereka berdua terlihat seperti saudara.


"Alika sayang, ini kakak" ucap Arkan.


"Pak Arkan, maafkan saya sudah lancang menemui Alika di sini" ucap Kanaya menyela pembicaraan.


"Kakak.. aku rindu padamu kak, aku ingin pergi dari sini" ucap Alika pada Arkan.


Kanaya pun pergi meninggalkan Alika dan Arkan. Tiba-tiba Alika memanggil Kanaya.


"Tunggu kak Kanaya, mari akan ku perkenalkan kakak dengan kak Arkan" ucap Alika.


"Dia adalah kak Arkan, kakakku yang paling baik" ucap Alika lagi.

__ADS_1


Tanpa berkata sedikitpun, Arkan pergi begitu saja. Alika yang melihat sikap kakaknya langsung meminta maaf kepada Kanaya.


"Kakak, maafkan kak Arkan ya.. Dia memang seperti itu sejak kepergian Bunda" kata Alika mencoba menenangkan hati Kanaya yang merasa bersalah.


"Iya Alika, tidak apa-apa.. Kakak tidak marah sama sekali" jawab Kanaya.


"Terima kasih ya kak.. Kak, aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Alika.


"Boleh Alika" jawab Kanaya sambil memandang Alika.


"Kalau aku lihat dari awal kakak masuk ke rumah sakit ini sampai sekarang, kakak tidak seperti orang gila atau orang tidak waras" tanya Alika.


"Sebenarnya memang kakak tidak gila, hanya saja keluarga kakak yang mengira jika kakak ini sudah berhalusinasi secara berlebihan, maka dari itu mereka memaksa kakak untuk dirawat di sini" jawab Kanaya dengan hati yang tegar.


"Tega sekali keluarga kakak, kakak jangan sedih lagi ya.. Alika akan selalu ada untuk kak Kanaya" ucap Alika sambil tersenyum.


"Terima kasih Alika, bagi kakak kamu adalah penyembuh luka di hati kakak selama ini" curhat Kanaya kepada Alika.


"Kakak tidak melakukan apapun, mungkin Tuhan telah mengabulkan doa-doa Alika selama ini" jawab Kanaya.


"Kakak benar.. Alika sayang kak Kanaya" kata Alika yang langsung memeluk erat Kanaya.


Mereka berdua menjalin persahabatan layaknya seperti saudara. Alika tidak menyangka dirinya bisa sembuh berkat bantuan orang lain bernama Kanaya.


Sebelumnya Alika pernah berputus asa jika dirinya tidak akan pernah sembuh. Bahkan penanganan terbaik pun sudah dilakukan demi kesembuhan Alika.


Setelah beberapa hari, Kanaya berusaha melatih kemampuan psikis kepada Alika. Kanaya berharap agar trauma Alika bisa cepat hilang. Alika sangat trauma dengan api, karena dahulu rumahnya pernah terbakar. Ibunda dari Alika pun tidak terselamatkan, dan Ayah Alika kini sedang stroke.


"Alika, mari ikut kak Kanaya ke belakang halaman rumah sakit" ajak Kanaya sambil menggandeng tangan Alika.

__ADS_1


"Ayo kak" jawab Alika.


Tiba-tiba, Kanaya membawa kayu bakar yang menyala dengan api besar. Sontak Alika langsung takut dan panik melihat api.


"Alika, kamu jangan takut.. Kamu harus berani melihat api ini" ucap Kanaya sambil mendekatkan kayu bakar itu kepada Alika.


"Api.. Api.. Api.. Tolong.. Jangan dekatkan api itu!" teriak Alika.


Arkan yang menjenguk Alika langsung mencari adiknya itu. Arkan mendengar suara Alika menjerit-jerit. Ketika sampai di belakang halaman rumah sakit, Arkan melihat Kanaya mencoba untuk mendekatkan api kepada Alika.


"Jangan lakukan itu kepada adik saya!" teriak Arkan.


Namun, Dokter yang menangani Alika mencegah Arkan yang ingin membawa pergi Alika dari sana.


"Pak Arkan biarkan saja adikmu diberi pengobatan seperti itu, karena hal itulah yang bisa menghilangkan rasa trauma dari adik bapak" ucap Pak Dokter.


"Tetapi Pak Dokter.." kata Arkan.


"Tenang Pak, gadis itu tidak akan menyakiti Alika.. Dia hanya mencoba menyembuhkan trauma api pada Alika" jelas Dokter pada Arkan.


Alika pun masih terus menjerit-jerit karena dihadapannya terdapat api besar. Kemudian Alika pergi mengambil air dan menyiramkannya ke api yang besar. Kanaya sengaja menjauh dan menaruh kayu bakar itu dihadapan Alika.


"Aku akan menyiramnya, api harus mati" kata Alika berbicara pada dirinya sendiri.


"Lihatlah Pak Arkan, Alika sudah berani dengan api, dia berusaha memadamkan api yang mengganggunya" ucap Pak Dokter kepada Arkan sambil melihat reaksi Alika.


Alika akhirnya bisa memadamkan api itu. Di sisi lain, Kanaya sengaja membakar bajunya agar Alika bereaksi terhadapnya dirinya.


"Awas kak Kanaya ada api.." teriak Alika.

__ADS_1


Alika pun langsung menyiram air ke tubuh Kanaya dan berhasil dalam memadamkannya. Kanaya sangat senang karena Alika sudah berani melawan traumanya itu.


__ADS_2