Sebening Embun Cinta Kanaya

Sebening Embun Cinta Kanaya
41. Tak Kunjung Usai


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah Kanaya pulang bekerja, Arkan menjemput Kanaya ke rumahnya untuk mendatangi rumah Dania.


"Kanaya, kamu sudah siap?" tanya Arkan.


"Sudah mas, mari kita berangkat" jawab Kanaya.


"Ayo mas.. Kenapa diam dan senyum-senyum sendiri seperti itu" tanya penasaran Kanaya.


"Kamu hari ini cantik sekali, bagaikan bidadari surga" rayuan gombal Arkan.


"Mulai deh, ayo kita berangkat. Nanti keburu Dania pergi dari rumahnya" jawab Kanaya mengalihkan perhatian Arkan.


"Baik nona cantik, silakan masuk" kata Arkan sambil membukakan pintu mobil untuk Kanaya.


"Sudah sana, jangan senyum-senyum terus" kata Kanaya.


Arkan dan Kanaya pun pergi ke rumah Dania, tampak mobil Dania ada di rumahnya. Sesampainya di rumah Dania, Arkan dan Kanaya langsung memberikan salam di rumah Dania yang tampak sepi itu.


"Assalamualaikum, Dania.." kata Arkan.


"Wa'alaikumsalam, Arkan.. Kenapa kamu ke sini? Kamu berubah pikiran ya untuk menerima cinta aku?" kata Dania yang begitu percaya diri.


"Tidak, saya datang bersama Kanaya ingin menyelesaikan masalah kita bertiga" jawab Arkan.


"Baik, masuklah.." kata Dania mempersilahkan Arkan dan Kanaya masuk ke rumahnya.


"Dania, aku ingin bertanya apa benar kamu selama ini yang meneror aku melalui kurir pengantar paket itu?" tanya Kanaya.


"Iya, kenapa? Kamu tidak suka? Aku melakukan ini karena kamu telah merebut Arkan dari hidupku. Asal kamu tahu Kanaya, dulu kamu menyia-nyiakan Arkan dan tidak ingin memaafkan Arkan. Saat itu, aku mulai ada rasa dan berharap Arkan akan berpaling kepadaku.. Oh, ternyata tidak.. Justru kamu datang tiba-tiba dan merusak kebahagiaan ku dengan Arkan. Kamu benar-benar licik Kanaya!" jawab Dania dengan lantang.


"Cukup Dania! Jangan berkata seperti itu tentang Kanaya, dia adalah cinta pertama saya, sulit bagi saya untuk membuka hati untuk perempuan selain Kanaya. Dia sudah menderita selama menjadi istri saya dan saya tidak akan mengulanginya lagi" jawab Arkan emosi.


"Kenapa Arkan? Kamu dulu terlalu percaya kepada Kanaya, dia sudah mempermainkan hidupmu tetapi kamu selalu membelanya. Aku heran dengan cara pikir kamu, kenapa gadis seperti Kanaya ini harus kamu pertahankan?" tanya Dania yang sangat marah.


"Karena Kanaya berbeda dengan wanita-wanita lain. Dia bagi saya adalah wanita yang sempurna, dia tidak licik seperti kamu Dania.. Saya mohon kepadamu jangan mengganggu kami lagi, saya yakin kamu akan mendapatkan cinta dari laki-laki yang lebih baik dariku" jawab Arkan.


"Ayo Kanaya kita pulang saja, percuma kita berada di sini jika Dania terus menerus menjelek-jelekkan kamu. Biarkan saja Dania seperti ini, yang terpenting kita sudah berusaha untuk damai, namun sikapnya yang seperti anak kecil membuat saya sudah tidak tahan lagi" kata Arkan menggandeng tangan Kanaya untuk pulang.


"Tetapi mas.." ucap Kanaya.


Arkan dan Kanaya pulang dari rumah Dania dan meninggalkan Dania yang sedang marah-marah.

__ADS_1


Arkan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, apalagi dia sangat marah kepada Dania karena telah mengolok-olok Kanaya di depannya.


"Mas, kamu sabar ya.. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja, mungkin Dania masih depresi.. Tolonglah kamu menyetir dengan pelan saja, jangan seperti ini" ucap Kanaya.


Arkan tidak merespon apapun dari Kanaya, dirinya justru meningkatkan kecepatan mobilnya sehingga tidak sengaja mobil Arkan menabrak sebuah pembatas jalan.


"Awas mas Arkan..!!" ucap Kanaya.


"Aaaaa.." kata Arkan teriak.


Mobil Arkan depannya ringsek setelah menabrak pembatas jalan. Kondisi Arkan sangat parah dan bercucuran darah, sedangkan Kanaya terluka bagian kepalanya.


Warga yang melihat langsung menuju lokasi kecelakaan tunggal itu. Arkan dan Kanaya langsung di bawa ke rumah sakit Medika.


Setelah di bawa ke rumah sakit, Arkan dan Kanaya menjalani perawatan intensif oleh Dokter. Kemudian salah satu warga memberitahu anggota keluarga korban dari informasi ponsel.


"Halo, dengan keluarga Pak Arkan dan Bu Kanaya?" ucap warga itu.


"Iya benar, ini siapa ya? Kenapa ponsel anak saya anda yang mengangkatnya?" tanya Ayah Fauzan.


"Benar ini ponsel Pak Arkan, saya warga yang telah membawa anak bapak ke rumah sakit. Anak bapak kecelakaan tunggal, dan kini ada di rumah sakit Medika" ucap warga tersebut.


Ayah dan Alika segera menuju rumah sakit Medika untuk melihat kondisi Arkan. Sesampainya di rumah sakit, ayah menunggu kabar dari Dokter tentang kondisi putranya itu.


"Bagaimana Dok, kondisi anak saya yang bernama Arkan..?" tanya ayah.


"Kedua pasien selamat, untuk pasien perempuan sudah melewati masa kritisnya, sedangkan pasien laki-lakinya masih dalam keadaan koma dan belum sadarkan diri" jawab Dokter.


"Dua pasien?" tanya ayah penasaran.


"Benar, ada dua korban kecelakaan tunggal yang ada di mobil Fortuner itu" jawab Dokter.


"Baik Dok.. terima kasih" kata ayah.


"Sama-sama, untuk pasien perempuan akan segera sadar. Untuk pasien laki-lakinya masih butuh pemantauan selanjutnya, nanti akan saya sampaikan kondisinya" ucap Dokter meninggalkan ruangan Arkan dan Kanaya.


"Baik Dok.." kata ayah.


"Ayah, berarti pasien perempuan itu kak Kanaya.. Apa lebih baik kita lihat saja yah.." ucap Alika.


"Kamu benar nak, mari kita lihat siapa perempuan yang dimaksud" jawab ayah menuju ruangan Kanaya.

__ADS_1


"Ayah.. benar itu kak Kanaya sedang terbaring lemas. Kak Kanaya..." ucap Alika sambil melihat kondisi Kanaya dibaluti perban di kepalanya.


"Kanaya.. Apa yang terjadi dengan mu dan Arkan?" tanya ayah di depan Kanaya yang belum sadarkan diri.


Kanaya tidak menyahutnya, dia masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ayah dan Alika pun menunggu di dalan ruangan Kanaya, karena ruangan Arkan tidak boleh dijenguk dulu.


Setelah 3 jam menunggu di ruangan Kanaya, Kanaya mulai sadarkan diri dan memanggil nama Arkan.


"Mas Arkan.." ucap Kanaya sambil memegang kepalanya yang masih sakit.


"Ayah, kakak sudah sadar.." ucap Alika.


"Benarkah? Alhamdulillah, Kanaya kamu sudah sadar?" kata ayah.


"Sudah ayah, di mana mas Arkan? Apa dia baik-baik saja?" ucap Kanaya yang terlihat kesakitan.


"Arkan masih koma dan belum sadarkan diri. Kamu yang tenang ya, pasti nanti dia akan sadar" jawab ayah.


"Kak Kanaya, sebenarnya ini ada apa? Kenapa kakak bisa kecelakaan seperti ini?" tanya Alika.


"Sebenarnya tadi aku dan mas Arkan pergi ke rumah Dania untuk menyelesaikan masalah kami semua, tetapi mas Arkan emosi karena Dania berusaha menjelek-jelekkan kakak.. Akhirnya mas Arkan pulang dalam keadaan marah dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga tidak terkendali dan menabrak pembatas jalan" jawab Kanaya menjelaskan kejadian sebenarnya.


"Kak Dania yang telah menyebabkan kakakku jadi seperti ini, kakak yang sabar ya.." kata Alika.


Tiba-tiba Dokter datang dan memeriksa kondisi Kanaya.


"Alhamdulillah, pasien sudah sadar dan masa pemulihan terakhir besok ya. Mungkin lusa pasien sudah boleh pulang" kata Dokter.


"Terima kasih Dokter, untuk pasien bernama Arkan bagaimana Dok?" tanya Kanaya.


"Dia masih dalam keadaan lemah, butuh waktu beberapa hari lagi untuk menunggunya sadar kembali" jawab Dokter.


"Baik Dokter.." kata Kanaya pasrah.


Dua hari kemudian, setelah Kanaya dinyatakan sembuh, dirinya diperbolehkan untuk pulang. Namun, Kanaya masih ingin menunggu Arkan yang belum sadarkan diri.


"Ayah, aku ingin di sini menemani mas Arkan.. Aku tidak sanggup melihat mas Arkan terbaring seperti ini" ucap Kanaya sambil melihat Arkan di balik kaca ruangan.


"Ayah mengerti nak, lebih baik kamu pulang dulu karena kamu juga butuh pemulihan di rumah agar kondisi kamu semakin membaik.. Percayalah kepada ayah, Arkan akan baik-baik saja" kata ayah.


Akhirnya Kanaya, Alika, dan ayah pulang secara bersama-sama. Kanaya diminta Ayah Fauzan untuk tinggal sementara di rumahnya, karena Arkan masih di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2