
Keesokan harinya, Kanaya berencana mengikuti Papahnya pergi. Saat di kantor, Kanaya melihat Papah disambut hangat oleh seorang perempuan. Kanaya merasa jika perempuan itu adalah orang yang bersama Papah saat di hotel. Kemudian Kanaya berusaha mengambil foto perempuan itu dan mengirimkan ke Dhivia.
"Halo Dhiv, perempuan ini bukan yang kamu maksud saat di hotel bersama Papah?" tanya Kanaya ditelpon.
"Iya Kan, benar sekali.. itu orangnya" jawab Dhivia.
Tanpa bicara banyak, Kanaya langsung mengikuti Papahnya ke cafe, tempat di mana Mamah Kinanti meninggal.
"Ini kan cafe tempat Mamah meninggal, dan Papah sekarang ada di sini" tanya dalam hati Kanaya.
Kemudian Kanaya bertanya kepada resepsionis tentang Papahnya.
"Permisi mbak, saya mau tanya.. apakah Bapak dan Ibu yang duduk di meja nomor 8 itu berkunjung ke cafe ini setiap hari?" tanya Kanaya.
"Iya mbak, mereka berdua sudah berlangganan di cafe kami, bahkan sudah lama sekitar 2 bulan lebih" jawab resepsionis tersebut.
"Dugaan ku benar selama ini, kematian Mamah ada hubungannya sama Papah dan perempuan itu" gumam Kanaya dalam hati.
"Kalau begitu terima kasih informasinya mbak, saya permisi dulu" ucap Kanaya.
Kanaya pun sengaja duduk di dekat meja nomor 8, agar dia mengetahui apa yang sedang dibicarakan Papahnya dan perempuan itu.
"Mas, aku takut sekali kalau polisi mencurigai kita berdua terkait kematian istri kamu" ucap Bu Rima dengan cemas.
"Kamu tenang aja, istri aku meninggal karena dia punya penyakit keturunan, jadi bukan salah kita berdua" jawab Papah Faris mencoba menenangkan hati Bu Rima.
"Tapi kan mas, istri kamu meninggal karena tahu hubungan kita yang sebenarnya, bahkan dia tahu aku sudah menjadi istri siri kamu" kata Bu Rima.
__ADS_1
Kanaya sontak langsung menggenggam tangan dengan erat, ia mencoba menahan amarahnya.
Kemudian ketika Kanaya ingin menangkap basah Papah dan Bu Rima, tiba-tiba Kanaya mendapat telepon dari kantor polisi.
"Permisi dengan mbak Kanaya putri almarhum Bu Kinanti" kata Pak Polisi.
"Iya Pak Polisi, saya Kanaya.. Ada apa ya, pak?" tanya Kanaya.
"Kami ingin memberitahu tentang kejanggalan dalam kematian Ibu Kinanti, saat olah TKP kemarin, pihak kami menemukan sebuah cincin yang melekat di roti yang Bu Kinanti bawa saat kejadian dan barang bukti tersebut sekarang ada di kantor polisi" jelas Pak Polisi.
"Baik Pak, besok saya akan ke kantor polisi" jawab Kanaya.
Kemudian Kanaya menghampiri Papah dan Bu Rima. Dia telah mengetahui segalanya.
"Oh jadi yang membuat Mamah meninggal ternyata Papah sama tante" ucap Kanaya dengan nada kasar.
"Kanaya.. Sejak kapan kamu di sini?" tanya Papah.
"Kanaya, dengarkan Papah nak..Papah tidak melakukan apapun, Papah hanya bicara jujur kepada Mamah tentang hubungan Papah sama Bu Rima yang sebenarnya" jawab Papah Faris.
"Kanaya benci sama Papah" ucap Kanaya yang langsung meninggalkan cafe itu.
Di rumah Kanaya membuang dan membanting vas bunga sebagai rasa kekecewaannya kepada sang Papah.
"Kenapa Papah tega sama Mamah? Mah, Kanaya janji akan membongkar semua kebusukan Papah dan Tante Rima" ucap Kanaya pada dirinya sendiri.
Satu bulan kemudian..
__ADS_1
Kanaya tidak menuntut Papah dan Bu Rima ke pihak kepolisian karena dia teringat ucapan Mamahnya kalau Kanaya harus selalu berbakti kepada orang tuanya, apapun yang telah terjadi.
Hingga suatu saat, Papah membawa Bu Rima dan Elda ke rumahnya. Papah Faris berniat melamar Bu Rima secara resmi.
"Kanaya sayang, sebelumnya terima kasih karena Kanaya tidak menuntut Papah dan Bu Rima ke penjara" ucap Papah.
"Kanaya melakukan ini hanya demi wasiat Mamah, bukan karena kasihan sama Papah" jawab Kanaya.
"Apapun alasannya, kamu anak yang baik sayang" ucap Papah Faris sambil tersenyum.
"Oh iya sayang, Papah mau memperkenalkan Bu Rima dengan putrinya yaitu Elda" kata Papah.
Kanaya hanya diam dan tidak mau menatap wajah Papahnya.
"Anak Om Faris sombong sekali" gumam Elda di dalam hati.
"Papah ingin minta izin sama kamu Kanaya untuk menikahi Bu Rima secara resmi.. Papah harap kamu bisa menerima Bu Rima sebagai Ibu baru dan menganggap Elda sebagai adik tiri kamu ya" ucap Papah kepada Kanaya.
"Kenapa Papah minta izin? Dulu waktu Papah menikah siri dengan Bu Rima, kenapa tidak minta izin, Pah?" jawab Kanaya dengan nada tinggi.
"Terserah Papah, Kanaya tidak ikut campur urusan Papah" jawab Kanaya.
Setelah meminta izin Kanaya, pernikahan Papah Faris dan Bu Rima digelar. Namun, Kanaya tidak hadir. Ia pergi ke makam Mamah Kinanti bersama dua sahabatnya.
"Mah, akankah hidup Kanaya jadi menderita? Rasanya aneh memiliki Mamah baru, bagi Kanaya tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan posisi Mamah sebagai wanita terhebat yang pernah Kanaya miliki" ucap Kanaya di depan makam Mamahnya.
"Kan, aku yakin kamu bisa kuat dalam menghadapi situasi baru ini.. Masih ada aku sama Dhivia yang selalu ada di samping kamu saat suka maupun duka" kata Aletta sambil memeluk Kanaya.
__ADS_1
"Terima kasih Aletta, Dhivia.. Kalian selalu ada di samping Kanaya selama ini" jawab Kanaya dengan berlinang air mata.
Hari-hari baru Kanaya pun dimulai, kini ia harus siap untuk tinggal satu atap dengan ibu dan adik tirinya. Terlebih lagi kondisi Kanaya semakin memprihatinkan akibat stres yang berlebihan.