Sebening Embun Cinta Kanaya

Sebening Embun Cinta Kanaya
26. Masih Kuat Bertahan?


__ADS_3

Setelah 14 hari koma, Kanaya belum menunjukkan reaksi apapun dari pergerakan tubuhnya. Arkan yang setia menunggu pun khawatir karena istrinya tidak sadar-sadar setelah koma.


"Dok, ini sudah 14 hari istri saya koma.. Kenapa tidak ada tanda-tanda dia sadar?" tanya Arkan yang begitu mencemaskan Kanaya.


"Kondisi seperti sering terjadi di luar dugaan medis, saya harap Pak Arkan tetap bersabar dan terus berdoa yang terbaik untuk istri anda" jawab Dokter.


Malam harinya, ketika Arkan sedang mengaji di samping Kanaya, Kanaya mulai sadar dan menggerakkan tangannya.


"Mas Arkan.." ucap Kanaya yang masih lemas.


"Kanaya.. Alhamdulillah kamu sudah sadar, sebentar saya panggil Dokter.." ucap Arkan.


"Dokter, Dokter.." teriak Arkan memanggil Dokter yang menangani Kanaya.


"Permisi Pak, saya akan memeriksa kondisi istri anda" kata Dokter.


Dokter mengecek kondisi Kanaya sesudah sadar dari koma yang cukup lama.


"Pak Arkan, kondisi pasien sudah stabil dan berhasil melewati masa kritisnya saat koma" ucap Dokter.


"Alhamdulillah, terima kasih Dok.." jawab Arkan bahagia.


Dokter pun meninggalkan Arkan dan Kanaya di ruang rawat. Kemudian Arkan memulai pembicaraan dengan hangat kepada Kanaya.


"Kanaya, anda sudah sadar? Maafkan saya, akibat ulah saya seperti anak kecil, anda yang terkena imbasnya seperti ini.. Maafkan saya Kanaya.." ucap Arkan menyesali perbuatannya.


"Mas Arkan, aku tidak marah sama sekali sama kamu mas.. Aku yang salah telah mengungkit sebuah kata yang membuatmu terluka" jawab Kanaya.


"Saya janji, tidak akan pernah menyakitimu lagi.. Saya akan selalu menjaga anda seperti saya menjaga keluarga saya" kata Arkan sambil memegang tangan Kanaya.


"Kamu tidak perlu seperti itu mas.. Trauma itu dilatih untuk sembuh bukan dilatih untuk paksaan, aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini mas.. Ini hanya soal waktu saja" jawab Kanaya sambil mengusap air mata Arkan.


Kemudian Alika dan ayah Fauzan datang menjenguk Kanaya..


"Kakak.. Alika rindu sekali dengan kak Kanaya. Kaka bagaimana keadaanmu?" tanya Alika yang langsung memeluknya kakak iparnya itu.


"Hai Alika sayang, kakak juga rindu sama Alika.. Alhamdulillah, kakak sudah lebih baik sekarang" jawab Kanaya.


"Ini pasti karena kak Kanaya selalu ditunggu kak Arkan.. Asal kak Kanaya tahu, kak Arkan bahkan tidak pulang sama sekali, dia makan dan tidur di rumah sakit menunggu kak Kanaya sampai sadar" ucap Alika menggoda kakak iparnya.


"Alika, kamu kenapa bicara seperti itu, buat malu kakak saja" jawab Arkan yang terlihat kesal digoda adiknya.


"Bercanda kak Arkan.." ucap Alika tertawa.


"Kanaya, kamu sudah lebih baik nak?" tanya ayah Fauzan.


"Alhamdulillah ayah, Kanaya sudah jauh lebih baik hanya saja kepala Kanaya masih sedikit sakit" jawab Kanaya.

__ADS_1


"Arkan, lihat itu perbuatan mu kepada Kanaya, dia jadi menderita seperti ini" kata ayah memarahi Arkan.


"Iya ayah, Arkan sudah minta maaf kepada Kanaya" ucap Arkan.


"Sudah ayah, ini semua bukan kesalahan mas Arkan.. Ini sudah menjadi takdir Tuhan" ucap Kanaya kepada ayah yang terlihat kesal kepada Arkan.


Tiga hari kemudian, Kanaya diperbolehkan pulang oleh Dokter. Dua minggu sekali Kanaya harus kontrol kondisi kesehatannya pasca operasi.


"Mari genggam tangan saya, saya akan mengantar anda pulang" ucap Arkan sambil menyodorkan tangannya kepada Kanaya.


"Makasih mas.." jawab Kanaya tersenyum bahagia.


Setelah sampai rumah, Arkan meminta Kanaya untuk tidur dan beristirahat di kamar Arkan sendiri.


"Lebih baik anda tidur di kamar saya sementara waktu sampai kondisi anda sembuh total, nanti saya akan tidur di sofa saja" pinta Arkan sambil menuntun Kanaya menuju kamarnya.


"Baiklah mas jika itu keputusan mu" jawab Kanaya.


Arkan dan Kanaya tidur dalam satu kamar, Kanaya berada di tempat tidur sedangkan Arkan berada di sofa kamarnya.


Suasana dingin menyelimuti sekeliling rumah Arkan karena derasnya hujan dari pagi hingga malam tiba pun belum reda.


Arkan yang sudah tertidur pulas tampaknya dia tidak nyaman karena merasa kedinginan. Kanaya yang melihatnya langsung memberikan selimut kepada Arkan.


"Kasihan mas Arkan dari tadi ia merasa kedinginan.. Biar ku ambilkan selimut" ucap Kanaya sambil membawa selimut untuk Arkan.


Keesokan harinya, Arkan bangun dan terkejut melihat selimut ada dihadapannya.


"Kemarin saat saya tidur, saya tidak menggunakan selimut.. Lalu siapa yang memberiku selimut?" tanya Arkan pada dirinya sendiri.


Saat Arkan selesai mandi, dirinya mendengar suara dari arah dapur.


"Siapa yang sedang memasak di dapur? Apa mungkin Kanaya? Dia kan belum sembuh total, coba akan ku lihat" ucap Arkan.


Arkan menuju ke dapur dan mendapati Kanaya sedang memasak untuk sarapan pagi.


"Kanaya, anda kan masih belum sembuh, jadi tolong berhenti memasak.. Nanti kalau sakit, saya lagi yang repot, saya lagi yang dimarahi ayah" ucap Arkan kepada Kanaya.


"Iya mas, sebentar.. Ini sudah selesai, sekarang kamu makan ya.. Kamu mau kan makan masakan aku?" tanya Kanaya.


"Nanti kalau saya tolak, kasihan dia sudah kecapekan.. Sudahlah saya terima saja, apalagi masakan Kanaya lezat sekali" ucap Arkan dalam hatinya.


"Iya, saya akan makan masakan anda" jawab Arkan sambil menuju meja makan.


Arkan dan Kanaya makan bersama di meja makan, keduanya terlihat sangat akur dan harmonis.


"Kanaya, apa perlu saya menyewa asisten rumah tangga untuk membantu anda mengurus rumah ini? Sekarang kondisi anda juga masih lemah.." tanya Arkan.

__ADS_1


"Tidak perlu mas.. Aku yakin sebentar lagi aku akan sembuh dan bisa mengurus semuanya sendiri" jawab Kanaya.


"Tetapi jangan terlalu capek, ingat kondisi anda saat ini" kata Arkan sambil bersiap-siap pergi ke kantor.


Arkan pun pamit kepada Kanaya untuk pergi bekerja. Arkan berpesan jika butuh sesuatu untuk segera menghubungi dirinya.


"Saya berangkat dulu, jangan lupa obatnya diminum" ucap Arkan.


"Baik mas, hati-hati di jalan ya.." jawab Kanaya sambil mencium tangan Arkan.


Di kantor, Arkan begitu sibuk dengan pekerjaannya sebagai pengusaha batubara. Tiba-tiba, Arkan kedatangan tamu yang ingin berjumpa dengannya.


"Selamat pagi Pak Arkan, ada yang ingin bertemu dengan bapak" ucap salah satu pegawainya.


"Suruh mereka masuk saja" jawab Arkan.


Tamu itu datang menemui Arkan di ruangannya, ternyata mereka adalah Andi dan Rizal, teman SMA Arkan yang sudah lama tidak berjumpa.


"Halo Arkan, apa kabar pak bos.." ucap teman Arkan bernama Andi.


"Andi ya.. Alhamdulillah saya baik Ndi.. Kamu apa kabar?" kata Arkan sambil memeluk sahabat karibnya.


"Alhamdulillah aku baik juga, oh iya Arkan.. Aku dengar kamu sudah menikah baru-baru ini kan?" tanya Andi.


"Benar sekali, memang mendadak saat itu juga" jawab Arkan.


Ketika mereka sedang berbincang tentang masa SMA nya, Rizal bertanya kepada Arkan tentang sebuah foto yang ada di meja kerja Arkan.


"Kan, itu foto istri kamu?" tanya Rizal.


"Iya, ini istri saya bernama Kanaya" jawab Arkan.


"Kanaya Alodya bukan?" tanya Rizal yang penasaran.


"Iya benar, kamu kenal istri saya?" tanya Arkan kembali.


"Iya kenal sekali, dia itu temanku saat S2 di Jerman. Kita saling kenal karena jurusan kami saat itu sama yaitu ilmu hukum, dan aku baru tahu kalau dia dari Indonesia juga.. Namun, Kanaya menunda mimpinya karena orangtuanya saat itu sakit" kata Rizal.


"Kanaya orangnya bagaimana menurut kamu Zal..?" tanya Arkan.


"Kalau ditanya sikapnya, Kanaya orang yang sangat baik kepada semua orang. Kanaya gadis yang sangat ramah, dan suka menolong tanpa memandang status.. Dulu pernah, aku sedang tidak ada uang dan tiba-tiba Kanaya meminjamkan uangnya kepadaku, padahal kita belum kenal sebelumnya namun rasa kepercayaan Kanaya begitu besar kepada orang lain. Saat aku ingin membayar uang pinjaman dari Kanaya, dia menolak dan tidak ingin aku untuk mengungkitnya kembali.." cerita Rizal tentang sifat Kanaya kepada Arkan dan Andi.


"Sampai aku pernah berharap bisa menjalin hubungan serius dengan Kanaya, tetapi aku berpikir belum pantas mendapatkan gadis seperti Kanaya. Laki-laki yang mendapatkan cinta Kanaya adalah laki-laki yang sangat beruntung karena memiliki istri dengan sejuta kasih sayang.. Kamu beruntung sekali Arkan, jangan sampai kamu menyia-nyiakannya" ucap Rizal kembali.


"Begitu sempurnanya Kanaya di mata seorang laki-laki seperti Rizal.. Tetapi saya terkadang membuat Kanaya hancur dan kecewa dengan sikap saya" ucap Arkan dalam hati.


"Pastinya, Kanaya akan menjadi tanggung jawab saya sekarang" ucap Arkan.

__ADS_1


Andi dan Rizal pun tersenyum melihat temannya kini sudah mengenal sebuah cinta dari sosok Kanaya. Karena Arkan dari dulu memiliki sifat yang acuh tak acuh kepada setiap perempuan.


__ADS_2