
Di pagi hari, ketika Kanaya ingin berangkat bekerja tiba-tiba Alika datang menemuinya.
"Alika? Ada apa? Jangan-jangan kemarin yang mencari aku itu kamu ya, kata tetangga ku pakai mobil warna kuning" tanya Kanaya.
"Iya kak, ada yang ingin aku bicarakan, ini soal kak Dania" jawab Alika.
"Bagaimana ya? Hari ini kakak harus bekerja, karena ini hari pertama kakak. Apa nanti kakak kabarin lagi setelah kakak pulang dari kantor pengadilan?" ucap Kanaya.
"Baiklah kak tidak apa-apa. Kak Kanaya ini mobil siapa?" tanya Alika sambil melihat sebuah mobil berwarna putih.
"Itu mobil mendiang papah kakak, daripada menganggur di rumah lebih baik kakak pakai saja untuk bekerja" jawab Kanaya.
"Baik kak, hati-hati ya. Alika pamit ya.." ucap Alika sambil berpelukan kepada Kanaya.
"Maaf ya Alika, kakak jadi tidak bisa bertemu denganmu sekarang" ucap Kanaya.
"Sudah kak, tidak apa-apa. Lebih baik kakak berangkat sekarang, nanti terlambat" kata Alika.
Alika dan Kanaya pun pergi dalam urusan masing-masing. Ketika di perjalanan, Kanaya ditelepon oleh pengacaranya soal rumah mendiang papah dan mamahnya yang akan dibangun sebuah panti asuhan.
"Selamat pagi Mba Kanaya, saya ingin memberitahu jika surat-surat mengenai pengalihan aset sudah selesai semua, tinggal menunggu waktu peresmian dari pihak yang terkait" kata pengacaranya.
"Baik Pak.. Terima kasih atas informasinya, jika memang dibutuhkan saya siap membantu untuk mengurus segalanya" jawab Kanaya.
"Sama-sama Bu.." ucap pengacara Kanaya.
Siang harinya, Kanaya pulang dan segera memberitahu kepada Alika bahwa dirinya sudah berada di rumah.
"Alika sayang, ini aku sudah perjalanan pulang. Jika kamu ingin ke rumah sekarang tidak apa-apa" ucap Kanaya.
"Baik kakak, Alika akan segera ke rumah kak Kanaya" jawab Alika.
Kanaya pun sampai di rumahnya dan segera membersihkan diri setelah bekerja di hari pertamanya.
"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa bekerja kembali untuk biaya hidupku sehari-hari. Entah bagaimana nasibku jika aku tidak bekerja, apalagi hubungan ku dengan mas Arkan renggang kembali akibat ulah mas Arkan juga" kata Kanaya sambil menunggu Alika di ruang tamu.
Selang beberapa menit kemudian, mobil Alika datang ke rumah Kanaya.
"Assalamualaikum kak Kanaya.." ucap Alika.
"Wa'alaikumsalam Alika, masuk sini" jawab Kanaya.
"Sebentar ya kakak buatkan teh" ucap Kanaya menuju ke dapur.
__ADS_1
Setelah membuatkan teh, Kanaya mulai bertanya kepada Alika hal penting apa yang ingin disampaikan kepadanya.
"Ada apa Alika? Kata kamu ada hal penting yang harus dibicarakan sama kakak?" tanya Kanaya.
"Kak, kemarin aku sempat membuntuti kak Dania menuju ke suatu tempat, dan tempat itu ternyata kantor pemaketan. Alika masuk ke kantor itu dan melihat kak Dania sedang bicara dengan seseorang. Alika berusaha merekam pembicaraan mereka, ini kak videonya" jawab Alika sambil memperlihatkan video kepada Kanaya.
Kanaya pun mulai melihat video dari Alika, dan Kanaya juga mulai meneteskan air mata karena telah menyalahkan sepenuhnya kepada Arkan.
"Kakak tidak menyangka jika Dania setega itu kepada kakak dan mas Arkan. Kakak sudah salah paham sama mas Arkan" ucap Kanaya.
"Sudahlah kak, lagi pula ini kesalahan kak Dania karena jelas-jelas kak Arkan tidak mencintainya, namun kak Dania memaksakan cintanya yang bertepuk sebelah tangan" jawab Alika sambil memeluk Kanaya.
"Nanti malam kakak akan ke rumah kamu ya, kakak ingin memperbaiki kesalahan kakak kepada mas Arkan. Terima kasih Alika sayang, kamu selalu membantu kakak dalam setiap masalah, kakak benar-benar beruntung bisa memiliki adik sepertimu" kata Kanaya.
"Sama-sama kak, Alika akan berbuat apapun itu demi kebahagiaan kak Kanaya dan juga kak Arkan.. Kak, Alika pamit pulang ya, aku tunggu kedatangan kakak nanti malam" jawab Alika.
"Iya Alika adikku yang paling cantik" kata Kanaya sambil mencubit gemas pipi Alika.
Alika pun pulang, dan Kanaya merasa lebih tenang karena selama ini telah berburuk sangka kepada Arkan.
"Ternyata, yang meneror aku selama ini itu Dania. Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa Dania tega melakukan kepadaku, tetapi cara Dania juga salah dalam mencintai mas Arkan" kata Kanaya berbicara sendiri.
"Apa aku telepon Dania saja ya?" kata Kanaya.
"Laporkan saja, aku tidak pernah takut. Yang terpenting saat ini, kamu harus menyerahkan Arkan kepadaku, jika tidak kamu akan menerima akibatnya lebih buruk dari teror kemarin" jawab Dania sambil mengancam.
"Dania kamu tidak boleh memaksakan sebuah cinta, aku yakin kamu pasti mendapatkan cinta sejati mu suatu saat nanti" ucap Kanaya.
"Kamu tidak berhak mengatur hidupku, sekali aku bilang mencintai Arkan akan tetap untuk selama-lamanya. Aku akan menghalalkan segala cara demi mendapatkan Arkan dan merebutnya dari kamu Kanaya.." jawab Dania yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Halo Dania, halo.. Yah, ternyata dimatikan oleh Dania" kata Kanaya berusaha menghubungi Dania lagi.
Malam harinya, Kanaya menuju rumah Arkan...
"Assalamualaikum.." ucap Kanaya.
"Wa'alaikumsalam, Kanaya.. Mari masuk nak, kamu tidak bilang-bilang jika mau ke sini.." jawab Ayah Fauzan.
"Iya ayah, tadi Kanaya sudah memberitahu Alika jika Kanaya akan ke sini di malam hari untuk bertemu mas Arkan" kata Kanaya
"Baiklah nak, Arkan sedang mandi, dia baru saja pulang dari kantornya" ucap ayah tersenyum.
"Kak Kanaya.. Akhirnya kakak ke sini juga.." ucap Alika yang tiba-tiba datang.
__ADS_1
"Alika.." jawab Kanaya bahagia.
Tiba-tiba Arkan datang ke ruang tamu dan menemui Kanaya.
"Kanaya.. Ada apa? Kamu bukannya.." ucap Arkan terkejut melihat Kanaya datang.
"Tidak mas, aku tidak marah kepadamu. Justru aku ke sini ingin berbicara sesuatu yang penting sama kamu" kata Kanaya.
"Kalau begitu, ayah dan Alika ke ruang keluarga saja ya.. Kalian berdua selesaikan masalah yang ada di ruang tamu ini" kata ayah pergi meninggalkan Arkan dan Kanaya.
"Bicara apa Kanaya?" tanya Arkan.
"Mas, aku minta maaf ya telah salah paham dengan mu. Ternyata semua kesalahpahaman kita itu ulah dari Dania. Bahkan aku tadi siang baru tahu yang telah meneror aku selama ini itu Dania" kata Kanaya.
"Teror? Sejak kapan kamu diteror? Kenapa kamu tidak menceritakan hal ini kepada saya?" tanya Arkan mulai cemas.
"Aku tidak ingin membuat kamu menjadi cemas karena ku, aku sudah cukup membuat mu kecewa karena diriku" jawab Kanaya.
"Diteror bagaimana?" tanya Arkan.
"Melalui sebuah paket, dan isinya tentang ancaman jika aku tidak segera menjauhi kamu maka aku akan terancam" jawab Kanaya dengan wajah yang berkaca-kaca.
"Dania.. Kenapa dia menjadi seperti ini, padahal dulu dia baik ke semua orang" kata Arkan.
"Mas, apa kamu mencintai Dania?" tanya Kanaya.
"Kanaya, saya hanya mencintaimu. Dania hanya sebatas teman saya, bahkan dia saya anggap sebagai adik sendiri" jawab Arkan meyakinkan hati Kanaya.
"Aku takut mas jika Dania berbuat nekat sama aku atau kamu" kata Kanaya.
"Kamu tenang ya, biar urusan Dania akan saya selesaikan secara damai. Besok kamu ikut saya bertemu Dania, kamu bisa?" tanya Arkan.
"Besok aku harus bekerja mas, paling tidak di atas jam 12 siang aku bisa" jawab Kanaya.
"Kamu bekerja di mana? Kenapa saya baru tahu?" ucap Arkan.
"Aku bekerja sebagai Pegawai Yudisial di Pengadilan Negeri Bandung mas.. Dulu, aku juga pernah bekerja di sana, karena dulu aku sempat depresi jadi aku memutuskan untuk berhenti dan kini aku lanjut untuk bekerja kembali" jawab Kanaya.
"Saya semakin kagum dengan kamu Kanaya, kamu perempuan yang mandiri" ucap Arkan sambil memandangi wajah Kanaya.
"Aku dari dulu diajarkan untuk mandiri agar tidak bergantung kepada orang lain mas.. Sekarang aku juga beruntung dapat bertemu dengan laki-laki sebaik dirimu" jawab Kanaya.
Kanaya dan Arkan saling memuji satu sama lain dan saling menguatkan dalam menghadapi permasalahan yang kini sedang menimpa mereka.
__ADS_1