Sebening Embun Cinta Kanaya

Sebening Embun Cinta Kanaya
22. Munculnya Sebuah Fakta


__ADS_3

Setelah beberapa jam menuju Taman Mezzo, Kanaya berhasil menemukan keberadaan Arkan. Benar saja, Arkan terlihat sangat sedih dan duduk merenung seorang diri.


"Mas Arkan.." ucap Kanaya.


"Kenapa anda ke sini? Pergi sana! Nanti sakit lagi, yang disalahkan juga saya" jawab Arkan dengan ketus.


"Aku mau mengajak kamu pulang mas.. Aku khawatir karena kamu tidak pulang-pulang.." kata Kanaya.


"Nanti saya akan pulang sendiri, sekarang kamu pulang saja dulu, saya akan menyusul" ucap Arkan.


"Baiklah mas, cepat pulang ya aku tunggu di rumah" jawab Kanaya dengan tersenyum.


Ketika Arkan menuju mobilnya, tiba-tiba ada sebuah kendaraan melaju kencang yang akan menabrak Arkan. Kanaya yang melihatnya bergerak cepat melindungi Arkan.


"Awas..!! Mas Arkan.." kata Kanaya berlari menyelamatkan diri Arkan dari hempasan kendaraan yang melintas.


Kanaya berhasil menyelamatkan Arkan, mereka berdua terjatuh di pinggir jalan.


"Mas.. Kamu tidak apa-apa? Ada yang luka atau tidak?" tanya Kanaya cemas.


"Tidak apa-apa, terima kasih sudah menolong saya" jawab Arkan.


Mereka akhirnya pulang ke rumah, sesegera Kanaya mengambil kotak obat untuk mengobati luka Arkan saat jatuh tadi.


"Kanaya perempuan yang sangat baik, tetapi kenapa hatiku buta untuk melihat ketulusan Kanaya selama ini" ucap Arkan dalam hatinya sambil melihat Kanaya yang sedang mengobati lukanya.


"Mas.. Sudah selesai, kamu istirahat ya.. Aku mau masak di dapur, kalau kamu butuh bantuan tinggal panggil aku saja mas.." kata Kanaya menuju ke dapur untuk memasak.


"Iya.. Iya, sana ke dapur.. Saya mau tidur" jawab Arkan dengan nada tinggi.


Keesokan harinya ketika Arkan pergi ke kantor, Kanaya secara diam-diam pergi ke kantor polisi untuk mengusut tuntas kasus bunga misterius yang ada di gudang rumah mendiang Papahnya.


"Maafkan aku mas Arkan.. Aku terpaksa bohong, aku harus mencari tahu kenapa Papah meninggal dengan cara tidak wajar" kata Kanaya bergegas untuk pergi sambil menunggu taksi.


Setiba di kantor polisi, ia menanyakan kasus di Jogjakarta sekitar 2 tahun lalu dengan motif yang sama yaitu tentang cairan bunga Wisteria.


"Pak, apakah betul di daerah Jogjakarta sekitar 2 tahun yang lalu ada kasus seseorang meninggal akibat racun dari bunga berbahaya?" tanya Kanaya.


"Sebentar Bu.. Saya akan coba melihat daftar kasus di Jogjakarta" jawab Pak Polisi.


Setelah Pak Polisi melihat daftar-daftar sebuah kasus, Pak Polisi belum menemukan kasus dari bunga yang berbahaya. Kemudian Pak Polisi mencoba menghubungi pihak kepolisian yang ada di Jogjakarta, dan ternyata ada sebuah informasi yang di dapat dari pihak kepolisian Jogjakarta.

__ADS_1


"Bu Kanaya, menurut pencatatan kasus di Jogjakarta memang ada kejadian yang menimpa seorang laki-laki berusia 48 tahun yang meninggal akibat meminum racun dari ekstrak bunga Wisteria" ungkap pihak kepolisian kepada Kanaya.


"Bunga Wisteria?" tanya Kanaya penasaran.


"Benar Bu.. Ada yang ingin ibu sampaikan lagi kepada kami?" tanya Pak Polisi.


"Tidak Pak, terima kasih atas informasi yang bapak berikan. Saya permisi.." kata Kanaya keluar dari kantor polisi dan segera pulang ke rumahnya.


Saat di rumah Kanaya terus memikirkan apa yang dikatakan pihak kepolisian soal kasus di Jogjakarta. Saat Arkan pulang, Kanaya membicarakan sesuatu kepada suaminya.


"Mas Arkan.. Aku boleh bicara sesuatu?" tanya Kanaya sedikit gugup.


"Silakan.." jawab Arkan dengan singkat.


"Mas.. Aku minta izin buat ke Jogjakarta kurang lebih selama 3 hari boleh?" tanya Kanaya pelan.


"Buat apa? Mau shopping?" jawab Arkan.


"Shopping? Mas, aku aja di rumah tidak pernah shopping.. Kamu sudah mengira yang bukan-bukan.. Sebenarnya aku ke Jogjakarta ada urusan sebentar, boleh ya mas?" tanya Kanaya lagi.


"Iya.. Iya.. Boleh, daripada cerewet lebih baik aku izinkan" kata Arkan dengan wajah datar.


"Apa mas? Terima kasih ya.. Aku bahagia sekali" teriak Kanaya yang begitu bahagia.


Arkan pun mengizinkan Kanaya pergi ke Jogjakarta. Besoknya, Kanaya langsung pergi ke Jogjakarta bersama Aletta. Aletta datang ke rumah Kanaya..


"Kanaya, aku Aletta.. Aku sudah datang" ucap Aletta di depan pintu rumah suami Kanaya.


Ternyata pintu itu dibuka oleh Arkan, Aletta pun terkejut melihat wajah suami sahabatnya yang begitu datar dan jutek.


"Kamu siapa?" tanya Arkan.


"Saya Aletta, sahabatnya Kanaya. Kanaya ada?" ucap Aletta.


Tiba-tiba Kanaya datang menghampiri, "Aletta mari masuk, aku masih mempersiapkan semuanya, tunggu ya".


"Kanaya, saya berangkat dulu ya. Hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa kabari saya" kata Arkan sambil berjalan menuju garasi mobil.


"Iya mas Arkan, hati-hati juga" ucap Kanaya yang sedang ada di dapur.


Kemudian Kanaya menghampiri Aletta di ruang tamu dengan menyiapkan beberapa hidangan.

__ADS_1


"Kan.. Seriusan itu suami kamu, Arkan?" tanya Aletta penasaran.


"Iya dia mas Arkan, ada apa?" jawab Kanaya.


Sambil menyantap hidangan, Aletta berkata, "Suami kamu ganteng sekali, tinggi, keren, tetapi.. dia kenapa berwajah datar ya? Kelihatannya dia suka marah-marah ya, tadi aku sempat sedikit takut melihat wajahnya, walaupun ganteng tetapi ada aja minusnya".


Kanaya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Aletta yang baru pertama melihat suaminya.


"Kamu lucu sekali Aletta, dia memang seperti itu sifatnya. Tetapi dia sangat peduli terhadap semua orang" jawab Kanaya.


Setelah berbincang-bincang, Kanaya dan Aletta pergi ke Jogjakarta. Sesampainya di sana, mereka menginap di sebuah hotel.


Keesokan harinya, Kanaya dan Aletta menuju kantor kepolisian Jogjakarta.


"Permisi Pak, saya mau bertanya tentang sebuah kasus seorang laki-laki berusia 48 tahun yang meninggal akibat meminum racun dari ekstrak bunga Wisteria.. Kejadiannya sekitar 2 tahun yang lalu" ucap Kanaya.


"Mohon maaf, kalau boleh kami tahu untuk keperluan apa saudari menanyakan kasus ini?" ungkap Kepolisian.


"Jadi seperti ini Pak.. Di daerah saya di Bandung itu juga ada motif seperti kasus di Jogjakarta saat 2 tahun yang lalu mengenai bunga Wisteria. Maka dari itu, saya ingin menggali informasi mengenai kasus yang sama" kata Kanaya.


"Baik, saya akan menjelaskan peristiwa tersebut" kata Pak Polisi.


"Sekitar 2 tahun yang lalu, di daerah Jogjakarta sini memang ada kasus pembunuhan berencana menggunakan bunga Wisteria. Laki-laki yang berusia 48 tahun itu bernama Bapak Doddy Wijaya. Kami telah mengetahui siapa pembunuh Bapak Doddy, yaitu istrinya bernama Bu Rima Saraswati" ungkap Pak Polisi kepada Aletta dan Kanaya.


"Bu Rima Saraswati?" tanya Kanaya.


"Benar mba.. Namun, kami kehilangan jejak Ibu Rima. Menurut warga sekitar, Bu Rima telah melarikan diri ke luar negeri, sehingga kami berhenti melakukan pencarian. Pihak keluarga Bapak Doddy juga telah mengikhlaskan kepergian almarhum" jawab Pak Polisi.


"Sebentar Pak, apakah ini perempuan yang bernama Bu Rima Saraswati?" tanya Kanaya sambil menunjukkan foto Mamah Rima kepada polisi.


"Iya benar mba, ini wanita yang menjadi buronan kami selama selama masa pencarian saat itu" kata Pak Polisi.


"Pak.. Saya akan membantu kepolisian untuk menangkap Bu Rima. Bu Rima adalah ibu tiri saya, dan dia juga yang telah membunuh papah saya dengan cairan bunga Wisteria itu ke dalam teh" ucap Kanaya.


"Mba tahu keberadaan Bu Rima saat ini?" tanya Pak Polisi.


"Saya tahu Pak, beliau ada di Bandung sekarang" jawab Kanaya.


"Baik, laporan anda saya terima. Saya akan mengirim pihak kepolisian ke Bandung untuk menggeledah bunga berbahaya itu dan menangkap Bu Rima" kata Pak Polisi.


"Iya Pak, sekali lagi terima kasih atas kerjasamanya" jawab Kanaya sambil berjabat tangan dengan kepolisian.

__ADS_1


"Benar dugaan ku, Mamah Rima dan Elda memang berasal dari Jogjakarta" gumam Kanaya dalam hati.


Kanaya dan Aletta langsung menuju ke Bandung bersama pihak kepolisian dari Jogjakarta. Nantinya pihak kepolisian Jogjakarta akan bekerjasama dengan kepolisian di Bandung untuk mengupas tuntas kasus yang sangat misterius ini.


__ADS_2