
Pada hari minggu, Arkan membawa Kanaya untuk kontrol ke rumah sakit. Arkan selalu siap siaga untuk memberikan pengobatan yang terbaik untuk Kanaya, karena bagaimanapun juga Arkan yang telah menyebabkan Kanaya celaka.
"Kanaya, hari ini jadwal anda kontrol.. Cepat bersiaplah untuk ke rumah sakit dengan saya" ucap Arkan sambil bersiap-siap.
"Baik mas, tunggu sebentar" jawab Kanaya.
Arkan dan Kanaya pun pergi ke rumah sakit untuk mengontrol kondisi Kanaya. Kemudian saat di mobil, Arkan bertanya sesuatu kepada Kanaya.
"Anda mengenal Rizal?" tanya Arkan penasaran.
"Rizal teman kuliah aku di Jerman?" tanya Kanaya lagi.
"Iya, anda temannya kan?" tanya Arkan kembali.
"Iya mas, dia Rizal teman aku saat kuliah S2 di Jerman.. Kamu kenal juga mas?" ucap Kanaya.
"Dia itu teman SMA aku, memang dia dulu saat kuliah mengambil jurusan hukum" kata Arkan.
"Iya mas, Rizal itu orangnya sangat baik.. Aku beruntung bisa bertemu dengan Rizal, anaknya sangat ramah ke semua orang" ucap Kanaya.
"Sudah.. Tidak perlu membanggakan Rizal di depan saya, saya ini suami anda.. Harusnya anda menghargai saya" kata Arkan yang terlihat cemburu saat Kanaya memuji sifat Rizal.
"Bilang saja mas cemburu kan?" tanya Kanaya menggoda suaminya.
"Siapa bilang, saya tidak mencintai anda.. Ingat kurang beberapa bulan kita akan bercerai" kata Arkan.
"Baiklah mas.." ucap Kanaya pasrah.
Sesampainya di rumah sakit, Kanaya masuk ruang rawat untuk mengetahui kondisinya pasca operasi. Arkan menunggu di ruang tunggu pasien.
Setelah 1 jam pemeriksaan, Kanaya keluar dari ruangannya dan Dokter berpesan kepada Arkan jika Kanaya sudah tidak perlu kontrol karena sudah sembuh.
"Terima kasih Pak Dokter, sudah memberikan yang terbaik untuk istri saya" ucap Arkan.
"Sama-sama Pak Arkan, kalau begitu saya permisi dulu" jawab Dokter.
Arkan dan Kanaya pulang, namun Arkan berniat untuk mengajak Kanaya ke panti jompo tempat Bu Hamidah berada yang sudah begitu dekat dengan Arkan.
"Setelah ini, saya akan membawa anda bertemu seseorang di panti jompo" tutur Arkan.
"Seseorang? Siapa mas? Dan kenapa ada di panti jompo?" tanya Kanaya.
__ADS_1
"Sudah anda diam saja, nanti lihat sendiri, jangan banyak tanya.." ucap Arkan.
Kanaya pun pasrah dan ketika sampai di panti jompo, terlihat Bu Hamidah sedang duduk-duduk sendiri di teras panti.
"Bu Hamidah.. Apa kabar?" tanya Arkan yang langsung memeluk Bu Hamidah.
"Alhamdulillah ibu baik nak.. Ini siapa Arkan?" tanya Bu Hamidah.
"Ini istri saya bu, Kanaya yang pernah saya ceritakan waktu itu" jawab Arkan.
"Assalamualaikum Bu.. Saya Kanaya istrinya mas Arkan" ucap Kanaya dengan nada lembut.
"Wa'alaikumsalam, saya Bu Hamidah. Mari masuk nak, akan ibu buatkan teh untuk kalian" ucap Bu Hamidah.
"Iya Bu.. Terima kasih kembali" ucap Arkan dan Kanaya.
Arkan dan Kanaya pun masuk ke panti jompo itu dan berbincang-bincang dengan Bu Hamidah.
"Arkan, istrimu sangat cantik dan baik hati" kata Bu Hamidah memuji Kanaya.
"Ibu bisa saja, semua perempuan itu cantik sama seperti ibu.." jawab Kanaya.
Setelah berbincang-bincang cukup lama tentang kehidupan, Arkan dan Kanaya pamit untuk pulang.
"Iya nak, sering-seringlah ke sini, ibu akan merasa tenang jika kamu dan Arkan berkunjung ke panti jompo ini" ucap Bu Hamidah.
Setelah berpamitan, Arkan dan Kanaya pulang. Sesampainya di rumah, Arkan menyuruh Kanaya untuk beristirahat.
"Anda istirahat saja, saya ingin bertemu ayah.. Jika anda perlu bantuan saya, saya ada di kebun belakang rumah bersama ayah" ucap Arkan kepada Kanaya.
"Baik mas.." jawab Kanaya.
Di malam hari, tiba-tiba lampu padam seketika. Arkan yang sangat takut kegelapan pun memanggil-manggil nama Kanaya.
"Kanaya, anda dimana? Saya takut gelap ini, bawakan lilin kemari" ucap Arkan di kamarnya.
"Iya mas, sebentar" jawab Kanaya sambil membawa lilin ke kamar Arkan.
"Syukurlah ada lilin juga ternyata, saya takut sekali" ucap Arkan sambil menerima lilin dari Kanaya.
"Kamu takut gelap sejak kecil mas?" tanya Kanaya di tengah kegelapan.
__ADS_1
"Iya.. Kenapa? Mau menertawakan saya karena takut gelap?" ucap Arkan dengan nada ketus.
"Tidak, aku hanya ingin tahu saja. Iya sudah mas, aku ke kamar dulu ya" kata Kanaya.
"Anda tidak takut sendirian di kamar di tengah lampu yang padam?" tanya Arkan berusaha mencegah Kanaya pergi.
"Tidak, karena ada lilin yang akan menemani ku" jawab Kanaya.
"Tetap saja gelap namanya juga lampu padam, lilin hanya untuk penerangan sementara, harusnya anda takut" kata Arkan.
"Bagiku sekalipun kegelapan selalu menghampiri, aku akan melawannya dengan cahaya kasih sayang, lilin bukan hanya sebagai penerang saja tetapi bisa menjadi penenang hati kita saat dirundung masalah kehidupan.." kata Kanaya mencurahkan isi hatinya.
"Asal kamu tahu mas, kamu ibarat seperti lilin dalam hidupku.. Tidak perlu terlalu terang, cukup ada dan tak kunjung padam" kata Kanaya meninggalkan kamar Arkan.
Arkan setelah mendengar kata-kata Kanaya, dirinya terdiam dan tidak bicara apapun. Tiba-tiba Arkan yang sedang melamun karena ucapan Kanaya, lilin yang dipegangnya pun mengenai tangan dan kakinya.
"Aduh.. Sakit sekali.. Tolong.." teriak Arkan kesakitan.
Kanaya pun mendengar dan langsung berbalik ke arah kamar Arkan karena khawatir dengan suaminya yang takut kegelapan.
"Mas Arkan kamu kenapa?" tanya Kanaya.
"Lelehan lilin itu mengenai tangan dan kakiku, rasanya sakit sekali.." jawab Arkan.
"Kamu duduk mas, sebentar aku ambilkan obat.." ucap Kanaya.
"Lebih baik kamu tidur saja mas, istirahat yang cukup agar luka yang tadi cepat mengering" ucap Kanaya.
"Tetapi saya takut gelap, dulu bunda yang selalu menemani saya saat gelap" kata Arkan.
"Aku yang akan menemani mas, kamu tenang saja. Sekarang kamu tidur dan aku juga akan tidur" ucap Kanaya.
Dua jam pun berlalu, lampu tak kunjung menyala sampai Kanaya dan Arkan tidak sadar jika mereka tidur bersama dengan lelap.
Keesokan harinya, Kanaya terkejut melihat dirinya tidur semalam dengan Arkan. Arkan pun terkejut ada Kanaya di sampingnya.
"Mas, maafkan aku.. Kemarin aku berusaha menemani kamu saja, aku tidak tahu jika diriku tertidur di sini sampai pagi" kata Kanaya.
"Tidak apa-apa, saya yang salah karena telah memaksa anda untuk menemani saya karena saya phobia dengan kegelapan, saya juga minta maaf" ucap Arkan.
"Baik mas, aku minta maaf sekali lagi kalau sempat lancang" jawab Kanaya.
__ADS_1
Mereka berdua pun segera membersihkan diri, Kanaya pun menyiapkan sarapan untuk Arkan. Arkan kini mulai makan masakan Kanaya setiap hari, dan setelah Arkan pergi bekerja Kanaya pun pergi ke kebun bersama Alika di belakang rumah.